• img

    KAMUFLASE...

    Akan aku ajak engkau menemui bunglon .. agar engkau menyaksikan sendiri tipu dayanya! Bunglon merubah warna dirinya sesuai dengan tempat ia berada .. agar engkau mengetahui bahwa yang seperti bunglon itu banyak .. dan berulang-ulang! Dan bahwasanya ada orang-orang munafik .. banyak pula manusia yang berganti-ganti pakaian .. dan berlindung dibalik alasan “ingin berbuat baik”...
  • img

    Jujur...

    Jika engkau hendak mengungkap kejujuran orang, ajaklah ia pergi bersama .. dalam bepergian itu jati diri manusia terungkap .. penampilan lahiriahnya akan luntur dan jatidirinya akan tersingkap! Dan “bepergian itu disebut safar karena berfungsi mengungkap yang tertutup, mengungkap akhlaq dan tabiat”...
  • img

    Pemimpin

    Seringkali terbukti bahwa tugas utama seorang pemimpin hanyalah bagaimana memilih orang yang tepat. Begitu berhasil memilih orang yang tepat seringkali tugas seorang pemimpin sudah selesai. Setidaknya sudah 80 persen selesai. Tapi begitu seorang pemimpin salah memilih orang, sang pemimpin tidak terbantu sama sekali, bahkan justru terbebani...
  • img

    Karena Ukuran Kita Tak Sama

    seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi...
  • img

    Kemenangan..

    Kemenangan sejati yang paling mendasar dan substansial adalah jika kebenaran tetap bersemayam di hati kita. Tidak terkontaminasi oleh racun-racun kehidupan, tidak tergoda oleh iming-iming apapun bentuknya, yang membuat hati kita diisi oleh nilai-nilai lain selain nilai kebenaran yang bersumber dari Allah SWT, ...

Menerima Nasihat dari Orang Gila

0
Diposting oleh cahAngon on 04 Oktober 2011 , in ,
Ibnu Habib menuturkan bahwa seorang lelaki bersumpah tidak akan menikah setelah meminta pendapat kepada seratus orang dikarenakan ia telah menerima perlakuan buruk dari beberapa perempuan.

Setelah ia meminta pendapat kepada 99 orang, masih ada satu orang lagi yang harus ia mintai pendapatnya. la pun berniat bertanya kepada siapa pun yang ia temui pertama kali di jalan. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang lelaki gila yang mengenakan kalung tulang di lehernya serta berwajah kotor kehitaman. la menaiki sebatang kayu seolah-olah sedang menunggang kuda. Lelaki itu pun mengucapkan salam kepada orang gila tersebut seraya berkata, "Aku mau bertanya tentang satu masalah, barangkali engkau dapat memberi jawaban."

Orang gila itu menjawab, "Bertanyalah apa saja yang penting jangan kautanya sesuatu yang bukan urusanmu."

la pun menceritakan bahwa dirinya mendapat perlakuan sangat buruk dari perempuan dan telah bersumpah tidak akan menikah hingga meminta pendapat kepada seratus orang dan orang gila inilah orang keseratus yang dimintai pendapat.

Orang gila itu tiba-tiba memberi jawaban seperti layaknya orang arif nan bijaksana dengan berkata, "Ketahuilah bahwa perempuan ada tiga macam: satu baik untukmu, satu lainnya tidak baik untukmu, dan satu lagi perempuan yang tidak baik untukmu, tetapi juga tidak jelek untukmu."
"Perempuan yang baik untukmu ialah perempuan cantik nan lembut yang belum pernah dikenal oleh laki-laki sebelummu. Apabila melihat suatu kebaikan, ia memuji dan apabila ia melihat keburukan, ia menutupi," lanjutnya.

"Sedangkan, perempuan yang tidak baik untukmu ialah yang mempunyai anak dari selain engkau, ia menguras hartamu, dan memberikan kepada anaknya. la tidak berterima kasih kepadamu meskipun engkau bekerja membanting tulang untuknya."

"Adapun perempuan yang tidak baik untukmu, tetapi tidakjugajelekuntukmuialahperempuanyangsebelumnya pernah menikah dengan selain engkau. Apabila melihat suatu kebaikan mengatakan, 'Kami menyukai itu,' tetapi ketika melihat keburukan, ia ingat suami pertamanya."

"Maka pahamilah, jika ingin menikah, nikahilah yang paling baik, jika tidak, jangan."

Lelaki itu menjadi takjub mendengar penjelasan orang gila tersebut. la pun bertanya, "Demi Allah, siapakah sebenarnya engkau ini?"

la menjawab, "Tidakkah aku telah memberi syarat agar engkau tidak bertanya tentang sesuatu yang bukan urusanmu?"

Dakwah adalah Cinta

0
Diposting oleh cahAngon , in , ,
Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu.Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yg kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yg menempel di tubuh rentamu. Tubuh yg luluh lantak diseret-seret. .. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari. Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yg diturunkan Allah.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yg bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam 2 tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak… Justru kelelahan. Justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”.Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani… justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi… akhirnya menjadi adaptasi.

Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda
dibandingkan jihad yang begitu cantik.

Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi
kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..Karena itu kamu tahu. Pejuang yg heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yg takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya
besar.

Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta… Mengajak kita untuk terus berlari…

“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

(alm. Ust Rahmat Abdullah)
Kalau iman dan syetan terus bertempur. Pada akhirnya salah satunya
harus mengalah.

Atas Nama Kemiskinan..

0
Diposting oleh cahAngon on 19 Juli 2011 , in
Karena aku miskin dan merasa miskin
Maka angkotku tak perlu taat rambu
Kejar setoran lebih perlu
Maka ku ngetem seenak brutu
Kalian yang sekilo meter di belakangku jangan menggerutu
Ini juga demi anak isteriku

Karena aku miskin dan merasa miskin
Maka ku tak mampu beli mobil
Hanya motor itupun mencicil
Jalan mobil ku srobot dan kuambil
Pecicilan di jalanan macam si kancil
Kupikir tak apa karna ku miskin dan ekonomi labil Karena aku miskin dan merasa miskin
Maka aku ke kota modal nekat
Tanah kosong kukangkangi dan kusikat
Kubangun kerajaanku tanpa sertipikat
Kudirikan mesjid buat pengaman dan pemikat
Karena kupikir orang kaya juga tak kalah bejat

Karena aku miskin dan merasa miskin
Kupikir pantas jika mengemis
Kujual wajah sendu isak dan tangis
Bayi kusewa agar hati kalian makin miris
Kupoles badan dengan bau busuk dan amis
Agar kalian mau memberi demi janji sorga kalian yang manis

Karena aku miskin dan merasa miskin
Kubangun supermarket di trotoar
Berkaki lima dagangan dan jasa kugelar
Ke bahu jalanan supermarketku melebar
Jalanan macet bukanlah masalah besar
Karena ku harus bersaing dengan mall dan super bazaar

Karena aku miskin dan merasa miskin
Maka ku bisa berbuat onar dan menyakiti
Demi ketenangan kutarik uang keamanan dan upeti
Kugalang massa kubentuk kelompok orang sakti
Kebal tusukan dan kebal aturan yang membatasi
Karena penyewa dan pelindungku pejabat yang sedang sakit hati

Karena aku miskin dan merasa miskin
Maka ku berhak ambil paksa dari orang kaya
Ngamen tak diberi kugores cat mobilnya
Kuminta tak dikasih kurampok rumahnya
Sukur-sukur ada kerusuhan, kujarah kekayaannya
Karna kupikir begitulah seharusnya

Karena aku miskin dan merasa miskin
Aku hanyalah sekedar pekerja buruh
Kumerasa hidupku hanya untuk disuruh-suruh
Maka jika diajak mbangkang kusambut dengan riuh
Tanpa kutahu tujuan yang hendak ditempuh
Yang penting hari itu ku bisa mbolos dan tak perlu kerja berpeluh

Itulah diri dan hidupku
Kuharap kalian tak perlu meniru
Hidup penuh pembenaran dari kelakuan palsu
Inti sebenarnya hanyalah hawa napsu
Dibungkus tuntutan keadilan sebagai bahan isu
Padahal hakikatnya kemalasan penuh lesu

Mbah Dipo, 6 Oktober 2009
Seorang yang sudah mambu lemah
Siap mujur ngalor mlumah
Menuju alam barzah
Hidup harus pantang menyerah
Jangan sedih dan susah
Kerja keras tanpa lelah

Kisah Sa’id bin Harits Berbuka Puasa Bersama Bidadari

0
Diposting oleh cahAngon on 13 Juli 2011 , in
Hisyam bin Yahya al-Kinaniy berkata, “Kami berperang melawan bangsa Romawi pada tahun 38 H yang dipimpin oleh Maslamah bin Abdul Malik. Dalam pertempuran itu ada di antara kami seorang lelaki yang bernama Sa’id bin Harits yang terkenal banyak beribadah, berpuasa di siang hari, dan shalat di malam hari.

Saya melihat orang itu adalah orang yang sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah, baik siang maupun malam hari. Jika dia tidak sedang melakukan shalat atau ketika kami berjalan-jalan bersama, saya lihat dia tidak pernah lepas dari berdzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an.

Pada suatu malam ketika kami melakukan pergantian jaga (saat mengepung benteng Romawi), sungguh saat itu kami dibuat bingung olehnya. Saat itu saya katakan kepadanya, ‘Tidurlah sebentar karena kamu tidak tahu apa yang akan terjadi pada musuh. Jika terjadi sesuatu agar nantinya kamu dalam keadaan siaga.’ Lalu dia tidur di sebelah tenda sedangkan saya berdiri di tempatku berjaga. Di saat itu saya mendengar Said berbicara dan tertawa, lalu mengulurkan tangan kanannya seolah-olah mengambil sesuatu kemudian mengembalikan tangannya sambil tertawa. Kemudian ia berkata, ‘Semalam.’ Setelah berkata seperti itu tiba-tiba ia melompat dari tidurnya dan terbangun dan bergegaslah dia bertahlil, bertakbir, dan bertahmid.

Lalu saya bertanya kepadanya, ‘Bagus sekali, wahai Abul Walid (panggilan Sa’id), sungguh saya telah melihat keanehan pada malam ini. Ceritakanlah apa yang kau lihat dalam tidurmu.’

Dia berkata, ‘Aku melihat ada dua orang yang belum pernah aku lihat kesempurnaan sebelumnya pada selain diri mereka berdua. Mereka berkata kepadaku, ‘Wahai Sa’id, berbahagialah, sesungguhnya Allah swt. telah mengampuni dosa-dosamu, memberkati usahamu, menerima amalmu, dan mengabulkan doamu. Pergilah bersama kami agar kami menunjukkan kepadamu kenikmatan-kenikmatan apa yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu.’

Tak henti-hentinya Sa’id menceritakan apa-apa yang dilihatnya, mulai dari istana-istana, para bidadari, hingga tempat tidur yang di atasnya ada seorang bidadari yang tubuhnya bagaikan mutiara yang tersimpan di dalamnya. Bidadari itu berkata kepadanya, “Sudah lama kami menunggu kehadiranmu.” Lalu aku berkata kepadanya, “Di mana aku?” Dia menjawab, “Di surga Ma’wa.” Aku bertanya lagi, “Siapa kamu?” Dia menjawab, “Aku adalah istrimu untuk selamanya.”

Sa’id melanjutkan ceritanya. “Kemudian aku ulurkan tanganku untuk menyentuhnya. Akan tetapi dia menolak dengan lembut sambil berkata, ‘Untuk saat ini jangan dulu, karena engkau akan kembali ke dunia.’ Aku berkata kepadanya, “Aku tidak mau kembali.” Lalu dia berkata, “Hal itu adalah keharusan, kamu akan tinggal di sana selama tiga hari, lalu kamu akan berbuka puasa bersama kami pada malam ketiga, insya Allah.”

Lalu aku berkata, “Semalam, semalam.” Dia menjawab, “Hal itu adalah sebuah kepastian.” Kemudian aku bangkit dari hadapannya, dan aku melompat karena dia berdiri, dan saya terbangun.

Hisyam berkata, “Bersyukurlah kepada Allah, wahai saudaraku, karena Dia telah memperlihatkan pahala dari amalmu.” Lalu dia berkata, “Apakah ada orang lain yang bermimpi seperti mimpiku itu?” Saya menjawab, “Tidak ada.” Dia berakta, “Dengan nama Allah, aku meminta kepadamu untuk merahasiakan hal ini selama aku masih hidup.” Saya katakan kepadanya, “Baiklah.”

Lalu Sa’id keluar di siang hari untuk berperang sambil berpuasa, dan di malam hari ia melakukan shalat malam sambil menangis. Sampai tiba saatnya, dan sampailah malam ketiga. Dia masih saja berperang melawan musuh, dia membabat musuh-musuhnya tanpa sekalipun terluka. Sedangkan saya mengawasinya dari kejauhan karena saya tidak mampu mendekatinya. Sampai pada saat matahari menjelang terbenam, seorang lelaki melemparkan panahnya dari atas benteng dan tepat mengenai tenggorokannya. Kemudian dia jatuh tersungkur, lalu dengan segera aku mendekati dia dan berkata kepadanya, “Selamat atas buka malammu, seandainya aku bisa bersamamu, seandainya….”

Lalu ia menggigit bibir bawahnya sambil memberi isyarat kepadaku dengan tersenyum. Seolah-olah dia berharap ‘Rahasiakanlah ceritaku itu hingga aku meninggal’. Kemudian dari bibirnya keluar kata-kata, “Segala puji bagi Allah yang telah menepati janji-Nya kepada kami.” Maka demi Allah, dia tidak berucap kata-kata selain itu sampai dia meninggal.

Kemudian saya berteriak dengan suaraku yang paling keras, “Wahai hamba-hamba Allah, hendaklah kalian semua melakukan amalan untuk hal seperti ini,” dan aku ceritakan tentang kejadian tersebut. Dan orang-orang membicarakan tentang kisah itu dan mereka satu sama lain saling memberikan teguran dan nasihat. Lalu pada pagi harinya mereka bergegas menuju benteng dengan niat yang tulus dan dengan hati yang penuh kerinduan kepada Allah swt. Dan sebelum berlalunya waktu Dhuha benteng sudah bisa dikuasai berkat seorang lelaki shaleh itu, yaitu Sa’id bin Harits. Allahu a’lam
www.dakwatuna.com

Mengenang seorang sahabat, jundi yang terbaik, Allahuyarham Akhuna Sofyan
Senen, 11 Juli 2011




@rezasyam Berbincang tentang #Khawarij

0
Diposting oleh cahAngon on 11 Juli 2011 , in ,
Tweeps, kali ini saya ingin sedikit berbagi mengenai sebuah kelompok dalam Islam yang sering jadi buah bibir: #khawarij

1. #khawarij, sepanjang sejarah islam, benar-benar kontroversial & sangat menarik untuk dikaji. mengapa? karena mereka unik

2. nabi menyebut shalat & puasa mereka sangat teguh, bahkan bisa jadi lebih baik dari para sahabat. #khawarij

3. bahkan di kening Ibnu Muljam, salah 1 pentolan #khawarij, terdapat bekas kecoklatan sebab banyak dan seringnya ia bersujud

4. tapi di saat bersamaan, nabi menyebut diin mereka terlepas seperti lepasnya anak panah dari busurnya. #khawarij

5. bacaan Quran mereka juga bagus, kata nabi. tapi tak sampai melewati tenggorokan mereka. #khawarij

6. di kesempatan lain, nabi menyebut mereka dengan sebutan lebih parah: kilaabun naar. anjing2 neraka. #khawarij

7. cermati 2 paradoks ini: orang2 dengan ibadah luar biasa tapi miliki diin yang terlepas dari dirinya. statusnya: anjing2 neraka. #khawarij

8. tanda-tanda munculnya #khawarij sebenarnya telah tampak saat nabi masih hidup.

9. pembagian ghanimah yang nabi lakukan sekilas memang tampak timpang. tak adil. #khawarij

10. mungkin sama seperti yang dirasakan sahabat anshar ba’da Hunain. #khawarij

11. tapi reaksinya yg membedakan. bila sahabat Anshar akhirnya ridho pada keputusan nabi, lain halnya dengan mereka. #khawarij

12. tersebut nama Dzul Khuwaisirah, yang lantang menyebut nabi tak adil dalam membagi ghanimah. #khawarij 13. saat itu, Umar bin Khaththab telah ambil ancang-ancang utk bunuh Dzul Khuwaisirah. tapi dicegah oleh nabi. #khawarij

14. padahal, yg dilakukan Dzul Khuwaisirah telah memenuhi kriteria “layak bunuh” yang jadi sebab turunnya QS 4:65. #khawarij

15. maka nabi pun menyebut sebuah hadis yang diriwayatkan oleh imam Bukhari & Muslim seperti yang diceritakan di awal twit ini. #khawarij

16. selang beberapa waktu & generasi kepemimpinan, gerakan ini ternyata tak padam. #khawarij menemukan momentumnya di saat peristiwa tahkim.

17. tahkim adl peristiwa “perjanjian damai” antara Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah yg sah dg Muawiyah, gubernur Syiria yg berontak. #khawarij

18. Muawiyah berontak diduga sebab ketidakpuasannya terhadap sikap pemerintah tentang peristiwa terbunuhnya Utsman bin Affan. #khawarij

19. Ali sesungguhnya sudah mencoba kirimkan juru rundingnya terkait ketidakpuasan Muawiyah ini. #khawarij

20. tapi apa boleh buat, perundingan gagal. perang Shiffin meletus. #khawarij

21. di tengah perang, saat kondisi terdesak, Amr bin Ash mengusulkan rencana cukup jitu untuk balikkan keadaan. #khawarij

22. ia usul agar pasukan Muawiyah gantungkan mushaf di ujung tombak2 mereka sebagai tanda bahwa mereka hendak ber-tahkim. #khawarij

23. singkat cerita, diterimalah usul tersebut . perundingan diselenggarakan. “perjanjian damai” inilah yang disebut dengan tahkim. #khawarij

24. rupanya, ada beberapa pihak yang tak terima dengan jalan tengah yg diambil khalifah ini. mereka adalah orang2 #khawarij

25. setelah perundingan, Ali berbalik pulang dari Shiffin menuju Kufah. #khawarij menolak turut serta. mereka tuduh Ali langgar hukum Allah.

26. berjumlah 12000 pasukan, kaum #khawarij akhirnya singgah di Haura’.

27. di sinilah pertama kali #khawarij menyusun organisasi rapi yg dipimpin Abdullah bin Wahab ar Rasibi. mereka dikenal dg nama al Haruriyah.

28. tapi meski kabar rencana peperangan #khawarij pada Ali telah sampai ke telinga Ali, beliau tetap tenang.

29. sembari berkata, “aku tak akan perangi mereka sehingga mereka memerangiku.” #khawarij

30. mengapa #khawarij memilih berpisah dari Ali? ada 3 alasan yang akan dijelaskan nanti.

31. salah 1 tuntutan terkenal #khawarij pada khalifah adl, “inil hukmu illaa lilaah. hukum itu hanya milik Allah.” (QS 6:57)

32. atas dasar inilah kemudian banyak orang secara serampangan menuduh orang yang berusaha menegakkan hukum Islam sebagai #khawarij

33. padahal, bila kita mau teliti buku-buku sejarah, ada hal penting yang perlu kita ketahui di sana. #khawarij

34. Ibnu Abbas, sahabat nabi yg nabi doakan kefaqihan atas dirinya, menjelaskan pada kita tentang hal penting ini. #khawarij

35. didatanginya gerombolan #khawarij itu. beliau menantang debat.

36. pada Ibnu Abbas, #khawarij ungkapkan 3 alasan perangi Ali.

37. #1, Ali mengangkat beberapa orang sebagai pembuat keputusan hukum dalam urusan Allah. padahal Allah telah berfirman dg QS 6:57. #khawarij

38. #2, Ali & pasukannya berperang dan membunuh; tapi tak mau ambil ghanimah & tawanan perang. #khawarij

39. “kalau memang mereka adl mu’minin,” kata #khawarij, “lalu mengapa kami diperbolehkan perang tapi tak diperbolehkan menawan mereka?”

40. #3, Ali hapus titel “amirul mu’minin” dari dirinya. “sebab jika ia bkn amirul mu’minin,” kata #khawarij, “tentu ia adl amirul kaafirin.”

41. tuntutan ini kemudian dijawab satu persatu oleh Ibn Abbas. #khawarij

42. #1, Allah pun ternyata telah menyatakan bahwa Ia menyerahkan putusan hukumNya (di dunia) pada beberapa orang. #khawarij

43. di QS 5:95, Allah serahkan putusan hukumNya pada beberapa orang untuk bayar 4 dirham sebagai ganti pembayaran seekor kelinci. #khawarij

44. di QS 4:35, Allah serahkan penyelesaian sengketa suami-istri dengan masing2 seorang hakim dari pihak laki2 dan perempuan. #khawarij

45. tegaknya hujjah di hadapan #khawarij ini ternyata tak buat mereka kembali pada jalan yg benar.

46. dengan percaya diri, mereka berkata, “yang benar adalah pendapat kami.” #khawarij

47. Ibnu Abbas menjawab dengan simpel, “kalau begitu, permasalahannya sudah menyimpang.” #khawarij

48. #2, Ibnu Abbas bertanya, “lalu apakah kalian hendak menawan ibu kalian, Aisyah? padahal Allah telah berfirman dlm QS 33:6″ #khawarij

49. “sungguh,” kata Ibnu Abbas, “bila kalian berkata, ‘ia bukan ibu kami’, berarti kalian telah keluar dari Islam.” #khawarij

50. #3, terkait pelepasan gelar, rasul pun ternyata juga pernah melepas gelarnya, sama seperti Ali.#khawarij

51. dalam perjanjian Hudaibiyah, tertulis bahwa pakta tsb adalah kesepakatan antara Muhammad bin Abdullah dengan orang2 musyrik. #khawarij

52. dan kebetulan, penulis perjanjian tersebut adalah Ali bin Abi Thalib. #khawarij

53. selain cacat dalam berargumen, seruan #khawarij ini ternyata kadang berbanding terbalik dengan akhlaq mereka sendiri.

54. ada 4 peristiwa terkenal yang bisa kita cermati. #khawarij

55. #1, alkisah, di tengah perjalanan, mereka bertemu Abdullah bin Khabbab yang pernah mendengar suatu hadis yang bicara tentang #khawarij

56. #khawarij bertanya, “benarkah kau dengar yang seperti ini dari ayahmu, bahwa itu benar datang dari rasulillah?”

57. “benar,” jawab Abdullah bin Khabbab. #khawarij

58. seketika mereka menyeret Abdullah bin Khabbab ke pinggir sungai dan memenggal lehernya di sana. #khawarij

59. tak ketinggalan, #khawarij juga belah perut istri Abdullah yg sedang mengandung anaknya.

60. #2, berikutnya, mereka singgah di sebuah kebun kurma di daerah Nahrawan. kebetulan, ada sebutir kurma yang terjatuh dari pohonnya. #khawarij

61. salah seorang dari mereka memungutnya dan hendak memakannya. sayangnya, kawannya tak kalah sigap mengingatkan. #khawarij

62. “kau ambil kurma itu tanpa haqnya & juga belum membayarnya,” kata sang kawan. #khawarij

63. lantas diambil dan dibuanglah kurma itu. karena tak terima, seorang #khawarij ini kemudian membunuh kawannya sendiri.

64. jasad sang kawan akhirnya diberikan pada seekor babi milik seorang Ahlu adz Dzimmah. #khawarij

65. kemudian si pembunuh berkata, “orang seperti ini (yg mencegah si pembunuh memakan kurma) adalah kerusakan di muka bumi. #khawarij

66. lucu kan? pelaku nahi munkar justru disebut sebagai “kerusakan di muka bumi”. #khawarij

67. #3, ungkap takfir mereka sangat terkenal; yg menunjukkan bahwa orang2 yg berseberangan/di luar mereka adl orang kafir. #khawarij

68. “yg miliki pikiran berseberangan dg kami adl musyrik. yg melakukan dosa besar juga musyrik. yg tak mau gabung dg kami adl kafir.” #khawarij

69. #4, riwayat menonjol mereka di masa salaf berpuncak saat mereka berkonspirasi bunuh orang2 yg terlibat dlm tahkim. #khawarij

70. Abdurrahman bin Muljam, al Barak bin Abdullah, & Amr bin Bakr berkumpul di Makkah dan buat kesepakatan bersama. #khawarij

71. isi kesepakatan: Ibnu Muljam bunuh Ali; al Barak bunuh Muawiyah; Amr bin Bakr bunuh Amr bin Ash. #khawarij

72. Ibnul Jauzi berkata, berbagai bentuk kekerasan & trauma sejarah inilah yg kemudian membidani munculnya Mu’tazilah. #khawarij

73. Mu’tazilah terdiri dari berbagai paham & sekte. intinya, mereka menyerahkan ukuran baik/buruk pada akal mereka semata. #khawarij

74. konsep umumnya sama dengan #khawarij: akal buruk yang diperturutkan. tapi sampulnya berbeda.

75. #khawarij dikenal keras dalam berislam, sementara Mu’tazilah sebaliknya.

76. overall, ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari #khawarij.

77. #1, anggapan bahwa hukum Allah tak memerlukan hakim yg mewakili Allah dlm menegakkan hukumNya adalah salah. #khawarij

78. mereka tak ubahnya seperti kaum #khawarij yang sifatnya tersirat dlm poin #1 berdebatan mereka dengan Ibn Abbas.

79. dalam bentuk yg lebih modern, “biarlah Allah yg menilai”, “manusia tak berhak menghukumi perbuatannya”, dll. #khawarij

80. biasanya, argumen “penyerahan pada tuhan” ini disampaikan oleh mereka yang mengaku berpikir liberal. #khawarij

81. tapi tak menutup kemungkinan disampaikan pula oleh orang lain. #khawarij

82. #2, semangat dlm beribadah saja tak cukup mengantarkan kita ke surga. Allah juga menghendaki hambaNya cermat dlm berilmu. #khawarij

83. rumusan mudahnya, ilmu, amal, da’wah. itu dijalankan secara berurutan. #khawarij

84. supaya tak terjebak dengan argumen dangkal semacam penolakan tahkim sebab QS 6:57, atau hal2 lainnya. #khawarij

85. tapi juga jangan sampai menjadikan kita begitu sibuk pada ilmu tanpa mengamalkannya. keduanya harus tetap seimbang. #khawarij

86. #3, akhlaq kita pada para sahabat tetap harus dijaga. mereka memang pernah salah & bukan orang yg ma’shum. #khawarij

87. yg salah kita katakan salah. tapi tentu tak layak bersikap berlebihan thd mereka yg berjasa begitu besar dlm da’wah Islam. #khawarij

88. sekedar referensi, ternyata masih ada orang yang menurut saya cukup adil dalam bersikap pada para sahabat. #khawarij

89. ia mampu tunjukkan kesalahan sahabat tanpa kehilangan rasa hormatnya pada mereka. #khawarij

90. namanya Abul A’la al Maududi. ulasan lengkapnya bisa dibaca dlm al Khilafah wal Mulk. #khawarij

91. #4, teori butterfly effect berlaku juga di sini. kesesatan #khawarij tak hanya lahirkan keburukan bagi diri mereka sendiri.

92. tapi juga lahirkan kesesatan lain yang dilakukan pihak lain. dalam hal ini, kesesatan lain itu bernama Mu’tazilah. #khawarij

93. #5, seperti Fir’aun (QS 40:29), #khawarij pun memandang perbuatan mereka sbg sebuah kebaikan. tapi keyakinan mereka jelas menyimpang.

94. meski begitu, #khawarij tak berargumen dg dalil2 kebebasan berpendapat. sebab mereka tau bahwa kebenaran ada dlm quran dan sunnah.

95. kesalahan fatal dlm memahami teks Quran dan Sunnah-lah yg kemudian jadikan mereka terjerumus dlm jurang kesesatan. #khawarij

96. #6, jangan sebut pelaku nahi munkar sebagai “pelaku kerusakan di muka bumi”. argumen ini mirip dengan argumen kaum #khawarij

97. #7, jangan mudah berikan cap kafir pada orang lain. temukan dahulu nash yg berkata demikian. Allah yg berhak tentukan cap kekafiran. #khawarij

98. selalu berpijaklah pada dalil. selalu berpegang teguhlah pada Quran dan Sunnah dalam bersikap. #khawarij

99. sekian tweeps, bila ada yang hendak menambahkan, saya persilakan. :)

100. maraji’: Talbis Iblis by Ibnil Jauzi; Tarikh Khulafa‘ by Imam as Suyuthi; Dirasatul Firaq by Tim Ulin Nuha Ma’had Aly an Nuur

sumber: @rezasyam

Cerita Jodoh....

0
Diposting oleh cahAngon on 06 Juli 2011 , in
Oleh Lhinblue

Bismillahirrahmanirrahim..

Menjelang Ramadhan, ada dua peristiwa yang sering kulihat disekitarku. Apa itu?

Mungkin sebagian Sahabat juga merasakan hal yang sama.

Ada dua hal yang sering terjadi menjelang Ramadhan. Hal pertama adalah banyaknya undangan walimatul’ursy (pernikahan) dan yang kedua adalah banyaknya kabar kematian. Pada tulisan kali ini, ijinkan aku untuk berbagi tentang hal pertama.

Cerita Jodoh(ku)..

Apa yang terlintas di benak Sahabat pertama kali ketika membaca judul tulisan ini??
Oohh.. Mungkin ada yang berpikir bahwa sang penulis akan berbagi tentang cerita jodohnya.

Tentunya di sini aku takkan berbagi tentang cerita jodohku karena aku sendiri belum mengalaminya. Namun, aku akan berbagi tentang cerita jodoh(ku). “Ku” yang dimaksudkan di sini adalah orang yang sudah mengalami proses dalam menjemput jodohnya. Setiap kita mempunyai scenario hidup termasuk cerita jodoh yaitu bagaimana proses penjemputan jodoh masing-masing. Mungkin ada yang awalnya tak saling kenal akhirnya menikah. Atau ada juga yang sudah kenal sejak lama dan akhirnya menikah walaupun tak pernah menduga sebelumnya.

Perkenankan aku untuk mengutip perkataan Pak Mario Teguh yang SUPER SEKALI: “Jodoh itu di tangan Tuhan. Benar. Tapi jika Anda tidak meminta dan mengambil dariNYA, selamanya dia akan tetap di tangan Tuhan.”

Ya! Jodoh itu adalah bagian dari rezeki, perlu diusahakan, perlu diikhtiarkan. Nah, proses ikhtiar dalam penjemputan jodoh inilah yang akan aku angkat dalam tulisan ini. Cerita Jodoh(ku), yang aku dapatkan dari sumber orang pertama dan orang kedua atau bahkan orang kesekian. Ada berbagai cerita yang aku angkat disini yang semoga saja bisa menginspirasi dalam mengikhtiarkan penjemputan jodoh kita. Cerita Jodoh(ku) part 1: Berawal dari FaceBook

Ada seorang ikhwan yang profesinya sebagai seorang trainer menemukan jodohnya via FaceBook. Bagaimana hal itu bermula? Mari aku ceritakan kisah tentang mereka.

Bagi seorang trainer, menjaga silaturahim dengan orang-orang yang telah ditrainingnya adalah sebuah keniscayaan. Begitupun dengan ikhwan trainer ini. Disetiap akhir training, ia selalu memberikan nama akun FBnya agar para peserta training bisa tetap menjaga silaturahim dengan sang trainer via FB.

Suatu hari, seperti biasa, ketika seorang trainer menulis status FB, pasti berbau hal-hal yang bisa memotivasi seseorang, seperti apa yang selama ini dilakukan mereka via training. Ijinkan aku untuk mengutip sebuah lirik yang mungkin tak asing ditelinga kita: “Berawal dari Facebook baruku.. Kau datang dengan cara tiba-tiba..”

Ya! Berawal dari sebuah status FB sang trainer yang begitu memotivasi para pembaca, ada salah seorang akhwat yang pernah menjadi peserta training yang mengomentari status tersebut. Intinya, sang akhwat tersentuh dengan kata-kata yang dituangkan sang trainer dalam statusnya. Dari situlah, sang trainer akhirnya berkunjung ke FB sang akhwat -karena merasa belum mengenal sang akhwat- hanya sekadar ingin mengingat-ingat mungkin sang akhwat pernah menjadi salah satu peserta trainingnya.

Tak dinyana, ketika memasuki halaman FB sang akhwat, ada sebuah rasa yang muncul dalam hati dan sebuah bisikan yang begitu halus dan berulang : “Aku yakin, dia jodohku..”. Interaksi dan komunikasi pun terjalin via FB hingga akhirnya sang trainer memutuskan untuk meminang sang akhwat menjadi istrinya. Gayung pun bersambut, sang akhwat menerima pinangan itu dan mereka menikah. Simple, isn’t it?

Cerita Jodoh(ku) part 2: Love at the first sight

Love at the first sight atau jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “cinta pada pandangan pertama”. Menurut penelitian para ilmuwan, cinta jenis ini sering terjadi pada laki-laki. Ketika seorang laki-laki melihat seorang perempuan dan dengan serta merta ada rasa cinta tumbuh darisana. Itulah yang dinamakan cinta pada pandangan pertama, ada suatu ketertarikan tertentu saat pertama kali melihat seorang perempuan.
Pada suatu agenda da’wah, yang tanpa hijab (pembatas antara ikhwan dan akhwat), seorang ikhwan —yang memang sedang mencari jodohnya— merasa menemukan jodohnya ketika ia melihat dari kejauhan ada seorang akhwat yang membuat jantungnya berdebar-debar dan muncullah bisikan dari hatinya : “Aha, dialah orangnya..”

Tentu, bagi aktivis da’wah ketika ada perasaan yang muncul terhadap lawan jenis, tak serta merta disampaikan secara langsung kepada yang bersangkutan. Sang ikhwan berjuang untuk mengikuti kata hatinya karena ada keyakinan yang mendalam bahwa akhwat itulah jodohnya. Karena ia pun sudah masuk dalam kategori ‘siap nikah’, maka tak ada kata lain selain untuk berta’aruf dengan sang akhwat. Ia mencari tahu siapa Murobbiyah (guru ngaji) sang akhwat dan mencari tahu nomor HPnya. Allah pun memudahkan jalannya. Sang murobbiyah akhwat ternyata adalah orang yang sudah dikenalnya. Sang ikhwan akhirnya menghubungi sang murobbiyah dan menyatakan diri untuk berta’aruf dengan akhwat yang dimaksud.

Sang akhwat yang tidak tahu menahu tentang sang ikhwan, akhirnya mengiyakan untuk melanjutkan proses ta’aruf, tentunya setelah istikharah panjangnya. Proses ta’aruf pun berlangsung, mulai pertemuan pertama, kedua, yang didampingi oleh guru ngaji masing-masing (tak berduaan), ada begitu banyak kecocokan, dan akhirnya pertemuan berlanjut ke pertemuan pihak keluarga masing-masing. Kedua pihak keluarga pun merasa cocok, tak ada masalah, hingga akhirnya sang ikhwan mengkhitbah (meminang) sang akhwat dan tanpa berlama-lama dalam proses, mereka pun menikah. Barakallah..

Cerita Jodoh(ku) part 3: Halalkan saja..

Jika dua cerita diatas berkisah tentang dua orang yang awalnya belum saling kenal dalam menemukan jodohnya, maka pada cerita ketiga ini, aku menceritakan kisah yang sedikit berbeda, dua orang yang sudah saling kenal dan memang mereka berjodoh pada akhirnya.

Cerita ini bermula dari tiga orang aktivis da’wah yang diamanahkan untuk pergi ke suatu kota untuk suatu tugas da’wah tertentu, untuk menetap agak lama di kota itu. Tiga orang ini terdiri dari dua akhwat dan satu ikhwan. Qadarullah, salah seorang akhwat tidak bisa pergi karena ada satu keperluan yang begitu mendesak yang tidak bisa ditinggalkan. Lantas bagaimana dengan tugas da’wah yang sudah diamanahkan kepada mereka bertiga? Akankah tetap berjalan dengan satu orang yang tidak ikut serta? Itu berarti hanya ada satu ikhwan dan satu akhwat yang akan pergi. Dan mereka berdua bukanlah mahramnya. Bukankah akan terjadi fitnah yang besar jika dua orang yang bukan mahramnya melakukan perjalanan bersama?

Maka, mereka pun berkonsultasi kepada sang qiyadah. “Ustadz, bagaimana kami bisa pergi berdua saja karena kami bukan mahram? Adakah yang bisa menggantikan al-ukh yang tidak bisa pergi itu? Ataukah ustadz ada saran lain?”

Sang ustadz menjawab dengan mantap: “Yasudah, halalkan saja..”. Akhirnya, mereka menikah dan melanjutkan perjalanan da’wah bersama. Subhanallah, inikah yang dinamakan ‘”menikah di jalan da’wah”?? Ketika hati tak lagi ragu, ketika da’wah menjadi alasan pernikahan mereka, bukan alasan lain yang bersifat duniawi.

Cerita Jodoh(ku) part 4: Ternyata jodohku dia..

Seorang ikhwan yang dikategorikan siap nikah, sedang berikhtiar menjemput jodohnya. Proposal nikah pun sudah diajukan kepada sang Murobbi untuk dicarikan pendamping hidup.

Tak lama berselang, ta’aruf dengan seorang akhwat pun dilakukan. Namun, proses kandas di tengah jalan. Ta’aruf-ta’aruf berikutnya pun demikian, tak ada yang sampai pelaminan bahkan khitbah pun belum. Berkali-kali ta’aruf, rupanya sang ikhwan belum juga menemukan jodohnya.

Hingga akhirnya pada suatu ketika, sang ikhwan ditawari seorang akhwat oleh sang Murobbi. Akhwat yang dimaksud tak lain tak bukan adalah adik kelasnya yang juga satu organisasi da’wah. Proses ta’aruf yang dijalani begitu lancar dan berlanjut hingga ke pelaminan.

“Ternyata jodohku dia..”, gumam sang ikhwan setelah pernikahan berlangsung. Mungkin akan ada suatu lintasan pikiran dalam benak sang ikhwan: “Andai saja dari dulu saya tahu kalo jodohku dia, dari awal aja proses dengan dia..”. Sayangnya, kita tak pernah tahu siapa jodoh kita sebelum kita benar-benar menemukannya dan menikah dengannya.

***

Sahabat, begitulah beberapa cerita jodoh(ku) yang bisa aku angkat dalam tulisan ini. Ada yang pertama kali berinteraksi, langsung mengetahui bahwa dia jodohnya. Adapula yang sudah kenal sebelumnya dan tidak pernah menduga, ternyata berjodoh. Jodoh benar-benar misteri, tinggal kita yang memilih bagaimana proses penjemputan jodoh yang akan kita torehkan dalam cerita jodoh(ku). Apapun ikhtiar yang dilakukan, semoga menuai berkah Allah. Jika di awal jalan menuju pernikahan saja sudah tidak berkah, maka mungkinkah keberkahan berumah tangga akan terwujud? Semoga kita bisa menjaga keberkahan proses dari awal hingga akhir.

Sahabat, memang betul bahwa Allah pembuat scenario terbaik, sutradara terbaik dalam kehidupan ini. Tapi ingat! Kita adalah aktornya, performance aktor lah yang akan dilihat, bisakah sang aktor berperan sesuai dengan yang diharapkan sang sutradara seperti yang tertuang dalam scenario?

Allah memang sudah menetapkan jodoh kita di Lauh Mahfudz sana, jauh sebelum kita lahir ke dunia ini. Apakah kita akan berjodoh dengan orang yang belum dikenal sebelumnya atau bahkan orang yang sudah kita kenal dan dekat di sekitar kita. Tinggal kita yang memilih akan menjemput jodoh yang disertai keberkahan atau tidak.
Lantas apa yang dimaksud dengan berkah Allah dan bagaimana cara agar apa yang dilakukan senantiasa mendapat keberkahan dari Allah?

Berkah, jika dilihat dari bahasa berupa kata ‘al-barakah’, yang artinya berkembang, bertambah dan kebahagiaan. Asal makna keberkahan, begitu Imam Nawawi berkata, ialah kebaikan yang banyak dan abadi.

Ada dua syarat agar barakah Allah senantiasa menaungi kita. Pertama, iman kepada Allah. Jadi, hanya orang mukminlah yang mendapatkan barakah Allah, seperti yang Allah sampaikan langsung melalui surat cintaNYA:

”Andaikata penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (QS. Al-A’raaf [7] : 96)

Orang yang merealisasikan keimanannya kepada Allah, dengan hanya bergantung padaNYA, yakin padaNYA, senantiasa menyertakan Allah dalam setiap apa yang dilakukan, merekalah orang-orang yang akan mendapatkan barakah Allah. Semoga kita termasuk ke dalamnya. Aamiin.

Syarat kedua, amal shalih. Amal shalih adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-NYA, sesuai dengan syariat yang diajarkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam.

Jadi, untuk meraih keberkahan dalam ikhtiar menjemput jodoh, kita harus YAKIN ke Allah bahwa jodoh kita takkan pernah tertukar. Kita pun harus menyertakan Allah dalam setiap mengambil keputusan terkait jodoh ini, selalu istikharah memohon petunjukNYA. Dan yang tak kalah penting, perbanyak amal shalih, semakin dekat ke Allah dan menjauhi apa-apa yang dilarangNYA. Tidak bermaksiat ketika proses menjemput jodoh itu berlangsung. Tidak ada jalan berdua yang akan mendekati zina, tidak ada sms mesra dengan kata-kata penuh cinta, tidak ada chatting untuk hal-hal yang tak penting, sebelum akad ditunaikan.

Setiap orang yang sedang dimabuk cinta —tulis Dr. Khalid Jamal dalam buku Ajari Aku Cinta di halaman ke-25— pasti ia tidak menghendaki kekasihnya merupakan salah satu komponen kemaksiatan yang ia lakukan. Demikian pula ia tidak mau menjadi salah satu komponen kemaksiatan yang dilakukan kekasihnya. Camkanlah arti kata cinta yang amat mulia tersebut.

Bukankah kita sudah yakin dengan janji-NYA yang tertuang seperti ini dalam ayat cintaNYA?

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga).” (QS. An-nuur [24] : 26)

Maka, hal yang paling tepat untuk dilakukan dalam penantian bertemu dengan jodoh hanyalah memperbaiki diri. Yakinlah, ketika diri ini sedang berusaha memperbaiki diri, maka ia-pun yang entah berada di belahan bumi yang mana, yang telah tertulis dalam kitabNYA, juga sedang berusaha memperbaiki diri. Dan semoga Allah mempertemukan kita dengannya dalam kondisi keimanan terbaik yang mampu untuk diusahakan.
Sahabat, jika diibaratkan hari ini kita berada pada waktu pagi setelah sarapan, maka bertemunya kita dengan sang jodoh adalah waktu makan siang kita. Jika sudah tiba waktu makan siang, maka kita pun akan segera sampai pada waktu makan siang kita. Tinggal bagaimana kita memanfaatkan waktu dari pagi hingga siang itu untuk mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat bukan sekadar menunggu jam makan siang yang akan membuat kita menjadi bosan.

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan dalam ikhtiar menjemput jodoh. Selain berikhtiar mencari atau meminta dicarikan pendamping hidup, satu hal yang paling penting adalah mempersiapkan diri menuju gerbang pernikahan. Bukan, bukan persiapan hari H resepsi pernikahan yang cuma satu hari yang aku maksudkan disini. Tapi, hari-hari setelah hari H: sudah siapkah kita menjadi seorang suami/istri, sudah siapkah kita menjadi ayah/ibu, sudah siapkah kita menjadi seorang menantu, sudah siapkah kita menjadi adik/kakak ipar, sudah siapkah kita menjadi bagian dari keluarga besar suami/istri kita, dan sudah siapkah kita menjadi seorang tetangga? Dan pertanyaan utama yang patut dipertanyakan adalah akan dibawa kemana bahtera rumah tangga kita nantinya??

Maka, Sahabat, mari kita tunggu waktu makan siang kita dengan menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat, bukan saja menyiapkan diri menuju gerbang pernikahan, tapi juga menyibukkan diri dengan amanah yang saat ini kita emban. Jangan sampai kita focus menyiapkan diri menuju pernikahan tapi malah menelantarkan apa-apa yang saat ini Allah amanahkan kepada kita. Umat butuh kontribusi konkret dari kita -para pemuda-, maka bekerjalah. Bekerja untuk Indonesia. Bekerja untuk Allah.

Terakhir, ijinkan aku mengutip sebuah kalimat dari Majalah Ummi edisi 02/XVII/Juni 2005:

"... menikah justru akan membuka pintu rizki, bila dilakukan dengan persiapan yang matang, pemikiran yang tepat dan niat yang ikhlas. Mudah-mudahan Allah berkenan memberikan kemudahan kepada kita semua..."

By: LhinBlue, yang sering khilaf dalam berkata-kata, yang masih dangkal dalam setiap ilmu (perempuanlangitbiru.multiply.com/)

Khitanan Massal, Ahad 3 Juli 2011

0
Diposting oleh cahAngon on 05 Juli 2011 , in
DPRa PKS Cipinang Besar Utara




Belakang Kika (Marjuki, Rahman, Rojak, 3 orang Tim Medis, Sugiyanto, Sujana, Daryanto, LEMSOS DPC Rudi Kartono), Tengah Kika (Agus Irawan, Banu, Saiful)Depan Kika (Saipul Rahman, Suparto, Sofiyan,Rofi'i,Akbar, Rifa'i )      

Tim 12


 



Tunggu Antrian






Ka.PanPel & Tim Medis





Tim Alih Salur








40 Peserta Khitanan Massal

KESUNGGUHAN MEMBANGUN PERADABAN

0
Diposting oleh cahAngon on 01 Juli 2011 , in
Semua kesungguhan akan menjumpai hasilnya. Ini bukan kata mutiara, namun itulah kenyataannya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang diusahakan dengan sepenuh kesungguhan. Kadang kita mengalami peristiwa hidup tidak seperti yang kita inginkan, bisa jadi salah satu penyebabnya adalah kurangnya kesungguhan dalam menggapainya. Kita terlalu santai, atau pasrah sebelum bekerja keras mencapai cita-cita.

Cobalah sedikit kita tengok kesungguhan orang-orang Hollywood bekerja menghasilkan karya film. Kesungguhan mereka tampak dalam besaran biaya yang dikeluarkan untuk proses pembuatan film, dan tampak pula dari kualitas produk yang dihasilkan. Kita tercengang melihat kesungguhan insan perfilman Hollywood yang mudah sekali menghamburkan dana ratusan juta dolar Amerika, demi memuaskan ambisi mereka. Padahal, dari keseluruhan usaha dan kesungguhan tersebut, hasilnya hanyalah : sebuah film ! Ya, film berdurasi dua jam. Diputar di bioskop dan layar televisi. Sekali orang menonton, mungkin ada yang mengulang menonton sekali lagi. Setelah itu bosan, tidak akan mengulang menontonnya lagi. Seluruh kesungguhan tim dalam menggarap sebuah film, mengeluarkan dana ratusan juta dolar Amerika, dan hasilnya hanyalah panggung hiburan. Hanya film. Sebuah khayalan, sebuah ketidakseriusan, ketidaksungguhan, karena bernuansa fiksi walau diangkat dari kisah nyata yang pernah ada.

Coba kita perhatikan. Film Avatar menjadi film paling mahal yang ada saat ini. Film yang diproduksi James Cameron ini menghabiskan biaya 500 juta dolar Amerika untuk pembuatannya. Berikutnya adalah film Pirates of the Caribbean: At World’s End buatan Gore Verbinski, menghabiskan biaya 300 juta dolar Amerika. Peringkat ketiga adalah film Spiderman 3 produksi Sam Raimi, menelan biaya produksi 258 juta dolar Amerika.



Peringkat keempat adalah film Pirates of the Caribbean: Dead Man’s Chest buatan Gore Verbinski, memerlukan biaya 225 juta dolar Amerika. Peringkat kelima adalah film X-Men: The Last Stand produksi Brett Ratner yang menghabiskan dana 210 juta dolar Amerika. Setelah itu barulah film Titanic. Film produksi James Cameron tahun 1997 ini menghabiskan biaya 200 juta dolar Amerika, padahal pembuatan kapalnya sendiri “hanya” memerlukan 123 juta dolar Amerika pada masanya.

Pada contoh film Avatar, biaya produksi 500 juta dolar Amerika dianggap kecil, karena sampai dengan awal tahun 2010 kemarin telah menghasilkan uang US $ 1,840,797,418. Fantastik, baik dana pembuatan maupun hasil yang didapatkan dari pemutaran film Avatar di seluruh dunia, selama setahun saja. Dari modal US $ 500 juta, hanya setahun di pasaran, sudah kembali US $ 1,8 M.

Coba kita rupiahkan, dengan kurs US $ 1 sama dengan Rp 8.600. Biaya pembuatan film Avatar adalah Rp 4.300.000.000.000 atau 4,3 trilyun rupiah. Bisakah kita hitung, proyek dakwah apakah yang bisa dibiayai dengan 4,3 trilyun rupiah ? Proyek kebaikan apa saja yang bisa dihadirkan dengan sediaan dana 4,3 trilyun rupiah ? Mimpi apa saja yang bisa terwujudkan oleh dana sejumlah itu ? Cobalah kita buat proposal untuk menghabiskan dana pembuatan film Avatar itu. Ternyata mereka habiskan begitu saja demi membuat hiburan bernama film.

Di Hollywood, dana 4,3 trilyun rupiah ternyata hanya diwujudkan dalam sebuah tayangan berdurasi sekitar 2 jam. Ya, hasilnya hanyalah film, hanya hiburan, hanya khayalan, hanya ketidaksungguhan. Padahal prosesnya sangat bersungguh-sungguh, namun hasilnya berupa hiburan dan tontonan saja. Kita sering mendengar keluhan sulitnya menghadirkan tuntunan, karena tidak ada yang serius membiayai, sedangkan untuk tontonan begitu mudah orang mengeluarkan biaya.

Dengan kurs yang sama (kita samakan kurs-nya sekedar untuk memudahkan penghitungan), kita bisa menghitung produksi film Titanic menghabiskan biaya Rp 1.720.000.000.000, atau 1,72 trilyun rupiah. Dana itu juga dianggap murah, karena sampai awal tahun 2010 telah mengeruk keuntungan sebesar US $ 1,835,300,000 atau sama dengan Rp 15.783.580.000.000, yaitu sekitar Rp 15,8 trilyun.Jika kita ambil sampel enam film itu saja, total biaya produksinya mencapai US $ 1.693.000.000, atau sekitar Rp 14.559.800.000.000. Ya, 14,5 triliun rupiah hasilnya hanyalah enam buah film, enam tontonan, enam hiburan. Uang dalam kisaran Rp 14 triliun, apakah yang bisa dilakukan di Indonesia dengan uang sejumlah itu ? Coba kita tengok salah satu program pemerintah Indonesia, yang dikoordinasikan oleh Kementrian Koordinator Kesra.

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono mengatakan, pemerintah mengalokasikan anggaran Rp 14 triliun untuk Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri pada tahun 2010 kemarin. Menko Kesra menyatakan, peningkatan alokasi anggaran untuk PNPM bisa membantu masyarakat untuk membangun dan mengembangkan potensi diri hingga bisa keluar dari kemiskinan.


Menurut Menko Kesra, PNPM Mandiri merupakan wadah pembelajaran bagi masyarakat terhadap nilai moral dan etika, “Masyarakat dibimbing untuk membangun kemitraan dalam mewujudkan keinginan bersama”. Agung Laksono menyebutkan, jumlah tersebut meningkat jika dibanding tahun 2009 yang sebesar Rp 9,9 triliun. Peningkatan ini karena respons masyarakat terkait program PNPM sangat positif. Dengan program ini masyarakat dibina dan diberdayakan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi yang baik, menguatkan semangat kegotongroyongan sosial dan ekonomi dalam rangka meningkatkan keberdayaan dan kemandirian masyarakat.

Kita bisa melihat anggaran PNPM Mandiri selama satu tahun hanya setara dengan biaya pembuatan enam buah film Hollywood saja. Enam film itu kalau kita lihat berturutan hanya memerlukan waktu satu hari saja. Padahal jika digunakan untuk program pemberdayaan masyarakat, ternyata bisa menjadi program nasional selama satu tahun. Luar biasa etos dan kesungguhan insan perfilman Hollywood, tidak berhitung uang yang dikeluarkan, demi sempurnanya produk sesuai yang diharapkan.

Lalu bagaimanakah dengan kesungguhan kita melakukan proyek kebaikan selama ini ? Bagaimana kesungguhan kita melakukan proses pembangunan manusia Indonesia seutuhnya ? Bagaimana kesungguhan kita dalam melakukan dakwah ? Sudah pasti, kesungguhan tidak bisa diukur dari banyaknya dana yang dikeluarkan. Namun perbandingan tadi saya angkat dalam rangka untuk menunjukkan betapa sebuah hiburan, sebuah tontonan, ternyata dibangun dari kerja keras dan kesungguhan menghadirkan berbagai hal terbaik, sehingga biayanya menjadi mahal.

Sekedar membuat tontonan 2 jam, proses pembuatannya berbulan-bulan, menggunakan berbagai peralatan canggih, menghimpun sangat banyak pakar dan keahlian, melibatkan ratusan hingga ribuan orang dalam pembuatannya. Mereka sangat perfect dalam pengambilan gambar, sehingga harus melakukan latihan serius dan harus mengulang-ulang adegan demi mendapat hasil yang sempurna. Tidak jarang harus membuang banyak bagian karena hasilnya tidak memuaskan. Dalam proses animasi, mereka menggunakan teknologi super canggih untuk mendapatkan hasil maksimal. Bayangkan bagaimana harus menggambarkan proses tenggelamnya kapal Titanic agar tampak seperti nyata.

Sementara untuk melakukan kebaikan, kadang belum tampak usaha yang serius dan belum tampak kesungguhan yang optimal dalam merancang maupun menjalankan programnya. Padahal yang akan dihasilkan bukanlah tontonan, bukanlah hiburan, namun sebuah peradaban yang nyata. Kita masih banyak permakluman dan permaafan kepada kegiatan yang ala kadarnya, yang kurang terencana, yang kurang bagus manajemennya. Semua kita maklumi sendiri, dengan alasan masih belajar, sedang berproses, harus bersabar, dan lain sebagainya.Padahal kita tidak sedang mengada-ada tentang gambaran kapal Titanic, yang kita lakukan justru membangun sebuah kapal peradaban sesungguhnya. Kapal yang tidak boleh pecah dan karam. Kapal yang akan membawa kehidupan menuju kepada kebaikan dan cahaya. Kapal yang akan menjauhkan penumpangnya dari kerusakan, dan membawa mereka semua dalam bimbingan Ketuhanan. Kapal yang akan menghantarkan kepada pulau harapan. Seharusnya dilakukan dengan segenap kesungguhan jiwa, dilakukan dengan segenap pikiran dan perasaan. Bukan ala kadarnya, bukan semaunya, bukan sesempatnya.

Sudahkan kita bersungguh-sungguh melakukan kebaikan ? Sudahkah kita menghadirkan segenap kesungguhan dalam kerja di medan perjuangan ? Ingatlah, hasil akhir yang kita dapatkan bukanlah sebuah hiburan, bukanlah sebuah tontonan, namun sebuah peradaban. Sebuah kehidupan. Sebuah harapan.

Mari bekerja sepenuh kesungguhan. 


http://cahyadi-takariawan.web.id

Lingkaran Keberkahan...

0
Diposting oleh cahAngon on 28 Juni 2011 , in
Walaupun kasta simbah belum bisa disebut borju, tapi simbah diijinkan bertemu dan berkenalan dengan mereka yang sudah pantas disebut “juragan” dalam arti yang sesungguhnya. Mereka disebut juragan bukan lantaran diharapkan ‘ijo-ijo’ atau ‘cendolnya’, namun memang apa yang menempel pada diri mereka menyebabkan siapapun akan setuju menyebutnya sebagai juragan.

Kalangan juragan ini tentu saja memiliki perilaku. Dan dimana-mana yang namanya perilaku selalu terbagi menjadi dua kutub. Yakni perilaku yang baik yang tidak nabyak-nabyak aturan, dan perilaku busuk yang pasti menebar efek racun bagi banyak orang.

Sebut saja Kang Pawiro Kampret, juragan Pasar Paingan yang juga merajai distribusi Mie Ayam ini adalah aktifis penenggak ciu nomer wahid yang tiada tanding dan tiada banding, karena memang belum pernah bertanding. Bau mulutnya tak lepas dari bau khas ciu. Bahkan kencingnya pun tak beda jauh dengan vodka oplosan yang dicampur lengo jlantah. Di saat dia merekrut anak buah buat menyalurkan produk Mie Ayamnya yang sudah kawentar itu, tidak mungkin dia mengambil pegawai yang rajin ngaji dan sholat ke mesjid. Mengapa? Dia tak ingin kebiasaan maboknya diganggu gugat oleh anak buahnya yang berbeda perilakunya. Lebih nyaman dia ambil pegawai yang juga pemabok yang bisa diajak bersama-sama masup dalam grup Pangunci (Paguyuban Ngunjuk Ciu). Kalo perlu bisa diajak melengkapi Molimo agar Lima Sempurna. Ditambah lagi semua pegawenya juga tahu, bahwa ayam dalam mie nya Kang Pawiro Kampret tidak 100% ayam. Demi menekan biaya produksi, daging tikus wirokpun turut meramaikan gundukan daging mie tersebut. Dan demi menarik lidahnya konsumen tionghoa, dia masukkan minyak babi yang membuat tampil beda. Bahkan untuk operasional malam, grobag mienya menyediakan tambahan menu, “Ciu sak botole”. Pegawe yang rajin sholat dan ngaji gak bakalan betah kerja disitu. Dan konsumen yang terjaringpun juga segmen tertentu. Mbah Kaji Ngalim yang guru nahwu sorop itu gak bakalan mau pesen mie di grobagnya.

Berbeda dengan Lik Karto Ngabidin yang juragan warteg. Dia adalah seorang religius sejati. Puluhan wartegnya yang tersebar di ibukota, tak membuat dia sekedar menjadi pengumpul harta. Beberapa Panti Asuhan dia dirikan, dan sebagian anak yatim didikannya menjadi karyawan wartegnya. Lik Karto Ngabidin hanya mau menerima daging yang bener sembelihannya untuk wartegnya. Titipan yang dia terima hanyalah yang halal saja. Gorengan semacem saren, kikil babi, sate jamu dan wadyabalanya dia tolak. Dijamin barang semodel itu tak akan ditemui di wartegnya. Otomatis konsumen yang mau mampir ke wartegnya juga segmen yang mau mencari makanan halal.

Itulah hakikinya permainan hidup di dunia. Masing-masing membentuk lingkaran rantainya sendiri. Lingkaran Rantai rejeki yang terbentuk di lingkungan Kang Pawiro Kampret adalah rantai rejeki haram, sesuai perilaku juragannya. Pegawai yang bekerja serta materi jualannyapun nabyak-nabyak aturan syariat. Yang bertahan mengais rejeki disanapun pastilah mereka yang tak pernah mempermasalahkan halal-haram. Yang mau berhubungan dengan segala uborampe bisnisnya Kang pawiro Kampret pastilah juga mereka yang nyaman dengan keharaman.

Berbeda dengan lingkaran rantai rejeki yang mengelilingi Lik Karto Ngabidin. Juragan religius ini hanya akan dikitari oleh pebisnis yang konsen dengan halal-haram. Pegawe yang betah kerja disitupun hanya pegawe yang perhatian dengan rambu syariat. Dan sudah pasti konsumen yang memburu produk Lik Karto adalah konsumen yang peduli dengan kehalalan produk. Dijamin rejeki yang berputar di sini adalah rejeki halal dan berkah.

Oke, sekarang kita berhenti membahas Kang Pawiro Kampret dan Lik Karto Ngabidin. Bagaimana dengan diri sampeyan semua dan juga simbah? Jika sampeyan punya atasan yang sering menugasi buat nyogok, atau menyuruh membuat dokumen perjalanan palsu, atau membuat kwitansi palsu, atau membuat laporan dobel beda isi, masihkah anda yakin anda berada di lingkaran rantai rejeki yang pantas diberkahi..??? Atau anda berada di satu seksi yang berisi anggota-anggota yang sepakat ngglembuk berjamaah, atau mbolos jamaah, atau narik biaya siluman berjamaah, atau mbejat jamaah, masihkah anda yakin anda berada di pihak Lik Karto Ngaidin yang peduli halal..???

Sampeyan mungkin akan beralasan, “Mbah sekarang nyari kerja susah. Ya sudahlah, adanya ini. Kalo gak begini saya dipecat, jadi pengangguran, anak isteri saya makan apa? Mosok dikasih makan kerikil?” (Pertanyaan serupa ini pernah dijawab ringkes oleh guru simbah: “Ha nek doyan beneran..”)

Padahal alasan itu tak pantas keluar jika sampeyan benar-benar ingin mencari lingkaran rantai rejeki yang berkah dan halal. Karena jika sampeyan adalah pribadi yang peduli terhadap kehalalan dan keberkahan rejeki, ketahuilah oleh sampeyan bahwa di luar sana terdapat puluhan, ratusan bahkan ribuan juragan yang pasti akan menemukan sampeyan jika sampeyan sekarakter dengan mereka. Namun jika masih pesimis bahwa hanya yang haram, atau yang burem, atau yang abu-abu saja yang mungkin bisa sampeyan raih untuk rejeki sampeyan dan keluarga sampeyan, maka selamanya sampeyan akan berada di bawah juragan bejat dan membejatkan yang tak paham arti kehalalan dan keberkahan rejeki.

Baguskan akhlak sampeyan, maka akan datang pada sampeyan sumber-sumber rejeki yang sepadan dengan kebagusan akhlak sampeyan. Derajat sampeyan akan dinaikkan oleh tangan-tangan berakhlak yang tahu menghargai akhlak. Namun jika sampeyan narimo dengan kemunafikan dan kepura-puraan yang terjadi di sekitar sampeyan, akan datang rejeki yang hanya akan menambah penyesalan sampeyan di akherat. Tak mengenyangkan, tidak berkah dan sebenarnya tak pantas buat menumbuhkan daging jika nantinya daging tersebut hanya menjadi santapan api jahanam. Tidak hanya daging sampeyan, tapi juga keluarga sampeyan.



pitutur.net

Isti’dzan (Etika meminta izin )

0
Diposting oleh cahAngon on 02 Juni 2011 , in
Kehadiran yang kontinyu (Istimror) dalam halaqoh adalah syarat utama pembentukan Pribadi Muslim yang Ideal. Tanpa kehadiran, sebuah halaqoh akan kehilangan jati dirinya sebagai sebuah Halaqoh, karena Secara bahasa Halaqoh artinya adalah Pertemuan, tiada pertemuan tanpa kehadiran.Oleh karenanya dapatlah disimpulkan bahwa jika kita rutin menghadiri halaqoh maka kita akan mendapatkan asupan - asupan yang fositip yang akan membentuk pribadi kita secara Ruhi (Rohani), Tsaqofi (wawasan Keislaman), Fikri (Pemikiran),da,awi ( dakwah) dll.
Lalu apakah kita tidak boleh absen (tak hadir) dalam kegiatan halaqoh.? Jawabannya , tentu saja boleh….! Asalkan ketidak hadiran kita dalam kegiatan halaqoh memiliki alasan yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan (Syar’i), tidak mengada-ada ( alasan yang dibuat – buat untuk menutupi kemalasan atau kefuturan )

Mari kita cermati Ayat – ayat berikut mudah - mudahan dapat memotivasi kita untuk lebih memprioritaskan kehadiran kita dalam halaqoh.
وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَا أَرَى الْهُدْهُدَ أَمْ كَانَ مِنَ الْغَائِبِينَ
Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: "Mengapa aku tidak melihat hud-hud , apakah dia termasuk yang tidak hadir.(Al-Quran 27 : 20 )
لَأُعَذِّبَنَّهُ عَذَاباً شَدِيداً أَوْ لَأَذْبَحَنَّهُ أَوْ لَيَأْتِيَنِّي بِسُلْطَانٍ مُّبِينٍ
Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya (IQOB) dengan azab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang". ( Al-Qur’an 27: 21)
فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيدٍ فَقَالَ أَحَطتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِن سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ
Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini.( 27:22 )

Tiga ayat diatas (An-naml : 20-22) dan ayat- ayat selanjutnya menceritakan kepada kita tentang dakwah nabi sulaiman yang membina bukan hanya kepada golongan manusia, tetapi beliau juga membina golongan jin, dan hewan, termasuk jenis burung (hud-hud), tatkala saatnya bertemu (halaqoh) Hud-Hud terlambat hadir (27:20) tanpa kabar ( belum ada Hp), maka nabi sulaiman sudah menyiapkan iqob (27:21) , Namun luar biasa ternyata keterlambatan hud-hud karena urusan dakwah (27:22 - dst).

Begitu pula pertemuan (halaqoh) dizaman Rasululloh Muhammad SAW, begitu sakralnya sampai ada kalimat penegasan bahwa orang yang meminta izin itulah orang yang Beriman kepada Alloh dan Rasulnya (Memiliki loyalitas yang tinggi), dua kali Alloh menyebut kalimat Amanu billahi warosulihi diawal ayat (Q.S.24 : 62) dan ditengah ayatnya Uwlaikalladzina yu’minuuna billahi warosulihi.cermati ayat dibawah ini.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَى أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّى يَسْتَأْذِنُوهُ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ فَإِذَا اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَن لِّمَن شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mu'min ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan( Liqo Tarbawiyah), mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S.24 :62)

Meskipun sudah diberi hak untuk memberi izin (fa’dzan liman si’ta minhum) rasul diperintah oleh Alloh agar memintakan ampun untuk mereka yang minta izin (wastagfirlahumulloh) sebagai pesan agar kita tidak menyederhanakan , menyepelekan urusan ummat (‘ala amrin Jaami’).

Wallohu ‘alam

http://islamedia.co.nr/

Nama, Jargon dan Cita-cita

0
Diposting oleh cahAngon on 19 Mei 2011 , in
Oleh Cahyadi Takariawan
Siapa nama anda, dan apa cita-cita anda? Apakah anda memiliki jargon atau kredo atau moto –atau apapun namanya—kata-kata untuk menyemangati dan mengarahkan kehidupan anda? Coba perhatikan nama saya. Cahyadi Takariawan, ini nama asli pemberian orang tua. Adakah makna atau maksud pemberian nama ini? Pasti orang tua saya memiliki maksud yang baik atas nama yang diberikan kepada saya tersebut.

Saya lahir di Jawa Tengah, di lingkungan kultur Kraton Solo. Cahyadi itu dalam bahasa Jawa, berasal dari kata “cahyo” dan “adi”. Cahyo artinya cahaya, adi artinya indah, bagus atau baik. Jadi, harapannya saya akan tumbuh menjadi manusia yang memberikan cahaya kebaikan atau cahaya keindahan bagi kehidupan. Takariawan, dari kata “takari” dan “wan”. Kata “wan” ini menunjukkan kalau saya anak laki-laki, biasanya kalau perempuan sebutannya “wati”. Takari, anda pasti heran, darimana kata ini berasal ? Dari Jepang ? Bukan. Takari itu asli Indonesia, dan sangat nasionalis.

Dahulu kala (waw… kayak orang mendongeng…..), Presiden Republik Indonesia, Soekarno, menghendaki Indonesia segera menjadi negara yang mandiri, negara yang tidak bergantung kepada bantuan negara lain. Bung Karno menghendaki Indonesia menjadi negara yang mampu “berdiri di atas kaki sendiri”, atau biasa disingkat dengan “berdikari”. Maka dengan sangat gagah, Bung Karno mencanangkan tahun 1965 sebagai “Tahun Berdikari”, dan beliau singkat dengan “Takari”. Dengan harapan semoga pada tahun 1965 itu Indonesia bisa menjadi negara yang mampu mandiri, berdiri di atas kaki sendiri, tidak bergantung pihak manapun.

Jadi kalau anda menemukan orang Indonesia yang namanya “Takari”, bisa dipastikan itu kelahiran tahun 1965. Saya punya teman namanya Takarianto, ada lagi Takariadi, ada pula Takarianti dan Takariwati. Orang tua mereka pasti pengagum Bung karno, sehingga memberikan nama anaknya dengan nama yang diberikan oleh Bung Karno untuk tahun 1965 itu. Seperti almarhum bapak saya, sangat mengagumi Bung Karno. Dua buku tebal berjudul “Di Bawah Bendera Revolusi” tulisan Bung Karno menghiasi perpustakaan pribadi bapak saya. Poster besar Bung Karno menghiasi ruangan keluarga di rumah bapak saya.

Dengan demikian, nama Cahyadi Takariawan mengandung sejumlah harapan dan cita-cita. Ada harapan agar saya menjadi manusia yang memberikan cahaya kebaikan bagi kehidupan. Ada cita-cita agar saya menjadi anak laki-laki yang mampu mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri, tidak tergantung kepada orang lain. Apakah salah orang tua saya memiliki harapan seperti itu ? Tentu tidak salah dan sah saja cita-cita seperti itu. Namun, seandainya cita-cita orang tua saya tersebut tidak menjadi kenyataan, apakah anda merasa perlu mengejek, menghina dan menghujat orang tua saya ?

“Katanya diharapkan bisa memberi cahaya kebaikan bagi kehidupan. Ternyata justru memberi masalah bagi kehidupan. Lalu mengapa diberi nama Cahyadi. Harusnya diberi nama Trouble Maker saja, sesuai kenyataan yang ada”.

Semoga anda tidak menyalahkan bapak saya, karena beliau sudah wafat. Biarkan beliau tenang di alam barzakh, tanpa menanggung gugatan dari siapapun yang masih hidup. Nama itu bagi saya adalah upaya mengingatkan diri, perjuangan terus menerus sampai mati, agar saya menjadi orang yang selalu memberi cahaya kebaikan dan cahaya keindahan bagi siapapun. Nama itu bagi saya adalah upaya menyemangati diri, agar tidak bosan, tidak lelah, tidak putus asa dalam melakukan kebaikan.

Namun apabila harapan tersebut belum menjadi kenyataan, yang saya perlukan adalah menambah usaha dan kesungguhan agar benar-benar bisa memenuhi harapan orang tua. Ingatkan saja saya, bahwa kondisi saya belum sesuai cita-cita yang terkandung dalam nama. Anda tidak perlu mengejek dan menghina nama saya. Tidak perlu mengejek cita-cita saya. Doakan saya agar mampu memenuhi harapan dan cita-cita yang diinginkan orang tua. Jadi, yang saya lakukan bukan mengganti nama dengan kenyataan yang sedang terjadi. Bukan mengubah cita-cita mulia yang telah dicanangkan. Namun lebih keras berusaha dan bekerja, agar bisa menggapai cita-cita.

Di antara teman saya ada yang bernama Sugiharto. Dalam bahasa Jawa, nama itu mengandung harapan agar dia “sugih” atau kaya dengan “arto” atau uang dan harta. Artinya, diharapkan kelak ia akan menjadi seseorang yang mendapatkan sukses di dunia, dengan memiliki kekayaan harta. Namun jika kondisi sekarang ternyata ia belum kaya, jangan menyalahkan orang tuanya. Jangan pula mengganti namanya dengan realitas yang ada sekarang, misalnya diganti dengan Rasido Sugiharto, yang artinya tidak jadi banyak uang. Yang dia perlukan adalah menambah usaha dan doa agar harapan memiliki banyak harta bisa tercapai.

Ada pula teman saya bernama Kuncoro, yang artinya kondang atau terkenal. Tentu diharapkan dia akan menjadi seorang yang terkenal. Namun jika ternyata sampai dia tua tidak kunjung terkenal juga, jangan menyalahkan orang tuanya. Jangan pula mengganti namanya dengan realitas yang sekarang ada, misalnya diganti dengan Rapatiyo Kuncoro, yang artinya tidak terlalu terkenal. Yang diperlukan adalah usaha dan doa yang lebih serius agar harapan menjadi orang terkenal menjadi kenyataan. Tentu terkenal dalam kebaikan, bukan terkenal karena kejahatan.

Demikian pula nama suatu wilayah, banyak yang mengandung harapan serta cita-cita mulia. Seperti nama desa Sido Makmur, yang artinya menjadi makmur. Nama itu penuh optimisme agar daerah terpencil tersebut kelak bisa menjadi makmur dan maju sebagaimana daerah lainnya. Jika ternyata sampai sekarang belum makmur, jangan diganti namanya dengan Rasido Makmur, jangan pula diganti dengan Sido Ancur. Biarlah nama itu menjadi pemacu, pengingat dan penyemangat bagi semua warga untuk bekerja lebih serius sehingga bisa mencapai harapan kemakmuran. Bahkan nama daerah yang bermakna negatif, sudah seharusnya diganti dengan yang bermakna positif. Seperti desa Suka Miskin, harus diganti dengan Suka Makmur.

Nama perusahaan juga banyak mengandung harapan. Seperti PT Bangun Jaya Mandiri, tentu memiliki harapan agar perusahaan tersebut mampu bangun, jaya dan mandiri. Atau mampu membangun kejayaan dan kemandirian. Tentu harapan ini tidak selalu menjadi kenyataan. Seandainya kenyataan yang ada perusahaan tersebut mengalami kebangkrutan, biarkan namanya tetap menjadi doa mulia, jangan diubah dengan realitas yang ada. Misalnya diganti dengan PT Bangkrut Hancur Abadi, karena tengah mengalami kebangkrutan. Jangan anda ejek cita-cita dan harapannya, jangan pula anda ejek namanya.

Nama lembaga, organisasi, atau yayasan juga memiliki harapan yang mulia. Misalnya Yayasan Harapan Umat, memiliki cita-cita agar yayasan tersebut mampu menjadi harapan umat, yang bisa membantu menyelesaikan persoalan umat. Ada pula Yayasan Bangun Projo, memiliki harapan bisa berkontribusi untuk membangun bangsa dan negara. Ada Lembaga Pendidikan Lukman al Hakim, dengan harapan agar lembaga pendidikan ini mampu meneladani tokoh yang diabadikan namanya dalam kitab suci, bernama Lukman al Hakim. Ya, nama-nama itu semua memiliki sejumlah harapan dan cita-cita mulia.

Nama partai politik juga mengandung harapan dan doa. Jika ada parpol bernama Partai Anti Korupsi (PAKOR), tentu mengandung harapan dan cita-cita agar parpol tersebut mampu menciptakan kondisi pemerintahan, bangsa dan negara yang bebas dari tindak korupsi. Namun jika di antara anggota parpol tersebut ternyata ditemukan ada yang melakukan tindak pidana korupsi, yang harus dilakukan adalah memecat dan mengeluarkan anggota tersebut dari PAKOR. Jangan mengganti cita-cita mulia tersebut, jangan pula mengganti nama yang mengandung harapan mulia tersebut; misalnya diganti dengan Partai Paling Hobi Korupsi. Yang harus dilakukan oleh PAKOR adalah berjuang lebih serius dalam memberantas korupsi, termasuk di dalam tubuhnya sendiri.

Demikian pula jika ada parpol bernama Partai Bersih dan Peduli (PBDP), tentu mengandung harapan agar selalu menjaga kebersihan dalam melaksanakan semua kegiatan, dan selalu menunjukkan kepedulian terhadap problematika kehidupan masyarakat. Jika ternyata ada anggota PBDP yang terlibat kekotoran dan tidak menunjukkan kepedulian, yang harus dilakukan bukannya mengganti nama dan cita-cita. Misalnya diganti dengan Partai Jorok dan Cuek (PJDC) dengan harapan agar semua pengurus dan anggota menjadi orang yang jorok dan tidak punya kepedulian sosial. Namun yang harus dilakukan PBDB adalah usaha semakin serius untuk mewujudkan harapan tentang kebersihan dan kepedulian.

Jika ada parpol bernama Partai Semangat Dakwah (PSD), tentu diharapkan akan menjadi kekuatan yang bisa bekerja untuk menyebarkan nilai-nilai kebajikan dalam segala bidang kehidupan. Nama itu menyemangati semua pengurus dan anggota agar selalu melakukan dakwah dan berusaha menyebar kebajikan dimanapun mereka berada. Namun apabila ada anggota PSD yang terlibat dalam tindakan kejahatan, yang harus dilakukan adalah memberikan hukuman kepada anggota yang bersalah tersebut, dan meningkatkan usaha untuk selalu menyebarkan kebajikan dalam segala bidang kehidupan. Bukan mengganti cita-cita dan nama parpolnya menjadi Partai Paling Jahat (PPJ) dengan harapan dan doa agar semua pengurus dan anggota PPJ menjadi manusia yang paling jahat di muka bumi.

Jadi, nama orang, nama daerah, nama perusahaan, nama lembaga dan nama partai politik, seharusnyalah mengandung harapan dan cita-cita akan kebaikan. Memiliki makna yang positif, mengarahkan kepada perilaku mulia, dan menyemangati untuk berjuang menggapai cita-cita utama yang telah ditetapkan. Tidak layak memiliki nama yang jelek, karena tidak layak pula bagi kita memiliki cita-cita yang tercela. Semua nama dan jargon yang dimiliki manusia maupun lembaga, mengandung sejumlah doa dan cita-cita. Jangan sampai diri dan lembaga anda memiliki doa dan cita-cita yang mengarah kepada kejahatan.

Maka jangan namakan anak anda dengan nama-nama yang mengandung makna tercela, misalnya Zhalimin atau Zhulumat. Sepertinya bahasa Arab bahkan disebut dalam Al Quran, namun maknanya jelek, yaitu orang yang zalim (Zhalimin) dan kegelapan (Zhulumat). Jangan namakan anak anda dengan Suko Minto, karena artinya suka meminta. Tentu bisa bermakna negatif, kalau maksudnya adalah suka meminta-minta belas kasihan orang, alias pengemis. Tidak boleh memiliki cita-cita yang hina. Lebih bagus diberi nama Darmawan, karena mengandung harapan mulia, suka memberi dan membantu orang lain.

Jangan namakan perusahaan anda dengan CV Hancur Binasa Selamanya, karena mengandung doa yang tercela. Jangan menamakan yayasan anda dengan Yayasan Sosial Gemar Menderita, karena membawa kepada suasana yang tidak mengarahkan kepada kebaikan. Jangan namakan lembaga anda dengan Lembaga Pendidikan Berani Bodoh Asal Lulus, karena tidak membawa kepada semangat belajar. Berikan nama-nama yang mengandung cita-cita mulia, memberikan semangat melakukan perbaikan, mengarahkan kepada perbuatan utama, mendorong melakukan tindakan terpuji.

Jangan membuat parpol dengan nama Partai Menang dengan Segala Cara (PMSC), karena akan membawa nuansa menghalalkan segala cara demi mendapat kemenangan. Namun berikan nama parpol yang mengandung cita-cita dan harapan untuk perbaikan bangsa dan negara Indonesia. Jangan abaikan arti dari setiap nama, karena semua nama mengandung doa dan cita-cita. Semua nama mengandung makna yang mempengaruhi suasana jiwa pemiliknya. Maka, milikilah nama yang membawa suasana mulia, bukan suasana yang tercela.

Nah, anda tidak boleh malu kalau memiliki nama yang mengandung makna mulia. Justru harus malu kalau makna nama anda itu tercela. Anda tidak boleh malu kalau nama organisasi anda memiliki harapan kebaikan, justru anda harus malu kalau nama organisasi anda memiliki makna yang mengarah kepada keburukan. Semua nama mengandung harapan, maka berharaplah selalu dengan kabaikan dan keutamaan. Biarkan nama-nama itu menjadi penyemangat, pengingat dan nasihat agar selalu berada dalam upaya optimal menggapai cita-cita mulia.

Sebagai penguat, seringkali kita memiliki jargon, kredo atau moto. Misalnya, di website saya ini ada kredo “terus bekerja, terus berkarya, hingga akhir usia”. Kredo ini bermaksud untuk menyemangati diri saya sendiri untuk selalu bekerja, selalu berkarya, memproduksi kebaikan, berkontribusi tanpa henti, di sepanjang usia yang saya miliki. Saya tidak mau menjadi orang yang berhenti dan menepi. Saya tidak mau menjadi pengangguran dan kontraproduksi. Saya tidak mau menjadi orang yang meratapi diri dan menyesali hari.

Di websitenya tetangga, ada kredo “imposible is nothing”. Tentu kredo ini bermaksud menyemangati untuk bekerja keras tanpa henti demi meraih mimpi. Kredo ini mengandung keyakinan, semua bisa dicapai asalkan ada kesungguhan dan kegigihan, asalkan ada kemauan untuk terus mendapatkan kemenangan. Mereka tidak ingin menjadi komunitas yang bersantai-santai, yang berharap kemenangan turun dari langit begitu saja tanpa usaha. Mereka ingin menjadi komunitas yang percaya diri, yang selalu mengembangkan potensi, yang tidak pernah berhenti berinovasi, agar semua kekuatan bisa efektif tersalurkan untuk meraih tujuan. Tak ada hal yang tak mungkin, selama mau mengusahakannya dengan sungguh-sungguh.

Jika ternyata kondisi yang ada belum sesuai dengan jargon atau kredo yang diungkapkan, bukan alasan untuk menyesali kredo sendiri. Jargon dan kredo ini adalah cara menyemangati diri dan organisasi, untuk selalu melakukan kebaikan dan mengarahkan mencapai tujuan. Jargon dan kredo juga bermakna doa serta janji, untuk melakukan perbuatan yang mengarah kepada tercapainya jargon tersebut. Dengan demikian, ini adalah nasihat untuk diri sendiri dan organisasi. Jargon dan kredo adalah sarana untuk memotivasi agar tidak lemah, agar tidak lelah, agar tidak mudah frustrasi. Jargon dan kredo adalah sarana untuk selalu menang menghadapi berbagai situasi dan kondisi.

Lengkap sudah, selain nama, kita juga punya janji yang terungkap lewat jargon atau kredo yang kita canangkan. Nama kita adalah doa dan cita-cita, dikuatkan dengan jargon atau kredo yang selalu menyemangati. Semoga langkah kecil kaki kita semakin berarti, semoga semua usaha yang kita lakukan selalu mengarah kepada tercapainya harapan dan cita-cita diri dan organisasi. Semoga langkah kita semua mendapat ridha
Ilahi.

Metro Lampung, 16 Mei 2011


*)sumber: http://cahyadi-takariawan.web.id/?p=977#more-977

Pemuda Selalu Mempesona

0
Diposting oleh cahAngon on 13 Mei 2011 , in

1. Mari Jumat ini mendaras kembali Surat Al Kahfi; mengambil ruh #AshabulKahfi, untuk kemudaan jiwa menghadapi zaman yang cepat berganti.

2. Para pemuda selalu mempesona. Lihatlah mereka: bahkan tidurnya pun membawakan perubahan, apalagi jika mereka terjaga. #AshabulKahfi

3. Muda identik dengan ‘hijau’. Masih hijau artinya terus tumbuh, berkembang, menghasilkan. Sementara yang matang, membusuk. #AshabulKahfi

4. Muda identik dengan ‘tak berpengalaman’. Tapi pengalaman artinya suka hadapi masalah baru dengan cara lama. Itu berbahaya. #AshabulKahfi 5. Muda identik dengan kebersamaan dalam prihatin. Kita kadang lebih sulit bersatu jika merasa telah banyak berpunya, berdaya. #AshabulKahfi

6. Muda identik dengan kejelasan sikap. Hitam-/-putih. Ya-/-tidak. Tak ada jalan ketiga. Ini hal tepat dalam soal ‘Aqidah. #AshabulKahfi

7. Muda identik dengan gejolak. Titik temu dari ragam gejolak jadi terobosan. Di situ masa depan, bukan pendalaman bidang tua. #AshabulKahfi

8. Muda identik dengan pesona & ketangguhan fisik. Bagaimanapun 2 hal ini membantu ide perubahan untuk tampil segar & cantik. #AshabulKahfi

9. Muda identik dengan ketergesaan, inginnya wujud sekilat. Maka sabarkan, ‘tidurkan gelora’ senyampang perangkat disiapkan. #AshabulKahfi

10. Muda identik dengan masa ketergodaan & gelimang nikmat. Maka mereka yang memilih jalan sunyi dalam juang, pasti istimewa. #AshabulKahfi

*)dikutip dari: http://twitter.com/salimafillah

PKS Menangkan Pilkada SALATIGA

0
Diposting oleh cahAngon on 09 Mei 2011 , in

Salatiga, CyberNews. Pasangan Yuliyanto-Haris (Yaris) diklaim telah memenangkan Pilkada Salatiga, Minggu (8/5). Berdasarkan penghitungan final tim sukses pasangan calon yang diusung PKS, PIS, PPP, dan PD ini, Yaris unggul dengan selisih 6 % suara dengan pesaing terdekat.

"Lebih dari 90 % suara dari 376 TPS sudah masuk perhitungan. Yaris berhasil mendapatkan lebih dari 33 ribu suara atau sekitar 43,66 %. Sementara pasangan Diah-Tedy memperoleh 37,83 %," tandas Ketua Bidang Pileg dan Pemilukada DPW PKS Jateng Hadi Santoso, di Salatiga, Minggu (8/5). Adapun pasangan Basis dan Poros masing-masing menempati posisi ketiga dan keempat dengan perolehan suara berturut-turut 5,5 % dan 13,01 %.




Dalam Pilkada Salatiga ini, kader inti (KI) PKS Muhammad Haris diajukan sebagai calon wakil wali kota. Sementara pasangan Diah-Tedy diusung PDIP, PAN, Golkar,PDS, dan PNI Marhen. Diah Sunarsasih merupakan wakil wali kota saat ini, sedangkan Tedy Sulistiyono adalah ketua DPC PDIP Kota Salatiga.

Selayang singkat duet YARIS

Yuliyanto, SE, MM saat ini menjadi anggota Komisi III DPRD Kota Salatiga dari PIS (Partai Indonesia Sejahtera) sedang Muhammad Haris, SS, MSi saat ini menjabat Wakil Ketua Komisi B DPRD Jateng dari PKS. Koalisi partai yang mendukung Yaris memiliki enam kursi di DPRD, empat dari PKS dan dua dari PIS. Pasangan yang bersemboyan "Nasionalis Merakyat" ini pada akhirnya didukung pula oleh PPP dan PD. **(sumber: suaramerdeka.com)

NB by admin:
Muhammad Haris awalnya berkiprah dakwah di Yogyakarta, beliau bersama ustadz Cholid Mahmud dan ustadz Cahyadi Takariawan termasuk trio muassis dakwah Yogyakarta. Ustadz Muhammad Haris akhirnya "diperbantukan" untuk memperkuat dakwah di Jawa Tengah yang lebih luas wilayahnya.

...



Sementara itu, berdasarkan Hasil real quick count pilwakot salatiga 2011 yang dilakukan oleh MSCI (Media Survei Center Indonesia):

1. Bambang Supriyanto - Adriana Susi Yudhawati (Basis) = 5.565 suara (5,66 %)

2. Diah Sunarsasi - Teddy Sulistio (Dihati) = 37.192 suara (37.85 %)

3. Yuliyanto - Muhammad Haris (Yaris) = 42.419 suara (43.17 %)

4. Bambang Soetopo - Rosa Darwanti (Poros) = 13.095 suara (13.33 %)

data masuk 99.73 % (98.271 suara)

REAL QUICK COUNT INI DILAKSANAKAN DI TEMPAT SALAH SATU KANDIDAT CALON WALIKOTA/WAKIL WALIKOTA DAN HASILNYA BENAR BENAR REAL DI SEMUA TPS DENGAN METODE SMS DENGAN FORMAT KHUSUS DAN MASUK KE SERVER SMS GATEWAY. support by (MSCI Media Survei Center Indonesia)