• img

    KAMUFLASE...

    Akan aku ajak engkau menemui bunglon .. agar engkau menyaksikan sendiri tipu dayanya! Bunglon merubah warna dirinya sesuai dengan tempat ia berada .. agar engkau mengetahui bahwa yang seperti bunglon itu banyak .. dan berulang-ulang! Dan bahwasanya ada orang-orang munafik .. banyak pula manusia yang berganti-ganti pakaian .. dan berlindung dibalik alasan “ingin berbuat baik”...
  • img

    Jujur...

    Jika engkau hendak mengungkap kejujuran orang, ajaklah ia pergi bersama .. dalam bepergian itu jati diri manusia terungkap .. penampilan lahiriahnya akan luntur dan jatidirinya akan tersingkap! Dan “bepergian itu disebut safar karena berfungsi mengungkap yang tertutup, mengungkap akhlaq dan tabiat”...
  • img

    Pemimpin

    Seringkali terbukti bahwa tugas utama seorang pemimpin hanyalah bagaimana memilih orang yang tepat. Begitu berhasil memilih orang yang tepat seringkali tugas seorang pemimpin sudah selesai. Setidaknya sudah 80 persen selesai. Tapi begitu seorang pemimpin salah memilih orang, sang pemimpin tidak terbantu sama sekali, bahkan justru terbebani...
  • img

    Karena Ukuran Kita Tak Sama

    seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi...
  • img

    Kemenangan..

    Kemenangan sejati yang paling mendasar dan substansial adalah jika kebenaran tetap bersemayam di hati kita. Tidak terkontaminasi oleh racun-racun kehidupan, tidak tergoda oleh iming-iming apapun bentuknya, yang membuat hati kita diisi oleh nilai-nilai lain selain nilai kebenaran yang bersumber dari Allah SWT, ...

Menjaga Karamah Basyariyah

0
Diposting oleh cahAngon on 08 April 2011 , in
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً


“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rizqi dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (QS. Al-Isra, 17: 70)


Ikhwah fillah, di muqaddimah jalasah ini tadi telah saya bacakan ayat yang sangat masyhur dan sering dinukil dari surat Al-Isra’. Dalam ayat ini terlihat betapa Allah SWT secara fitrah, kata orang Malaysia secara ‘semula jadi’, menciptakan manusia dalam kemuliaan : “وَلَقَدْ كَرَّمْنَا”. Akan tetapi kemuliaan ini adalah al-karamah bittakrim, kemuliaan karena dimuliakan dan bukannya al-karamah dzatiyah, kemuliaan an sich atau kemuliaan yang melekat dengan sendirinya.Sebagai makhluk mulia manusia dikaruniai kemampuan lebih oleh Allah SWT. Inipun bukan karena usahanya sendiri, melainkan karena Allah SWT telah mempersiapkan seluruh ciptaan-Nya untuk manusia:

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ
“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.” (QS. Luqman, 31: 20).

Semua yang ada di langit dan di bumi telah ditundukkan dan disiapkan-Nya untuk mendukung manusia menngimplementasikan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya dan menerjemahkan bakat-bakat yang ada dalam dirinya, karena keseluruhan ciptaan Allah itu musakhar, yakni telah dipersiapkan untuk didayagunakan oleh manusia. Oleh sebab itulah frasa dalam ayat tersebut. “Walaqad karramnaa banii aadam” diikuti dengan frasa: “Wahamalnaahum fil barri wal bahri” sebagai simbol yang mewakili seluruh kemampuan rekayasa manusia dalam memanfaatkan al-kaun (universe). Manusia bisa membuat dan merekayasa kendaraan dan bahkan masalah kendaraan bisa menjadi ukuran prestise dan kehormatan seseorang.

Makhluk-makhluk selain manusia, yang ada di bumi ini berkendaraan hanya artifisial sifatnya. Gajah misalnya, ada yang bisa naik motor, tapi hanya artifisial yakni hanya di ruang lingkup sirkus saja. Demikian pula dengan monyet yang sudah dilatih untuk bisa naik sepeda atau mobil. Mereka hanya bisa beratraksi di dalam tenda sirkus, karena bila dilepas di jalan raya besar kemungkinannya akan semakin menimbulkan keruwetan dan kemacetan. Sementara manusia mampu merekayasa pendayagunaan potensi yang dipersiapkan oleh Allah untuk mendukung ta’yid dari Allah sehingga ia berkendaraan di darat, laut, udara dan angkasa luar.

Kemudian “warazaqnaahum minath thayyibaat”, artinya Allah memberi rizqi kepada manusia dari yang baik-baik saja. Bisa kita bandingkan misalnya dengan hewan ayam yang makan dari comberan dan cacing yang mendapatkan rizqi dari lumpur, sementara manusia hanya mengkonsumsi yang baik-baik.

Apalagi manusia dengan kelebihan akal dan fitrahnya mampu membuat hal-hal yang thayyibat menjadi tampil semakin lebih thayyib. Misalnya manusia merekayasa, mengolah masakan berjam-jam bahkan berhari-hari agar tampil lezat dan prima seperti tomat yang diubah menjadi seperti bunga mawar untuk hiasan demikian pula cabe, timun dll, padahal untuk menghabiskan semua santapan tersebut mungkin hanya dibutuhkan waktu 1/4 atau 1/2 jam saja. Demikian juga gula-gula dan coklat yang dibuat dalam berbagai bentuk cetakan.
Selanjutnya dalam firman Allah SWT tersebut disebutkan,

وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً
“Kami utamakan / lebihkan manusia di antara makhluk-makhluk ciptaan-Nya”. Keutamaan ini juga karena tafdhil, dimuliakan oleh Allah, semata-mata al-fadhlu minallah, kemuliaan dan kelebihan dari sisi Allah bukan kemuliaan an sich atau kemuliaan yang dengan sendirinya. Lalu kemuliaan yang dimiliki manusia ini pun ‘alaa katsiirin mimman khalaqnaa tafdhila, di atas makhluk-makhluk ciptaan Allah yang lainnya. Ada mufassir yang mengatakan keutamaan manusia tersebut ‘alaa jama’il khalaiq, di atas semua makhluknya kecuali malaikat. Tetapi mufassir lainnya, mengatakan kelebihan dan keutamaan manusia juga di atas malaikat. Menurut sebagian mufassir tersebut malaikat masih mafdhul di bawah manusia, karena ia memang tidak memiliki syahwat sehingga bisa konsisten dalam kepatuhannya kepada Allah. Sementara manusia yang memiliki akal, bakat dan mampu mengendalikan syahwatnya ia bisa mencapai derajat melebihi malaikat karena walau pun memiliki syahwat ia tetap berjuang dengan iman dan akalnya untuk konsisten di jalan-Nya. Namun bila manusia tidak mengoptimalkan takrim dan tafdhil dari Allah bahkan malah memperturutkan hawa nafsunya yang rendah, ia bisa meluncur ke derajat yang sangat rendah yakni lebih rendah dari binatang,

أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (الأعراف)
Mereka itu tak ubahnya seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi.
Bila manusia-manusia yang bertaqwa tidak melepaskan diri dari takrim dan tafdhil, ia bisa dianggap melebihi malaikat. Buktinya ada malaikat yang ditugaskan Allah menjaga dan memberinya rizqi serta mencatat segala amal perbuatannya, seolah-olah mereka pelayan manusia. Bahkan secara tidak langsung Allah mempersiapkan malaikat menjaga manusia tidur, karena bayangkan saja bila manusia tidur tidak dijaga malaikat maka segala binatang seperti semut bisa memasuki lubang hidung, mulut dan lainnya.

Berkat penjagaan / ri’ayah Allah melalui malaikat-malaikat maka orang tidur bisa aman. Begitu pula bila ada bayi atau anak kecil yang jatuh dari ranjang tetapi tidak cidera, orang-orang tua kita biasa berucap, “Wah anak kecil nggak punya dosa jadi masih selalu dilindungi dan dijaga oleh malaikat”. Atau ketika ia menatap terus ke atas dan berkata “aaah” dikomentari orang-orang tua, “Wah dia lagi ngelihat dan ngobrol dengan malaikat”. Wallahu a’lam hadza minal ghaibiyat.

Ditilik dari sudut tafsir yang manapun, tetap saja dapat disimpulkan manusia adalah makhluk termulia di sisi Allah SWT. Takrim dan tafdhil dari Allah tersebut terkait dengan kemanusiaannya dan takrim serta tafdhil tersebut tentu saja akan meningkat bila kemanusiaan tersebut ditambah dengan aspek keislamannya. Apalagi bila dilengkapi dengan aspek keda’wahan dan kejama’ahannya. Seyogyanyalah ada nilai plus atau nilai lebih dari sekedar nilai kemanusiaan atau bahkan dari keislaman. Kita harus menampilkan diri sebagai syakhsiyah mukarramah (pribadi yang mulia) atau syakhsiyah mufadhalah (pribadi yang utama) demikian pula dengan jama’ah mukarramah dan jama’ah yang mufadhalah. Hal itu insya Allah bukan perwujudan sifat riya’, sombong atau ghurur melainkan lebih sebagai konsekuensi dari takrim dan tafdhil yang diberikan Allah. Kita harus benar-benar menjaga, memelihara dan menunjukkan karunia yang diberikan Allah tersebut.

Ikhwah fillah, sekali lagi saya tekankan bahwa kita sebagai da’i berkewajiban meng’izharkan, mengekspresikan, merealisir karamah basyariyah (kemuliaan kemanusiaan) dan fadhail basyariyah (keutamaan kemanusiaan) agar benar-benar nampak kehormatan, kelebihan dan keutamaan manusia sebagai makhluk yang mukarramah dan fadhailah. Bukankah rasulullah SAW juga bersabda, “Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq” (Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq manusia)?

Jadi kita tidak mungkin menampilkan takrim dari Allah tanpa kita memiliki akhlaqul karimah. Dan kita juga tidak mungkin merefleksikan dan merealisir tafdhil Allah dalam kehidupan kita bila kita tidak produktif dalam fadhail amal. Hal tersebut harus benar-benar kita camkan dan upayakan, karena bila kita lalai—na’udzubilah, kita akan meluncur jatuh bukan saja dari kejama’ahan, keda’ian dan keislaman, melainkan bisa pula meluncur jatuh dari kemanusiaannya menjadi seperti hewan atau bahkan lebih buruk lagi dari hewan.

أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (الأعراف)
Ayat tersebut sering dilewati begitu saja dalam membacanya, sehingga kadang-kadang kebanggaan kita akan status sebagai makhluk mulia hanyalah kebanggaan semu belaka.

Sebagai da’i sudah tentu tugas kita adalah mambuktikan takrim dan tafdhil dari Allah serta tidak berhenti pada kebanggaan semu saja, hal itu dilakukan dengan cara melahirkan makarimul akhlaq dan fadhail amal dari diri kita.

Prioritas kita untuk senantiasa merefleksikan takrim dan tafdhil dari Allah dengan cara memegang teguh makarimul akhlaq dan fadhail amal adalah dalam rangka itsbatul wujud atau membuktikan eksistensi kita sebagai manusia, sebagai muslim, sebagai da’i dan sebagai jama’ah dakwah. Karena bila eksistensi kita tidak terkait dengan hal itu, kita akan dihinakan oleh Allah SWT.

Dalam do’a qunut setiap witir kita berdo’a, “Allahummahdinii fiman hadait, wa ‘afinii fiman ‘afait, watawallanii fiman tawallait wa barik lii fii ma a’thait waqinii syarra ma qadhait walaa ya’izzu man ‘adait walaa yadzillu man wallait”. Dua kalimat ini sarat dengan makna, jika kita mu’adatillah, memusuhi Allah, wali-wali Allah dan program-program Allah, maka kita tidak akan memiliki izzah, gengsi atau harga diri, jangankan sebagai da’i, sebagai manusia saja tidak (walaa ya’izzu man ‘adait).

Kemudian walaa yadzillu man wallait, tidak akan dihinakan siapa saja yang memiliki wala’ (loyalitas) kepada Allah. Sehingga betapapun ekonomi kita lagi morat-marit dan kedudukan secara sosial, politik serta ekonomi dianggap rendah oleh orang lain, kita tidak mungkin hina dan dihinakan selama wala’ kita utuh.

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ (المائدة)
Allah menegaskan walaa yadzillu, tidak mungkin hina karena izzah kita terkait dengan a’azzul a’azz, dzat yang paling mulia, aziz di atas segala yang mulia. Jadi izzah, gengsi kita terkait dengan izzah, gengsi Allah SWT.

Oleh karena itu dalam konsep Islam, wala’ terkait erat dan langsung dengan izzah. Merosotnya wala’ akan menyebabkan merosotnya pula izzah. Dahulu dalam madah tamhidiyah, saya qarinahkan di antara dua ayat yakni antara innama waliyyukumallahu wa rasuul walladzina amanu dan kemudian refleksi atau implementasinya nampak dalam ayat wa ‘athiullah, wa ‘athiurrasul wa ulil amri minkum. Wala’ kita kepada walladzina amanu dan taat kita kepada ulil amri minkum hanya melekat sepanjang orang-orang yang beriman dan pemimpin-pemimpin tersebut berada di jalur ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kemudian wala’ (loyalitas) yang kita miliki juga terkait dengan aziz dan dzalilnya kita. Jika wala’ kita kepada Allah, rasul dan ulil amri minkum meningkat maka izzah kitapun meningkat. Namun bila wala’ kita menurun maka—na’dzubillah, kitapun akan meluncur ke lembah kedzalilan, kehinaan. Hal itu saya gambarkan dalam madah tamhidiyah dengan satu kalimat: abdul azizi azizun, abdul dzalili dzalilun, abdul karimi karimun dst.

Kalimat singkat tersebut di atas mencerminkan refleksi asma’ul husna dan ash-shifatul ulyanya atas diri kita. Rasulullah SAW memang menganjurkan agar kita memiliki sifat-sifat sebagaimana sifat-sifat yang dimiliki Allah. Bukan berarti menyamai-Nya, melainkan bagaimana caranya keagungan sifat-sifat Allah tersebut terefleksi atau terimbas ke dalam diri kita sesuai dengan kadar kemampuan kita.

Allah SWT menurunkan konsepnya berupa Al-Qur’an untuk menjaga kemuliaan kita, oleh sebab itu banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang diungkapkan dengan kata dzikr, misalnya dalam QS. 43 ayat 44:

وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلونَ (الزخرف)
Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan / kehormatan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan dimintai pertanggungjawaban.

Artinya kehormatan dan kemuliaan diri kita sangat terkait dengan komitmen kita terhadap Islam, da’wah dan Qur’an itu sendiri. Dalam Al-Qur’an kata dzikr memiliki dua makna yakni bisa berarti peringatan bagi orang yang lalai, namun bagi mu’min kata dzikr berarti penghormatan baginya. Karena itu disebutkan dzikrun lidzakirin, kehormatan adalah untuk orang-orang yang selalu berkomunikasi dengan Allah SWT. Bahkan dalam surat Shaad (38) ayat 1:

ص وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ
Saad, demi Al-Qur’an yang mempunyai keagungan. Para mufassirin menyebutkan bahwa wal qur’aani dzil dzikir adalah lisharfin wa karamatin wa hurmatin artinya Qur’an memiliki sharf-sharf, dengan derajat-derajat / tingkat-tingkat kehormatan. Bila seseorang lulus ujian doktor dengan predikat cum laude hal itu disebut sharf dan bila lulusnya lebih bagus lagi disebut summa cum laude itu sepadan dengan karamah. Akhirnya bila lulusnya lebih gemilang lagi disebut magna cum laude itu sepadan dengan hurmah.

Jadi jelaslah bagi kita bahwa sharf, karamah dan hurmah kita terkait erat dengan Al-Qur’an untuk menjaga takrim dan tafdhil dari Allah SWT. Bila kita tidak bisa menjaga takrim dan tafdhil dari Allah dan mendapatkan sharf, karamah dan hurmah karena komitmen kita dengan Al-Qur’an, apa bedanya kita dengan “ammatinnaas”, manusia kebanyakan atau manusia pada umumnya.

Ikhwah fillah, saya katakan kita ini tandzim nukhbawi (organisasi kader) artinya secara tandzim atau organisasi, jama’ah kita adalah jama’ah kader yang terbukti dengan adanya detail-detail perangkat tarbawi dengan segala tahapannya. Seseorang harus melalui berbagai tahapan untuk bisa menjadi anggota dewasa atau mas’ul.

Tanggung jawab kita adalah menjaga kehormatan, kemuliaan dan kelebihan kita yang sudah dikaruniai Allah SWT. Alat untuk menjaga kemuliaan sudah pula diberikan Allah yakni berupa Al-Qur’an dan Islam itu sendiri. Refleksi secara moral adalah berupa keutuhan wala’ (loyalitas) kita kepada Allah, rasul dan ulil amri, sedangkan refleksi secara operasional adalah dalam bentuk taat kepada Allah, rasul dan ulil amri. Jika refleksi moral dan operasional tidak ada, maka na’udzubillah kita akan merosot dari izzah menjadi dzillah (hina). Itu merupakan satu kepastian. Memang refleksi moral dan operasional adalah sesuatu yang sangat mendasar dan penting serta perlu senantiasa diperteguh kembali karena faktor-faktor yang bisa melunturkan aqidah sangat banyak.

Hal yang sekarang ini saya khawatirkan adalah antum para mas’ulin (lapisan pemimpin) dalam jamaah terkena istiftan, fitnah karena sering tampil di mana-mana dan memperoleh kemasyhuran di mimbar-mimbar khutbah, seminar, undangan-undangan yang berkelas nasional atau bahkan internasional. Kekhawatiran saya adalah jika kesemuanya itu kemudian akhirnya melunturkan refleksi moral sumber kehormatan kita yakni wala’ (loyalitas) dan refleksi operasionalnya berupa taat, sehingga akhirnya menyebabkan meluncurnya antum di bawah kehormatan sebagai manusia.

Fitnah tersebut biasa disebut fitnah ‘alal kibar atau fitnah yang menimpa orang-orang besar dan memiliki posisi. Padahal sekali lagi saya tekankan, Allah SWT telah memberikan kehormatan yang begitu besar kepada manusia seperti tergambar dalam adegan ketika Rasulullah seolah-olah berdialog dengan ka’bah. Inti dialog Rasulullah dengan ka’bah ialah pengakuan beliau tentang kehormatan dan kemuliaan yang dimiliki ka’bah sebagai baitullah, tetapi kemudian beliau bersumpah: “Wallahi lahurmatul mu’min a’zhamu ‘indallahi hurmatan minki”. Rasulullah menegaskan bahwa kehormatan seorang mu’min lebih agung dan lebih besar di sisi Allah dibandingkan dengan kehormatan ka’bah. Padahal bayangkan setiap tahunnya dua juta orang berkeliling thawaf di musim haji dan setiap hari kurang lebih 1,4 milyar muslim sujud menghadap kiblat atau paling tidak mengakui ka’bah sebagai kiblatnya.

Oleh sebab itu kehormatan yang diberikan Allah SWT jangan kita sia-siakan bahkan hendaknya selalu kita jaga dan tingkatkan agar kita lebih dekat dengan-Nya (aqrab ilallah). Kedekatan kita dengan Allah Yang Mulia akan membuat kita menjadi mulia pula, abdul karim karimun (hamba Yang Mulia akan mulia pula).
Dalam kitab tafsir Al-Qur’an, para ulama tafsir menyebutkan bahwa puncak kemuliaan seorang manusia ditunjukkan justru dalam posisi kehambaannya, sebagai abdun.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Di ayat tersebut Rasulullah disebutkan dengan bi’abdihi dan bukan birasulihi atau bimuhammadin, karena manzilatil ulya’ indallah justru adalah manzilah ‘ubudiyah.

Manazilatul ‘ubudiyah adalah manzilatul ‘ulya dan akramuhum ‘azhomuhum lillah atau yang paling mulia adalah yang paling tinggi nilai ‘ubudiyahnya kepada Allah. Hal tersebut merupakan persoalan aqidah yang sangat mendasar sehingga menjadi sumber ya’ tazzu bi-imanihi, bi-islamihi, bida’ watihi, bijihadihi (kebanggaan akan keimanan, keislaman, da’wah dan perjuanganya).
Hal ini penting saya tekankan mengingat saat ini masih banyak orang yang berebut mencari eksistensi diri dan golongannya melalui beraneka ragam manuver. Mereka saling berebut kedudukan yang sebetulnya sudah lapuk dan sebentar lagi akan hancur.

إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقاً (الاسراء: من الآية81)
Padahal untuk mencari itsbatul wujud, tahqiqu dzat atau eksistensi diri, manusia harus kembali pada hal yang sangat elementer atau mendasar, yakni prinsip-prinsip aqidah.

Ikhwah fillah, Allah SWT banyak memperingatkan kita tentang sumber kemuliaan di dalam Al-Qur’an. Misalnya di dalam QS. 49:13,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (الحجرات)
Juga di dalam hadits yang diriwayatkan Imam Malik dalam kitab Al-Muwatha di bab jihad disebutkan: ‘Karamul mu’minin taqwahum wa dienuhu nasabuhu’. (Kemuliaan seorang mu’min terletak pada ketaqwaannya dan dien / agamanya adalah nasabnya).

Orang pada umumnya suka membanggakan asal usul keturunannya, misalnya berdarah biru atau keturunan bangsawan. Di Banten umpamanya dipanggil dengan Tubagus dan di Jawa dengan Den Mas (dari raden mas) atau Gus. Padahal Rasulullah bersabda bahwa kebanggaan kita akan nasab atau keturunan haruslah terkait dengan sejauh mana intima’ (komitmen) diri kita, orang tua dan nenek moyang kita terhadap Islam. Kemudian dilanjutkan hadits tersebut disebutkan juga ‘wa muru’atuhu khulquhu’ (harga dirinya terletak pada akhlaknya). Tinggi rendahnya harga diri seseorang ditentukan oleh tinggi rendahnya akhlaknya.

Ikhwah Fillah, jika kita gegabah atau melalaikan nilai-nilai elementer aqidah yang implementasi moralnya berupa keutuhan wala’ pada Allah, Rasul dan orang-orang beriman serta implementasi operasionalnya berupa keutuhan ketaatan kepada Allah, Rasul dan pemimpin mu’min, maka na’udzubillah kita dapat dimusnahkanNya dan digantikannya dengan kaum yang lain yang sesuai dengan kehendakNya (QS. 5:54),

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (المائدة)

Dalam QS. Al-Faathir ayat 15-17 Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ. إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ. وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ (فاطر)

Hai manusia kamulah yang membutuhkan Allah, dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.

Wahai umat manusia kalian semua fuqara ilallah dan Allah-lah Yang Maha Kaya lagi Terpuji. Kata fuqara ilallah menunjukkan ketergantungan total manusia pada Allah. Untuk sekadar bisa bernafas saja kita sudah bergantung pada Allah. Kalau bukan Dia siapa yang bisa menjamin zat asam (O2) secara gratis kita hisap. Jangankan dicabut, sekadar dikurangi atau ditambah sedikit saja kadar kepekatannya sudah sangat berbahaya. Bila kadar zat asam di udara di tambah, paru-paru kita akan kebakaran.

Ketergantungan lainnya misalnya ketika kita tidur selain dijaga oleh malaikat dari serangga-serangga, ternyata di tubuh kita juga terjadi proses alamiah berupa keluarnya lendir-lendir yang menjijikkan namun berguna untuk mencegah serangga masuk ke lubang-lubang tubuh kita. Saya pernah membaca di dalam kitab Ath-Thibb Mihrabul Iman (Kedokteran adalah pintu gerbang keimanan) bahwa segala sesuatu yang sepintas menjijikkan justru merupakan bagian dari takrim dan tafdhil Allah terhadap kita. Jadi di saat tidur pun kita benar-benar fuqara ilallah. Dialah yang telah melindungi kita dengan memberikan penjagaan berupa aparat ruhi ghaibi (malaikat) dan instrumen-instrumen alami berupa keluarnya lendir-lendir.

Oleh sebab itu dulu pernah saya kisahkan bagaimana seorang perampok bermaksud merampok seorang ulama di Syam. Saat itu sang ulama sedang shalat tahajud dan membaca ayat,

وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ. فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنْطِقُونَ (الذريات:22-23)
Linggis perampok itu terjatuh dan ia terduduk lemas seraya berucap: “Ya Allah thalabtuhu fid dunya wa huwa fis sama” (Ya Allah saya mencari rizqi di dunia ternyata adanya di langit). Sang ulama mendengar suara linggis jatuh, keluar dan mendapati pencuri itu sedang menangis. Pencurinya diajaknya masuk, bahkan kemudian dibekali dan ternyata pada musim haji berikutnya ulama tersebut bertemu dengan mantan pencuri itu sedang thawaf. Ia benar-benar telah taubat.

Artinya yang terpenting adalah as-Sama’, kalaupun kita berusaha itu sekadar wasail (sarana) dan merupakan hakikat syari’at, namun hasilnya belum tentu, tergantung yang di langit. Kita wajib mencari, namun hasilnya kita serahkan kepada Allah.

Ali bin Abi Thalib pernah menasehati Hasan dan Husein bahwa rizki itu ada dua macam yakni rizqun tathlubuhu (rizki yang kamu cari) dan rizqun yathlubuka (rizki yang mencari kamu). Namun Sayyidina Ali tidak memisahkan kedua-duanya: rizqun tathlubuhu wa rizqun yathlubuka. Karena rizqi ingin cepat sampai ya tathlubuhu (dicari) karena kalau menunggu yang yathlubuhu, bisa-bisa datangnya agak lama.

Saya pernah membaca dalam kitab tentang sufi, di antaranya ada kisah orang yang ingin menguji Allah SWT, apa iya ada rizqun yathlubuka, rizki yang mencari dan menghampirimu. Akhirnya ia tidak mau kerja, tidak mau berusaha dan tidak berinteraksi dengan orang lain. Ia menyendiri di dalam gua di tengah hutan, ternyata lama-lama jatuh sakit dan mengerang-erang. Ada orang kampung sedang mencari kayu bakar mendengar suara mengerang-erang di dalam gua. Karena ia tidak berani masuk sendirian, ia memanggil orang-orang kampung lebih dulu. Maka masuklah orang-orang itu ke tengah gua, beramai-ramai. Melihat si sufi ini sakit dan kelaparan, mereka membuka nasi bekal kemudian menyuapi dan mengobatinya. Sambil disuap, si sufi tadi bergumam: “Shadaqallah warrasul”. Saya enggak nyari rizki, orang-orang datang ramai-ramai bawa timbel. Namun untungnya si sufi ini berpikir positif, wah tidak nyari saja dapat rizki, apalagi kalau saya mau usaha mencari.

Kesadaran ‘Antum fuqara ilallah’ ini harus tertanam di dalam diri kita di semua bidang kehidupan, agar kita tidak mengkambing hitamkan dakwah. Misalnya menyesal menjadi da’i atau berada di dalam harakah dakwah ini karena hidup miskin atau pas-pasan.

Padahal bila kita berhenti berdakwah juga belum tentu jadi kaya. Wa huwal ghaniyul hamid. Dan Dialah Yang Maha Kaya lagi Terpuji, karena Dialah yang benar-benar memiliki dan menguasai segala sesuatu.

Majalah Al Intima'

Belajar Itsar dari Mereka

0
Diposting oleh cahAngon , in

Dalam risalah ta’lim Hasan Al-Banna,menuliskan:


“Yang saya maksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah sekokoh-kokoh ikatan dan semulia-mulianya. Ukhuwah adalah saudaranya keimanan, sedangkan perpecahan adalah saudara kembarnya kekufuran. Kekuatan yang pertama adalah kekuatan persatuan; tidak ada persatuan tanpa cinta kasih; minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan maksimalnya adalah itsar (mementingkan orang lain dari diri sendiri).” Di dunia ini begitu banyak hal yang kita cintai, sampai-sampai ketika kehilangannya kitapun bersedih bahkan meratapinya. Lalu apakah arti saudara seiman,sefikroh,dan sejamaah bagi kita? Apakah ia harta yang berharga juga bagi kita? atau ia hanya sebagai tempat kita berkeluh kesah dan meminta tolong saja?

Berjuta cerita tentang arti ukhuwah, terlalu banyak canda yang terlepas dan tak sedikit pula derai air mata mengharu biru di jalan ini. Sejenak, marilah kita belajar itsar (mementingkan orang lain dari diri sendiri) yang merupkan tingkat tertinggi dari ukhuwah saat perang Yarmuk dimana kaum muslimin saat itu menghadapi 240.000 tentara Romawi. Sedangkan jumlah kaum muslimin hanya 40.000, keadaan yang tidak seimbang secara hitungan matematis.

Kita mengetahui bahwa perang ini dimenangkan oleh pasukan muslimin. Disinilah Allah menetapkan bagaimana Yarmuk menjadi saksi atas indahnya persaudaraan Islam. Diantara 40.000 tentara itu terdapat Harits bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahl, Iyash bin Abi Rabiah. Saat usai peperangan,ketiganya terluka sangat parah sehingga mereka tergeletak tak berdaya. Walaupun begitu tak ada satupun guratan kekecewaan atas luka yang mereka derita. Ketika regu penolong data dengan membawa minuman. Harits mengisyaratkan tangannya agar relawan yang membawa air minum itu kepada dirinya. Datanglah relawan tersebut dengan bejana berisi air minum namun belum sampai ke mulutnya.

Harits melihat saudarahnya, Ikrimah, dalam kondisi yang parah juga. maka ia mengurungkan niat untuk meminum air tersebut seraya menunjuk Ikrimah. Relawan bersegera membawa bejana berisi air itu kepada Ikrimah. Hampir saja Ikrimah meminumnya, tetapi tiba-tiba diurungkan begitu matanya melihat saudaranya, Iyash, yang dalam pandangannya lebih membutuhkan air minum. Maka ia pun mengurungkan niatnya dan menutup mulutnya seraya menunjuk Iyash. Relawan bersegera membawa bejana tersebut kepada Iyyash dengan tergesa-gesa. Belum sempat Iyyash meneguk air tersebut, malaikat maut lebih dahulu menjemputnya sehingga ia syahid.

Relawan pun mendatangi Ikrimah, ia juga telah syahid. Relawan pun mendatangi tempat harits, ternyata Harits pun mengalami keadaan yang sama dengan dua sahabatnya yang syahid. Allahu Akbar, alangkah indahnya persahabatan diantara mereka. Merekalah yang menjadikan itsar tidak hanya terbatas pada waktu lapang, tapi juga ketika saat sempit bahkan ketika maut menjemput.

"Tidak (sempurna) iman seseorang sehingga mencintai manusia sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri dan mencintai saudaranya hanya karena Allah AZZAWAJALLA " (Musnad Ahmad:13372). Implementasinya begitu sulit memang, terlebih lagi di jalan dakwah ini. Sehingga Imam Syahid Hasan Al-Banna melanjutkan pengertian ukhuwah di awal dengan :

“Al-Akh yang tulus melihat saudara-saudaranya yang lain lebih utama daripada dirinya. sendiri, karena ia, jika tidak bersama mereka, tidak dapat bersama yang lain. Sementara mereka, jika tidak dengan dirinya, dapat bersama dengan orang lain. Dan sesungguhnya serigala hanya makan kambing yang terlepas sendirian. Seorang mukmin dengan mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan, yang satu mengokohkan yang lain. "Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan, sebagian mereka menjadi pelindung bagi lainnya. Demikianlah seharusnya kita.”

Begitu banyak cerita tentang itsar namun pada akhirnya, kita akan kembali diuji seberapa besar cinta kita terhadap saudara-saudara kita sehingga Allah akan membalasnya dengan naungan di hari akhir nanti.

“..dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Referensi: Teladan Tarbiyah Dalam Bingkai Arkanul Bai’ah oleh Parman Hanif M.Pd

Memahami #Jihad

0
Diposting oleh cahAngon , in
1. #Jihad berakarkan ‘al juhdu’; kesungguhan yang dikerahkan hingga batas kepayahan. Pada orang demikian; pertolongan Allah dekat & datang.

2. Pada kesempatan ini izinkan Salim batasi bahasannya pada; Apa Saja nan Termasuk Ruang Lingkup #Jihad; rasam diambil dari Ibn Al Qayyim.

3. Dalam Madarijus Salikiin, beliau golongkan #Jihad berdasarkan ‘lawan yang harus dihadapi’. Salim akan urai dengan tambahan keterangannya.

4. #Jihad-un Nafs, Jihadusy Syaithan, Jihadu Ahlil Ma’ashi wal Bida’ , Jihadu Ahlil Kufri wasy Syirki

5. Jihadun Nafs (#Jihad terhadap diri) adalah bagian yang mendasar & pokok dari pembagian jihad oleh Ibn Al Qayyim ini. Terdiri atas 5 poin.

6. Ke-5 #Jihad-an Nafs: mengimani Al Huda & Dinul Haq (QS 61: 9), mengilmuinya, mengamalkannya, menda’wahkannya, & bersabar dalam ke-4-nya.

7. Beriman adalah #Jihad. Sebab iman kadang adl mata yang terbuka, mendahului datangnya cahaya; ia keyakinan hati yang menyusur jalan bukti.

8. Berilmu adalah #Jihad. Sebab ia menghajatkan kesungguhan mengerahkan waktu, tenaga, fikiran, harta, & kesabaran untuk berpayah memahami.

9. Beramal adalah #Jihad. Sebab setiap ilmu mengejar-ngejar jiwa & raga yang kadang disergap lelah & malas agar ianya diamalkan, dibaktikan.

10. Berdakwah adalah #Jihad. Sebab menyampaikan ilmu, membawakan kebenaran, memerintahkan yang baik, mencegah yang munkar; membawa bahaya.


11. Bersabar dalam mengimani, mengilmui, mengamalkan, & mendakwahkan adalah #Jihad; sebab ke-4 hal itu hanya bisa ditanggung jiwa nan kokoh.

12. Bersabar mengimani adalah #Jihad. Saking beratnya kadang harus memejam mata. Seperti Muhammad di Badr. Seperti Ibrahim sembelih putra.

13. Bersabar mengilmui adalah #Jihad. Seperti Sulaiman memahamkan Dawud, Al Bukhari kembarai ratusan negeri, Asy Syafi’i menjaga hafalan.

14. Bersabar mengamalkan itu #Jihad. Seperti ‘Abdullah ibn ‘Amr puasa Dawud sampai akhir hayat, Sa’id ibn Al Musayyab selalu QL 50 tahun.

15. Bersabar mendakwahkan itu #Jihad. Seperti Mush’ab taklukkan Madinah, Ibnul Jauzy islamkan 30.000 pagan, Fadlan Garamatan jelajahi Papua.

16. Selanjutnya Jihadusy Syaithan; #Jihad melawan syaithan. Ini ada 2 poin, yakni melawan syubhat (rancu fikiran) & syahwat (hawa nafsu).

17. Melawan syubhat itu #Jihad. Imam Ahmad menentang faham ‘ke-mahkluq-an Al Quran’; sebab ia berujung ‘kalau makhluq bisa salah bisa benar’

18. Melawan syubhat itu #Jihad. Contoh: soal bangkai, kata Al ‘Ash ibn Wail; “Yang dibunuh sendiri halal, kok yang dibunuh Allah haram?”

19. Melawan syubhat itu #Jihad. Kata Al Walid ibn Mughirah, “Quran adalah sihir nan dipelajari”. Sampai kini belum ada argumen secerdas dia.

20. Melawan syubhat itu #Jihad. Hingga kini penerus jejak syubhat terus ada. Penyesatan logika adalah cara merusak ‘aqidah yang efektif.

21. Melawan syahwat adalah #Jihad. Seperti Yusuf berlari dari goda jelita, seperti Al Miski melumurkan kotoran ke tubuhnya saat diajak zina.

22. Melawan syahwat itu #Jihad. Menyegerakan menikah; berlari dari yang haram & keji menuju yang halal lagi suci perlu keberanian tinggi.

23. Mengendalikan syahwat itu #Jihad. Cinta ialah ujian yang menghanyutkan. Bahkan zina -dosa besarnya- kadang masih bisa membuat orang iba.

24. Melawan syahwat itu #Jihad. Sebab di dunia maya; berpindah dari keshalihan menuju dosa nista bisa dilakukan hanya dengan satu klik saja.

25. Melawan syahwat itu #Jihad. Sebab ujiannya berkelindan & rumit; wanita, harta, tahta berpadu; lalu didayaguna syaithan habis-habisan.

26. Melawan syahwat itu #Jihad. Sebab harta & kenikmatan dunia itu memabukkan, menagihcandukan & tak memberi puas seberapapun banyaknya.

27. Melawan syahwat itu #Jihad. Sulaiman memang hebat; berkuasa atas manusia, jin, hewan, & angin tapi tak dimabukkan sombong & bangga hati.

28. Melawan syahwat itu #Jihad. Fir’aun tak sekuasa Sulaiman; hanya Nil, Mesir & Bani Israil; tapi dia tak tahan tuk berkata, “Aku Tuhan!”

29. Selanjutnya adalah Jihadu Ahlil Ma’shi wal Bida’; #Jihad berjuang untuk tundukkan kemunkaran, kemaksiatan, & bid’ah-bid’ah yang merusak.

30. #Jihad ini ditegakkan pertama-tama dengan tangan; kekuatan, kekuasaan, kewenangan, pengaruh; jika kita memiliki kemampuan untuk itu.

31. #Jihad tangan ini misalnya dalam bentuk penegakan aturan yang melindungi masyarakat dari bahaya kemunkaran yang akal sehatpun sepakat.

32. #Jihad tangan meliputi penggunaan segala kewenangan; eksekutif, legislatif, yudikatif; dalam koridor hukum nan berlaku tuk jaga maslahat

33. Jika ahli kebaikan belum memiliki tangan, maka tingkatan selanjutnya harus diambil: #Jihad Lisan. Cegah keburukan dengan hujjah terbaik.

34. Sampaikan pendapat dengan cerdas, santun, mengena (ingat lagi #KulTwit #Berpendapat ya. Record di @ipotisme). Ia bisa jadi #Jihad utama.

35. #Jihad Lisan bertingkat-tingkat sesuai kapasitas, kapabilitas, & kredibilitas kita. Tokoh memiliki beban yang lebih suarakan kebenaran.

36. Jika yang dihadapi ialah kuasa yang lebih besar; menasehati dalam sunyi tetap utama. Jika tak mempan, nasehat publik jadi pilihan #Jihad

37. “Seutama-utama #Jihad adalah kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zhalim-menyimpang.” (HR Abu Dawud)

38. Jika #Jihad Lisan juga tak kita mampu; ambil pilihan terrendah; dengan hati. Mengingkari-tak menikmati itu perlawanan terakhir-terlemah.

39. Berikutnya Jihadu Ahlil Kufri wasy Syirki, #Jihad melawan kekafiran & kemusyrikan. KIta akan lihat betapa agungnya Islam di bahasan ini.

40. Kalau #Jihad melawan kemunkaran & maksiat berurut keras ke lemah (tangan-lisan-hati); kekufuran & kemusyrikan justru beralur sebaliknya.

41. Sebab, #Jihad melawan kemunkaran & maksiat sejalan dengan logika umum bahwa keduanya merusak. Sebaliknya, kufur & syirik soal sensitif.

42. Keyakinan agama apapun dihormati Islam. Tinjau sejarah; semua perang #Jihad Nabi bukan karena lawannya kafir, tapi sebab mereka zhalim.

43. Maka #Jihad di bagian ke-4 ini dibagi 4 tingkatan urut oleh Ibn Al Qayyim berdasar sarana; doa-hati, bayan-penjelasan, tombak, pedang.

44. #Jihad melawan kekafiran & kemusyrikan pertama-tama ialah dengan doa; seperti Nabi doakan Umar ibn Al Khaththab & Abu Jahl ibn Hisyam.

45. Nabi doakan agar Umar diberi hidayah oleh Allah hingga diijabah tahun ke-6 Nubuwwah>< Sementara Abu Jahl, sebelum diperangi.. #Jihad

46. ..di Badr -itupun dia yang menyerang- didoakan khusus 6 th, didoakan umum 7 th, diharapkan 2 th, & hari H masih diseru pada Islam #Jihad

47. Jadi kita nan hendak ber #Jihad melawan kekufuran & kemusyrikan, sudahkah sebut nama Obama, Hu, Sarkozy, Merkel, Brown dst dalam doa?

48. Sebab itulah yang dituntunkan Nabi kita. #Jihad harus dimulai dengan cinta; berharap mereka nan menentang tetap berhak atas kasihNya.

49. Setelah doa, #Jihad selanjutnya adalah dengan bayan; penjelasan, lisan, kaset, VCD, film, tulisan, buku, diskusi, konferensi, debat dll.

50. Sebab RasuluLlah diutus pada seru sekalian alam; tiap ummat & segala bangsa berhak mendapatkan penjelasan tentang apa itu Islam. #Jihad

51. Jadilah pewarisnya nan bukan hanya membawakan pesan; namun juga akhlaq & santunnya dalam bicara; cinta & kasihnya dalam memberi. #Jihad

52. Setelah itu, jika ada kekuatan-kekuatan yang coba halangi manusia dari kebenaran & merintangi suburnya kebajikan; siapkan tombak. #Jihad

53. Apa itu tombak? Mengapa di urut 3? Apa bedanya ia dengan pedang yang ada di urut ke-4 dalam poin #Jihad melawan kekufuran ini?

54. Tombak adalah senjata yang menggertak, senjata yang hadirkan rasa takut musuh. Jika mereka tak macam-macam, tak perlu ditusukkan. #Jihad

55. Qiyas yang hendak disampaikan Ibn Al Qayyim adalah; #Jihad dengan kekuatan awal-awalnya cukup dengan memberi takut pada kejahatan.

56. Islam tak bertujuan menghancurkan; ia pembangun bukan perusak. Cukupah jika kejahatan tenggelam dalam gentar, tak membahayakan. #Jihad

57. Barulah kalau kejahatan itu benar-benar mengancam kemanusiaan, kebajikan, kebenaran; menantang duel, kita siapkan #Jihad puncak: Pedang.

58. Barulah kalau kuasa kejahatan itu melakukan tindakan perusakan di muka bumi, #Jihad mengayunkan pedangnya menyelamatkan kemanusiaan.

59. Itulah 4 pembagian #Jihad menurut Ibn Al Qayyim yang terjelaskan dalam 14 (5+2+3+4) sub bahasan. Seberapa banyak peran kita ambil & …

60. ..seberapa payah kita berjuang menentukan kemuliaan kita di sisiNya. Selamat ber #Jihad Tweeps Shalih(in+at). Maafkan nan tak berkenan;)

Average High: Bangunnya Orang-orang yang Berselimut ...

0
Diposting oleh cahAngon on 07 April 2011 , in
Bila melawan rasa kantuk saja kita tidak bisa, apakah kita akan bisa melawan musuh yang jauh lebih besar dari itu? Bila meninggalkan kenikmatan kehangatan selimut di malam hari saja kita tidak rela, apakah kita akan rela berkorban untuk tantangan yang lebih besar?
...


Oleh: Muhaimin Iqbal*
(Direktur Pengelola Gerai Dinar)

Di dalam Al-Qur’an ada dua nama surat yang artinya kurang lebih sama, yaitu ‘orang yang berselimut’. Pertama surat Al- Muzzammil dan yang kedua surat Al-Muddatstsir. Yang pertama menyuruh yang diseru bangun dari selimut untuk menegakkan sholat malam, dan yang kedua menyuruh bangun dari selimut untuk kemudian memberi peringatan.

Saya terinspirasi oleh dua surat ini karena merasa begitu beratnya untuk bangun di malam yang dingin, bangun dari hangatnya selimut dan nikmatnya tidur lelap. Tetapi rupanya justru di sinilah letak pembelajarannya bagi orang-orang yang ingin membuat perubahan besar dalam hidupnya, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk masyarakatnya.

Ketika menjelaskan tafsir surat Al Muzammil, Ibnu Katsir menyampaikan bahwa surat Al Muzzammil yang terdiri dari 20 Ayat itu, turun dahulu 19 ayat, sedangkan ayat terakhir –-ayat ke-20 ditahan Allah di langit selama 12 bulan. Ayat yang terakhir inilah yang mengubah sholat malam yang semula wajib (berdasarkan 19 ayat yang pertama) menjadi sunnah. Artinya generasi awal para sahabat mendapatkan penggembelengan khusus berupa sholat malam yang panjang, separuh kurang sedikit atau bahkan lebih dari separuh malam –-selama 12 bulan penuh!

Tidak heran maka generasi para sahabat yang merupakan generasi terbaik dari umat ini, dapat mencapai apa yang oleh istilah management modern disebut average high, orang rata-rata, tetapi rata-rata yang sangat tinggi. Secara rata-rata sangat tinggi kualitas mereka –bukan hanya satu atau dua saja yang tinggi kualitasnya– tetapi menyeluruh. Ya antara lain karena digembleng melalui sholat malam, sholat malam yang panjang dan kontinyu tersebut di atas.

Meskipun tidak lagi diwajibkan, sholat malam yang panjang dan kontinyu ini antara lain tetap menjadi ciri khas umat generasi sesudahnya yang juga masih sangat unggul. Hal ini terus berlanjut hingga ke zaman modern ini, tokoh-tokoh pejuang Islam abad ini pun meskipun tidak lagi menjadi kewajiban, mereka tetap mewajibkan dirinya sendiri untuk secara istiqomah menjalankan sholat sunnah di waktu malam ini.

Dengan contoh dari ayat-ayat tersebut di atas dan juga apa yang dilakukan oleh umat ini terdahulu, maka sesungguhnya di zaman ini pun kita seharusnya masih juga dapat membangun generasi orang-orang yang rata-ratanya unggul – average high - yang kapasitasnya sepuluh kali (QS 8 : 65) atau setidaknya dua kali (QS 8 : 66) dari kapasitas rata-rata musuh (dalam bidang apapun). Awalnya ya dimulai dengan belajar istiqomah sholat malam yang panjang untuk waktu minimal satu tahun – dan tentu kemudian tidak meninggalkannya setelah itu.

Mengapa sholat malam ini begitu berperan dalam membangun pribadi-pribadi unggul tersebut? Bayangkan pembelajaran dan pelatihan yang dihasilkannya, selain dikabulkannya do’a mereka di akhir malam. Bila melawan rasa kantuk saja kita tidak bisa, apakah kita akan bisa melawan musuh yang jauh lebih besar dari itu? Bila meninggalkan kenikmatan kehangatan selimut di malam hari saja kita tidak rela, apakah kita akan rela berkorban untuk tantangan yang lebih besar?

Musuh itu datang dalam berbagai bentuknya di sekitar kita. Ada riba yang bila kita tidak tinggalkan, kita akan menjadi musuh Allah dan RasulNya (QS 2 : 279), Ada ketidakadilan ekonomi yang memiskinkan sebagian besar umat ini, ada raksasa-raksasa konglomerasi yang siap mengambil satu-satunya kambing kita melalui keunggulan ‘perdebatannya’, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Tidakkah kita tergerak untuk bangun dari selimut kita untuk bisa melawannya?

Apa yang telah kita capai dalam bentuk kemewahan hidup, pekerjaan yang baik, gaji dan fasilitas yang baik –-kadang melengahkan kita untuk berbuat sesuatu yang riil bagi umat yang luas. Kemewahan yang kita nikmati di tempat kerja kadang juga membuat kita ignorance –masa bodoh bahwa lingkungan kerja kita sehari-harinya bersentuhan dengan riba, riswah, dan sejenisnya. Bahwa pekerjaan kita membuat kita bekerja untuk pemilik 99 ekor kambing yang dari waktu ke waktu mengembangkan teknik ‘berdebat’ sehingga bisa mengambil satu-satunya kambing yang dimiliki oleh kebanyakan umat.

Tidakkah kita takut bila Allah bertindak sesuai janjinya: “Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar.” (Al Muzzammil – 11).

Ayo sekarang kita bangun generasi average high di segala bidang, kita taklukkan musuh juga di segala bidang. Generasi yang setiap diri kita mampu menaklukkan sepuluh atau setidaknya dua kali kekuatan musuh. Ayo bangun dari selimut kita...!

*)sumber: hidayatullah.com

Jangan Sampai #Bangkrut!!

0
Diposting oleh cahAngon on 01 April 2011 , in

1. "Akan datang pada hari kiamat, satu kaum yang membawa kebaikan sebesar Gn. Uhud, maka Allah jadikan ia bulu-bulu beterbangan.." #Bangkrut

2. Para sahabat bertanya, "Apakah mereka itu muslim ya Rasulallah?" -sebab sefaham mereka kekafiranlah yang jadikan amal sia-sia. #Bangkrut

3. Jawab Nabi mengejutkan, "Mereka muslim, mereka shalat sebagaimana kalian shalat, mereka puasa sebagaimana kalian puasa, dan.." #Bangkrut

4. "..bahkan mereka menegakkan shalat malam. Akan tetapi, jika bersunyi bersama apa yang dilarang Allah, mereka melanggarnya." #Bangkrut

5. Hadits diriwayatkan Ath Thabrany & dishahihkan Al Albani; peringatan penting agar kita tak membatalkan pahala amal sendiri. #Bangkrut


6. Apa saja yang membuat pahala 'amal kebaikan terhapus lalu kita menjadi #Bangkrut di akhirat? Mu'adz ibn Jabal RA mengurai 8 hal tuk kita.

"Khalauw bimahaarimiLlaah"; mungkin maksudnya shalih ketika bersama insan, tak bertaqwa kala sendiri. @mas_arief88 @ameliasq @NikenSitorus

Salah 1 tanda Mas Shalih, tapi yg ini lbh mdh menjangkit T_T “@aguskuncoroadi: Munafik? RT: shalih ktk bsm insan, tak bertaqwa kala sendiri.

6. Sebab #bangkrut akhirat pertama ialah Ghibah; membicarakan fakta ketakbaikan seseorang saat tak hadirnya, yang dia tak suka jika disebut.

7. Ghibah membuat #Bangkrut sebab kelak peng-ghibah akan diambil pahala kebaikannya untuk membayar rasa sakit & segala dampak gunjingannya.

8. Andai pahala peng-ghibah telah habis, sementara banyak korban gunjingan belum terbayar; dosa korban akan ditambahkan padanya. #Bangkrut

9. Kisah 2 wanita ahli puasa nan nyaris sekarat oleh beratnya Ramadhan. Orang-orang mengajukan permohonan agar diizinkan membatal. #Bangkrut

10. Tapi Nabi justru perintahkan keduanya muntah dalam mangkuk. Isinya sisa cernaan busuk, cairan bercampur darah & nanah anyir. #Bangkrut

11. Nabi katakan: "Lihat 2 saudari ini, mereka puasa dari apa yang dihalalkan, tapi membatalkannya dengan memakan bangkai saudara. #Bangkrut

12. "Demi Allah muntah yang keluar ini, kalah jauh menjijikkannya dibanding apa yang mereka telan." (HR Abu Dawud) #Bangkrut

13. Penyebab #bangkrut kedua: sombong. Sebab kesombongan seberat biji dzarrah saja telah mengharamkan ahlinya dari hak untuk masuk surga.

14. Sombong: enggan taat, menolak kebenaran, & meremehkan insan lain. Ia menyebabkan #bangkrut seperti Iblis yang terlaknat abadi.

15. Penyebab #bangkrut ketiga; riya', mengarahkan niat amal shalih sekedar pada pandangan kagum, cerita masyhur, & pujian manusia di dunia.

16. Sungguh menggiriskan; hadits tentang 3 orang pertama yang dipanggil di hadapan Allah kelak; seorang Qari', Muhsin, & Syahid. #Bangkrut

17. Pada Qari', ditunjukkan nikmat Allah padanya hingga ia memahami Al Quran & Fiqh dengan dahsyat lalu menjadi 'alim nan masyhur. #Bangkrut

18. "Betul Ya Rabbi, lalu aku berda'wah semata karenaMu", ujarnya. Allah berfirman, "Dusta kamu! Kamu hanya ingin digelari 'Alim!" #Bangkrut

19. Pada si kaya nan dermawan, Allah tampakkan betapa banyak karuniaNya. "Betul Ya Rabbi, lalu aku tunaikan hartaku di jalanMu!" #Bangkrut

20. Pada mujahid yang syahid ditampakkan nikmatNya. "Betul Rabbi, aku berjihad meninggikan kalimatMu!" Kata Allah: "Dusta! Dusta!" #Bangkrut

21. "Semua puja-puji manusia yang kalian harap dalam hati telah dilunaskan di dunia. Kau 'alim, kau dermawan, kau pahlawan." #Bangkrut

22. "Tak ada bagian dari balasan akhiratKu untuk kalian, ambillah tempat kalian di neraka.” (Kisah disarikan dari HR Al Bukhari) #Bangkrut

23. Sebab #bangkrut keempat; 'ujub, rasa kagum pada diri sendiri atas kebaikan jiwa & keshalihan 'amalnya. Sebab 'ujub adalah ketertipuan.

24. Bahaya 'ujub: membuat merasa cukup berkebaikan, terbuta dari aib-aib diri, & merasa tak berdosa (padahal rasa ini dosa berat) #Bangkrut

25. Sampai-sampai disebutkan para ahli hikmah; "Kalau sama-sama terbayang-bayang, maka dosa lebih baik daripada 'amal ibadah." #Bangkrut

26. "Dosa nan lahirkan sesal lebih baik daripada ibadah lahirkan bangga. Adam-dosa-taubat-diampuni. Iblis-ibadah-bangga-dilaknat." #Bangkrut

Begitu juga keliru Baiquni Shalih. Tetap beramal & berjuang tuk ikhlas ya;) “@muhammadbaiquni: saya jadi takut lakukan amal, takut riya :'(”

27. Demikian kata Ibn Atha'illah. Baru 4 dari uraian Mu'adz tentang sebab #Bangkrut; 4 lainnya kita lanjut esok insyaaLlah ya Shalih(in+at).

28. ADD: "Beramal karena ingin dilihat berarti syirik. Tak jadi beramal karena khawatir dilihat, itu riya'." -Fudhail ibn 'Iyadh- #Bangkrut

29. Sebab #bangkrut akhirat kelima adalah meniatkan ibadah hanya untuk dunia hingga tak tersisa pahala di akhirat (QS 2: 200).

30. Dalam hadits tentang niat; "Barangsiapa hijrahnya karena dunia yabg ingin dia raih, atau wanita yang ingin dia nikahi.." #Bangkrut

31. "..Maka hijrahnya hanya sekedar pada apa yang dia tuju." (HR Al Bukhari & Muslim). #Bangkrut sebab niat duniawi ini sangat disayangkan.

32. Al Ghazali mencatat beberapa contoh; shalat agar bugar, puasa agar pencernaan sehat, sedekah agar mendapat lebih banyak, dll. #Bangkrut

33. Semua ibadah kepada Allah memiliki fadhilah & hikmah, tapi jangan sampai keduanya -apalagi yang duniawi- dijadikan niat. #Bangkrut

34. Ini juga yang jadi kekhawatiran 'Umar saat harta Persia dibawa ke Madinah. "Celakalah jika balasan kebaikan kita disegerakan!" #Bangkrut

35. Pelajaran dari kisah 3 orang yang terjebak dalam gua lalu berdoa dengan tawassul pada 'amal shalihnya (HR Al Bukhari & Muslim) #Bangkrut

36. Adalah bahwa mereka menggunakan 'amalnya untuk lepas dari masalah SETELAH ikhlas mereka ukirkan, bukan diniatkan dari awal. #Bangkrut

37. Dan mereka pun 'TERPAKSA' melakukan sebab segala ikhtiyar telah buntu; dan bukan dengan sukaria meniatkan untuk dunia. #Bangkrut

38. Sebab #bangkrut keenam adalah hasad . Sebagaimana hadits: hasad memakan pahala 'amal kebaikan seperti api memakan kayu.

39. Orang berpenyakit dengki kehilangan banyak kesempatan berkebaikan, sebab; susah lihat orang senang, senang lihat orang susah. #Bangkrut

40. Siang & malam, pendengki memikirkan orang hingga tak sempat membekali diri sendiri. Hasad adalah dosa yang paling menyiksa. #Bangkrut

41. Bahkan andaipun ber-'kebaikan', pendengki selalu meniatkannya untuk membangun keunggulan saingnya, mengalahkan yang didengki. #Bangkrut

42. Dengki & dendam itu, kata 'Ali ibn Husain, seperti menenggak racun ke mulut sendiri lalu berharap orang lain yang akan mati. #Bangkrut

43. Sebab ke-7 #bangkrut akhirat ialah Qath'ur Rahim: memutus silaturrahim dalam kekeluargaan, kekerabatan, persaudaraan, persahabatan, dst.

44. Memutus silaturrahim termasuk dosa yang disegerakan 'adzabnya di dunia, di samping #bangkrut ahlinya kelak di akhirat (HR Al Bukhari)

45. Memutus silaturrahim dengan sikap diam, perkataan, & perbuatan dibenci Nabi; dilarang duduk di majelis beliau (HR Al Bukhari) #Bangkrut

46. Sebab mengandung nama Allah -Ar Rahiim-, memutuskannya merupakan kezhaliman pada manusia sekaligus kezhaliman pada Allah. #Bangkrut

47. "..Dan bertaqwalah pada Allah yang dengan namaNya kamu saling meminta & menyambung silaturrahim.." (QS 4: 1) #Bangkrut

48. Sebab ke-8 #bangkrut di akhirat adalah kezhaliman. Sungguh ia merupakan kegelapan berat di hari pengadilan.

49. Sebab tiap orang nan dizhalimi; jiwa, harta, maupun kehormatannya berhak mengajukan tuntutan & balasan kepada yang menzhalimi. #Bangkrut

50. Semakin banyak yang dizhalimi; semakin ruwet & panjang urusan. Yang paling berpeluang hadapi banyak gugatan adalah pemimpin. #Bangkrut

51. FRAGMEN. Sulaiman ibn 'Abdil Malik: "Amboi banyaknya jama'ah haji!" 'Umar ibn 'Abdil 'Aziz: "Semuanya musuhmu di depan Allah!" #Bangkrut

52. 'Umar ibn 'Abdil 'Aziz bermimpi melihat Al Hajjaj ibn Yusuf dibunuh oleh Allah sebanyak pembunuhan yang dilakukannya di dunia. #Bangkrut

53. OOT. Yang bercita menjadi Presiden RI juga harus mengingat; ada 250 Jt orang yang siap menjadi pendakwanya kelak di akhirat. #Bangkrut

54. Demikian 8 hal penyebab #bangkrut akhirat yang disebutkan Mu'adz ibn Jabal. Dalam lafazh Muslim disebutkan Mu'adz bertanya pada Nabi.

55. "Faman najaa Ya RasulaLlah? Maka siapa orangnya yang bisa selamat dari hal-hal itu ya Nabi?" tanya Mu'adz.

56. Jawab Nabi: "Akhlish lidiinika, fayakfiika 'amalul qaliil. Bermurnilah pada agamamu, maka cukup bagimu 'amal yang sedikit." #Bangkrut

57. Semoga Allah menjaga kita dari #bangkrut di dunia, terlebih di akhirat. Mari sucikan hati & diri dari 8 perusak 'amal. BrkLlh fikum:)

Agenda Weekend PKS Cipinang Besar Utara

0
Diposting oleh cahAngon on 29 Maret 2011 , in
Alhamdulillah, di Ahad pagi yang cerah, tanggal 27 Maret 2011, dengan penuh semangat disertai rasa gembira kita bisa berkumpul dan bersilaturahim lagi dengan Keluarga Besar PKS Cipinang Besar Utara. Jam 7.00 pagi sekitar 30-an Ibu-Ibu Majelis Ta'lim Cahaya Bina Ummat sudah stand by bersama anak-anaknya, beserta 50-an Kader ikhwan wa akhwat yang ikut serta beserta para jundinya yang ga kalah semangat dengan abi n uminya. Pukul 7.45 rombongan berangkat dengan satu bis metromini, satu mikrolet n beberapa motor.



Agenda pertama kita adalah menuju Masjid Baitul Ihsan untuk bergabung bersama jama'ah MAKKAH ( Majelis Ahklaqul Karimah ) se-DKI Jakarta, Alhamdulillah rombongan tiba 10 menit sebelum dimulai. Acara dibuka jam 8.30 oleh MC yang udah ga asing  "Bang Agus Supriatna" serta  dihadiri oleh Pembina MAKKAH Bang Sani "Triwisaksana" , Guru Besar Majelis Ahklaqul Karimah Ust, Hidayat Rohim, dan Ust Muslih Abdul Karim. Menjelang Dzuhur Acara usai seiring kiriman konsumsi datang Hokben  n Nasi Padang buat bekal energi perjalanan berikutnya.



Agenda kita selanjutnya, Munashoroh to Dunia Islam khususnya Rakyat Libya yang di hadiri oleh berbagai kalangan dari Politisi maupun Agamawan, ada Hidayat Nur Wahid, Anis Matta, Yoyoh Yusroh, Triwisaksana, Sabam Sirait, serta ratusan ribu kader dan simpatisan Kader Partai Keadilan Sejahtera yang mulai memadati Monas sekitar pukul 13.00 dan dilanjutkan dengan Long March dari lapangan Monas menuju Bundaran Hotel Indonesia kembali ke Monas.
Rombonganpun mendarat kembali di CBU pukul 17.15.

Tergerak di Titik Balik

0
Diposting oleh cahAngon on 25 Maret 2011
Satu teriakan perlawanan, bukan ketakutan
Satu suara dalam kegelapan, satu ketukan pada pintu
Dan sebuah dunia yang menggemakannya bertalu-talu
-Henry Wardsworth Longfellow, Revere-

Tidak pernah terjadi dalam sejarah, para panglima pasukan musuh, seluruhnya masuk ke dalam agama penakluknya. Kecuali peristiwa yang indah itu; Fathul Makkah. Dan wanita ini ambil bagian dalam kancah itu, dengan sebuah perjalanan yang sulit, dengan cinta yang rumit, dengan mengalahkan dendam yang pahit.
Namanya Ummu Hakim binti Al Harits. Di lahir, tumbuh, dan merenda masa depan di tengah keluarga yang paling dahsyat permusuhannya terhadap da’wah Rasulullah, Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Ayahnya, Harits ibn Hisyam, hingga ajal menjemput tak henti memusuhi Sang Nabi. Paman, sekaligus mertuanya adalah Abu Jahl ibn Hisyam, Fir’aun-nya ummat ini. Dan harus kita sebut nama suaminya, ‘Ikrimah ibn Abi Jahl, panglima Makkah yang paling ganas dan ditakuti setelah Khalid ibn Al Walid.

Hari itu adalah hari takluknya Makkah. Nama suaminya berada di deret atas daftar pencarian pasukan Rasulullah. Untuk dibunuh. Karena permusuhan sengitnya yang tak kunjung henti, karena keganasannya dalam menyiksa kaum beriman. Juga demi pemusnahan dendam kesumat dan darah kejahatan yang mengalir dalam dirinya; darah Abu Jahl. Sebuah nama yang mendenging di telinga kaum muslimin sebagai pembantai orang beriman, penganiaya mukmin lemah, pengobar kebencian, permusuhan, dan peperangan.
Dia berharap hari itu suaminya akan memenuhi ajakan Khalid ibn Al Walid yang membawa pesan padanya, ”Masuklah Islam, engkau akan selamat!” Ya, masuk Islam saja. Atau setidaknya berpura-pura. Tapi jawaban ’Ikrimah sungguh menggiriskan hatinya. ”Andaikan di muka bumi ini tak tersisa lagi selain diriku, aku tetap takkan mengikuti Muhammad selama-lamanya!” Keras kepala! Keras kepala! Persis seperti ayahnya yang memilih kehancuran daripada kebenaran ketika berdoa, ”Ya Allah jika apa yang dibawa Muhammad itu memang benar dari sisiMu, hujani saja kami dengan batu dari langit!”
Detik itu juga Ummu Hakim menyaksikan suaminya berkemas. Ia tak bertanya. Ia akan tahu nanti bahwa lelaki yang dicintainya itu pergi ke Yaman. Kini hatinya yang dirundung duka, dendam, dan lara itu itu harus ditata lebih dahulu. Mari kita bayangkan seorang wanita yang tumbuh di tengah ayah, mertua, suami dan keluarga besar yang paling sengit memerangi da’wah. Mencaci-maki Muhammad dan mencelanya sudah bagai ritual agama dalam rumahtangga dan keluarga besarnya.
Tentu ada dua kemungkinan tentang jiwanya sejak lama. Pertama, jika ia bersimpati pada Muhammad dan diam-diam beriman, atau setidaknya mendukung dalam hati. Tentu masa berpuluh tahun ini bukan masa yang mudah untuk dilaluinya. Ia harus menyembunyikan perasaan kagum dan dukungannya dari seluruh keluarga yang kompak menyanyikan koor permusuhan. Pahit sekali. Pahit sekali mendengar lelaki berakhlaq mulia, yang datang dengan segala kebaikan bagi Quraisy itu dihina dan direndahkan di telinganya. Atau kadang mungkin ia ditegur, ”Mengapa kau tak ikut mencela Muhammad?”
Atau kemungkinan kedua. Bahwa ia tak beda dengan suami, ayah, mertua atau pamannya. Seorang yang tumbuh dengan kebencian tak terperikan pada Islam. Pada Muhammad. Maka saat yang paling sulit dan rumit itu adalah sekarang. Ketika mertuanya yang perkasa, Abu Jahl telah lama gugur di Badar dengan meninggalkan luka di hati suaminya, dan di hatinya. Luka itu belum kering. Dendam itu masih menyala. Kini, ketika Muhammad datang bersama sepuluh ribu bala tentaranya. Ketika seluruh wangsa Quraisy harus tertunduk malu kepadanya di depan Ka’bah. Si yatim, si miskin, si santun itu kini memegang kendali nasib mereka. Maka, bagaimanakah perasaannya?
ia telah mengalami
apa yang mungkin dialami bumi ini
di saat ia terburai memanjang oleh mata bajak
sehingga bulir-bulir gandum bisa disemaikan
-Victor Hugo, Les Miserables-
Kita tak tahu keterangan pasti, bagaimana sebenarnya keadaan hatinya sejak semula. Yang jelas, saat ini dia akan melakukan sebuah hal besar yang melampaui segala perasaan itu. Hatinya yang kukuh –mungkin khas klan Bani Makhzum- menggerakkannya untuk menemui Rasulullah. Dan di hadapan beliau dia meminta satu hal yang menurut perkiraannya tak mungkin dipenuhi. Jaminan keamanan dari beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam untuk suaminya.
Sepertinya tak mungkin. Tapi apa salahnya berharap pada Allah Yang Maha Kuasa tentang seorang yang begitu damai memberikan pengampunan umum atas Quraisy hari itu. Muhammad seorang pemaaf, bukan pendendam. Meski suaminya ada di daftar atas para buronan, apa salahnya mencoba?
Dan Rasulullah memang menjawab, ”Ya.”
Bahkan Ummu Hakim pun terkejut menyaksikan begitu mudahnya jawaban itu keluar dari bibir sang manusia mulia. Dan diiringi senyum yang sangat manis, sangat damai. Tiba-tiba tubuhnya serasa ringan, hatinya lapang. Ia kini tak ragu bahwa Islam adalah pilihan hidup untuknya, dan untuk suaminya. ”Ah..”, gumam Ummu Hakim. Tapi ini baru langkah pertama. Meminta kepada Rasulullah jauh lebih mudah daripada membujuk suaminya. Dan untuk menemui lelaki itu pun bukan hal ringan. Ke Yaman. Ke Yaman yang jauh dengan perjalanan berbahaya, melintasi gurun kosong yang tak aman dari hewan buas dan manusia beringas. Ke sana ia harus menuju, menyusul lelaki gagah yang keras hati itu.
Berbahagialah mereka yang digerakkan oleh cinta kepada hidayah..
♥♥♥
“Saya menemukan satu jenis hasil ekskresi yang tidak menimbulkan rasa jijik”, tulis Kazuo Murakami dalam The Divine Message of The DNA. Ya, sekawan ia dengan keringat, urine, lendir, juga –maaf- tinja. Tetapi apa yang kita rasakan saat melihat yang satu ini; air mata? Sangat berbeda dengan yang lain. Kilaunya justru memukau. “Walau saya tak mengerti”, kata Murakami, “Bagaimana emosi kita terinspirasi dalam benak, saya tahu bahwa saat saya tergerak hingga menangis, hati saya terasa dibersihkan dan tidak ada tempat lagi di dalamnya bagi kebencian maupun kemarahan.”
Dan itulah yang terjadi pada ’Ikrimah. Dia juga tak dapat menahan air mata, melihat kilau-kemilau di mata isterinya. Ia memang hanya setengah percaya pada pesan yang dibawa wanita tegar ini. Muhammad mengampuninya? Agak sulit menerima itu. Ia hanya setengah percaya pada pesan ini. Tapi ia sepenuhnya percaya pada selaksa kesulitan yang ditempuh Ummu Hakim untuk bisa menemuinya di Yaman. Ia percaya pada ketulusan wanita ini. Ia percaya pada cintanya. Ia tergerak di titik balik kehidupan, ketika semua yang dimilikinya terasa berantakan.
Berbahagialah mereka yang digerakkan oleh cinta kepada hidayah..
Nun di Makkah sana, Sang Nabi tiba-tiba bersabda kepada shahabat-shahabatnya. ”Sebentar lagi ’Ikrimah ibn Abi Jahl akan datang ke tengah kita sebagai seorang mukmin yang berhijrah”, katanya, ”Maka kuminta kepada kalian untuk menghentikan semua celaan dan cacian kepada ayahnya!” Ya, mencaci dan mencela Abu Jahl selama ini seolah telah menjadi bagian dari kehidupan seorang muslim. Tak pernah ada sesosok manusia yang kebengisannya kepada da’wah melebihi Abu Jahl, dan tak pernah ada sesosok manusia yang dibenci melebihi dirinya. Tapi kini Sang Nabi, yang pernah dijeratnya dengan selendang, yang pernah ditimpuknya dengan isi perut unta, yang berkali-kali nyaris dibunuhnya meminta mereka untuk menyambut putera si musuh Allah dengan cinta sebagai saudara seiman. Tidak membenci, mungkin. Tapi mencintai? Memaafkan, mungkin. Tapi melupakan?
Di luar dugaan para shahabat, Sang Nabi memberi mereka pelajaran lebih jauh. Sosok agung itu melompat dari duduknya, bergegas maju menyambut, menjabat, dan memeluk ’Ikrimah! Sementara putera musuh Allah itu terbengong takjub.
”Ya Muhammad! Aku mendengar dari wanita ini bahwa engkau memberikan jaminan keamanan untukku. Benarkah itu?”
Ah.. dengarlah, dia masih menyebut isterinya dengan ’wanita ini’. Dan bahkan ia menanyakan jaminan keamanan terlebih dahulu sebelum menyatakan diri berislam.
”Benar. Engkau aman wahai ’Ikrimah..”
Maka ’Ikrimah pun masuk Islam, berislam dengan sempurna, dan menebus dirinya kepada Allah dengan syahid di Perang Yamamah. Dan tahukah kalian para shahabatku di jalan cinta para pejuang, bahwa baru sejak saat itulah, sejak suaminya masuk Islam Ummu Hakim merasa cintanya pada suami berbalas ketulusan yang sama? Berbahagialah mereka yang digerakkan oleh cinta kepada hidayah. Berbahagialah ’Ikrimah yang digerakkan cinta kepada hidayah. Berbahagialah Ummu Hakim yang digerakkan hidayah kepada cinta..
Di jalan cinta pejuang, bahkan hal kecil seperti air mata yang bening, bisa menjadi sebuah gairah yang menggerakkan manusia, mengubah dunia..
Kalau cinta sudah terurai jadi laku,
cinta itu sempurna seperti pohon iman;
akarnya terhunjam dalam hati,
batangnya tegak dalam kata,
buahnya menjumbai dalam laku.
-M. Anis Matta-

-Salim A. Fillah, Jalan Cinta Para Pejuang 205-211-



by: azimah rahayu
---
jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya
maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa
sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti

jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya
maka mengapa tidak dinikmati saja
sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa

jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya
maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa
sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama

jikalah kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya
maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa
sedang menahan diri adalah lebih berpahala

jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya
maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya
sedang taubat itu lebih utama

jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya
maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri
sedang kedermawanan justru akan melipat gandakannya

jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya
maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia
sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia agar sejahtera

jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya
maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama
sedang memberi akan lebih banyak menuai arti

jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya
maka mengapa mesti dirasakan sendiri
sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna

jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya
maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka
sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta...



Menyerang Qiyadah Melumpuhkan Dakwah

0
Diposting oleh cahAngon , in
Muhammad Abdullah Al Khatib*
...
Wahai Ikhwan, karena dakwah kalian merupakan kekuatan besar melawan kedzoliman, maka wajar kalau mereka mengerahkan segala senjata dan kemampuan untuk menghadapi dakwah kalian, bahkan tidak ada satu pun cara kecuali mereka manfaatkan untuk memerangi dan memberangus dakwah kalian.

Cara paling berbahaya yang digunakan oleh musuh yang licik adalah upaya menimbulkan friksi internal di dalam dakwah, sehingga mereka dapat memenangkan pertarungan karena kekuatan dakwah melemah akibat terpecah belah. Dan hal yang paling efektif menimbulkan friksi internal dalam dakwah adalah hilangnya tsiqah antara prajurit dan pimpinan. Sebab bila prajurit sudah tidak memiliki sikap tsiqah pada pimpinannnya, maka makna ketaatan akan segera hilang dari jiwa mereka. Bila ketaatan sudah hilang, maka tidak mungkin ada eksistensi kepemimpinan dan karenanya pula tidak mungkin jamaah dapat eksis.

Oleh karena itulah, maka Imam Asy-Syahid menekankan rukun tsiqah dalam Risalah At-Ta'alim dan menjadikannya sebagai salah satu rukun bai'at. Imam Asy-Syahid juga menjelaskan urgensi rukun ini dalam menjaga soliditas dan kesatuan jamaah, ia mengatakan:

"...Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah – yang timbal balik - antara pimpinan dan yang dipimpin menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan. "Ta'at dan mengucapkan perkataan yang baik adalah lebih baik bagi mereka" (QS 47:21). Dan tsiqah terhadap pimpinan merupakan segala-galanya bagi keberhasilan dakwah."


Kita tidak mensyaratkan bahwa yang berhak mendapat tsiqah kita adalah pemimpin yang berkapasitas sebagai orang yang paling kuat, paling bertakwa, paling mengerti, dan paling fasih dalam berbicara. Syarat seperti ini sangat sulit dipenuhi, bahkan hampir tidak terpenuhi sepeninggal Rasulullah saw. Cukuplah seorang pemimpin itu, seseorang yang dianggap mampu oleh saudara-saudaranya untuk memikui amanah (kepemimpinan) yang berat ini. Kemudian apabila ada seorang ikhwah (saudara) yang merasa bahwa dirinya atau mengetahui orang lain memiliki kemampuan dan bakat yang tidak dimiliki oleh pimpinannya, maka hendaklah ia mendermakan kemampuan dan bakat tersebut untuk dipergunakan oleh pimpinan, agar dapat membantu tugas-tugas kepemimpinannya bukan menjadi pesaing bagi pimpinan dan jamaahnya.

Saudaraku, mungkin anda masih ingat dialog yang terjadi antara Abu Bakar ra dan Umar ra sepeninggal Rasulullah saw.

Umar berkata kepada Abu Bakar, 'Ulurkanlah tanganmu, aku akan membai'atmu.'
Abu Bakar berkata, 'Akulah yang membai'atmu.'
Umar berkata, 'Kamu lebih utama dariku.'
Abu Bakar berkata, 'Kamu lebih kuat dariku.'

Setelah itu Umar ra berkata, 'Kekuatanku kupersembahkan untukmu karena keutamaanmu.'
Umar pun terbukti benar-benar menjadikan kekuatannya sebagai pendukung Abu Bakar sebagai kholifah.

Tatkala seseorang bertanya kepada Imam Asy-Syahid, 'Bagaimana bila suatu kondisi menghalangi kebersamaan anda dengan kami? Menurut anda siapakah orang yang akan kami angkat sebagai pemimpin kami?'

Imam Asy-Syahid menjawab, 'Wahai ikhwan, angkatlah menjadi pemimpin orang yang paling lemah di antara kalian. Kemudian dengarlah dan taatilah dia. Dengan (bantuan) kalian, ia akan menjadi orang yang paling kuat di antara kalian.’

‘Wahai Ikhwan, mungkin anda masih ingat perselisihan yang terjadi antara Abu Bakar dan Umar dalam menyikapi orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. Sebagian besar sahabat berpendapat seperti pendapat Umar, yaitu tidak memerangi mereka. Meski demikian tatkala Umar mengetahui bahwa Abu Bakar bersikeras untuk memerangi mereka, maka ia mengucapkan kata-katanya yang terkenal, yang menggambarkan ketsiqahan yang sempurna, 'Demi Allah, tiada lain yang aku pahami kecuali bahwa Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi mereka, maka aku tahu bahwa dialah yang benar.'

Andai Umar ra tidak memiliki ketsiqahan dan ketaatan yang sempurna, maka jiwanya akan dapat memperdayakannya, bahwa dialah pihak yang benar, apalagi ia telah mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Allah swt telah menjadikan al haq (kebenaran) pada lisan dan hati Umar.'

Alangkah butuhnya kita pada sikap seperti Umar ra tersebut, saat terjadi perbedaan pendapat di antara kita, terutama untuk ukuran model kita yang tidak mendengar Rasululiah saw memberikan rekomendasi kepada salah seorang di antara kita, bahwa kebenaran itu pada lisan atau hatinya.

Mengingat sangat pentingnya ketsiqahan terhadap fikrah dan ketetapan pimpinan, maka musuh-musuh Islam berusaha sekuat tenaga untuk menimbulkan keragu-raguan pada Islam, jamaah, manhaj jamaah, dan pimpinannya. Betapa banyak serangan yang dilancarkan untuk melaksanakan misi tersebut.

Oleh karena itu, seorang akh jangan sampai terpengaruh oleh serangan-serangan tersebut. Ia harus yakin bahwa agamanya adalah agama yang haq yang diterima Allah swt. Ia harus yakin bahwa Islam adalah manhaj yang sempurna bagi seluruh urusan dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Ia harus tetap tsiqah bahwa jamaahnya berada di jalan yang benar dan selalu memperhatikan Al Quran dan Sunah dalam setiap langkah dan sarananya. Ia harus tetap tsiqah bahwa pimpinannya selalu bercermin pada langkah Rasulullah saw serta para sahabatnya dan selalu tunduk kepada syariat Allah dalam menangani persoalan yang muncul saat beraktivitas serta selalu memperhatikan kemaslahatan dakwah.

Kami mengingatkan, bahwa terkadang sebagian surat kabar atau media massa lainnya mengutip pembicaraan atau pendapat yang dilakukan pada pimpinan jamaah, dengan tujuan untuk menimbulkan keragu-raguan, menggoncangkan kepercayaan, dan menciptakan ketidakstabilan di dalam tubuh jamaah. Oleh karena itu, seorang akh muslim tidak diperbolehkan menyimpulkan suatu hukum berdasarkan apa yang dibaca dalam media massa, tidak boleh melunturkan tsiqahnya, dan tidak boleh menyebarkannya atas dasar pembenaran. Ia harus melakukan tabayyun terlebih dahulu.

Allah swt menegur segolongan orang yang melakukan kesalahan dengan firman-Nya,
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka serta merta menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja di antaramu.” (QS 4:83).


*Dikutip dari Kitab Nadzharat Fii Risalah at-Ta'alim (Bab Ats-Tsiqoh) terbitan Asy-Syaamil.

Adakah Obatnya....

0
Diposting oleh cahAngon on 17 Maret 2011 , in
Bagaikan patung, seorang Arab Badui berdiri di hadapan rumah tabib terkenal. Nampak sekali ada beban di hatinya. Sorot matanya sayu. Satu persatu orang yang datang berobat diamati. Ketika tiba gilirannya, ia segera masuk ke tempat berobat.

"Semoga Allah merahmatimu, adakah engkau punya obat untuk penyakit dosa-dosaku?"

Tabib itu diam. Sejenak kemudian kepalanya menunduk. Pandangan matanya terbentur lantai tanah. Tidak ada jawaban. Dicobanya memeras pikiran.

Tak lama kemudian, tabib itu menjawab, "Ambillah jerih payah kefakiran, ruh kesabaran, dan campurlah dengan kelembutan fikiran, tambahkan secukupnya rasa tawadhu' dan khusyu', lalu tumbuklah adonan itu di lesung taubat dan khudhu'. Basahilah dengan airmata takut. Setelah itu, letakkanlah di tempayan rendah diri kepada Allah. Nyalakan di bawahnya api tawakkal, aduklah dengan istighfar, sampai tampak tanda-tanda taufiq dan ketenangan. Bila sudah cukup pindahkan ke nampan mahabbah, dinginkan dengan mawaddah, tiriskan dengan rasa duka, tambahkan kekuatan iman dan rasa takut kepada Yang Maha Rahman."

"Berobatlah dengan obat itu setiap hari. Dan, selama minum obat itu, jauhkan olehmu segala bentuk dosa. Pakailah pakaian malu, teguhkan hatimu untuk jujur dan setia, dan jangan masuk ke rumahNya kecuali melalui pintu taubat. Jika engkau terus melakukan pengobatan seperti itu, hatimu akan menjadi jernih di antara hati manusia yang ada. Dan, rasa sakit yang ditimbulkan oleh dosa-dosa itu Insya Allah akan sirna."

Emha: Ini Malam Revolusi PKS...!!

0
Diposting oleh cahAngon on 24 Februari 2011 , in
Reporter: Abuhasan Surhim*
Emha Ainun Nadjib yang juga dikenal dengan Cak Nun tampil dengan Komunitas Musik Kyai Kanjeng pada acara “Munajat Nasional” dalam rangka Mukernas PKS 2011 di Yogyakarta. Ribuan warga Jogja bersama keluarga besar PKS tumpah ruah memadati Mandala Bhakti Wanitatama yang berubah menjadi arena budaya, pada Rabu malam 23 Februari 2011. Acara dibuka dengan sambutan dari Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq dan dihadiri jajaran DPP PKS.

Emha tampil full tim dengan Kyai Kanjeng dan juga ditemani sang istri, Novia Kolopaking.

“Novia ini sangat beruntung dapat saya…,” ujar Emha yang kontan disambut tawa hadirin.

“Lho, fakta itu kan harus dibalik di depan publik agar pencitraan jadi baik....,” sambung Emha yang makin membuat hadirin terpingkal dengan “kritik halus” ala Emha.


Berikut transkrip cuplikan “orasi” Emha yang sempat saya rekam:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh,

Karena ini PKS, saya akan mengawali dengan ayat dari surat al-Fath. Mudah-mudahan perjumpaan malam hari ini, yang banyak orang heran, bagaimana mungkin Kyai Kanjeng bareng PKS? Itu membatalkan pemetaan politik dan kebudayaan yang terlanjur ada. Tapi malam ini mudah-mudahan menjadi malam kemenangan bagi semua umat manusia, kemenangan bagi seluruh bangsa Indonesia.

(Emha lalu membaca surat Al-Fath ayat 1-3)

(Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus. Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat/banyak).

Ada eskalasi kemenangan di dalam ayat itu, saya tidak akan menguraikannya karena itu akan menyinggung perasaan para asatidz PKS, karena mereka pasti lebih tahu dari saya, tapi ada beberapa janji Allah di ayat itu.


Saya langsung saja mengawali dengan rasa syukur bahwa PKS mengundang Kyai Kanjeng. Bukan masalah Kyai Kanjeng pengin tampil, … tapi begini, ini ada seorang teman diantara anda, teman saya dari Arizona AS, Max W….., yang sedang mempelajari dan meneliti politik dan islam di Indonesia. Dia itu tidak faham, kok bisa Emha Kyai Kanjeng ber-acara bareng sama PKS? karena pemetaan yang dia alami selama ini: PKS itu kutub selatan, saya itu kutub utara, atau satu di barat satu di timur. Dan malam hari ini kita bersyukur karena kita bukan di kutub utara, kita bukan di kutub selatan, tapi kita bersama-sama menjadi penghuni katulistiwa. Kan gitu toh?

Kita juga akan menuju satu pemahaman dan proses politik, kebudayaan, peradaban yang Laa Syarkiyyah wa Laa Ghorbiyyah, bukan barat dan bukan timur.

Jadi nanti ustadz Hidayat Nur Wahid dan para petinggi PKS kita mohon maju ke panggung. Dia (HNW) yunior saya di Gontor, jadi saya akan lihat muhadorohnya beliau. Kalo ustadz Hidayat butuh 6 tahun untuk tamat di Gontor saya cukup 2 tahun, karena memang kemampuan mencari ilmunya berbeda (geerrr…..). Itu mengapa Gontor segera mengusir saya keluar, tapi kalau ustadz Hidayat dia harus sampai tamat karena butuh 6 tahun dia baru bisa menjadi pendekar (geerrr…...). “Itu carane wong putus asa membela diri,” sambung Emha disambut riuh.


Emha melanjutkan...

Begini, malam ini kita akan punya obrolan beberapa tema tentang PKS.

Pertama: PKS dan Kesenian

PKS selama ini dianggap punya masalah terhadap kesenian. Nah, malam ini kita akan elaborasi. Dengan beliau (HNW) mengundang Kyai Kanjeng disini, itu berarti sudah khatam majlis tarjihnya PKS, ba’tsul masailnya PKS (Dewan Syariahnya PKS), bahwa musik itu tidak termasuk bid’ah, sebagaimana partai politik juga bukan bid’ah. Nah, saya kira proporsi mengenai fiqih dan ushul fiqih masalah ini sudah beres di PKS sehingga dengan gagah perkasa malam hari ini menghadirkan Kyai Kanjeng. “Dan Kyai Kanjeng akan mendidik PKS agar supaya lebih kurang ajar sedikit….” (geerrr……)

Kedua: PKS dan Nasionalisme

Itu juga masih dicurigai orang. Kita tunjukan malam hari ini, dengan PKS minta saya disini, saya menduga husnudzon PKS ingin menunjukan bahwa PKS itu nasionalis. PKS itu kan sedang bergerak dari kelompok yang mengkhawatirkan dan menakutkan orang lain menjadi kelompok yang diharapkan oleh orang lain. Kan banyak yang cemas pada pemilu kemarin (2009), kan seluruh Eropa dan Amerika takut sama PKS menang. Gimana kalau PKS menang? Nah, pemilu yang akan datang dunia berharap PKS yang menang!

“Yo, tapi klakonmu (kelakuanmu) dirubah. Agak lebih ramah, punya ekspresi kultural, bisa memahami orang tahlilan….,” sambung Emha yang disambut tawa riuh hadirin.

Ketiga: PKS dan non-muslim

Malam hari ini, PKS akan menegaskan bahwa dia pengamal ajaran Muhammad SAW, bahwa muslim adalah yang ucapan dan perilakunya mengamankan semua pihak. Nah, malam ini saya sudah mengundang seorang pendeta dari Semarang dari gereja Isa al-Masih. Nanti kita akan sandingkan dengan ustadz Hidayat Nur Wahid di panggung ini.

Dengan demikian, malam ini adalah pemberitahuan kepada seluruh dunia bahwa PKS bukan orang eksklusif, bukan orang kuper, bukan orang dangkal, dan malam hari ini merupakan revolusi kebudayaan PKS untuk maju kedepan dan memimpin yang lebih baik bagi semua pihak.

(15 menit file aseli rekaman pengantar Emha diatas dapat didonlot disini)


Acara totality sangat luar biasa. Ustadz Hidayat Nur Wahid, ustadz Luthfi, ustadz Sukamta (Ketua DPW PKS DIY) dan Musthafa Kamal (Ketua Fraksi PKS) tampil sepanggung dengan Emha dan Pendeta Rudi yang jauh-jauh dari Semarang antusias hadir di acara PKS.

“Mas Rudi, kamu juga bisa jadi ketua cabang PKS di Semarang….,” canda Emha usai Pendeta Rudi tampil berbicara tentang pentingnya ketulusan dan kebersamaan membangun bangsa.

Di penghujung acara, usai Kyai Kanjeng menyanyikan medley lagu-lagu daerah dari mulai Sabang hingga Merauke, Emha meminta ada hadirin dari PKS untuk tampil di panggung bernyanyi bersama Kyai Kanjeng. Tak diduga, tampillah salah satu hadirin yang ternyata pengurus PKS dari Nusa Tenggara Timur. Dia membawakan salah satu lagu daerah NTT dengan fasih dan lancar, namun kalimat di bait terakhirnya digubah menjadi berbunyi "...PKS.... tetap terbaik…!!!” yang bikin Emha dan Novia geleng-geleng sambil senyam-senyum.

Pukul 23.10 acara berakhir dengan ditutup lantunan do’a oleh ustadz Hidayat Nur Wahid. Do'a untuk kemaslahatan bangsa dan juga kemaslahatan Mukernas PKS yang malam nanti (Kamis, 24/2) akan dimulai.

Selamat ber-mukernas bagi 2500 qiyadah PKS seantero Indonesia dan dunia.

SELAMAT BEKERJA UNTUK INDONESIA!

*sumber: pkspiyungan.blogspot.com

TRAGEDI KEKAYAAN...

0
Diposting oleh cahAngon on 01 Februari 2011 , in
Kekayaan yang tak bisa dibagi adalah tragedi. Setiap nyawa memang ada jatah rezekinya, tapi pelaksanaannya berpulang pada hubungan sosial kita. Sebab pada sebagian penghasilan kita, ada rezeki orang lain. Setiap kita, sebagai diri kita sendiri, atau sebagai satu kesatuan masyarakat, pasti punya pengalaman masa lalu, persepsi, dan kebiasaan yang berbeda sepanjang kita bergaul dengan apa yang disebut dengan kekayaan.

Seringkali, yang membuat orang lapar bukan karena tak ada makanan, tapi karena jatah makanannya ditelan orang lain. Yang membuat orang kekurangan bukan karena minimnya ketersediaan kebutuhan. Tapi karena ada orang lain yang tak pernah merasa berkecukupan. Akibatnya terjadi kesenjangan. Dalam praktiknya, tragedi kekayaan mewujud dalam banyak bentuk. Meski nyawa utamanya adalah ketamakan, rasa tidak pernah puas, dan nafsu bersenang-senang yang berlebihan. “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takaatsur: 1-2).
Beberapa uraian berikut, mungkin bisa menggambarkan bagaimana tragedi itu menampakkan wujudnya, di tengah kehidupan kita yang kian berat.
Tragedi Kekayaan dan Kisah Dua Ekor Serigala
Kesenangan kepada kekayaan, suatu kali diumpakan Rasulullah seperti seekor serigala. Rasulullah saw bersabda, “Adalah dua ekor serigala yang lapar, yang dilepaskan ke sekawanan domba, tidak lebih berbahaya dari kerakusan manusia kepada harta kekayaan dan kesenangan berlebihan dan bagaimana ia merusak agamanya.”
Tak ada penggambaran yang lebih verbal dan detail tentang keingingan menyerbu kesenangan meiebihi serigala yang lapar, dua ekor. Hadirkan sosok serigala itu, dalam benak kita, yang menyeringai taringnya, melolong. Entah berapa hari tidak makan. Lalu ada kawannya, senasib dan sekeadaan. Lapar, perih, dan lolongannya nyaris tak berbunyi. Di tengah sekawanan domba yang lezat. Apakah yang terjadi?
Betapa dahsyatnya pengaruh kekayaan, kesenangan terhadap dunia, bagi kerusakan beragama. Tapi ada keniscayaan yang lebih mengerikan, di luar apa yang bisa kita gambarkan. Sebab, serigala yang lapar, tidak hanya satu, tapi dua, lalu diletakkan di tengah sekawanan domba-domba. Itu masih belum bisa menjadi ilustrasi dari kerusakan terhadap agama yang dihasilkan ketamakan manusia kepada harta. Penyebutan dua serigala juga menegaskan sisi lain, bahwa kerusakan itu lebih hebat, sebab serigala yang lapar, bila dihadapannya juga ada serigala lain yang juga lapar, maka akan bangkit nafsunya untuk berebut. Ia tidak akan makan sebatas karena lapar, tapi juga karena takut serigala yang lain menghabiskan makanannya.
Ada gabungan antara kelaparan, persaingan, pertaruhan hidup atau mati, dan domba pun akan teracabik-cabik. Tetapi itu tak ada artinya bagi kerakusan manusia terhadap kesenangan dunia. Dan begitulah kenyataan yang kita saksikan. Dan begitulah, ternyata semuanya bahkan lebih buruk. Dan agama pun tercabik-cabik.
Dimensi ini mewakili sebuah sisi kerakusan dan tragedi kekayaan pada sebagian orang. Seperti potret serigala itu, bahkan lebih. Ada banyak orang yang tak pernah kenyang, dengan cara apa pun. Kelaparannya tak lagi soal perut yang kosong, tapi kecanduannya kepada selera gincu yang sangat mahal, pada segala hal. Kerakusannya tak sekadar maniak pekerjaan. Seperti kata orang tua kita dahulu, “bekerja membanting tulang.” Tapi sudah berubah menjadi bermata hijau, bertangan gatal, bila
tak bisa merampas hak orang lain.

Tragedi Kekayaan yang Tak Bersambung
Sisi lain tragedi kekayaan, adalah terputusnya kebaikan kekayaan itu dari pemiliknya. Ada begitu banyak orang yang dikaruniai kekayaan, tapi ia tak pernah mengambil kebaikan, amal, dan harapan pahala dari kekayaan itu. Lebih jauh, ini adalah dimensi kebaikan dari kekayaan yang dilihat kelak pada hari pembalasan.
Seperti dinasehatkan Ibrahim Attaimi, “Adakah kerugian yang lebih besar dari seseorang yang melihat budaknya dahulu. Yang dikuasakan atasnya selama di dunia, ternyata ia lebih mulia di sisi Allah dari dirinya pada hari kiamat. Adakah yang lebih merugi dari seseorang yang mendapatkan begitu banyak harta, lalu diwarisi oleh orang lain. Lalu orang itu menggunakannya untuk taat kepada Allah. Hingga dosa atas berlebihan dalam harta itu menjadi beban dirinya, sedang pahalanya untuk orang yang mewarisinya itu. Adakah yang lebih merugi dari seseorang yang melihat orang lain yang buta, tetapi dibukakan matanya pada hari kiamat, sementara dirinya justru menjadi buta.
Kemudian Attaimi menambahkan, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu lari dari dunia padahal dunia ini datang menuju diri mereka. Sedang kalian, kalian mengejarnya padahal ia lari dari kalian. Kalian melakukan hal-hal baru yang aneh, maka bandingkanlah keadaan kalian dengan keadaan mereka.
Alangkah sedihnya, bila seseorang lahir dalam kekayaan, tumbuh dan besar dengan kekayaan, lalu hidup dengan berlimpah kekayaan, tetapi toh orang lain yang mendapat kebaikannya, pahalanya. Ini adalah tragedi.
Kekayaan seseorang yang sudah meninggal, secara fikih dalam Islam menjadi hak milik para ahli warisnya. Artinya ada pemilik baru yang berwenang atas kekayaan itu. Pemilik baru, baru pula pencatatan fungsinya dari sisi amal. Hanya sedekah yang manfaatnya masih berlanjutlah, yang tetap memberi manfaat kebaikan bagi pemilik awalnya. Maka yang tak bisa mengambil manfaat dari kekayaannya sepanjang hidup untuk kebaikan akhirat, tidak akan mendapatkannya dari pemilik barunya. Kekayaan itu telah putus kepemilikannya. Itulah tragedi.
Tragedi Kekayaan yang Menurunkan Generasi Pembunuh
Kekayaan, seringkali berkembang menjadi sumber malapetaka yang mensilsilah dalam keturunan. Tidak saja karena soal berkah, tapi juga karena ketamakan dan kerakusan yang dijalani seseorang, bisa menyisakan bercak-bercak garis keturunan pada sebagian anak cucunya kelak.
Suatu hari, Rasulullah membagi bongkahan harta yang dikirimkan dari Yaman. Rasulullah saw membaginya pada pembesar Nejed.
Mendengar itu, orang-orang Quraisy marah. “Apakah kamu memberi orang-orang hebat dari Nejed sementara kamu mengabaikan kami?” tanya mereka.
Rasul menjelaskan, bahwa itu semua dilakukan untuk mengikat hati mereka yang kebanyakan baru masuk Islam.
Tak lama, datanglah seorang laki-laki yang lebat janggutnya, pipinya gemuk, cekung matanya, botak kepalanya, lalu berkata, “Bertakwalah kepada Allah wahai Muhammad!”
Mendengar itu, Rasulullah segera menyahut, “Siapa lagi yang mentaati Allah jika aku bermaksiat kepada-Nya? Apakah Dia memberi kepercayaan kepadaku atas penduduk bumi sementara kalian tidak mempercayaiku?”
Para sahabat geram melihat pelecehan itu. Salah seorang bahkan minta ijin Rasulullah untuk membunuhnya. Tapi Rasulullah membiarkannya.
Setelah orang itu pergi, Rasulullah berkata, “Sesungguhnya dari keturunan orang ini akan lahir kaum. Mereka membaca Al-Qur’an tetapi tidak melewati kerongkongannya. Mereka membunuh orang-orang Islam dan mengajak para penyembah patung. Mereka menikam Islam seperti panah menusuk karena lemparan. Jika aku mendapati mereka, aku akan membinasakan mereka sebagai mana kaum Ad dibinasakan.”
Lelaki tak sopan itu dengan entengnya menutup ketamakannya kepada pembagian dengan menyuruh Rasulullah takut kepada Allah dalam soal pembagian.
Begitulah ketamakan melahirkan kelicikan. Seakan dirinya lebih taat dari Rasulullah, padahal dia menginginkan bagian. Bahkan kemudian segalanya tak berhenti sampai dirinya. Keturunan yang lahir dari sulbinya ada yang menjadi pembunuh sesama Muslim, menghinakan Islam. Sungguh, berhati-hatilah kita terhadap kekayaan.
Ini semacam wanti-wanti dan peringatan keras dari Rasulullah yang secera reflektif bisa kita rasakan konteks kekiniannya. Bahwa kekayaan yang tidak halal adalah tragedi bagi anak keturunan. Karenanya, berkali-kali Rasulullah mengingatkan, agar kita mencari makanan yang halal. Sebab yang kita makan akan menjadi tulang dan daging.
Tragedi Kekayaan yang Lambat Dimakan Usia
Ada kekayaan yang menjadi tragedi, lantaran pemiliknya terlambat menjadi dewasa, terlambat mengerti tentang arti kekayaan. Alangkah banyak orang yang menunggu tua untuk sekadar tidak tamak dan merasa cukup.
Sepertinya ada periodisasi manusia dalam memahami kekayaan. Dahulu ketika kanak-kanak, keindahan dan kesenangan yang kita kenal hanyalah warna-warni boneka, atau spektrum pelangi yang hadir sebagai hiburan langka, di tengah rintik hujan yang asing di siang bolong.
Tetapi umur yang bertambah, menambah pula kosa kata kita akan keindahan, kesenangan, bahkan kemudian mungkin ketamakan. Saat itulah setiap manusia mengembara dalam pencariannya, termasuk pencariannya akan kesenangan dunia.
Allah SWT menjelaskan, tentang perjalanan manusia, dalam salah satunya, dengan lompatan yang cepat, lahir, dewasa, dan kemudian berusia empat puluh tahun. “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik pada ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a, ’Ya, Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkauyang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang Engkau ridhai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) pada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15)
Penyebutan umur empat puluh tahun pada ayat ini, dilengkapi dengan ilustrasi sosial yang dialami seseorang pada kisah itu. Ialah bahwa umur itu adalah umur peneguhan, bukan permulaan. Orang boleh berkata bahwa hidup dimulai pada umur empat puluh tahun, tapi itu bukan memulai dari nol. Karenanya, muatan do’a, dan substansi pengharapan dalam do’a pada ayat di atas, merujuk pada situasi kedewasaan yang mendahuluinya. Sedang syukur atas apa yang diberikan selama usia sebelumnya, seperti memberi makna kemapanan. Kemapanan tak berarti kemewahan yang melimpah ruah. Yang pasti ia tidak sedang meminta, tapi mensyukuri yang telah ada.
Lalu proses pewarisan itu dimulai, dengan memohon kebaikan pada anak cucu. Ayat itu sekali lagi menegaskan, yang memulai pada usia empat puluh tahun, semestinya memulai proses pewarisan, seperti dalam substansi do’a itu. Bagi dirinya sudah selesai, bukan baru akan memulai. Hanya dengan itu, kekayaan tidak berubah menjadi tragedi, karena kebaikannya terlambat dimakan usia pemiliknya.
Dalam konteks apa pun, kekayaan bisa berubah bentuk menjadi sumber penyakit, biang tragedi dan kehancuran. Ada banyak bentuk selain yang diuraikan di atas. Kita mengerti bahwa kehidupan kita sendiri mungkin sedang tidak mudah. Ada begitu banyak kesulitan menerpa setiap hari. Tetapi itu tidak berarti kita boleh membiarkan persepsi kita tentang kekayaan, serta cara kita berinteraksi dengannya menjadi ladang-ladang tragedi.
Sumber: Tarbawi Edisi 77 Tahun 5 / Dzulhijjah 1424 H / 5 Pebruari 2004 M