-
-
Jujur...
Jika engkau hendak mengungkap kejujuran orang, ajaklah ia pergi bersama .. dalam bepergian itu jati diri manusia terungkap .. penampilan lahiriahnya akan luntur dan jatidirinya akan tersingkap! Dan “bepergian itu disebut safar karena berfungsi mengungkap yang tertutup, mengungkap akhlaq dan tabiat”... -
Pemimpin
Seringkali terbukti bahwa tugas utama seorang pemimpin hanyalah bagaimana memilih orang yang tepat. Begitu berhasil memilih orang yang tepat seringkali tugas seorang pemimpin sudah selesai. Setidaknya sudah 80 persen selesai. Tapi begitu seorang pemimpin salah memilih orang, sang pemimpin tidak terbantu sama sekali, bahkan justru terbebani... -
Karena Ukuran Kita Tak Sama
seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi... -
Kemenangan..
Kemenangan sejati yang paling mendasar dan substansial adalah jika kebenaran tetap bersemayam di hati kita. Tidak terkontaminasi oleh racun-racun kehidupan, tidak tergoda oleh iming-iming apapun bentuknya, yang membuat hati kita diisi oleh nilai-nilai lain selain nilai kebenaran yang bersumber dari Allah SWT, ...
Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan
TRANSAKSI LANGIT, BERANI COBA? RASAKAN BEDANYA!
Kita hidup di
dunia kapitalis, semua hal harus bernilai uang. Ketika kita mengeluarkan uang,
kita pun berharap mendapatkan ganti produk terbaik, pelayanan terbaik, hasil
terbaik... Jika enggak dapat yang terbaik, maka kita dengan mudahnya kita
komplain, mencaci maki penjual, mencela pelayanan, kalo perlu bikin heboh di
media sosial..
Kalo kita beli
produk di Supermarket besar, maka kita dengan mudahnya setuju dengan harga yang
ditawarkan. Gak perlu lah nawar, bikin malu.. Emang kita orang susah!
Pokoknya beli
produk ini itu.. Bayarrr!! Gak punya duit cash? Kartu kredit dimainkan! Urusan
nyicil belakangan.. Urusan dosa riba au ah gelap gak urusan!
Semua diskonan
kita kejar, semua tawaran cicilan kita iyakan, merasa punya uang padahal kartu
utangan..
Kita terjerembab dalam jebakan kapitalis, setiap ribuan uang yang dikeluarkan adalah poin-poin yang dikumpulkan yang besok akan kita tuker dengan panci dan termos bonus pembelian..
Kita terjerembab dalam jebakan kapitalis, setiap ribuan uang yang dikeluarkan adalah poin-poin yang dikumpulkan yang besok akan kita tuker dengan panci dan termos bonus pembelian..
Kita adalah
raja komplain! Sekali kembalian kurang di minimarket 5 ribu saja kita akan
langsung memfoto struknya, lalu upload di semua sosial media, tambahi dengan
caci maki agar heboh disana-sini, sukur-sukuuur besok dapat kompensasi..
Semua harus kembali dalam hitungan uang.. Sistem Kapitalis yang melenakan dan gak sadar menyempitkan hati kita ketika memandang nilai dan harga..
Semua harus kembali dalam hitungan uang.. Sistem Kapitalis yang melenakan dan gak sadar menyempitkan hati kita ketika memandang nilai dan harga..
Cobalah
sekarang, lupakan semua transaksi kapitalis yang memuakkan! Transaksi yang
harus menguntungkan, mulailah menegakkan kepala, menengok ke kiri dan kanan,
melepaskan sejauh mata memandang...
Lihatlah itu,
Mbah Atmo Slamet, usianya sudah 90 tahun masih mengayuh becak tua dengan dagangan sapu ijuk, sapu lidi dan arang. Kulitnya kotor menghitam, bajunya lusuh penuh lipatan.
Mbah Atmo Slamet, usianya sudah 90 tahun masih mengayuh becak tua dengan dagangan sapu ijuk, sapu lidi dan arang. Kulitnya kotor menghitam, bajunya lusuh penuh lipatan.
Tebak berapa
harga satu buah sapunya?
15 ribu!!
Salaaah...
20 ribu!!
Salaah...
25 ribu!!
Salaaaaah... aah!
15 ribu!!
Salaaah...
20 ribu!!
Salaah...
25 ribu!!
Salaaaaah... aah!
Hei kawan, satu
buah sapunya dijual 6.000 saja, dijajakan dengan becak dari wilayah Dlingo yang
berjarak 28 kilometer dari pusat kota Jogja. Lihat foto itu, jika semua sapu
itu laku, dia akan mendapatkan uang 90.000, dan itu baru harga jual belum
dikurang modal. Jika satu sapu dia mendapat untung 1000, maka dia mendapatkan
15.000 sehari, itupun dengan catatan semua sapunya laku hari itu..
Lihatlah
sekelilingmu, ada buanyaaaak sekali mbah Atmo Slamet yang menjelma dengan
banyak rupa..
Datangi mereka
wahai kawanku, tundukkan badanmu, rendahkan hatimu..
Bertransaksilah
dengan mereka langsung disaksikan langit..Lupakan kualitas produk..
Lupakan soal cicilan dan harga promosi..
Lupakan soal layanan purna jual..
Bayarlah cash! Langsung dari dompetmu..
Ambilah satu-dua dagangannya, bayarlah 10-20-30 kali lipat dari harganya..
Rasakan
dahsyatnya ketika wajah tua itu memandangmu dengan mulut gemetar, bulir air
mata yang tiba-tiba mengembang, lalu doa-doa yang terucap ditumpahkan untuk
dirimu..
Jangan salahkan
aku, ketika moment itu membuat air matamu ikut mengembang, hatimu tergetar oleh
rasa bahagia yang aneh dan belum pernah ada sebelumnya..
Lalu engkau
melangkah pergi dengan hati yang puassss tak tertandingi...
Mengalahkan rasa puas usai disapa kasir cantik di supermarket yang baunya wangi..
Mengalahkan rasa puas usai disapa kasir cantik di supermarket yang baunya wangi..
@saptuari
https://www.facebook.com/groups/109438006059782/permalink/184308261906089/
دُمُوْعُ الْمُرَبِّي…!
Air Mata Murabbi … !
وَلَعَلَّهَا كَلِمَةٌ قَاسِيَةٌ - أَيُّهَا الْإِخْوَةُ - وَلَكِنَّهَا مِنَ الْحَقِّ:
Bisa jadi, ini merupakan kosa kata yang kasar – wahai ikhwah – namun, ia bagian dari kebenaran.
نَسْتَشْهِدُهَا هُنَا، فِيْ هَذَا الْمَوْطِنِ، بِقَوْلٍ صَادِقٍ لِسُفْيَانَ اَلثَّوْرِيِّ - رَحِمَهُ اللهُ –
Kosa kata itu kami jadikan dasar di sini, di tempat ini, kosa kata yang terambil dari ucapan jujur seorang ulama’ tabi’in: Sufyan Ats-Tsauri – rahimahullah -
فَقَدْ رُؤِيَ حَزِيْنًا، فَقِيْلَ لَهُ: مَا لَكَ؟
فَقَالَ: (صِرْنَا مَتْجَرًا لِأَبْنَاءِ الدُّنْيَا، يَلْزَمُنَا أَحَدُهُمْ، حَتَّى إِذَا تَعَلَّمَ: جُعِلَ قَاضِيًا أَوْ عَامِلًا).
Di mana beliau pada suatu hari terlihat berduka, maka ditanyakan kepada beliau: “apa yang membuatmu berduka?”. Maka beliau menjawab: “Kami telah menjadi bursa bagi para pencari dunia, menjadi kewajiban kami untuk mentarbiyah dan mendidik mereka, namun, setelah ia (selesai) belajar, ia menjadi hakim atau pejabat”!!!.
قَالَ أَحْمَدُ اَلرَّاشِدُ مُعَلِّقًا:
Syekh Ahmad Ar-Rasyid berkomentar demikian:
إِنَّهَا الْحَقِيْقَةُ الْمُؤْلِمَةُ فِيْ حَيَاةِ كَثِيْرٍ مِنَ الدُّعَاةِ.
Sungguh, ini merupakan fakta yang menyakitkan, fakta dalam kehidupan kebanyakan aktifis dakwah
تُعَلِّمُهُمُ الدَّعْوَةُ اَلْفَصَاحَةَ وَاللَّبَاقَةَ الَّتِيْ تُمَكِّنُهُمْ مِنْ حِيَازَةِ فُرَصٍ جَيِّدَةٍ، فَإِذَا حَازُوْهَا: فَتُرُوْا،
Di mana dakwah telah mengajarkan kefasihan dan ketangkasan kepada mereka, kefasihan dan ketangkasan yang membuat mereka mendapatkan banyak peluang bagus, namun, begitu mereka mendapatkannya, mereka futur!!!
أَوْ تَفْتَحُ لَهُمُ الدَّعْوَةُ بَابَ الدِّرَاسَاتِ الْعُلْيَا، وَلَعَلَّ إِخْوَانَهُمْ سَعَوْا لَهُمْ لَدَى الْمَسْؤُوْلِيْنَ اَلْحُكُوْمِيِّيْنَ لِحَيَازَةِ الْبِعْثَاتِ وَالزِّمَالَاتِ، وَلَرُبَّمَا أَعَانُوْهُ بِالْمَالِ، ثُمَّ يُؤْنِسُهُ إِخْوَانُهُ فِيْ غُرْبَتِهِ وَيَعْصِمُوْنَهُ الْفِتَنَ، وَيَخْلُفُوْنَهُ فِيْ أَهْلِهِ، فَإِذَا تَخَرَّجَ وَرَجَعَ: فَتَرَ، وَفَكَّرَ فِيْ عُذْرٍ يَتَمَلَّصُ بِهِ مِنَ الْعَمَلِ.
Atau, dakwah t
elah membuka untuk para aktifis itu peluang studi pasca sarjana, dan bisa jadi, ikhwah yang lain telah mengupayakan melalui berbagai pihak di pemerintahan untuk mendapatkan peluang studi di luar negeri atau peluang pertukaran pelajar, dan bisa jadi ikhwah yang lain itu telah membantunya dengan harta, lalu, ikhwah yang terlebih dahulu ada di luar negeri mendampinginya selama berada di luar negeri, membentenginya agar terlindung dari berbagai godaan. Mereka pun mengurus keluarganya yang ditinggalkan. Namun, begitu sang akh lulus dan kembali, ia malah menjadi futur dan berfikir mencari alasan untuk tidak terlibat dalam aktifitas dakwah.
elah membuka untuk para aktifis itu peluang studi pasca sarjana, dan bisa jadi, ikhwah yang lain telah mengupayakan melalui berbagai pihak di pemerintahan untuk mendapatkan peluang studi di luar negeri atau peluang pertukaran pelajar, dan bisa jadi ikhwah yang lain itu telah membantunya dengan harta, lalu, ikhwah yang terlebih dahulu ada di luar negeri mendampinginya selama berada di luar negeri, membentenginya agar terlindung dari berbagai godaan. Mereka pun mengurus keluarganya yang ditinggalkan. Namun, begitu sang akh lulus dan kembali, ia malah menjadi futur dan berfikir mencari alasan untuk tidak terlibat dalam aktifitas dakwah.
قَدْ تَصِيْرُ الدَّعْوَةُ مَتْجَرًا لِأَبْنَاءِ الدُّنْيَا، يَلْزَمُهَا أَحْيَانًا، حَتَّى ِإِذَا صَارَ مُوَظَّفًا كَبِيْرًا، أَوْ أُسْتَاذًا جَامِعِيًّا، وَ(اخْتِصَاصِيًّا خَبِيْرًا): تَرَكَهَا، وَانْفَرَدَ يَبْنِيْ مُسْتَقْبَلَهُ.
Dengan demikian, dakwah telah menjadi bursa bagi para pencari dunia yang terkadang menjadi kewajibannya untuk hal ini, lalu, setelah seorang aktifis menjadi pejabat besar, atau guru besar di perguruan tinggi, atau menjadi konsultan ternama, ia malah meninggalkan dakwah dan membangun masa depan pribadinya.
كَلِمَةٌ مُرَّةٌ يَجِبُ أَنْ يَتَقَبَّلَهَا الدُّعَاةُ، فَإِنَّ كَتِفَ الدَّعْوَةِ يَئِنُّ لِكَثْرَةِ الَّذِيْنَ حَمَلَهُمْ وَتَنَكَّرُوْا لَهُ.
Sungguh, sebuah kosa kata yang pahit yang harus ditelan oleh para aktifis dakwah, sebab pundak dakwah semakin berat menanggung beban orang-orang yang harus dipikulnya dan lalu melupakannya.
فَاعْقِدُوا الْعَزْمَ عَلَى الْوَفَاءِ لِهَذِهِ الدَّعْوَةِ الْمُبَارَكَةِ - أَيُّهَا الإِخْوَةُ - وَاجْعَلُوا الشَّهَادَةَ الْعَالِيَةَ أَوِ التِّجَارَةَ أَوِ الْمَنْصِبَ فِيْ خِدْمَةِ الدَّعْوَةِ، لَا لِلصِّيْتِ، وَإِلَّا، فَإِنَّ الْأَمْرَ كَمَا يَقُوْلُ بَعْضُ السَّلَفِ:
Oleh karena itu – wahai aktifis dakwah – bulatkan tekad untuk tetap setia kepada dakwah yang berkah ini, dan jadikan ijazah kesarjanaan, atau sukses bisnis, atau jabatan, untuk berkhidmah kepada dakwah, bukan untuk mencari popularitas, jika tidak, m
aka urusannya seperti perkataan sebagian salafus-salih:
aka urusannya seperti perkataan sebagian salafus-salih:
(إِنَّهُ قَلَّ مَنْ يُسِرُّ لِنَفْسِهِ الْجَاهَ وَالصِّيْتَ فَأَمْكَنَهُ الْخُرُوْجَ مِنْهُ).
“Sesungguhnya, sedikit sekali orang yang berkata pada dirinya untuk mendapatkan pangkat dan popularitas, lalu ia dapat keluar dengan selamat darinya”.
(من كتاب "المسار" لأحمد الراشد)
Sumber: kitab al-Masar, karya Ahmad Ar-Rasyid.
"PKS Mencuci Otak Para Kadernya?"
Oleh: Jaharuddin
Hannover - Germany
Beberapa hari ini, berita tentang PKS dimedia kembali menghangat, lanjutan dari episode sinetron kasus LHI, semakin menarik karena salah seorang artis dipaksakan untuk dikaitkan, akhirnya semakin seksi untuk dikomentari. Saya mengikuti berita melalui media online, dan juga ikut membaca beberapa komentar dibawahnya, pro dan kontra muncul, bahkan ada yang berkomentar bahwa perlu diwaspadai PKS melakukan cuci otak terhadap kader-kadernya, karena kader-kader PKS diduga semakin militan saat pimpinannya ditangkap dan dizhalimi.
Entah mengapa, saya agak terusik dengan frasa “cuci otak” ini, padahal saya bukan siapa-siapanya PKS, bukan pengurus PKS, cuma simpatik berat dengan PKS, karena kader-kadernya sejak awal kuliah membina saya. Saya mendapatkan pencerahan dan manfaat yang sangat besar, ketika Allah mempertemukan saya dengan para kader PKS. Semoga saya dan keluarga bisa istiqomah, berjuang dalam barisan orang-orang yang mengutamakan Cinta, Kerja dan Harmoni ini. Amin ya robbil alamin.
Nah, pertanyaan selanjutnya adalah, apakah saya dan keluarga merasakan otak saya dicuci oleh kader-kader PKS, sehingga buta mata hati dan fikiran serta membela membabi buta ketika PKS dipojokkan, pimpinannya ditangkap, dibully dimedia, dan seterusnya.
Untuk menjawabnya, izinkan saya bercerita pengalaman saya dengan kader-kader PKS wabil khusus pertemuan-pertemuan saya dengan pengajian-pengajian dan acara-acara yang diadakan oleh kader-kader PKS. Sejak awal kuliah, saya ikut proses pembinaan yang diadakan rutin setiap pekan, sesekali diadakan Dauroh (pelatihan) dengan berbagai tema, dan juga dilibatkan dalam mengelola beberapa aktivitas dakwah, Saat itu belum ada partai.
Begitu telatennya mereka membina kami, setiap pekan didatangi, diberi arahan, dibantu kuliahnya, dibantu mencarikan rumah, dibantu dalam segala urusan, bahkan jika uang kiriman dari orang tua terhambat, hal ini juga bisa dikonsultasikan ke murobbi (pembina).
Saya punya pengalaman unik, murobbi saya pernah mendatangi saya ke kost-kostan pada jam sholat shubuh (sebenarnya dia baru pulang dari masjid sholat shubuh berjama’ah), padahal rumahnya berlawanan arah dengan rumah saya dari masjid. Sepertinya dia tidak melihat saya sholat shubuh berjama’ah di masjid, maka dia mengecek saya ke rumah. dan apa yang terjadi?…saya gelagapan, karena masih tertidur, jadi belum sholat shubuh…:) :(
Begitulah, salah satu cara mereka dalam membina kami, agar kami sholat shubuh berjama’ah di masjid, atau paling tidak sholat diawal waktu, dengan cara yang tepat mengajak kami untuk melakukan amal sholeh. Ada pula program tahajud call, dimana sekitar jam 02.00 malam, kami satu persatu ditelepon oleh murobbi kami, atau teman sekelompok pengajian untuk dibangunkan agar mudah melaksanakan sholat tahajjud.
Ada pula, ifthor jama’i (berbuka puasa bersama) pada hari Senin dan Kamis, agar kami terbiasa melaksanakan sunnah, ada pula bertukar hadiah, tadabur alam, rihlah (wisata), outbound, olah raga …..itu semua dalam kerangka mentadaburi ayat-ayat Allah yang terhampar dimuka bumi ini.
Dari Jambi saya merantau ke Bogor, proses merantau inipun dikonsultasikan ke murobbi, sehingga bisa diberikan masukan konstuktif untuk kebaikan bersama, saya dibekali surat mutasi, sehingga saat sampai di Bogor sudah ada yang menunggu dan menjemput, dan ajaibnya seolah-olah kita berdialog, berinteraksi seperti orang yang sudah kenal lama, dan selanjutnya saya ditempatkan kembali dalam grup pengajian yang telah ditentukan. Budaya yang dulu saya dapatkan, juga saya temukan di Bogor, kami diminta aktif dikampus, mengelola dakwah, mengorganisasi aktivitas mahasiswa, asrama, masjid, dll.
Dari Bogor saya pindah ke Jakarta. Saya kembali dibekali surat mutasi sehingga langsung bergabung dengan teman-teman di Jakarta. Meneruskan budaya yang sama dalam rangka amar ma’ruf nahi mungkar. Saat di Jakarta ini pulalah, ada kenangan special yang tidak bisa dilupakan, dimana murobbi saya membantu dengan sepenuh hati (moril dan materil) proses pernikahan saya, padahal saya adalah anak perantauan dari Riau yang tidak mempunyai keluarga di Jakarta. Namun, percaya atau tidak, teman-teman grup pengajian saya mengurusi pernikahan saya, seolah-olah saya, adalah saudara kandung mereka, sampai akhirnya proses pernikahan berjalan lancar.
Di Jakarta saya bekerja, menikah, mempunyai anak-anak dan menetap sekitar 9 tahun, dan sampai pada episode selanjutnya, kami sekeluarga merantau ke Jerman. Dari Jakarta kami dibekali selembar surat “sakti” yang sudah saya rasakan saktinya ketika pindah ke Bogor dan Jakarta. Ternyata hal yang sama juga saya rasakan ketika pindah ke Jerman, surat sakti tersebut, benar-benar sangat sakti dan membantu adaptasi kami di negeri orang yang jauh dari keluarga dan muslim adalah minoritas.
Kami diterima seperti keluarga yang sudah lama tidak bertemu, kami dibantu urusan visa, rumah, sekolah anak-anak, studi dan semua aspek diurus, dan mereka ini adalah kader-kader PKS. Jadi, kalau ada orang yang berpandangan tidak relevan PKS disebut sebagai partai dakwah, saya dan keluarga sudah membuktikan dan merasakan bahwa politik bagi PKS hanya bagian dari aktivitasnya, dan jauh lebih banyak urusan lainnya yang juga dikelola dengan baik dan konsisten oleh PKS. bahkan ketika kami sudah mempunyai anak-anak, ada panduan yang dibuat dengan matang tentang pendidikan anak-anak, yang diberi nama Tarbiyah Anak Kader, Proses pembinaan yang dirancang agar anak-anak menjadi pribadi yang sholeh, cerdas dan bermanfaat bagi orang tuanya, bangsa dan agamanya.
Singkat cerita PKS mengurusi sejak dari anak-anak, remaja, dewasa, menikah, punya anak, sampai meninggalpun juga diurusi oleh kader-kader PKS. Coba partai mana yang mempunyai bidang khusus yang mengurusi pernikahan, keluarga dan anak-anak para kadernya, serta anak-anak muslim lainnya.
Kembali pada topik, benarkah PKS melakukan cuci otak?
Coba anda tarik sendiri kesimpulan, dari cerita saya diatas, apakah saya dan keluarga dicuci otaknya? kalau kita mau berkata jujur, terlihat dengan jelas, tidak ada proses cuci otak, yang ada adalah jiwa-jiwa kami dicuci dari kejelekan, dan diajak untuk amar ma’ruf nahi mungkar, dengan rasa cinta, dilayani secara konsisten oleh kader-kader PKS. Bisa jadi awalnya kami ikut-ikutan, atau terbawa oleh lingkungan, namun seiring dengan waktu, kami sadar inilah jalan yang baik dan benar, bahkan kami juga ingin menyebarkan cinta-cinta kami kepada semakin banyak orang, untuk ikut dalam pengajian-pengajian kami, agar kami bisa berbagi cinta kepada khalayak ramai, sehingga kami memimpikan orang-orang yang cerdas yang mengetahui hak dan kewajibannya sebagai anak bangsa, dan muslim yang baik.
Saya merasakan proses pembinaan yang dilakukan oleh kader PKS adalah proses menjadikan orang-orang yang cerdas semakin cerdas, dianjurkan semakin banyak membaca, semakin banyak tahu, dan saya melihat langsung kader-kader PKS banyak sekali yang berpendidikan tinggi, apalagi di Jerman, rata-rata mereka adalah mahasiswa mulai dari S1 sampai S3, ada yang bekerja secara profesional dengan disiplin ilmu yang dalam dan specifik, bahkan banyak dari mereka adalah orang-orang yang sangat beprestasi dibidangnya masing-masing.
Saya ikut dalam pengajian-pengajiannya mereka, saya melihat mereka rela merogoh kantong untuk membiayai dakwah mereka, juga mengalokasikan waktu akhir pekan mereka untuk ikut pengajian, mengelola masjid, mengelola pengajian kota, mengisi pengajian, rapat, dauroh, dan seabrek kegiatan dakwah dan sosial lainnya, dalam rangka memberikan manfaat yang besar kepada masyarakat.
Pengajian-pengajian di Jerman, tidak mudah dilaksanakan layaknya di Indonesia, saya pernah diajak seorang sahabat untuk ikut pengajian, dan ternyata antar kota, saya tinggal di Hannover (bagian baratnya Jerman), dan ternyata saya diajak ikut pengajian di kota Dresden (bagian timurnya Jerman), yang berjarak 373 km dari kota saya, atau kalau naik kereta ekonomi, lama perjalanannya sekitar +/- 7 jam perjalanan sekali perjalanan, dan ternyata lagi, mereka datang ke Dresden, bukan hanya dari Hannover, tapi juga ada dari kota lainnya, seperti Berlin dan Erfurt. Pengajian ini mereka adakan setiap dua pekan, mereka rutin bertemu, dengan biaya sendiri.
Saya juga pernah diikutkan dalam dauroh se-Eropa yang diadakan disalah satu kota di Jerman, pesertanya dari beberapa negara di Eropa, panitia menyewa hotel untuk tempat acara dan penginapan, dan belakangan saya baru tahu, panitia merogoh kantongnya lebih dari 9.000 euro (+/- Rp. 108jt). Dari mana mereka dapatkan uang sebesar itu? ternyata para kader yang sudah bekerja diminta pengorbanan hartanya, sebagian dari gaji mereka diinfaqkan untuk dakwah, salah satunya untuk dauroh ini. Termasuk juga mengongkosi sebagian student yang tidak bisa ikut acara karena tidak ada ongkos.
Coba anda bayangkan, mungkinkah mereka, para Associate Profesor, calon profesor, doktor, master dan orang-orang cerdas ini, bergerak karena otaknya sudah disalah gunakan PKS? anda sendiri yang bisa menjawab, bahkan saking semangatnya mereka, saya pernah mendengar kata-kata “PKS itu hanya wajihah/kendaraan. Kalaupun PKS dibubarkan, atau dibekukan, dakwah kami tetap berjalan, dan tidak akan memudar”.
Begitulah semangat mereka dalam berdakwah, walaupun muslim minoritas di Jerman, dan terpisah-pisah antar kota, namun mereka, karena cintanya kepada Allah dan Rasulullah SAW, mereka terus bergerak seolah-olah tidak pernah capek, untuk menyebarkan cinta kepada ummat muslim dimanapun berada.
Jadi, kalau anda percaya kader-kader PKS telah dicuci otaknya, bisa jadi benar, PKS telah mencuci hati-hati para kadernya, sehingga Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, telah mengerakkan hati dan fisik mereka untuk bekerja, memberi cinta dan mengidamkan terjadinya pribadi, keluarga, lingkungan, masyarakat, negara bahkan dunia yang harmoni, jiwa-jiwa yang selamat dunia dan akhirat. Amin ya robbil alamin.
Hannover, Musim bunga (Cinta) di Jerman, 15-05-2013
*http://politik.kompasiana.com/2013/05/15/pks-mencuci-otak-para-kadernya-560398.html
CIIA: NU terlupakan, Rohis dikambing hitamkan
Diposting oleh
cahAngon
on 07 Desember 2012
, in
Tarbiyah
JAKARTA - Direktur Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya menilai ada beberapa hal yang perlu dikritisi dari pernyataan menakertrans Muhaimin Iskandar terkait tudingannya terhadap Organisasi Kerohanian Islam (Rohis) sebagai radikal dan culun.
Pertama, Muhaimin mengkambinghitamkan Rohis dengan stigma negatif dan melecehkan ditengah kegalauan NU yang mulai dilupakan generasi muda Islam hari ini.
"Bahkan kemudian menjadi alasan perlunya membenahi pendidikan di Indonesia yang dianggap rusak karena eksistensi Rohis disekolah-sekolah. Ini ngawur dan tidak relevan," Ujar Harits kepada arrahmah.com, Jum'at (7/12) Jakarta.
Lanjut Harits, tudingan yang dilakukan Muhaimin merupakan logika yang dangkal dan berangkat dari paradigma ashobiyah sempit (cinta kepada golongan) yang sangat dibenci oleh Islam. Dan Muhaimin panik kalau remaja dan pemuda lebih condong kepada Islam daripada kepada golongan semacam NU.
"Dan ini jelas sekali menunjukkan Muhaimin adalah termasuk corong-corong ashobiyah yang merusak ukhuwah Islamiyah dan membuat dikotomi radikal moderat dan semisalnya,"ungkapnya.
Rohis , ungkap Harits, tidak pernah menyodorkan fakta dan data (tdk pernah terbukti) memberikan kontribusi negatif untuk pertumbuhan anak didik di Indonesia. Dan Muhaimin terlihat ngibul dan bicara hanya berdasarkan opini dan propaganda.
Oleh karena itu, menurutnya, Muhamimin harus minta maaf dengan terbuka, tidak perlu arogan bersembunyi diketiak "kebesaran organisasasi NU" dan merasa menjadi pahlawan NU karena pernyataannya adalah demi eksistensi NU.
"Umat Islam makin cerdas bisa menilai siapa yang cerdas dan siapa sesungguhnya yang culun," tutur Harits.
"Semoga umat selalu siaga pada tiap makar yang melecehkan atau mendeskriditkan Islam,"tandasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Muhaimin Iskandar menyebut Rohis culun dan radikal.
Hal ini dikatakan Muhaimin alias Cak Imin saat menghadiri Kongres Pelajar Nahdlatul Ulama (NU) di Asrama Haji Palembang, Ahad (2/12/1012).
Muhaimin Iskandar mengaku khawatir dengan kondisi pemuda saat ini, yang sudah melupakan Nahdlatul Ulama (NU).
"Siswa-siswi SMA kita kini tidak kenal NU, kenalnya Rohis, yang hasilnya radikal dan culun-culun itu. Oleh karena itu mari kita benahi pendidikan, modalnya adalah percaya diri. Kalau tidak percaya diri jangan pernah ngaku jadi anak buah KH Hasyim Ashari dan Gus Dur yang kokoh dan berani," kata Muhaimin saat ditemui di Kongres Pelajar NU, Asrama Haji Palembang, Ahad (2/12/2012). (bilal/arrahmah.com)
“Jika seluruh ikhwah mati,” kata Hasan Al Hudhaibi, “itu lebih baik daripada kita sampai di puncak kemenangan dengan jalan pengkhianatan.” Masih dengan wajah serius, Mursyid Am kedua Ikhwanul Muslimin ini melanjutkan taujihnya: “Nahnu muslimun qabla kulli syai’. Kita adalah muslim sebelum segalanya. Jika kita menguasai dunia dengan membunuh akhlak Islam, maka kita rugi!”
Tersebab ada ikhwah yang tidak sabar dengan penindasan rezim revolusioner saat itu lalu ia berniat menghabisi tokoh-tokoh pemerintah yang menyiksa ikhwah, Hasan Al Hudhaibi menjadi marah dan menasehatinya dengan kalimat-kalimat di atas. Penerus Hasan Al Banna ini tidak menghendaki kemenangan dengan jalan pengkhianatan, membunuh penguasa muslim meskipun ia zalim, dan cara-cara lain yang menanggalkan akhlak Islam.
Dakwah:
"Ruh dan Perasaan"
Saya
pernah diundang sejumlah pemuda ke suatu tempat yang jarak tempuhnya
memakan
waktu tiga jam. Sesampainya di sana, mereka menyambut saya sambil
duduk.
Wajah mereka hambar, perasaannya dingin, dan pandangannya kosong.
Kemudian
saya diminta bicara oleh seniornya. Saya berbicara di hadapan mereka tanpa
hati
dan ruh. Seusai bicara, ia berterima kasih kepada saya. Lalu saya keluar dengan
perasaan
seperti baru pulang dari takziah. Saya pulang dengan perasaan yang sama
seperti
ketika datang.
Assalamu’alaikum wrwb,
Ba’da tahmid wa sholawat
Masih ingat kan dengan postingan saya beberapa waktu yang lalu? Supaya nanti nyambung, silahkan jika antum belum membacanya untuk meng-klik link berikut ini:
https://www.facebook.com/ photo.php?fbid=323718344233 8&set=a.1184400164039.2939 5.1049303645&type=1
Seperti biasa sebelum saya lanjutkan, mohon diperhatikan dengan sangat hal2 berikut:
Ba’da tahmid wa sholawat
Masih ingat kan dengan postingan saya beberapa waktu yang lalu? Supaya nanti nyambung, silahkan jika antum belum membacanya untuk meng-klik link berikut ini:
https://www.facebook.com/
Seperti biasa sebelum saya lanjutkan, mohon diperhatikan dengan sangat hal2 berikut:
Anda seorang aktifis dakwah? Waspadailah jika salah satu dari sepuluh hal berikut menimpa Anda, karena ia mengindikasikan terjadinya degradasi ruhiyah.
1. Dusta
Rasulullah pernah mengingatkan bahwa seorang mukmin tak mungkin menjadi pembohong. Jika aktifis dakwah mulai berani berbohong, saat itulah indikasi degradasi ruhiyah terjadi.
Kadang kebohongan terjadi pada saat seseorang terjepit atau ingin mengais keuntungan tertentu. Misalnya untuk mendapatkan “pembenaran” atas ketidaksertaannya dalam aktifitas dakwah yang berat, yang sebenarnya ia tak memiliki alasan untuk meninggalkannya kecuali sikap malas. Di zaman Rasulullah, ini pernah terjadi pada perang Tabuk. Di mana kaum munafikin yang tidak ikut berangkat perang membohongi Rasulullah dengan berbagai alasan saat beliau kembali di Madinah; agar keabsenannya dimaklumi dan dimaafkan.
1. Dusta
Rasulullah pernah mengingatkan bahwa seorang mukmin tak mungkin menjadi pembohong. Jika aktifis dakwah mulai berani berbohong, saat itulah indikasi degradasi ruhiyah terjadi.
Kadang kebohongan terjadi pada saat seseorang terjepit atau ingin mengais keuntungan tertentu. Misalnya untuk mendapatkan “pembenaran” atas ketidaksertaannya dalam aktifitas dakwah yang berat, yang sebenarnya ia tak memiliki alasan untuk meninggalkannya kecuali sikap malas. Di zaman Rasulullah, ini pernah terjadi pada perang Tabuk. Di mana kaum munafikin yang tidak ikut berangkat perang membohongi Rasulullah dengan berbagai alasan saat beliau kembali di Madinah; agar keabsenannya dimaklumi dan dimaafkan.
Jika saatnya tiba, kita akan melakukan pekerjaan ini: mencari. Mencari menantu untuk menjadi pendamping anak kita, memilihkan yang terbaik untuknya. Bukan hanya untuk anak kandung kita. Kita juga dituntut untuk (membantu) mencari menantu untuk anak didik kita. Di sinilah salah satu peran pembina sebagai walid (orang tua).
Sebagai orang tua, tentu kita menginginkan yang terbaik untuk anak (didik) kita. Kita ingin keluarga yang dibangun anak-anak kita menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Kita juga menginginkan keluarga mereka adalah keluarga dakwah; dimulai dari pembentukan usrah muslimah (keluarga islami) yang menjadi teladan bagi keluarga di kanan kiri hingga mempengaruhi masyarakat menjadi islami.
Sebagai orang tua, tentu kita menginginkan yang terbaik untuk anak (didik) kita. Kita ingin keluarga yang dibangun anak-anak kita menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Kita juga menginginkan keluarga mereka adalah keluarga dakwah; dimulai dari pembentukan usrah muslimah (keluarga islami) yang menjadi teladan bagi keluarga di kanan kiri hingga mempengaruhi masyarakat menjadi islami.
Kalau ada dua orang berbeda kelamin, pernah mengenal agama, dan aktif di lembaga dakwah pula, ditegur agar tak terlalu berdekatan dan begini jawabannya: “Biarkan kami memilih perbedaan pemahaman”, maka bagaimana reaksi Anda?
Seorang teman begitu sewot saat mendapati teman-temannya begitu vulgar memperlihatkan hubungan tanpa status (HTS) di jejaring sosial.
“Kalau dilakukan diam-diam sih saya bisa maklum, lha ini dilakukan terbuka di internet,” protesnya pada saya.
Di PKS kami kader kadernya diwajibkan menghadiri pengajian rutin sepekan sekali. Mempelajari ilmu ilmu agama, akhlak akhlak yang baik, nilai nilai kemanusiaan, dan nilai nilai ketuhanan. Bertahun – tahun, pengajian itu kami lakukan. Sampai membentuk karakter manusia yang baik. Bernurani jernih, dan berjiwa lembut. Itulah mengapa, kami selalu bersemangat mengadakan baksos, membatu korban bencana alam.
Bukan!
Bukan semata karena alasan politik, kalau hanya karena alasan politik, nisacaya kami tidak akan mau melakukan pekerjaan pekerjaan sosial itu. Yang kami cari jauh melebihi motivasi motivasi duniawi tersebut. Menembus langit, yaitu dalam rangka menyenangkan tuhan kami, Allah swt.
Di pengajian pekanan itulah, kami kader PKS dikontrol, dievalusai, kehidupan kami dalam kurun sepekan tersebut. Kehidupan ruhiyah (amalan amalan) kami, dan kehidupan sosial kami. Diantara kami ada yang grafik nya naik turun. Tetapi naik turun semangat tadi, masih dalam kecenderungan meningkat. Dan dengan proses penjagaan itulah, kami, kader – kader pks dapat memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa kami dapat menjaga amanah, amanah dari rakyat, amanah dari Allah.
Bukan!
Bukan semata karena alasan politik, kalau hanya karena alasan politik, nisacaya kami tidak akan mau melakukan pekerjaan pekerjaan sosial itu. Yang kami cari jauh melebihi motivasi motivasi duniawi tersebut. Menembus langit, yaitu dalam rangka menyenangkan tuhan kami, Allah swt.
Di pengajian pekanan itulah, kami kader PKS dikontrol, dievalusai, kehidupan kami dalam kurun sepekan tersebut. Kehidupan ruhiyah (amalan amalan) kami, dan kehidupan sosial kami. Diantara kami ada yang grafik nya naik turun. Tetapi naik turun semangat tadi, masih dalam kecenderungan meningkat. Dan dengan proses penjagaan itulah, kami, kader – kader pks dapat memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa kami dapat menjaga amanah, amanah dari rakyat, amanah dari Allah.
Seseorang sahabat bertanya melalui SMS kepada saya, bagaimanakah prinsip-prinsip menetapkan prioritas kegiatan ? Pertanyaan kecil ini mengingatkan saya kepada “kajian lama” tentang Fikih Prioritas dan Fikih Pertimbangan. Maka saya menemukan pula “buku lama” dan “catatan lama”, rasanya tetap aktual untuk dihadirkan dalam zaman kekinian.
Fiqh Aulawiyat (Fikih Prioritas), menurut Dr. Yusuf Qardhawi, adalah fikih “meletakkan segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil, dari segi hukum nilai dan pelaksanaannya”. Sehingga sesuatu yang tidak penting tidak didahulukan atas sesuatu yang penting. Sesuatu yang penting tidak didahulukan atas sesuatu yang lebih penting. Sesuatu yang tidak kuat (marjuh) tidak didahulukan atas sesuatu yang kuat (rajih). Sesuatu yang biasa-biasa saja tidak didahulukan atas sesuatu yang utama atau paling utama.
Fiqh Aulawiyat (Fikih Prioritas), menurut Dr. Yusuf Qardhawi, adalah fikih “meletakkan segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil, dari segi hukum nilai dan pelaksanaannya”. Sehingga sesuatu yang tidak penting tidak didahulukan atas sesuatu yang penting. Sesuatu yang penting tidak didahulukan atas sesuatu yang lebih penting. Sesuatu yang tidak kuat (marjuh) tidak didahulukan atas sesuatu yang kuat (rajih). Sesuatu yang biasa-biasa saja tidak didahulukan atas sesuatu yang utama atau paling utama.
“Sekali-kali tidak akan tersusul; Inna ma’ana Rabbuna, sesungguhnya Rabbku besertaku, Dia akan mememberi petunjuk kepadaku.” [1]
Jawaban yang terlontar dari lisan Musa, menjawab rengekan kaumnya, Bani Israil. Allah abadikan dialog musa terhadap kaumnya ini dalam surah Asy Syu’ara ayat ke enampuluh dua. Apa sebab? Kisah tentang pelarian Musa dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun dan bla tentaranya yang zhalim. Yang kemudian Allah selamatkan dengan mukjizat terbelahnya laut merah. Sehingga Nabi Musa dan Bani israil bisa melaluinya[2]. Dan Allah menyelamatkan mereka dari kejaran firaun dan bala tentaranya yang kemudian Allah tengelamkan mereka di laut merah[3].
Agak menarik untuk kita cermati, diksi yang dipilih Musa ini. Mari kita bandingkan dengan Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berdua sama-sama Nabi Allah. Sama-sama dalam kondisi pelik dalam kejaran tiran musuh dakwah. Rasulullah ketika harus tertahan di gua tsur, berlindung dari kejaran bala tentara musuh. Musa diburu bala tentara firaun. Muhammad dikejar pasukan musyrikin Quraisy. Namun diksi yang dipilih Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, ketika Abu Bakar menangis cemas takut mereka berdua tertangkap. “Laa Tahzan !! Allahu ma’ana, Janganlah bersedih Allah bersama kita[4]”
Jawaban yang terlontar dari lisan Musa, menjawab rengekan kaumnya, Bani Israil. Allah abadikan dialog musa terhadap kaumnya ini dalam surah Asy Syu’ara ayat ke enampuluh dua. Apa sebab? Kisah tentang pelarian Musa dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun dan bla tentaranya yang zhalim. Yang kemudian Allah selamatkan dengan mukjizat terbelahnya laut merah. Sehingga Nabi Musa dan Bani israil bisa melaluinya[2]. Dan Allah menyelamatkan mereka dari kejaran firaun dan bala tentaranya yang kemudian Allah tengelamkan mereka di laut merah[3].
Agak menarik untuk kita cermati, diksi yang dipilih Musa ini. Mari kita bandingkan dengan Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berdua sama-sama Nabi Allah. Sama-sama dalam kondisi pelik dalam kejaran tiran musuh dakwah. Rasulullah ketika harus tertahan di gua tsur, berlindung dari kejaran bala tentara musuh. Musa diburu bala tentara firaun. Muhammad dikejar pasukan musyrikin Quraisy. Namun diksi yang dipilih Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, ketika Abu Bakar menangis cemas takut mereka berdua tertangkap. “Laa Tahzan !! Allahu ma’ana, Janganlah bersedih Allah bersama kita[4]”
Oleh: Farid Nu’man Hasan
Pertanyaan:
Assalamu’alaykum wr wb
Redaksi, saya ingin bertanya kepada ustadz Farid Nu’man
Mohon dijawab pertanyaan saya berikut ini, sebelum dan sesudahnya jazakumullah khoiran katsiron
Ustadz, bagaimana hukum memakai baju muslimah berupa atasan (semisal kemeja, blus, kaos, dsb) dan bawahan (rok)? Bagaimana dengan yang dimaksud dalam QS Al Ahzab ayat 59 yang berbunyi:
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan ALLOH SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59).
Dalam ayat di atas disebutkan jilbab yang dalam bahasa arab berarti baju kurung/ gamis/abaya. Apakah tafsir dari ayat di atas kita wajib menggunakan gamis/baju kurung/abaya? Apakah tidak boleh menggunakan baju atasan dan bawahan? (Rosita)
Pertanyaan:
Assalamu’alaykum wr wb
Redaksi, saya ingin bertanya kepada ustadz Farid Nu’man
Mohon dijawab pertanyaan saya berikut ini, sebelum dan sesudahnya jazakumullah khoiran katsiron
Ustadz, bagaimana hukum memakai baju muslimah berupa atasan (semisal kemeja, blus, kaos, dsb) dan bawahan (rok)? Bagaimana dengan yang dimaksud dalam QS Al Ahzab ayat 59 yang berbunyi:
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan ALLOH SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59).
Dalam ayat di atas disebutkan jilbab yang dalam bahasa arab berarti baju kurung/ gamis/abaya. Apakah tafsir dari ayat di atas kita wajib menggunakan gamis/baju kurung/abaya? Apakah tidak boleh menggunakan baju atasan dan bawahan? (Rosita)
Orang-orang bijak pernah berpesan “Ma halaka ‘amru-un arafa Qadra nafsihi” (Tak
akan celaka orang yang kenal harkat dirinya). Telah banyak orang binasa karena
terlalu tinggi memasang harga diatas realita dirinya. Banyak yang lenyap dari
peredaran karena terlalu murah menghargai dirinya – dengan waham ‘tawadhu’ atau
perasaan tidak mampu dan tidak punya apa-apa. Selebihnya adalah jenis orang yang
berjalan dalam tidur atau tidur sambil berjalan. Tepatnya pengigau berat. Ia tak pernah
bisa menyadari dimana posisinya, apa yang terjadi di sekitarnya dan apa bahaya yang
mengancam ummatnya.
Dalam kaitan sistem, baik ormas, partai atau pemerintahan kerap terjebak dalam waham-
waham kekuasaan ; berbahasa dan bertindak dengan pendekatan kekuasaan.
Mereka yang ‘berkuasa’ merasa percaya diri, hanya karena secara de jure punya
otoritas atas wilayah territorial, wilayah problematika dan wilayah sumber daya
manusia. Bahwa wilayah ruhaniyah dan wilayah fikriyah tak dapat ditundukkan
begitu saja oleh senjata, uang dan kedudukan, kerap luput dari renungan. Entah
karena inikah ketika ALLAH mengaitkan keselamatan dunia dengan keberadaan Ulu
Baqiyah (orang-orang yang potensial dipertahankan keberadaannya) dan mengemban
misi ‘mencegah kerusakan di muka bumi’, justeru pada saat yang sama mereka yang
(berbakat) zalim terus saja mengikuti kecenderungan hedonik mereka dan karenanya
mereka menjadi durhaka (Qs. 10;116).
akan celaka orang yang kenal harkat dirinya). Telah banyak orang binasa karena
terlalu tinggi memasang harga diatas realita dirinya. Banyak yang lenyap dari
peredaran karena terlalu murah menghargai dirinya – dengan waham ‘tawadhu’ atau
perasaan tidak mampu dan tidak punya apa-apa. Selebihnya adalah jenis orang yang
berjalan dalam tidur atau tidur sambil berjalan. Tepatnya pengigau berat. Ia tak pernah
bisa menyadari dimana posisinya, apa yang terjadi di sekitarnya dan apa bahaya yang
mengancam ummatnya.
Dalam kaitan sistem, baik ormas, partai atau pemerintahan kerap terjebak dalam waham-
waham kekuasaan ; berbahasa dan bertindak dengan pendekatan kekuasaan.
Mereka yang ‘berkuasa’ merasa percaya diri, hanya karena secara de jure punya
otoritas atas wilayah territorial, wilayah problematika dan wilayah sumber daya
manusia. Bahwa wilayah ruhaniyah dan wilayah fikriyah tak dapat ditundukkan
begitu saja oleh senjata, uang dan kedudukan, kerap luput dari renungan. Entah
karena inikah ketika ALLAH mengaitkan keselamatan dunia dengan keberadaan Ulu
Baqiyah (orang-orang yang potensial dipertahankan keberadaannya) dan mengemban
misi ‘mencegah kerusakan di muka bumi’, justeru pada saat yang sama mereka yang
(berbakat) zalim terus saja mengikuti kecenderungan hedonik mereka dan karenanya
mereka menjadi durhaka (Qs. 10;116).
Pesan ini aku sampaikan dari kedalaman hati, dari bilik-bilik kontemplasi. Cobalah tengok ke dalam hati, adakah tersimpan perasaan kebanggaan? Adakah terselip kebesaran perasaan karena mencapai keberhasilan? Bangga itu wajar, manusiawi. Tapi, hati-hati dengan perasaan yang satu ini.
Dalam kehidupan dakwah, sisi-sisi perasaan kemanusiaan selalu hadir membersamai para aktivis. Di antaranya adalah perasaan bangga yang menyelinap muncul tatkala menghadapai suatu situasi positif yang sesuai harapan atau bahkan sangat diharapkan. Misalnya seorang aktivis mampu menyelesaikan tugas-tugas dakwah dengan sukses, atau telah melaksanakan program kerja kelembagaan dengan tingkat keberhasilan di atas sembilan puluh persen, atau mendapatkan apresiasi lebih dari para pemimpin lembaga dakwah. Banyak hal yang bisa memunculkan perasaan bangga di hati para aktivis.
Perasaan bangga ini tentu saja sangat manusiawi, mengingat karakter kemanusiaan yang menghajatkan pengakuan akan keberhasilan yang telah diraih, atau prestasi yang telah dicapai, atau target yang telah terlampaui, atau kenyamanan kondisi yang dinikmati. Akan tetapi yang harus diperhatikan adalah, jangan sampai perasaan bangga yang dirasakan menyebabkan memandang remeh orang lain, atau menganggap tidak ada bandingannya dengan pihak lain. Apalagi apabila sampai menyebabkan perasaan angkuh, karena menganggap bahwa semua kebrhasilan itu adalah karena kehebatan dirinya. “Saya memang luar biasa. Kalau tidak ada saya, tentulah kondisinya tidak bisa sebaik ini”, ungkapan ini sangat mungkin benar sesuai kenyataan. Akan tetapi bisa menjadi negatif apabila berkembang menjadi perasaan takjub dan membesar-besarkan peran dirinya dengan mengabaikan peran atau keterlibatan pihak-pihak lain. Kondisi ini bisa disebut angkuh atau sombong, padahal bangga tidak sama dengan sombong dan angkuh.
Untuk itulah Nabi saw sangat memperhatikan, agar kebanggaan tidak berkembang menjadi kesombongan atau keangkuhan. Perhatikan pengakuan Amr bin Ash ra ini :
“Rasulullah menghadapkan wajah dan pembicaraan kepadaku, sehingga aku menduga bahwa aku adalah sebaik-baik kaum (manusia). Lalu aku bertanya, “Ya Rasulullah, apakah aku atau Abu Bakar yang lebih baik ?” Jawab Rasul, “Abu Bakar !” Aku bertanya lagi, “Ya Rasulullah, apakah aku atau Umar yang lebih baik ?’ Jawab Rasul, “’Umar !” Lalu aku bertanya, “Ya Rasulullah, apakah aku atau ‘Utsman yang lebih baik ?” Beliau menjawab, “’Utsman !” Mungkin bila aku tak bertanya kepada Rasulullah beliau akan membenarkan aku. Maka timbullah (penyesalan dalam hatiku), seharusnya aku tak bertanya lagi kepadanya” (Riwayat Tirmidzi).
Semua sahabat tahu, bahkan Rasulullah juga tahu bahwa Amr bin Ash adalah seorang prajurit Islam yang tangguh. Kesetiaan dan loyalitasnya telah teruji di berbagai medan penugasan. Namun Rasulullah tak ingin ada kesombongan yang dapat muncul di dalam hati Amr bin Ash, sehingga pertanyaan yang ditujukan kepada beliau telah dijawab secara tegas, dan menutup peluang ke arah ”penyimpangan perasaan”.
Bukankah Rasulullah sebenarnya bisa menjawab, bahwa beliau mencintainya lebih dari yang lain ? Seandainya Rasul saw mengatakan Amr bin Ash lebih baik dari Abu Bakar, hal itu tak akan mengurangi kemuliaan dan kewibawaan Abu Bakar di hadapan para sahabat yang lain. Demikian pula jika Nabi saw mengatakan Amr bin Ash lebih baik dari Umar, sekali-kali keutamaan Umar tak akan pudar di hadapan sahabat lainnya. Namun perasaan apakah yang sekiranya muncul pada diri Amr bin Ash, jika jawaban beliau seperti itu?
Jika Anda mengalami peristiwa getir dalam organisasi dakwah, bagaimanakah kiranya perasaan Anda? Qiyadah yang diharapkan memberikan apresiasi atas keberhasilan anda dalam menunaikan amanah dakwah, ternyata tidak seperti yang Anda harapkan. Bagaimana pula seandainya kondisinya lebih buruk dari itu? Anda telah bekerja keras tanpa kenal lelah di medan dakwah, alih-alih mendapat pujian, ternyata yang anda jumpai justru kritikan dan cemoohan. Atau, bahkan anda divonis sebagai bersalah…..
Anda merasa bangga telah menyelesaikan aktivitas sesuai program, target terpenuhi seratus persen. Berharap pimpinan Anda memberikan tahniah, menjabat erat tangan anda bahkan memeluk, sambil menepuk-nepuk bahu dan mengatakan, ”Luar biasa prestasi kerjamu. Kamu layak menjadi juara!” Lalu sang pemimpin menyampaikan di forum, menyebut nama dan keberhasilan Anda, dan tepuk tanganpun bergemuruh di seluruh ruangan memberikan aplaus kepada Anda……
Ternyata tidak seperti itu kejadiannya. Pemimpin Anda tidak menjabat tangan Anda, bahkan tidak membaca laporan dan progress yang telahAnda susun berpayah-payah. Pemimpin Anda bahkan tidak tahu kalau pencapaian target bidang Anda seratus persen. Di forum, pemimpin Anda bahkan menyebut nama orang lain yang Anda tahu dia tidak berhasil mencapai target. Di depan forum, pemimpin Anda justru melontarkan kritik kepada bidang Anda yang dianggap kurang mampu bersinergi dengan bidang lain. Sisi kekurangan Anda diungkap, tanpa menyebut sedikitpun keberhasilan Anda. Padahal Anda merasa sangat berhasil.
Bagaimana perasaan Anda saat mengalami peristiwa itu ? Tidak, Anda tidak harus mengalaminya…….
Dalam hal jenjang pengkaderan, dijumpai adanya kenaikan level kader seiring lamanya interaksi, prestasi dan kontribusi yang dimiliki setiap kader dalam dakwah. Ada kalanya kita merasa lebih baik –astaghfirullahal ’azhim—dari orang lain yang ternyata jenjang kekaderannya lebih tinggi. Kita merasa tertinggal dari segi jenjang atau level, padahal jika dibandingkan, rasanya kita tidak kalah dibanding orang lain yang level kekaderannya lebih tinggi daripada kita.
Lebih-lebih lagi jika kita menyaksikan ada kader yang baru saja bergabung, namun posisi kekaderan dan amanahnya demikian melejit meninggalkan kita. Terkadang muncul kecemburuan dan sejumlah pertanyaan. Mengapa dia demikian cepat meningkat jenjang kekaderannya ? Mengapa ia sedemikian cepat mendapatkan amanah dakwah yang berada dalam posisi hebat? Kadang kita merasa tersisihkan, atau bahkan disisihkan.
”Masak kader kayak begitu sudah naik jenjang? Saya yang sudah lama terlibat tidak naik-naik jenjang….”
”Aneh banget ada kader seperti itu di jenjang yang tinggi… Siapa sih yang menilai dan menaikkan jenjangnya ?”
”Lucu rasanya organisasi ini. Orang kayak begitu dapat posisi strategis. Apa kelebihannya? Kinerjanya sangat payah, jauh di bawah saya…..”
Bolak-balik kita bertanya: Siapa sebenarnya yang lebih baik?
Benar-benar ini ujian dalam perjalanan jenjang pengkaderan. Apakah perasaan ini juga yang dialami oleh masyarakat Bani Israil, saat harus menerima realitas Thalut menjadi pemimpin mereka? Coba perhatikan kisahnya.
“Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.” Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?” Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim” (Al Baqarah: 246).
“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui” (Al Baqarah: 247).
Bukankah pemuka Bani Israil sendiri yang meminta agar diutus seseorang untuk menjadi pemimpin mereka ? Setelah yang ditunjuk menjadi pemimpin adalah Thalut, ternyata mereka tidak bisa menerima. “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?”
Jika organisasi dakwah dipimpin oleh seseorang yang –menurut ukuran kita—tidak memiliki kelebihan apapun dibanding kita, apakah cukup tersedia ruangan dalam diri kita untuk mendengar dan taat kepadanya? “Bagaimana ia memerintah kami, padahal kami lebih berhak memimpin daripadanya, sedang diapun tidak memiliki kelebihan yang berarti ?”
Saya doktor, alumnus luar negeri, bagaimana bisa dipimpin seorang anak lulusan SMA dalam negeri? Saya ustadz, memiliki kafa’ah syar’i, berpendidikan tinggi, mengapa harus dipimpin oleh seorang awam yang kemarin sore baru belajar mengaji? Saya keturunan bangsawan, ningrat, berdarah biru, bagaimana akan dipimpin oleh kader yang orang biasa saja ?
Maka, kitapun mempertanyakan keputusan syura… “Masak, musyawarah menghasilkan keputusan yang sangat naif seperti ini ? Bagaimana kita bisa taat ?”
Bolak-balik kita bertanya, “Siapa sebenarnya yang lebih baik?”
Nastaghfirullahal ‘azhim, wa natubu ilaih.
http://www.fimadani.com/merasa-lebih-baik-dari-yang-lain/
Dalam kehidupan dakwah, sisi-sisi perasaan kemanusiaan selalu hadir membersamai para aktivis. Di antaranya adalah perasaan bangga yang menyelinap muncul tatkala menghadapai suatu situasi positif yang sesuai harapan atau bahkan sangat diharapkan. Misalnya seorang aktivis mampu menyelesaikan tugas-tugas dakwah dengan sukses, atau telah melaksanakan program kerja kelembagaan dengan tingkat keberhasilan di atas sembilan puluh persen, atau mendapatkan apresiasi lebih dari para pemimpin lembaga dakwah. Banyak hal yang bisa memunculkan perasaan bangga di hati para aktivis.
Perasaan bangga ini tentu saja sangat manusiawi, mengingat karakter kemanusiaan yang menghajatkan pengakuan akan keberhasilan yang telah diraih, atau prestasi yang telah dicapai, atau target yang telah terlampaui, atau kenyamanan kondisi yang dinikmati. Akan tetapi yang harus diperhatikan adalah, jangan sampai perasaan bangga yang dirasakan menyebabkan memandang remeh orang lain, atau menganggap tidak ada bandingannya dengan pihak lain. Apalagi apabila sampai menyebabkan perasaan angkuh, karena menganggap bahwa semua kebrhasilan itu adalah karena kehebatan dirinya. “Saya memang luar biasa. Kalau tidak ada saya, tentulah kondisinya tidak bisa sebaik ini”, ungkapan ini sangat mungkin benar sesuai kenyataan. Akan tetapi bisa menjadi negatif apabila berkembang menjadi perasaan takjub dan membesar-besarkan peran dirinya dengan mengabaikan peran atau keterlibatan pihak-pihak lain. Kondisi ini bisa disebut angkuh atau sombong, padahal bangga tidak sama dengan sombong dan angkuh.
Untuk itulah Nabi saw sangat memperhatikan, agar kebanggaan tidak berkembang menjadi kesombongan atau keangkuhan. Perhatikan pengakuan Amr bin Ash ra ini :
“Rasulullah menghadapkan wajah dan pembicaraan kepadaku, sehingga aku menduga bahwa aku adalah sebaik-baik kaum (manusia). Lalu aku bertanya, “Ya Rasulullah, apakah aku atau Abu Bakar yang lebih baik ?” Jawab Rasul, “Abu Bakar !” Aku bertanya lagi, “Ya Rasulullah, apakah aku atau Umar yang lebih baik ?’ Jawab Rasul, “’Umar !” Lalu aku bertanya, “Ya Rasulullah, apakah aku atau ‘Utsman yang lebih baik ?” Beliau menjawab, “’Utsman !” Mungkin bila aku tak bertanya kepada Rasulullah beliau akan membenarkan aku. Maka timbullah (penyesalan dalam hatiku), seharusnya aku tak bertanya lagi kepadanya” (Riwayat Tirmidzi).
Semua sahabat tahu, bahkan Rasulullah juga tahu bahwa Amr bin Ash adalah seorang prajurit Islam yang tangguh. Kesetiaan dan loyalitasnya telah teruji di berbagai medan penugasan. Namun Rasulullah tak ingin ada kesombongan yang dapat muncul di dalam hati Amr bin Ash, sehingga pertanyaan yang ditujukan kepada beliau telah dijawab secara tegas, dan menutup peluang ke arah ”penyimpangan perasaan”.
Bukankah Rasulullah sebenarnya bisa menjawab, bahwa beliau mencintainya lebih dari yang lain ? Seandainya Rasul saw mengatakan Amr bin Ash lebih baik dari Abu Bakar, hal itu tak akan mengurangi kemuliaan dan kewibawaan Abu Bakar di hadapan para sahabat yang lain. Demikian pula jika Nabi saw mengatakan Amr bin Ash lebih baik dari Umar, sekali-kali keutamaan Umar tak akan pudar di hadapan sahabat lainnya. Namun perasaan apakah yang sekiranya muncul pada diri Amr bin Ash, jika jawaban beliau seperti itu?
Jika Anda mengalami peristiwa getir dalam organisasi dakwah, bagaimanakah kiranya perasaan Anda? Qiyadah yang diharapkan memberikan apresiasi atas keberhasilan anda dalam menunaikan amanah dakwah, ternyata tidak seperti yang Anda harapkan. Bagaimana pula seandainya kondisinya lebih buruk dari itu? Anda telah bekerja keras tanpa kenal lelah di medan dakwah, alih-alih mendapat pujian, ternyata yang anda jumpai justru kritikan dan cemoohan. Atau, bahkan anda divonis sebagai bersalah…..
Anda merasa bangga telah menyelesaikan aktivitas sesuai program, target terpenuhi seratus persen. Berharap pimpinan Anda memberikan tahniah, menjabat erat tangan anda bahkan memeluk, sambil menepuk-nepuk bahu dan mengatakan, ”Luar biasa prestasi kerjamu. Kamu layak menjadi juara!” Lalu sang pemimpin menyampaikan di forum, menyebut nama dan keberhasilan Anda, dan tepuk tanganpun bergemuruh di seluruh ruangan memberikan aplaus kepada Anda……
Ternyata tidak seperti itu kejadiannya. Pemimpin Anda tidak menjabat tangan Anda, bahkan tidak membaca laporan dan progress yang telahAnda susun berpayah-payah. Pemimpin Anda bahkan tidak tahu kalau pencapaian target bidang Anda seratus persen. Di forum, pemimpin Anda bahkan menyebut nama orang lain yang Anda tahu dia tidak berhasil mencapai target. Di depan forum, pemimpin Anda justru melontarkan kritik kepada bidang Anda yang dianggap kurang mampu bersinergi dengan bidang lain. Sisi kekurangan Anda diungkap, tanpa menyebut sedikitpun keberhasilan Anda. Padahal Anda merasa sangat berhasil.
Bagaimana perasaan Anda saat mengalami peristiwa itu ? Tidak, Anda tidak harus mengalaminya…….
Dalam hal jenjang pengkaderan, dijumpai adanya kenaikan level kader seiring lamanya interaksi, prestasi dan kontribusi yang dimiliki setiap kader dalam dakwah. Ada kalanya kita merasa lebih baik –astaghfirullahal ’azhim—dari orang lain yang ternyata jenjang kekaderannya lebih tinggi. Kita merasa tertinggal dari segi jenjang atau level, padahal jika dibandingkan, rasanya kita tidak kalah dibanding orang lain yang level kekaderannya lebih tinggi daripada kita.
Lebih-lebih lagi jika kita menyaksikan ada kader yang baru saja bergabung, namun posisi kekaderan dan amanahnya demikian melejit meninggalkan kita. Terkadang muncul kecemburuan dan sejumlah pertanyaan. Mengapa dia demikian cepat meningkat jenjang kekaderannya ? Mengapa ia sedemikian cepat mendapatkan amanah dakwah yang berada dalam posisi hebat? Kadang kita merasa tersisihkan, atau bahkan disisihkan.
”Masak kader kayak begitu sudah naik jenjang? Saya yang sudah lama terlibat tidak naik-naik jenjang….”
”Aneh banget ada kader seperti itu di jenjang yang tinggi… Siapa sih yang menilai dan menaikkan jenjangnya ?”
”Lucu rasanya organisasi ini. Orang kayak begitu dapat posisi strategis. Apa kelebihannya? Kinerjanya sangat payah, jauh di bawah saya…..”
Bolak-balik kita bertanya: Siapa sebenarnya yang lebih baik?
Benar-benar ini ujian dalam perjalanan jenjang pengkaderan. Apakah perasaan ini juga yang dialami oleh masyarakat Bani Israil, saat harus menerima realitas Thalut menjadi pemimpin mereka? Coba perhatikan kisahnya.
“Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.” Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?” Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim” (Al Baqarah: 246).
“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui” (Al Baqarah: 247).
Bukankah pemuka Bani Israil sendiri yang meminta agar diutus seseorang untuk menjadi pemimpin mereka ? Setelah yang ditunjuk menjadi pemimpin adalah Thalut, ternyata mereka tidak bisa menerima. “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?”
Jika organisasi dakwah dipimpin oleh seseorang yang –menurut ukuran kita—tidak memiliki kelebihan apapun dibanding kita, apakah cukup tersedia ruangan dalam diri kita untuk mendengar dan taat kepadanya? “Bagaimana ia memerintah kami, padahal kami lebih berhak memimpin daripadanya, sedang diapun tidak memiliki kelebihan yang berarti ?”
Saya doktor, alumnus luar negeri, bagaimana bisa dipimpin seorang anak lulusan SMA dalam negeri? Saya ustadz, memiliki kafa’ah syar’i, berpendidikan tinggi, mengapa harus dipimpin oleh seorang awam yang kemarin sore baru belajar mengaji? Saya keturunan bangsawan, ningrat, berdarah biru, bagaimana akan dipimpin oleh kader yang orang biasa saja ?
Maka, kitapun mempertanyakan keputusan syura… “Masak, musyawarah menghasilkan keputusan yang sangat naif seperti ini ? Bagaimana kita bisa taat ?”
Bolak-balik kita bertanya, “Siapa sebenarnya yang lebih baik?”
Nastaghfirullahal ‘azhim, wa natubu ilaih.
http://www.fimadani.com/merasa-lebih-baik-dari-yang-lain/
Langganan:
Postingan (Atom)
Jujur...
Pemimpin
Karena Ukuran Kita Tak Sama
Kemenangan..













