• img

    KAMUFLASE...

    Akan aku ajak engkau menemui bunglon .. agar engkau menyaksikan sendiri tipu dayanya! Bunglon merubah warna dirinya sesuai dengan tempat ia berada .. agar engkau mengetahui bahwa yang seperti bunglon itu banyak .. dan berulang-ulang! Dan bahwasanya ada orang-orang munafik .. banyak pula manusia yang berganti-ganti pakaian .. dan berlindung dibalik alasan “ingin berbuat baik”...
  • img

    Jujur...

    Jika engkau hendak mengungkap kejujuran orang, ajaklah ia pergi bersama .. dalam bepergian itu jati diri manusia terungkap .. penampilan lahiriahnya akan luntur dan jatidirinya akan tersingkap! Dan “bepergian itu disebut safar karena berfungsi mengungkap yang tertutup, mengungkap akhlaq dan tabiat”...
  • img

    Pemimpin

    Seringkali terbukti bahwa tugas utama seorang pemimpin hanyalah bagaimana memilih orang yang tepat. Begitu berhasil memilih orang yang tepat seringkali tugas seorang pemimpin sudah selesai. Setidaknya sudah 80 persen selesai. Tapi begitu seorang pemimpin salah memilih orang, sang pemimpin tidak terbantu sama sekali, bahkan justru terbebani...
  • img

    Karena Ukuran Kita Tak Sama

    seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi...
  • img

    Kemenangan..

    Kemenangan sejati yang paling mendasar dan substansial adalah jika kebenaran tetap bersemayam di hati kita. Tidak terkontaminasi oleh racun-racun kehidupan, tidak tergoda oleh iming-iming apapun bentuknya, yang membuat hati kita diisi oleh nilai-nilai lain selain nilai kebenaran yang bersumber dari Allah SWT, ...
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

WUJUD dan HADHIR

0
Diposting oleh cahAngon on 21 September 2017 , in ,


WUJUD dan HADHIR
@salimafillah
Apakah beda antara wujud dan hadhir?
Wujud adalah keberadaan di tengah yang lain. Ada, sebagai salah satu unsur yang menyusun keseluruhan. Ada, sebagai bagian yang jika hilang, maka kesatuannya menjadi tak utuh.
Tapi hadhir adalah keberadaan yang proaktif dan progresif memberi nilai tambah serta makna-makna baru. Hadhir melampaui wujud; ia bukan sekedar bagian dari keseluruhan, melainkan yang membuat keseluruhan itu berdaya, bergerak, serta melahirkan perasaan, pikiran, cara pandang, sikap, dan tindakan. Hadhir melampaui wujud, absennya bukan hanya menjadikan kesatuan tak lagi utuh, melainkan cacat, kehilangan kemampuan melihat, mendengar, merasa, berpikir, bergerak, dan bahkan mati.
Dalam keluarga, ada suami atau ayah yang wujud, ada pula yang hadhir. Ada istri serta ibu yang hadhir, namun tak sedikit yang hanya mencapai derajat wujud. Demikian pula status "anak", "kakak", dan "adik".
Yang wujud, ada sekedar sebagai status. Yang hadhir mengisi hati, akal, dan seluruh detak-detik kita dengan cinta, perhatian, ketegasan, kedewasaan, penumbuhan, serta pengembangan.
Hadhir adalah rasa termanis, terlembut, dan terhangat yang dipersembahkan manusia dari keberadaannya.
Itulah barangkali mengapa dalam Bahasa Arab, peradaban disebut Al Hadharah. Sebab ia adalah sekumpulan kehadiran, sehimpun eksistensi yang berkontribusi memberi nilai dan arti bagi kemanusiaan insan dan kemajuan kehidupan.

KITA

0
Diposting oleh cahAngon on 23 Agustus 2017 , in , ,


Seberapa peduli kita tentang keselamatan diri ini di sisi Allah dibanding girang hati kita mengatakan sesama salah dan kita yang benar?
.
. “Wahai Syaikh”, ujar seorang pemuda, “Manakah yang lebih baik, seorang muslim yang banyak ibadahnya tetapi akhlaqnya buruk ataukah seorang yang tak beribadah tapi amat baik perangainya pada sesama.”
.
. “Subhaanallah, keduanya baik”, ujar sang Syaikh sambil tersenyum.
.
“Mengapa bisa begitu?”
.
“Karena orang yang tekun beribadah itu boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk berakhlaq mulia bersebab ibadahnya. Dan karena orang yang baik perilakunya itu boleh jadi kelak akan dibimbing Allah untuk semakin taat kepadaNya.”
.
. “Jadi siapa yang lebih buruk?”, desak si pemuda.
.
Airmata mengalir di pipi sang Syaikh. “Kita Anakku”, ujar beliau. “Kitalah yang layak disebut buruk sebab kita gemar sekali menghabiskan waktu untuk menilai orang lain dan melupakan diri kita sendiri.” Beliau terisak-isak. “Padahal kita akan 
dihadapkan pada Allah dan ditanyai tentang diri kita, bukan tentang orang lain.”

https://salimafillah.com/kita/

ISLAM DAN PETA GEO-POLITIK GLOBAL

0
Diposting oleh cahAngon on 16 Agustus 2017 , in ,

Anis Matta: ISLAM DAN PETA GEO-POLITIK GLOBAL

1. Pasca runtuhnya Turki Utsmani 1924, di dunia Islam ada 2 bentuk format politik: pertama, non negara (non state) yakni gerakan-gerakan kebangkitan, salah satu contohnya Ikhwan. Umumnya adalah gerakan kemerdekaan yang merata di dunia Islam. Kedua, berdirinya nation state (daulah qaumiyah). Bentuk-bentuk ini tidak pernah ada sebelumnya karena dunia Islam dalam kondisi terjajah.
2. Bentuk-bentuk ini berdiri dalam satu peta yang dibentuk oleh perjanjian Sykes-Picot tahun 1916. Pasca PD I tahun 1914, ada 3 imperium utama yang hilang: Tsar Rusia, Komunis (revolusi Bolzevik), dan Khilafah Utsmaniyah. Lalu pada 1917 inisiasi satu negara muncul dengan perjanjian Balfour (1917) yakni Israel yang mengawali migrasi bangsa Yahudi ke neagra baru yang kini disebut Israel.
3. Bentuk map Sykes-Picot, sebagian besar negara Timteng diberikan ke Inggris kecuali Syiria dan Lebanon diberikan ke Prancis. Sedang wilayah Afrika diberikan ke Prancis, karenanya Prancis menjadi bahasa penting di kawasan tersebut hingga kini.
4. Setelah PD II, peta dunia berubah lagi. Inggris dan Prancis yang awalnya sebagai kekuatan utama disingkirkan AS. Termasuk kekuatan baru yang muncul di Jerman di bawah Hitler juga habis. Muncullah kekuatan baru yang bertahan yakni Rusia. Karenanya, pasca PD II muncul 2 kekuatan baru yang menguasai dunia: AS dan Soviet.
5. Sejarah Eropa secara umum penuh peperangan, setelah itu abad 17 terjadi perjanjian perdamaian dan berdiri negara-negara bangsa baru. Ini modelnya. Setelah PD II Eropa menuju ke model imperium baru tapi bukan seperti model imperium sebelumnya. Model ini yang digagas Amerika dengan global order. Payung politiknya namanya PBB, payung ekonominya adalah IMF dan World Bank. AS memperkenalkan instrumen penguasaan baru kepada dunia yang sama sekali baru.
6. Global order ini terbelah karena ada dua kekuatan yang saling mengikat. Meski mereka sepakat pada 1945 membentuk badan baru, setelah 1946 mereka terlibat dalam perang dingin. Pada era perang dingin ini terjadilah rekrutmen besar-besaran terhadap kekuatan-kekuatan dunia. AS dan sekutu melakukan rekrutmen, Uni Soviet juga. Inilah era proxy war. Negara-negara satelit ini bertempur tapi tempat bertempurnya bukan di negara tapi di tempat lain. Hampir seluruh Amerika Latin semua di bawah komunis, Timur Tengah minus Teluk semua di bawah komunis, dan Asia Tenggara ini hampir semua di bawah komunis karena AS kalah perang Vietnam. Untung kudeta 1965 gagal di Indonesia. Negara Teluk semua diproteksi AS, namun rata-rata mereka merdeka tahun 1960-an.
7. Pasca Perang Vietnam, AS mengalami keterpurukan secara politik karena dianggap kalah oleh Uni Soviet. Namun, Uni soviet sendiri bermasalah. Wilayah yang sangat luas yang dikuasi Uni Soviet nyatanya tidak bisa digunakan sebagai alat yang mengaplikasi system ekonomi komunis. System ekonomi komunis ini tidak bekerja. Semua wilayah miskin. Konsepnya semua ditarik ke pusat lalu didistribusi. Tapi ini tidak berhasil.
8. Di era Roesevelt, AS mengatakan bahwa pertarungan dengan Uni Soviet adalah pertarungan ideology. Siapa yang berhasil membuktikan sistemnya bekerja lebih baik maka dia akan menang. Dibuatlah program ekonomi, salah satunya Marshal Plan untuk menghidupkan Jerman yang hancur. Karenanya Jerman Barat dan Timur sangat kontras. Ironi ini dipertahankan; satu sejahtera satu miskin. Kedua, menghidupkan kembali Jepang yang sudah dihancurkan, termasuk Korsel yang secara cepat berkembang.
9. Tahun 1970-an Intelijen AS mendapat data ekonomi Uni Soviet ternyata tidak sampai 1/3 dari ekonomi AS. Karenanya mereka menerapkan satu strategi baru menghadapi Uni Soviet: memaksa Soviet terlibat dalam pertempuran yang banyak untuk menyedot sumber dananya. Salah satunya saat Ronald Reagen berkuasa, ia menginisiasi terjadinya Perang Bintang. Ini untuk memaksa Soviet masuk dalam pertempuran yang sebenarnya imajinatif, tapi menyedot sumber daya yang banyak karena AS tahu ekonomi Soviet jauh lebih kecil.
10. Yang kedua, ada satu kesalahan fatal yang dilakukan Uni Soviet yakni invasi ke Afghanistan. Ini masalah. Penasehat AS waktu itu memberikan saran: kita harus menjadikan Afghaistan ini menjadi Vietnam-nya Soviet. Bagaimana caranya? Satu, kita persenjatai mujahidin. Kedua, kita mobilisasi mujahidin dari seluruh dunia. Untuk yang kedua ini, ada 3 lembaga intelijen yang bekerja: Intelijen Pakistan, Saudi dan Mesir.
11. Karenanya tahun 80-an orang-orang muslim rame-rame dimobilisasi ke Afganistan dan tidak ada istilah teroris waktu itu. Dr Abdullah Azzam dengan leluasa bepergian ke negara-negara Islam dan menyerukan jihad Afghanistan. Tidak ada yang disebut teroris. Mahasiswa yang naik pesawat dari Saudi ke Pakistan mendapat diskon tiket 75 persen. Usama Bin Laden dengan mudah mendapat markas di Peshawar dan menggalang mujahidin dari seluruh dunia untuk datang ke sana. Kita seluruh umat Islam di dunia berfikir bahwa ini momentum, apalagi Syaikh Abdullah Azzam menyatakan bahwa dari bumi Afghan ini akan muncul Khilafah. Dan ini sangat menarik umat Islam. Faktanya, ini adalah rencana yang dibuat dengan baik oleh AS pada waktu itu untuk menjadikan Afghanistan sebagai Vietnamnya Soviet. Dan ini berhasil.
12. Pada 1979, hubungan Uni Soviet dan China sudah rusak. Sejak 62 sudah rusak. Tahun 54 Stalin meninggal dan digantikan Kuschev dan hubungan dengan Mao rusak. AS masuk dan lakukan rekrutmen di China. Tahun 79 era Deng Sao Ping akhirnya China bergabung ke system kapitalisme global. Saat Uni Soviet masuk Afghanistan kehancurannya sudah bisa diramalkan.
13. Muncullah pemimpin baru: Ghorbachev dengan ide Galsnost dan Perestroika untuk memperlambat laju kehancuran Soviet. Namun ini sudah terlambat. Tahun 1989 tembok Berlin runtuh dan tahun 90-an kemudian Uni Soviet Runtuh sama sekali. Sampai disini peta dunia berubah lagi, yakni dunia yang dikuasai satu kekuatan: AS dengan World Order-nya.
14. Dalam setiap perubahan dari waktu ke waktu map ini berubah. Ada negara hancur dan hilang, ada imperium terbentuk ada imperium bubar. Map ini adalah hal yang flexible. Kita juga tidak tahu Indonesia akan bertahan berapa lama. Termasuk map dunia. dan map dunia Islam ini akan seperti apa di masa mendatang. Ide tentang map ini yang diperkenalkan alquran. Ide tentang geo-politik yakni dalam surat ar-Rum. Kenapa ide tentang map ini turun di Mekah saat umat Islam tidak punya negara. Bercerita tentang pertarungan dua imperium yang tidak ada hubungannya dengan Islam. Tapi 20-30 tahun kemudian dua imperium ini ada dalam map umat Islam. Nama Romawi dan Persia tiba-tiba ada dalam map Islam. Map baru ini adalah map yang kita buat.
15. Fenomena jihad Afghan tahun 80-an ini adalah awal dari cerita panjang yang kita sebut dengan isu teroris. Dikapitalisasi sedemikian rupa oleh AS setelah fungsi mujahidin yang menguntungkan mereka ini selesai. Berapa banyak sudah fatwa agama yang kita buat yang masuk dalam rencana orang lain yang mengharuskan kita jihad ke Afghanistan. Waktu itu tidak salah kita kesana karena kita menghadapi dua musuh. Berkoalisi dengan salah satunya untuk mengahadapi yang satu. Setelah satu selesai, maka sekarang giliran kita berhadap-hadapan.
16. Persoalan bagi AS setelah Soviet runtuh adalah ketika para mujahidin ini, jika mereka kembali ke negaranya dan mengorganisir diri, apakah itu bukan ancaman? Maka dibuatkan isu teroris sebagai instrument control terhadapnya. Masalahnya, ini sudah seperti dinosaurus yang beranak-pinak dimana-mana dan tidak ada yang tahu dia anak siapa. Setelah itu dimunculkan tokoh Ossama bin Laden yang mulai menggeser posisi Syaikh Abdullah Azzam. Dan map saat Ossama menjadi sangat keras. Siapa yang mengarahkan Ossama untuk menyerang kepentingan-kepentingan AS dimana-mana?
17. Fakta persinggungan kita dengan Barat atas perang Afghanistan adalah cerita panjang. Kalo searching di internet soal hubungan Ikhwan-CIA, maka akan banyak dijumpai tulisan tentang ini. Ini adalah cerita yang banyak mereka ceritakan. Di Pilpres 2016 lalu, salah satu yang banyak diungkap Hillary Clinton adalah cerita soal ini. Dia menyalahkan kelompok Republlik dalam isu teroris. Teroris ini khan kalian yang buat? Asalnya adalah cerita di Afghan. “Khan kita sama-sama yang buat?”
18. Setelah seperempat abad runtuhnya Uni Soviet, apa yang kita alami kini persis seperti saat Uni Soviet menjelang runtuhnya. Pada tahun 60-90an, ekonomi AS 40 persen dari total ekonomi dunia, kalo digabung ekonomi Eropa berada di angka 70-80 dari ekonomi dunia. Per hari ini ekonomi AS tinggal 20 persen, 50 persennya hilang. Begitu dikombinasi AS dan Eropa tinggal 30-45 persen. Fakta ini menjelaskan kenapa sekarang ini ada ancaman revolusi social di AS dan Eropa. Fenomena ini sebagaimana yang terjadi di Soviet, ia runtuh bukan karena perang tapi karena negara-negara di dalamnya yang memisahkan diri karena tidak tahan atas kemiskinan. Waktu Deng Xiaping beralih ke system sosialis, ia hanya buat satu penjelasan: “Sosialisme itu tidak harus berbagi kemiskinan, tapi juga berbagi kekayaan.” Hal tersebut juga yang terjadi di AKP Turki soal kenapa foto Kemal Attaturk selalu dipajang. Kata Dovutoglu, karena ia memang sudah tidak ada gunanya. Justru itu dihadirkan. Tidak ada gunanya karena telah selesai maknanya. Sengaja dipajang supaya orang tidak sadar akan tafrighul ma’ani.
19. Sekarang ancaman besar AS dan Eropa adalah menurunnya kesejahteraan dan gagalnya untuk naik kembali. Saat ini kita tidak punya penjelasan bagaimana mereka akan runtuh tapi yang jelas jalannya turun. Sekarang angka kemiskinan di AS mencapai 47 juta dari 300 juta penduduk menurut standar PBB. Itu angka yang sangat besar. Ini menjelaskan mengapa Trump menang kemarin. Kebanyakan yang memilih adalah orang kulit putih yang turun dari kelas menengah menjadi kelompok miskin. Hutang AS kini sama besarnya dengan PDB-nya, 17 Trilyun USD.
20. Fakta ini menunjukkan seluruh kekacauan sedang terjadi di dunia. Ini adalah ancaman terhadap system global, sebagaimana dulu sistem komunis tidak bekerja, sekarang ini orang sampai pada kesimpulan bahwa sistem kapitalisme global juga tidak bekerja. Jika search kalimat post –kapitalisme, akan banyak buku tentang itu karena system ini tidak bisa bekerja. Itu sebabnya kepercayaan pada PBB menurun, pada Bank Dunia menurun, pada IMF juga menurun. Salah satu krisis yang menandai bahwa mereka benar-benar turun dan tidak akan bisa kembali lagi adalah krisis financial tahun 2008 lalu. Waktunya persis Obama setelah itu naik presiden.
21. Karena system global ini tidak bisa bekerja, maka kemampuan AS untuk mengontrol dunia menjadi lemah. Salah satu indikatornya adalah Arab Spring pada tahun 2010. Meski kini ada kontra Arab Spring, namun hakikatnya AS sudah tidak bisa mengontrol. Rusia yang sebelumnya bukan siapa-siapa setelah runtuh, tiba-tiba pada 2010 kembali menjadi global player. Lebih dari 40 tahun kawasan Timur Tengah dominan dikuasai AS, kini tidak lagi. Rusia menganeksasi sebagian wilayah Ukraina, di situ ada NATO, ada AS tapi tetap tidak bisa melakukan apa-apa. Di Laut Cina Selatan, AS intens memberi peringatan tapi China jawab: kita siap berperang selama apapun. Ini membuktikan wibawa militer AS hilang. Meski secara de facto ia tetap yang terkuat. AS terkuat tapi China tidak takut. Karenanya pada ara pelantikan Donald Trump 20 Januari lalu di Davos , Xi Jin Ping diundang dan berkomentar: kalo AS tidak bisa melakukan peran sebagai pemimpin global, kita siap menggantikan! Hari ini hanya ada satu negara yang punya proposal global: China. China punya proposal meng-connect dunia secara darat dan laut. Hubungan darat ke Eropa sudah tersambung.
22. Kesimbangan dunia secara total berubah. Pertama, wibawa militer AS menurun, kedua share ekonominya menurun 50 persen, dan ketiga AS sebagai pusat inovasi teknologi pelan-pelan diambil alih negara lain. Ketiga peran ini sebentar lagi dilewati negara lain. Map dunia segera berubah.
23. Pertanyaannya, dimana kita dalam perubahan ini? Umumnya ketika kita bicara siyasah syar’iyah kita berfikir sebagaimana saat buku itu ditulis. Peta sederhananya begini: tahwil qawaid as-siyasah syar’iyyah ila qawanin daulah (transformasi kaidah siyasah syar’iyyah ke hukum negara), wa minal qawanin ila siyasati ammah (dari hukum negara ke system politik pada umumnya), wa minal siyasati ammah ila ijroati tanfidhiyah ( serta dari system politik ke teknis pelaksanaan). Yakni bagaimana mentransformasi prinsip siyasah ke negara. Itu yang kita fahami selama ini. Karena itu kita tidak pernah berfikir tentang peta. Waktu buku siyash ditulis negara Islam establish. Kita dominan. Islam sebagai ideology berubah jadi system. Sekarang situasi berubah secara total. Yang perlu dilakukan adalah persoalan mindset. Maksudnya, kita perlu membaca kembali konteks ini semua dalam perpektif aqliyah handasiyah (enginering), dalam perspektif pengubah map.
24. Setelah krisis yang menimpa dunia Islam ini, baik gerakan kebangkitan dan nation state semua sama-sama hilang. Nation state yang ada di dunia Islam itu tidak bekerja. Gerakan kebangkitan Islam juga mengalami masalah. Krisis pasca Arab spring juga berdampak pada krisis di semua gerakan kebangkaitan Islam, mau ikhwan mau salafy semua mengalami masalah. Ciri dari krisis ada 2: satu, saat orang bingung dan kedua tidak ada yang bisa menjawab. Munculah disorder (ketidakaturan). Sebagaimana disebut al-Mawardi, peran negara yang sederhana adalah law and order, menciptakan keteraturan. Yang kedua adalah qadha (krisis), ketiga jika krisis tidak ada penyelesaiannya maka masuk perang (harb). Perang adalah cara mengakhiri krisis untuk memulai lembaran baru. Karenanya setelah perang Dunia I ada negara baru, ada negara hilang. Kita sekarang ini ada di krisis menuju perang. Apa yang terjadi di kemudian hari kita tidak tahu. Kalau kita ikuti berita setiap hari, maka diberitakan perang nuklir. Korut kini bisa menyapu seluruh main land AS. Krisis ini juga sedang menimpa Indonesia. Perubahan ini mengancam kita secara keseluruhan.
25. Karena krisisnya ada di sistem globalnya, di dunia Islamnya, di gerakan Islamnya, maka Pemikiran siyasah syar’iyah ini harus kita upgrade menjadi pemikiran aqliyatul handasiyah, bagaimana berfikir dalam skala ta’sis mandzumah jadidah: menciptakan system baru. Karena salah satu keberhasilan harokah Islamiyah satu abad ini adalah dia mengembalikan identitas keislaman kita. Ideology ini kembali hidup. Karena itu di dunia ini tidak ada yang bisa melawan kapitalisme kecuali hanya Islam. Tapi ideologi ini tidak punya instrumen. Belum diubah menjadi sistem. Dan tugas kita di abad ini adalah membawa ideologi ini menjadi system. Tahwilu ideolojia ila mandhumah ‘alamy (mentransformasi ideologi Islam menjadi system global).




JAUH bikin RINDU, DEKAT Tak JEMU-JEMU

0
Diposting oleh cahAngon on 07 Agustus 2017 , in ,

JAUH bikin RINDU, DEKAT Tak JEMU-JEMU
Salim A. Fillah

Ada yang sangat menarik dari kejauhan, haus telinga untuk mendengarkan, tetapi saat dekat rasanya berat untuk mengambil manfaat darinya. Bahkan hanya sekedar untuk mendengar pun perlu usaha yang besar.

Bagaimana dengan kita?

Ada yang tak istimewa saat jauh di mata, tetapi semakin dekat mengenalnya semakin meyakinkan betapa berharganya kita mendengarkan ilmunya. Kesaksian atas integritas pribadi, lebih dari sekedar tutur dan tingkah laku yang terindrai, menjadikannya sangat bernilai.

Bagaimana dengan kita?

Ada yang telinga ini semakin haus mendengarkannya meski ia tak pandai bertutur indah. Ia bukan hanya melepaskan dahaga jiwa. Ia hadirkan mata air. Sebaliknya ada yang telinga ini kian lama kian jengah mendengarnya; bukan karena puas hati, tetapi karena hilang makna dari kata.

Termasuk yang manakah kita?

Ada yang menjadi istimewa setelah kita mengenalnya dari dekat, ada pula yang tak lagi istimewa justru setelah kita mulai dekat.

Termasuk yang manakah kita?

Ada yang tulus bersimpuh di tikar lusuh saat masih harus berpeluh menempuh perjalanan jauh. Tapi rasa enggan mulai datang untuk mendatangi tempat-tempat yang agak menyulitkan saat hidup mulai nyaman dengan berbagai kemudahan.

Ada juga yang tak surut semangat mengantarkan nasehat meski berat perjalanan yang harus dijalani, nikmat hidup tak menjadikan idealisme berkarat.

Termasuk yang manakah kita?



DAFTAR yang #MNCRGKNSKL
@salimafillah
Daftar itu hanya diketahui oleh satu orang saja. Namanya Hudzaifah ibn Al Yaman.
Bermula saat kepulangan Nabi ﷺ dari Tabuk, para munafiqin ini menyusun rencana berlapis untuk membunuh beliau. Allah telah menggagalkannya dan senarai nama-nama para musuh dalam selimut itu disampaikan Nabi ﷺ pada Hudzaifah. Maka dia digelari Shahibu Sirri Rasulillah, pemegang rahasia Rasulullah ﷺ.
"Mengapa tak kita habisi saja semua pengkhianat ini Ya Rasulallah?", tanyanya.
"Agar jangan sampai orang berkata, 'Muhammad ﷺ membunuh sahabat-sahabatnya."
Maka Hudzaifah menghabiskan sisa hidupnya di antaranya untuk terus menyeksamai orang-orang yang ada dalam daftar ini dan mencegah berbagai makar jahat mereka. Saking lekatnya pengawasan Hudzaifah, tiap kali ada yang meninggal di Madinah, 'Umar ibn Al Khaththab akan bertanya, "Apakah Hudzaifah menshalatkannya?" Jika dijawab ya, barulah 'Umar turut shalat jenazah.
Suatu hari, Sang Amirul Mukminin bertanya memelas, “Aku bersumpah dengan nama Allah, mohon engkau jawab, apakah aku termasuk dalam daftar para munafiq?”
"Aku tidak bisa menjawabnya", jawab Hudzaifah.
"Demi Allah, beritahukan aku tentang diriku!"
"Tidak bisa."
Setelah mendesak sekali lagi hingga sahabat teguh itu iba, 'Umar akhirnya mendapat jawaban. “Tidak, tapi aku tidak bisa menjamin seorangpun selainmu.”
Inilah yang membuat Imam Hasan Al Bashri selalu menangis ketika membaca dan mendengar ayat-ayat dan hadits tentang orang munafiq. Dia selalu mencurigai dirinya sendiri. Dia ditanya, "Apakah orang seperti dirimu masih khawatir jatuh ke dalam nifaq?"
"Bagaimana mungkin aku tidak takut", jawab beliau gemetar, "Pada sesuatu yang Sayyidina 'Umar saja takut?"
Apakah tiap kali menyebut "munafiq" kita juga setakut keduanya? Ya Rabb. Bila berkata dusta, bila berjanji ingkar, bila diamanahi khianat, bila bertengkar berbuat jahat, bila mendirikan shalat malas, bila bicara tak sesuai yang di hati, bila membual menakjubkan orang, bertampil memukau seperti pokok kayu tersandar, dan peka seakan segala teriak dialamatkan pada dirinya.
Betapa #mncrgknskl kita ini. Betapa tiap kali tersebut kata "munafiq", diri kitalah yang paling wajib dicurigai.
_________________________
Follow @mncrgkn.skl di INSTAGRAM untuk membangun semangat mencurigai diri sendiri; jadilah #JanganKasihKendor tuk membenahi hati, akal, & 'amal.

...mungkin kita sudah lelah

0
Diposting oleh cahAngon on 13 Januari 2016 , in ,

Oleh: Ustadz Satria Hadi Lubis

Sudah lelahkah wahai kawan atas perjuangan ini..?
mungkin jadwal dakwah yang padat itu membuatmu lemah?

Atau tak pernah punya waktu istirahat di akhir pekan yang kau gusarkan, karena harus terus BERGERAK berdakwah?

Atau pusingnya fikiranmu mempersiapkan acara2 dakwah yang membuatmu ingin terpejam?

Atau panasnya aspal jalanan saat kau melakukan aksi yang ingin membuatmu “rehat sejenak”?

Atau sulitnya mencari orang yang ingin kau ajak HIJRAH ini yang kau risaukan?

Atau karena seringnya kehidupan sekitar kita meminta infak-infakmu yang membuatmu ingin menjauh?

Dakwah kita hari ini hanya sebatas ‘itu’ saja kawan. bukan ingin melemahkan tapi izinkan saya mengajakmu merenung sejenak….

Tahukah engkau wahai kawan, siapa Umar bin Abdul Azis??
Tubuhnya hancur dalam rangka 2 tahun masa memimpinnya…
2 tahun kawan, cuma 2 tahun memimpin tubuhnya yang perkasa bisa rontok, kemudian sakit lalu syahid… Sulit membayangkan sekeras apa sang khalifah bekerja… tapi salah satu pencapainya adalah; saat itu umat kebingungan siapa yang harus diberi zakat… tak ada lagi orang miskin yang layak diberi infaq…

Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta.
Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu.
Sampai pikiranmu.
Sampai perhatianmu.
Berjalan, duduk, dan tidurmu.

Tapi Syekh Musthafa Masyhur mengatakan
“Jalan dakwah ini adalah jalan yang panjang tapi adalah jalan yang paling aman untuk mencapai ridho-Nya.”

Ya kawan, jalan ini yang akan menuntun kita kepada ridho-Nya…
Saat Allah ridho.. maka apalagi yang kita risaukan?
Saat Allah ridho… semuanya akan jauh lebih indah… karena surga akan mudah kita rasa…, in syaa Allah.

Rasulullah begitu berat dakwahnya.. harus bertentangan dengan banyak kabilah dari keluarga besarnya..

Mush’ab bin Umair harus rela meninggalkan ibunya…

Suhaib harus rela meninggalkan seluruh yang dia kumpulkan di Mekkah untuk hijrah…

Asma’ binti Abu Bakar rela menaiki tebing yang terjal dalam kondisi hamil untuk mengantarkan makanan kepada ayahnya dan Rasulullah

Hanzholah segera menyambut seruan jihad saat bermalam pertama dengan istrinya,

Ka’ab bin Malik menolak dengan tegas suaka Raja Ghassan saat ia dikucilkan…

Bilal, Ammar, keluarga Yasir… mereka kenyang dengan siksaan dari para kafir,

Abu Dzar habis dipukuli karena meneriakkan kalimat tauhid di pasar,

Ali mampu berlari 400 KM guna berhijrah di gurun hanya sendirian,

Utsman rela menginfakkan 3000 unta penuh makanan untuk perang Tabuk,

Abu Bakar hanya meninggalkan Allah dan Rasul-Nya untuk keluarganya…

Umar nekat berhijrah secara terang-terangan,

Huzaifah berani mengambil tantangan untuk menjadi intel di kandang musuh,

Thalhah siap menjadi pagar hidup Rasul di Uhud, hingga 70 tombak mengenai tubuhnya,

Al Khansa’ merelakan anak-anaknya yang masih muda untuk berjihad,

Nusaibah yang walaupun dia wanita tapi tak takut turun ke medan perang,

Khadijah sang cintanya rasul siap memberikan seluruh harta dan jiwanya untuk islam, siap menenangkan sang suami di kala susah.. benar-benar model istri shalihah.

Atau mari kita bicara tentang :

Nabi Musa… mulutnya gagap tapi dakwahnya tak pernah pudar… ummatnya seburuk-buruknya ummat, tapi proses menyeru tak pernah berhenti…Nabi Nuh, 950 tahun menyeru hanya mendapat pengikut beberapa orang saja..bahkan anaknya tak mengimaninya…Nabi Ibrahim yang dibakar Namrud,Nabi Syu’aib yang menderita sakit berkepanjangan tapi tetap menyeru…Nabi Yunus, berdakwah selama 33 tahun, hanya 2 orang yang menyambut seruannya.Nabi Yahya, yang dibunuh dengan cara disembelih oleh kaumnya.Nabi Zakaria juga digergaji tubuhnya….Nabi Ismail yang rela disembelih ayahnya karena ini perintah Allah…

Deretan sejarah di atas adalah SEBAIK-BAIKnya guru dalam kehidupan kita…

Sekarang beranikah kita masih menyombongkan diri bersama jalan dakwah yang kita lakukan saat ini, mengatakan lelah padahal belum banyak melakukan apa-apa… bahkan terkadang… kita datang menyeru dengan keterpaksaan, berat hati kita, terkadang menolak amanah (untuk menjadi TELADAN). Wallahu a’lam.

(Manhajuna/GAA)

Siklus Paceklik dan Celah-celah Berkah

0
Diposting oleh cahAngon on 09 September 2015 , in , ,
Siklus Paceklik dan Celah-celah Berkah
oleh Salim A. Fillah


Kepada Yang Terhormat,
Presiden Republik Indonesia
Keselamatan, kasih sayang Allah, dan kebaikan yang tiada henti bertambah semoga dilimpahkan ke atas Ayahanda Presiden,
Sungguh benar bahwa cara terbaik menasehati pemimpin adalah dengan menjumpainya empat mata, menggandeng tangannya, duduk mesra, dan membisikkan ketulusan itu hingga merasuk ke dalam jiwa. Tapi tulisan ini barangkali tak layak disebut nasehat. Yang teranggit ini hanya uraian kecil yang semoga menguatkan diri kami sendiri sebagai bagian dari bangsa ini untuk menghela badan ke masa depan yang temaram.
Mengapa ia di-kepada-kan untuk Ayahanda; harapannya adalah agar huruf-huruf ini kelak menjadi saksi di hadapan Allah dan semesta akan cinta kami kepada Indonesia. Syukur-syukur jika ia mengilhami para pemimpin yang berwenang-berdaulat, untuk melakukan langkah-langkah yang perlu bagi kemaslahatan kami. Dan bermurah hatilah mendoakan kami Ayahanda, agar jikapun kami hanya rumput yang kisut, ia tetap dapat teguh lembut dan tak luruh dipukul ribut bahkan ketika karang pelindung kami rubuh lalu hanyut.
Ayahanda Presiden, izinkan kami memulai hatur-tutur ini dengan sebuah kisah.
Ini adalah masa kepemimpinan Sayyidina ‘Umar ibn Al Khaththab, tahun 18 Hijriah. Musim panas berkepanjangan disertai angin kering membawa debu-abu menghantam negeri yang baru saja tumbuh itu. Panen hancur, tetanaman musnah, ternak binasa, diikuti 2 tahun kelaparan yang melanda sebentang jazirah dari Yaman, Hijjaz, Yamamah, hingga Nejd; sementara wabah dari arah Syam turut mengganas hingga ke Madinah.
Masa itu lalu dikenal sebagai ‘Tahun Ramadah’, sebagaimana ditulis Ibn Katsir dalam Al Bidayah wan Nihayah, karena bumi tampak hitam kelabu seperti warna ramad (abu jelaga). Ibn Manzhur sebagaimana dikutip dalam Lisanul ‘Arab menyatakan, “Ramada, atau armada; adalah ungkapan jika terjadi kebinasaan. Disebut tahun ramadah sebab musnahnya sebagian manusia, tumbuhan, ternak, dan harta benda pada saat itu.”
Dampaknya yang dahsyat digambarkan Ibn Sa’d dalam Ath Thabaqatul Kubra, “..Hingga manusia terlihat mengangkat tulang yang rusak dan menggali lubang tikus untuk mengeluarkan apa yang ada di dalamnya.” Langkanya bahan pangan membuat harga melambung, sampai Imam Ath Thabary dalam Tarikh-nya menyebut, pada masa itu harga satu bejana susu dan sekantong keju mencapai 40 dirham.
Demikianpun, dinar dan dirham seakan benar-benar tiada guna karena jikapun ada uang berapa saja banyaknya, barang yang hendak dibeli sama sekali tiada. Kita tak lupa, paceklik ramadah terjadi tak berselang lama dari masa ketika perbendaharaan Kisra yang bertimbun-timbun diangkut ke Madinah pada tahun 14 Hijriah, juga hanya sebentar sebakda Syam dan Mesir yang makmur bergabung ke pangkuan Daulah.
Ayahanda Presiden,
Seakan-akan Allah hendak menunjukkan, bahwa ujianNya adalah kepastian berupa secicip ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan untuk memberi kabar gembira pada orang-orang yang sabar. Seakan-akan Allah hendak memperlihatkan, bahwa hari-hari di antara manusia memang dipergilirkan, lapang dan sempitnya, jaya dan prihatinnya. Seakan-akan Allah hendak menampakkan bahwa bahkan dalam Khilafah Rasyidah, masyarakat orang-orang shalih dengan pemimpin yang adil, tidak ada jaminan bebas dari krisis.
Tapi dengan cara ini pula Allah memperlihatkan kualitas seorang pemimpin, kualitas kepemimpinannya, dan kualitas mereka yang dipimpinnya. Inilah kesejatian sebuah peradaban; pada mutu jiwa manusianya, bukan kemewahan hidup dan kemegahan bebangunnya.
Masih tergambar jelas ketika ‘Umar menangis menyaksikan emas dan perak, permata dan sutra, permadani dan pernak-pernik mahal tiba dari Qadisiah dan Madain. Ketika itu ‘Abdurrahman ibn ‘Auf bertanya, “Mengapa engkau menangis wahai Amiral Mukminin? Padahal Allah telah memenangkan agamaNya dan memberikan kebaikan pada kaum mukminin lewat kepemimpinanmu?”
“Tidak demi Allah”, sahut ‘Umar. “Ini pastilah bukan kebaikan yang murni dan sejati. Seandainya ia adalah puncak kebaikan, niscaya Abu Bakr lebih berhak ini terjadi pada masanya daripada aku. Dan niscaya pula, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih berhak ini terjadi pada masa beliau daripada kami.” Lalu ‘Umar terus menangis mengkhawatirkan adanya fitnah yang akan timbul pada ummat Muhammad gegara harta itu. Setelah agak reda dari sesenggukannya, dia berkata, “Betapa amanahnya pasukan ini, dan betapa amanah pula panglimanya, Sa’d ibn Abi Waqqash.”
“Ini semua karena engkau”, sambut ‘Ali ibn Abi Thalib, “Tak menyimpan di dalam hatimu sebersitpun hasrat pada kekayaan dunia itu. Seandainya saja di dalam dadamu ada setitik saja syahwat terhadap perbendaharaan harta itu, niscaya pasukanmu akan saling bunuh demi memperebutkannya.”
umar
Empat tahun kemudian kala menyaksikan Ramadah, ‘Umar kembali menangis. “Akankah ummat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam binasa di bawah kepemimpinanku?”, gerunnya berulang-kali. Saat itu, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf pula menguatkannya. “Tidak wahai Amirul Mukminin. Betapa telah berbedanya keadaan disebabkan keberkahan kepemimpinanmu?”
“Apa maksudmu wahai ‘Abdurrahman?”, sahut ‘Umar.
“Tidakkan kau perhatikan musibah dan orang-orang ini? Seandainya bencana ini terjadi di masa jahiliah, niscaya kaum Arab kesemuanya pasti sudah saling bunuh untuk memperebutkan sebulir gandum atau setetes air. Tapi lihatlah mereka ini; mereka semua bersabar dan teguh, mereka menangis tapi ridha kepada takdir Allah, mereka saling berbagi dengan mengutamakan saudaranya, serta bahu-membahu menghadapi semuanya dengan ketabahan yang takkan terbayangkan di masa dahulu.”
Pada zaman itu; bersebab kualitas manusianya, dalam krisispun jiwa mereka tampak berkilau, bersinar dari celah-celah berkah. Dalam makmur ataupun paceklik, suka dan duka, lapang serta sempit; mereka menunjukkan kualitas mental tertinggi yang akan menjadi modal peradaban Islam hingga abad-abad berikutnya. Ayahanda Presiden yang terhormat; andai diizinkan lancang memberi usul, betapa indah kalau program Revolusi Mental merujuk ke zaman ini.
***
Sementara itu Ayahanda,
Dalam makalahnya untuk Conference on Monetary Policy and Financial Stability in Emerging Markets di Istanbul, 13-15 Juni 2014, Guru Besar Ekonomi Harvard-Kennedy School, Jeffrey Frankel merujuk kisah Nabi Yusuf ‘Alaihis Salaam tentang tafsirnya atas mimpi sang raja; tujuh sapi kurus yang memakan tujuh lembu gemuk dan tujuh runggai gandum yang segar penuh bulir serta tujuh tangkai yang kering lagi kopong.
Egypt
“Supaya kalian bertanam 7 tahun sebagaimana biasa. Maka apa yang kalian tuai hendaklah kalian biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kalian makan. Kemudian sesudah itu akan datang 7 tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kalian simpan untuk menghadapi tahun-tahun paceklik, kecuali sedikit dari bibit gandum yang kalian simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan dengan cukup dan di masa itu mereka memeras anggur.” (QS Yusuf [12]: 47-49)
Frankel menggambarkan, seakan daur itu suatu pola yang dapat kita gunakan untuk membaca datang dan perginya paceklik di zaman kita. Dia menyebutnya, The Joseph Cycle.
Jeffrey Frankel
Selama tujuh tahun antara 1975 hingga 1981, Oil Booming melimpahkan lonjakan pendapatan pada negara-negara penghasil minyak. Minyak mendapat gelar baru; emas hitam, dan istilah ‘petro dollar’ menggambarkan kekayaan negeri-negeri yang berlipat karenanya. Seakan menepati Daur Yusuf, setelah itu terjadi krisis utang global yang bermula di Meksiko pada tahun 1982. Hingga 1989, tahun-tahun ini disebut sebagai The Lost Decade di Amerika Latin.
Di rentang tahun 1990-1996, pola yang mirip terjadi lagi di kala muncul gejala emerging markets booming. Negara-negara berkembang mengalami pertumbuhan ekonomi yang dahsyat selama 7 tahun. Julukan Asian Tigers bagi mereka, di mana Indonesia dimasukkan sebagai salah satunya, mewarnai satu zaman yang gempita oleh apa yang disebut sebagai Asian Economic Miracles. Namun segera setelah itu terjadi krisis ekonomi Asia pada tahun 1997, yang seakan melibas dan membawa pada financial droughts hingga 7 tahun berikutnya.
Menurut Frankel dalam presentasinya yang bertajuk “What will happen to EMs when the Fed tightens?” itu, pola yang sama akan kembali terulang dalam rentang 2004-2018 ketika terjadi financial markets booming yang ditandai dengan maraknya produk derivatif lengkap dengan segala rekayasa keuangannya. Istilah “Carry Trade” dan perkembangan negara-negara yang disebut BRICs akan menjadi pemantiknya. Awalnya, selama tujuh tahun pasar keuangan berkembang dengan fantastis. Lagi-lagi seakan menyesuaii Siklus Yusuf, setelah itu kita juga mengalami krisis keuangan global.
***
Ayahanda Presiden,
Baik sesuai Siklus Yusuf atau tidak, dalam lintasan sejarah tampak nyata bahwa kelimpahan dan kesempitan memang datang dan pergi berganti-ganti nyaris secara niscaya. Tak ada negara yang terjamin bebas dari disambangi paceklik. Pun bahkan, sekali lagi untuk menegaskan, jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa; maka pintu keberkahan yang dibukakan dari langit dan bumi tak selalu berbentuk kesejahteraan tanpa jeda, melainkan juga berupa sisipan kesempitan yang membuat manusia kembali bermesra padaNya.
Menghadapi paceklik itu, dalam ketidakpastian tentang seberapa kuat ia akan menghantam, ada di antara kita yang mengkhawatirkan sang krisis. Keterbatasan pemahaman tentangnya dan berbagai gejala yang telah terasa, suka tak suka menimbulkan berbagai kegelisahan dan bahkan pesimisme. Inilah yang dialami sebagian besar masyarakat kini, terlebih mereka yang pernah mengalami tahun-tahun pahit 1997 dan menyisakan trauma dalam hati.
Barangkali mereka yang menginsyafi keniscayaan datangnya krisis itu akan lebih mengkhawatirkan kesiapan kita menghadapinya. Para jamhur ekonomi makro, para cendikia pengamat pergerakan mata uang maupun pasar saham, para winasis yang menyeksamai neraca perdagangan, cadangan devisa, maupun berbagai rasio indikator mungkin akan lebih jernih melihat hal ini.
Dan di luar sang paceklik serta kesiapan menghadapinya, bersebab keterbatasan ilmu penyusunnya, tulisan ini hanya hendak mengajak berbincang tentang sikap menghadapi krisis itu. Sebab sungguh diyakini, nestapa paling malang yang berhasil disikapi pasti menghasilkan sesuatu yang lebih baik dibanding keberhasilan paling gemilang yang gagal disikapi. Bahkan, berhasil menyikapi kegagalan, berlipat baiknya daripada gagal menyikapi keberhasilan.
Sejarah pernah menaburkan teladan-teladan sikap utama dari para mulia di zaman paceklik menyapa mereka. Semoga dengan menyimaknya, kita tertuntun pula menyusuri celah-celah berkah hingga Allah karuniakan kebaikan di masa depan, dunia dan akhirat.
Sebagaimana ditelaah oleh Dr. Jaribah ibn Ahmad Al Haritsi dalam disertasinya di Universitas Ummul Qura Makkah yang meraih predikat summa cum laude, Al Fiqhul Iqtishadi Li Amiril Mukminin ‘Umar ibn Al Khaththab; ada hal-hal menarik dari Sayyidina ‘Umar selaku pemimpin negeri dalam masa Ramadah yang patut dicatat.
Fikih Eko Jaribah
Pertama, dia sebagai kepala negara memikul penuh tanggungjawab atas hal tersebut. Bahkan meskipun diyakinkan berulangkali oleh para sahabat bahwa semua yang terjadi merupakan takdir Allah, ‘Umar selalu merasa bahwa pangkal persoalannya adalah kepemimpinan dirinya yang dalam pandangannya amat jauh dari kualitas pribadi yang dimiliki kedua pendahulunya, yakni Rasulullah dan Abu Bakr. Maka ‘Umar selalu takut kepada Allah kalau-kalau ummat ini binasa dalam pemerintahannya. Dengan bercucuran airmata, berulang-kali dia berdoa, “Ya Allah, jangan kau jadikan ummat Muhammad binasa dalam kepemimpinanku.”
Barangkali ada berlapis-lapis alasan bagi ‘Umar dalam paceklik itu, semuanya berupa keadaan yang di luar kendalinya; hujan yang tak turun, anomali musim, panen yang gagal, para pengungsi yang membanjiri Madinah, wabah penyakit yang datang dari arah Syam. Tapi dia memilih untuk bermuhasabah, barangkali dosa dan kelemahannyalah yang jadi persoalan. Alih-alih menyalahkan berbagai hal ataupun pihak, dia menjadi lebih banyak diam, bermuhasabah, dan beristighfar.
Kedua, ‘Umar mengambil sikap untuk bersama rakyatnya dalam keprihatinan. ‘Umar adalah penyuka susu dan keju. Tapi sepanjang 2 tahun Ramadah, dia haramkan untuk dirinya makanan selain roti tepung kasar, garam, dan minyak. Para sahabat menyaksikan bagaimana kulit ‘Umar yang semula putih kemerah-merahan, berubah menjadi kuning kehitam-hitaman bersebab hidup prihatin yang dia paksakan untuk dirinya.
Barangkali hidup sederhana takkan menyelesaikan krisis dan tidak pula memberi solusi kepada paceklik parah itu. Penghematan yang terjadi juga tak signifikan sama sekali. Tapi ketika itulah rakyat akan melihat bahwa sang pemimpin ada bersama mereka, merasakan hal yang sama seperti yang mereka alami. Dengan itu, bertambah tentramlah hati mereka yang dipimpinnya. Ketika rakyat hatinya tenang, bahkan pemimpin yang tak solutif sekalipun akan melihat bahwa rakyatnya punya kemampuan dahsyat untuk mencari solusinya sendiri.
Ketiga, ‘Umar menjadikan masa Ramadah sebagai wahana untuk membangun solidaritas menyeluruh kepada berbagai bangsa yang dipimpinnya. Betapa dia meneladankan langsung mengangkuti tepung, minyak, dan lauk kering untuk para pengungsi dan penduduk Madinah. Dia pula menghimbau dan menyemangati rakyatnya untuk berbagi dan menanggung beban sesama. Dia tepuk-tepuk pundak seorang ‘relawan’ muda bernama Al Ahnaf ibn Qais, yang dengan terus berlari-lari sepanjang hari memenuhi hajat orang-orang, lalu ketika habis tenaganya, dia mengelemprak sembari menangis dan berdoa, “Ya Allah, jangan murka padaku jika masih ada hambaMu yang kelaparan.”
Kita sebagai bangsa juga punya modal sosial yang amat kuat untuk membangun solidaritas itu. Bahkan mungkin kita adalah salah satu negara dengan lembaga kemanusiaan yang amat banyak jumlahnya, bekerja menyalurkan zakat, infak, shadaqah, wakaf, hibah, hadiah, dan bahkan dana CSR dalam berbagai kegiatan sosial. Dukungan dan kebersamaan pemerintah akan kian meneguhkan kita pula sebagai bangsa yang tangguh.
Keempat, ‘Umar terus memikirkan dan merumuskan sistem jaminan sosial yang bisa membuat rakyatnya bertahan di tengah paceklik. Segala sumber daya yang ada di Baitul Maal, diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Dikisahkan bagaimana dia mengumpulkan 60 orang, lalu memasak sejumlah tepung menjadi roti dan daging kering sebagai lauknya lalu mempersilakan mereka makan. Ketika ditanyakan apakah mereka merasa kenyang dengan itu, semua menyatakan ya. Maka ‘Umar memutuskan, sejumlah bahan-bahan yang tadi dimasaklah yang akan diberikan sebagai tunjangan sosial bulanan bagi tiap jiwa yang musnah sumber penghidupannya selama Ramadah.
Kelima, ‘Umar menjadikan sektor pangan sebagai perhatian utama selama krisis dan setelahnya. Dari kisah Nabi Yusuf ‘Alaihis Salaam pun didapati bahwa, dalam masa kelangkaan di mana bahkan emas dan perak jadi tak berguna, Mesir selamat karena menata dengan baik konsumsi dan persediaan logistiknya. ‘Umar pun meminta Abu Musa Al Asy’ari untuk mengajarkan kebiasaan kaumnya yang dipuji Rasulullah, yakni; semua keluarga dalam tiap unit masyarakat mengumpulkan bahan pangan yang dimiliki menjadi satu dalam lumbung, kemudian pembagian kembali untuk konsumsi diatur dengan tata laksana gotong-royong yang adil dan penuh kebersamaan.
Inilah kebijaksanaannya; jika lumbung terpusat ala Yusuf tidak relevan untuk negaranya yang membentang dari Gurun Sahara hingga Sungai Indus; maka ketahanan pangan dibangun dalam unit-unit kecil masyarakat. Teknologi budidaya, pemanenan, pengolahan, dan penyimpanan panen di masa berikut kiranya amat membantu lahiriah dari jiwa-jiwa yang berbagi suka dan duka.
‘Umar pula mengunjungi beberapa daerah pantai dan menemui para nelayan. Dengan pujiannya ketika membersamai mereka melaut, “Betapa baiknya cara kalian menjemput rizqi Allah”, dia meminta pelipatgandaan penyediaan ikan dan membiasakan rakyatnya memakan hasil laut. ‘Umar juga melarang segala jenis ternak dan hewan peliharaan diberi makan dengan apa yang dapat dikonsumsi manusia. Dia sangat marah ketika pada sebuah peternakan unta ditemukan kotoran yang mengandung jejak tepung sya’ir.
Keenam, ‘Umar menggesa pembangunan infrastruktur dan jaminan keamanan yang mendukung kelancaran suplai logistik. Pada jalur antara Syam ke Madinah, Kufah ke Madinah, dan bersambung hingga Yaman; didirikan pos-pos penjagaan dan tempat-tempat istirahat kafilah yang memadai. Di tahun berikutnya, setelah melihat lama dan mahalnya angkutan darat dari Mesir ke ibukota, ‘Umar memerintahkan Gubernur ‘Amr ibn Al ‘Ash untuk menggali kanal yang menghubungkan Sungai Nil dengan Laut Merah, sehingga hasil pertanian Mesir yang berlimpah dapat diangkut dengan cepat ke Madinah untuk menekan harganya. Terusan itu tetap berfungsi hingga akhir masa pemerintahan Sayyidina ‘Utsman ibn ‘Affan.
Nil2
Ketujuh; ‘Umar memberlakukan beberapa kebijakan yang meringankan beban tanggungan masyarakat. Selama masa Ramadah, zakat hewan ternak ditunda penarikannya, pemeroleh jaminan sosial diperluas dari semula bayi tersapih menjadi sejak bayi lahir, bahkan beberapa hukuman ditangguhkan penerapannya termasuk pencurian yang benar-benar bersebab kebutuhan dan tak mencapai nilai seperempat dinar. Sebaliknya, ketika menemukan lahan subur milik para pemuka kaum tak digarap dalam tinjauannya ke Iraq, dia tegas mengultimatum bahwa jika dalam waktu tertentu sang tuan tanah tak menjadikannya produktif, negara berhak menyita dan mengamanahkannya pada yang mampu menanaminya.
Kedelapan, boleh jadi inilah yang terpenting; keberserahan diri ‘Umar kepada Allah dan upayanya dalam memohon pertolongan Allah. Suatu hari di puncak paceklik, digandengnya erat Sayyidina ‘Abbas ibn ‘Abdil Muthalib setelah bersama-sama menunaikan shalat istisqa’. Dengan berlinang dia berkata, “Ya Allah, dulu kami memohon hujan dengan perantaraan NabiMu. Kini kami mohon turunkanlah lagi hujan itu dengan perantaraan doa Paman NabiMu ini.” Tak lama kemudian angin mengarak awan hitam di langit Madinah, dan hujanpun turun dengan deras. Inilah sang pemimpin, dia merunduk pada Allah dan menggandeng erat orang-orang shalih.
Ayahanda Presiden yang terhormat,
Kami akhiri hatur-tutur ini dengan tiga kata yang menggambarkan sifat pemimpin menurut Pujangga Keraton Surakarta, Raden Ngabehi Rangga Warsita, yakni momor, momot, dan momong. Momor berarti hadir, dekat, bersama, menyatu, dan seperasaan dengan yang dipimpin. Momot artinya mampu memuat segala beban, keluhan, dan harapan yang dipimpin. Adapun momong artinya, menjaga, mencukupi, mengasuh, mengasihi, dan mengasah yang dipimpin. Doa kami selalu, semoga Panjenengan nDalem mampu mengemban amanah lebih dari 250 juta manusia yang amat berpotensi menjadi pendakwa, bukan pembela di akhirat sana.
Hamba Allah yang tertawan dosanya,
t: @salimafillah
FB: Salim A. Fillah

Hati yang Jernih..

0
Diposting oleh cahAngon on 08 September 2015 , in ,
الْقَلْبِ (Hati yang Jernih)
[Dr Hidayat Nur Wahid]
Alangkah bahagianya diriku, saya mendapatkan kiriman dari seorang sahabat nun jauh di sana.
Seorang sahabat yang sekarang sedang sibuk menjadi menteri urusan Islam di negaranya.
Namun, kesibukannya tidak menjadikannya lupa kepada diriku yang jauh darinya di sini.
Tidak lupa untuk memberi nasihat yang sangat luar biasa ini.
Saya pun meneruskan nasihatnya, agar diri yang lemah ini pun mendapatkan bagian dari kebaikan meneruskan nasihat kebaikan.
Semoga bermanfaat…
Selamat menyimak:
- عِبَادَةٌ غَالِيَةٌ عِنْدَ اللهِ، قَلِيْلَةُ الْوُجُوْدِ بَيْنَ النَّاسِ
Ibadah yang sangat bernilai di sisi Allah SWT, sayangnya, keberadaannya ditengah manusia sangat sedikit
(هِيَ صَفَاءُ الْقَلْبِ) Yaitu: Hati yang Jernih.
- َقَالَ بَعْضُهُمْ: كُلَّمَا مَرَرْتُ عَلَى بَيْتِ مُسْلِمٍ مَشِيْدٍ دَعَوْتُ لَهُ بِالْبَرَكَةِ
Sebagian mereka berkata: “Setiap kali saya melewati rumah megah milik seorang muslim, saya berdo’a, semoga Allah SWT memberkahinya”.
- وَقَالَ بَعْضُهُمْ: كُلَّمَا رَأَيْتُ نِعْمَةً عَلَى مُسْلِمٍ (سَيَّارَةً، مَشْرُوْعًا، مَصْنَعًا، زَوْجَةً صَالِحَةً، ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ...) قُلْتُ: اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مُعِيْنًا لَهُ عَلَى طَاعَتِكَ وَبَارَكَ لَهُ فِيْهَا
Sebagiannya lagi berkata: “Setiap kali saya melihat satu kenikmatan pada seorang muslim (mobil, proyek, pabrik, istri shalihah, anak keturunan yang baik), saya berkata: ‘ya Allah..jadikanlah kenikmatan itu penolong baginya untuk taat kepada-Mu, dan berikanlah keberkahan kepadanya’”
- وَقَالَ آخَرُ: كُلَّمَا رَأَيْتُ مُسْلِمًا يَمْشِيْ مَعَ زَوْجَتِهِ، دَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُؤَلِّفَ بَيْنَ قَلْبَيْهِمَا عَلَى طَاعَتِهِ
Ada juga yang berkata: “Setiap kali saya melihat seorang muslim berjalan bersama istrinya, aku berdo’a kepada Allah, semoga Allah SWT menyatukan hati keduanya dalam rangka taat kepada Allah SWT”.
- وَقَالَ بَعْضُهُمْ: كُلَّمَا مَرَرْتُ عَلَى عَاصِيْ، دَعَوْتُ لَهُ بِالْهِدَايَةِ
Ada lagi yang berkata: “Setiap kali saya bertemu pelaku maksiat, aku berdo’a, semoga Allah SWT memberikan hidayah kepadanya”.
- وَآخَرُ يَقُوْلُ: أَنَا أَدْعُو اللهَ أَنْ يَهْدِيَ قُلُوْبَ النَّاسِ أَجْمَعِيْنَ، فَتُعْتَقُ رِقَابُهُمْ، وَتُحْرَمُ وُجُوْهُهُمْ عَلَى النَّارِ
Yang satu ini berkata: “Saya selalu berdo’a, semoga Allah SWT memberikan hidayah kepada hati manusia seluruhnya, lalu leher mereka terbebas dari belenggu dan wajah mereka terhindar dari neraka”.
- وَقَالَ آخَرُ: عِنْدَ نَوْمِيْ أَقُوْلُ: يَا رَبِّ، مَنْ ظَلَمَنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ فَقَدْ عَفَوْتُ عَنْهُ، فَاعْفُ عَنْهُ، فَأَنَا أَقَلُّ مِنْ أَنْ يُعَذَّبَ مُسْلِمٌ بِسَبَبِيْ فِي النَّارِ
Yang ini lain lagi perkataannya: “Setiap kali mau tidur, aku berkata: ‘ya Allah Rabb-ku, siapapun kaum muslimin yang menzhalimi diriku, sesungguhnya aku telah memaafkannya, oleh karena itu, maafkanlah dia, sebab, saya terlalu hina untuk menjadi sebab seorang muslim tersiksa di neraka gara-gara aku’”.
- قُلُوْبٌ صَافِيَةٌ مَا أَحْوَجَنَا إِلَى مِثْلِهَا
Semua itu adalah "hati-hati yang jernih", alangkah perlunya kita kepada hati-hati semisal ini!
- اَللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا مِنْهَا، فَإِنَّ الْقُلُوْبَ الصَّافِيَةَ سَبَبٌ فِيْ دُخُوْلِنَا الْجَنَّةَ
Ya Allah..jangan halangi kami untuk memiliki hati seperti ini, sebab, hati yang jernih adalah penyebab kami masuk surga.
- ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟْﺤَﺴَﻦُ ﺍﻟْﺒَﺼْﺮِﻱُّ ﻳَﺪْﻋُﻮْ ﺫَﺍﺕَ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ وَيَقُوْلُ: ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ اﻋْﻒُ عَمَّنْ ﻇَﻠَﻤَﻨِﻲْ .. ﻓَﺄَﻛْﺜَﺮَ ﻓِﻲْ ﺫَﻟِﻚَ
Pada suatu malam, al-Hasan al-Bashri berdo’a: “Ya Allah, berikanlah permaafan kepada siapa saja yang menzhalimi diriku”… dan ia terus menerus berdo’a demikian!
- ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﺭَﺟُﻞٌ: ﻳَﺎ ﺃَﺑَﺎ ﺳَﻌِﻴْﺪٍ ... ﻟَﻘَﺪْ ﺳَﻤِﻌْﺘُﻚَ اللَّيْلَةَ ﺗَﺪْﻋُﻮْ ﻟِﻤَﻦْ ﻇَﻠَﻤَﻚَ، ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻤَﻨَّﻴْﺖُ ﺃَﻥْ ﺃَﻛُﻮْﻥَ ﻓِﻴْﻤَﻦْ ﻇَﻠَﻤَﻚَ. فَمَا ﺩَﻋَﺎﻙَ ﺇِﻟَﻰ ﺫَﻟِﻚَ؟
Maka seorang lelaki berkata: "Wahai Abu Sai’d.. sungguh, tadi malam, aku telah mendengar engkau mendo’akan baik orang yang menzhalimimu, sehingga saya berangan-angan, kalau saja aku termasuk yang menzhalimi dirimu. Apa sih yang membuat engkau berbuat demikian?"
- ﻗَﺎﻝَ: ﻗَﻮْﻟُﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ : {ﻓَﻤَﻦْ ﻋَﻔَﺎ ﻭَﺃَﺻْﻠَﺢَ ﻓَﺄَﺟْﺮُﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ} [الشورى: 40
Al-Hasan menjawab: “adalah firman Allah SWT: ‘tetapi, barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada yang berbuat jahat kepadanya), maka pahalanya dari Allah’”. (Q.S. asy-Syura: 40).
- ﺇِﻧَّﻬَﺎ ﻗُﻠُﻮْﺏٌ ﺃَﺻْﻠَﺤَﻬَﺎ ﻭَﺭَﺑَّﺎﻫَﺎ الْمُرَبُّوْنَ وَالْمُرْشِدُوْنَ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ، فَهَنِيْئًا لَهَا الْجَنَّةَ
Sungguh, itu semua adalah hati yang menjadi shalih dan telah dibina oleh para murabbi dan para mursyid dengan berlandaskan Al-Qur’an dan as-Sunnah, maka.. selamat atas surga yang didapatkannya.
- لَا تَحْزَنْ عَلَى طِيْبَتِكَ؛ فَإِنْ لَمْ يُوْجَدْ فِي الْأَرْضِ مَنْ يُقَدِّرُهَا؛ فَفِي السَّمَاءِ مَنْ يُبَارِكُهَا
Janganlah engkau bersedih meratapi kebaikanmu, sebab, jika di dunia ini tidak ada yang menghargainya, yakinlah bahwa di langit ada yang memberkahinya.

Dua Telaga | Salim A Fillah

0
Diposting oleh cahAngon on 17 Desember 2013 , in , ,

{Prolog untuk Dalam Dekapan Ukhuwah}

Telaga itu luas, sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman. Di tepi telaga itu berdiri seorang lelaki. Rambutnya hitam, disisir rapi sepapak daun telinga. Dia menoleh dengan segenap tubuhnya, menghadap hadirin dengan sepenuh dirinya. Dia memanggil-manggil. Seruannya merindu dan merdu. “Marhabban ayyuhal insaan! Silakan mendekat, silakan minum!”

Senyumnya lebar, hingga otot di ujung matanya berkerut dan gigi putihnya tampak. Dari sela gigi itu terpancar cahaya. Mata hitamnya yang bercelak dan berbulu lentik mengerjap bahagia tiap kali menyambut pria dan wanita yang bersinar bekas-bekas wudhunya.

Tapi di antara alisnya yang tebal dan nyaris bertaut itu ada rona merah dan urat yang membiru tiap kali beberapa manusia dihalau dari telaganya. Dia akan diam sejenak. Wibawa dan akhlaqnya terasa semerbak. Lalu dia bicara penuh cinta, dengan mata berkaca-kaca. “Ya Rabbi”, serunya sendu, “Mereka bagian dariku! Mereka ummatku!”

Ada suara menjawab, “Engkau tak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu!”

Air telaga itu menebar wangi yang lebih harum dari kasturi. Rasanya lebih lembut dari susu, lebih manis dari madu, dan lebih sejuk dari salju. Di telaga itu, bertebar cangkir kemilau sebanyak bilangan gemintang. Dengan itulah si lelaki memberi minum mereka yang kehausan, menyejukkan mereka yang kegerahan. Wajahnya berseri tiap kali ummatnya menghampiri. Dia berduka jika dari telaganya ada yang dihalau pergi.

Telaga itu sebentang Ailah di Syam hingga San’a di Yaman. Tapi ia tak terletak di dunia ini. Telaga itu Al Kautsar. Lelaki itu Muhammad. Namanya terpuji di langit dan bumi.

***

Telaga lain yang lebih kecil, konon pernah ada dalam cangkungan sebuah hutan di Yunani. Dan ke telaga itu, setiap pagi seorang lelaki berkunjung. Dia  berlutut di tepinya, mengagumi bayangannya yang terpantul di air telaga. Dia memang tampan. Garis dan lekuk parasnya terpahat sempurna. Matanya berkilau. Alis hitam dan cambang di wajahnya berbaris rapi, menjadi kontras yang menegaskan kulit putihnya.

Lelaki itu, kita tahu, Narcissus. Dia tak pernah berani menjamah air telaga. Dia takut citra indah yang dicintainya itu memudar hilang ditelan riak. Konon, dia dikutuk oleh Echo, peri wanita yang telah dia tolak cintanya. Dia terkutuk untuk mencintai tanpa bisa menyentuh, tanpa bisa merasakan, tanpa bisa memiliki. Echo meneriakkan laknatnya di sebuah lembah, menjadi gema dan gaung yang hingga kini diistilahkan dengan namanya.

Maka di tepi telaga itu Narcissus selalu terpana dan terpesona. Wajah dalam air itu mengalihkan dunianya. Dia lupa pada segala hajat hidupnya. Kian hari tubuhnya melemah, hingga satu hari dia jatuh dan tenggelam. Alkisah, di tempat dia terbenam, tumbuh sekuntum bunga. Orang-orang menyebut kembang itu, narcissus.

Selesai.

Tetapi Paulo Coelho punya anggitan lain untuk kisah Narcissus. Dalam karyanya The Alchemist, tragika lelaki yang jatuh cinta pada dirinya sendiri itu diakhiri dengan lebih memikat. Konon, setelah kematian Narcissus, peri-peri hutan datang ke telaga. Airnya telah berubah dari semula jernih dan tawar menjadi seasin air mata.

“Mengapa kau menangis?”, tanya para peri.

Telaga itu berkaca-kaca. “Aku menangisi Narcissus”, katanya.

“Oh, tak heranlah kau tangisi dia. Sebab semua penjuru hutan selalu mengaguminya, namun hanya kau yang bisa mentakjubi keindahannya dari dekat.”

”Oh, indahkah Narcissus?”

Para peri hutan saling memandang. “Siapa yang mengetahuinya lebih daripadamu?”, kata salah seorang. “Di dekatmulah tiap hari dia berlutut mengagumi keindahannya.”

Sejenak hening menyergap mereka. “Aku menangisi Narcissus”, kata telaga kemudian, “Tapi tak pernah kuperhatikan bahwa dia indah. Aku menangis karena, kini aku tak bisa lagi memandang keindahanku sendiri yang terpantul di bola matanya tiap kali dia berlutut di dekatku.”

***

Setiap kita punya kecenderungan untuk menjadi Narcissus. Atau telaganya. Kita mencintai diri ini, menjadikannya pusat bagi segala yang kita perbuat dan semua yang ingin kita dapat. Kita berpayah-payah agar ketika manusia menyebut nama kita yang mereka rasakan adalah ketakjuban pada manusia paling memesona. Kita mengerahkan segala daya agar tiap orang yang bertemu kita merasa telah berjumpa dengan manusia paling sempurna.

Kisah tentang Narcissus menginsyafkan kita bahwa setinggi-tinggi nilai yang kita peroleh dari sikap itu adalah ketakmengertian dari yang jauh dan abainya orang dekat. Kita menuai sikap yang sama dari sesama, seperti apa yang kita tabur pada mereka. Dari jaraknya, para peri memang takjub, namun dalam ketidaktahuan. Sementara telaga itu hanya menjadikan Narcissus sebagai sarana untuk mengagumi bayangannya sendiri. Persis sebagaimana Narcissus memperlakukannya. Pada dasarnya, tiap-tiap jiwa hanya takjub pada dirinya.

Tetapi ‘Amr ibn Al ‘Ash merasakan ketiadaan sikap ala Narcissus pada seorang Muhammad, lelaki yang sesampai di surga pun masih menjadikan diri pelayan bagi ummatnya. ‘Amr telah belasan tahun menjadikan silat lidahnya sebagai senjata paling mematikan bagi da’wah Sang Nabi. Lalu setelah hari Hudaibiyah yang menegangkan itu, hidayah menyapanya. Dia, bersama Khalid ibn Al Walid dan ‘Utsman ibn Thalhah menuju Madinah menyatakan keislaman. Mereka disambut senyum Sang Nabi, dilayani bagai saudara yang dirindukan, dimuliakan begitu rupa.

Bagaimanapun, ‘Amr merasa hanya dirinya yang istimewa. Itu tampak dari sikap, kata-kata, dan perlakuan Sang Nabi padanya. Hari itu dia merasa Sang Rasul pastilah mencintainya melebihi siapapun, mengungguli apapun. Pikirnya, itu disebabkan bakat lisannya begitu rupa yang kelak bermanfaat bagi da’wah. Terasa sekali. Maka dia beranikan diri meminta penegasan. “Ya Rasulallah”, dia berbisik ketika kudanya menjajari tunggangan Sang Nabi, “Siapakah yang paling kau cintai?”

Sang Nabi tersenyum. “’Aisyah”, katanya.

“Maksudku”, kata ‘Amr, “Dari kalangan laki-laki.”

“Ayah ‘Aisyah.” Rasulullah terus saja tersenyum padanya.

“Lalu siapa lagi?”

“’Umar.”

“Lalu siapa lagi?”

“’Utsman.” Dan beliau terus tersenyum.

“Setelah itu”, kata ‘Amr berkisah di kemudian hari, “Aku menghentikan tanyaku. Aku takut namaku akan disebut paling akhir.” ‘Amr tersadar, apalagi sesudah berbincang dengan Khalid dan ‘Utsman, bahwa Muhammad adalah jenis manusia yang membuat tiap-tiap jiwa merasa paling dicinta dan paling berharga. Dan itu bukan basa-basi. Muhammad tak kehilangan kejujuran saat ditanya.

Nabi itu indah dan menakjubkan memang. Tapi yang paling menarik dari dirinya adalah bahwa berada di dekatnya menjadikan setiap orang merasa istimewa, merasa berharga, merasa memesona. Dan itu semua tersaji dalam ketulusan yang utuh.

***

Di buku ini, Dalam Dekapan Ukhuwah, kita ingin meninggalkan bayang-bayang Narcissus. Kita ingin kecintaan pada diri berhijrah menjadi cinta sesama yang melahirkan peradaban cinta. Dari Narcissus yang dongeng, kita menuju Muhammad yang menyejarah. Pribadi semacam Sang Nabi ini yang akan menjadi telisik pembelajaran kita. Inilah pribadi pencipta ukhuwah, pribadi perajut persaudaraan, pembawa kedamaian, dan beserta itu semua; pribadi penyampai kebenaran.

Tak ayal, kita harus memulainya dari satu kata. Iman. Karena ada tertulis, yang mukmin lah yang bisa bersaudara dengan ukhuwah sejati. Iman itu pembenaran dalam hati, ikrar dengan lisan, dan amal dengan perbuatan. Kita faham bahwa yang di hati tersembunyi, lisan bisa berdusta, dan amal bisa dipura-pura. Maka Allah dan RasulNya telah meletakkan banyak ukuran iman dalam kualitas hubungan kita dengan sesama. Setidaknya, terjaganya mereka dari gangguan lisan dan tangan kita. Dan itulah batas terrendah dalam dekapan ukhuwah.

Dalam dekapan ukhuwah kita menghayati pesan Sang Nabi. “Jangan kalian saling membenci”, begitu beliau bersabda seperti dicatat Al Bukhari dalam Shahihnya, “Jangan kalian saling mendengki, dan jangan saling membelakangi karena permusuhan dalam hati.. Tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara..”

Dalam dekapan ukhuwah kita mendaki menuju puncak segala hubungan, yakni taqwa. Sebab, firmanNya tentang penciptaan insan yang berbangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal ditutup dengan penegasan bahwa kemuliaan terletak pada ketaqwaan. Dan ada tertulis, para kekasih di akhirat kelak akan menjadi seteru satu sama lain, kecuali mereka yang bertaqwa.

Dalam dekapan ukhuwah, kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi. Sungguh di surga, menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangunnya dari sini, dalam dekapan ukhuwah. Jadilah ia persaudaraan kita; sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji.

Dalam dekapan ukhuwah, kita akan mengeja makna-makna itu, menjadikannya bekal untuk menjadi pribadi pencipta ukhuwah, pribadi perajut persaudaraan, pembawa kedamaian, dan beserta itu semua; pribadi penyampai kebenaran. Dalam dekapan ukhuwah, kita tinggalkan Narcissus yang dongeng menuju Muhammad yang mulia dan nyata. Namanya terpuji di langit dan bumi.

***

Ah, tapi jika semua tadi masih terasa sulit dan melangit, mari kita sederhanakan Dalam Dekapan Ukhuwah ini dengan sabda Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam yang menghimbau kita untuk bercermin. Seperti Narcissus. Tapi bukan di telaga. Dan pemaknaannya pun jadi berbeda.

“Mukmin yang satu”, kata Sang Nabi, “Adalah cermin bagi mukmin yang lain.”

Bercerminlah, tapi bukan untuk takjub pada bayang-bayang seperti Narcissus, atau telaganya. Menjadikan sesama peyakin sebagai cermin berarti melihat dengan seksama. Lalu saat kita menemukan hal-hal yang tak terkenan di hati dalam bayangan itu, kita tahu bahwa yang harus kita benahi bukanlah sang bayang-bayang. Kita tahu, yang harus dibenahi adalah diri kita yang sedang mengaca. Yang harus diperbaiki bukan sesama yang kita temukan celanya, melainkan pribadi kita yang sedang bercermin padanya.

Itu saja.

Selamat datang dalam dekapan ukhuwah. Aku mencintai kalian karena Allah.


*http://salimafillah.com/dua-telaga-prolog-untuk-dalam-dekapan-ukhuwah/

pkspiyungan

Hidayat: Pasal Kontroversi Sudah Hilang, PKS Dukung Pengesahan RUU Ormas

0
Diposting oleh cahAngon on 02 Juli 2013 , in ,


JAKARTA — Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid mengatakan, fraksinya mendukung rancangan undang-undang organisasi kemasyarakatan (RUU Ormas) disahkan dalam sidang paripurna yang digelar di Gedung Parlemen, Jakarta, Selasa (2/7/2013). Menurutnya, tidak ada lagi hal yang perlu dikhawatirkan dari RUU ini.
"Kita perlu mengakhiri Undang-Undang yang represif (UU No 8/1985), jaminan yang tidak memberikan kebebasan berserikat dan berkumpul. Kita menyetujui (RUU Ormas) karena ingin mengakhiri rezim undang-undang yang represif," kata Hidayat.
Ia menjelaskan, sikap fraksinya merupakan hasil konsultasi dengan berbagai pihak. Pasal-pasal yang menuai perdebatan telah terjawab, dan RUU ini dianggap perlu segera disahkan.
Menurutnya, perdebatan mengenai definisi ormas telah jelas diterangkan dalam RUU Ormas. Ormas yang harus melakukan pendaftaran hanyalah ormas baru dan belum berbadan hukum, sedangkan ormas yeng telah berbadan hukum tak perlu lagi mendaftar.
Selanjutnya, kata Hidayat, terkait dengan kekhawatiran intervensi negara, menurutnya tak akan terjadi karena RUU Ormas telah memberikan ruang yang luas untuk kemerdekaan ormas. Adapun mengenai aliran dana asing, kata Hidayat, tak perlu diperdebatkan. Yang terpenting adalah alokasi penggunaan dan tanggung jawabnya dilakukan secara transparan.
"Kalau (Rancangan) UU Ormas tidak ada (disahkan) maka UU Ormas yang lama masih berlaku," ujarnya.

*sumber: Kompas