• img

    KAMUFLASE...

    Akan aku ajak engkau menemui bunglon .. agar engkau menyaksikan sendiri tipu dayanya! Bunglon merubah warna dirinya sesuai dengan tempat ia berada .. agar engkau mengetahui bahwa yang seperti bunglon itu banyak .. dan berulang-ulang! Dan bahwasanya ada orang-orang munafik .. banyak pula manusia yang berganti-ganti pakaian .. dan berlindung dibalik alasan “ingin berbuat baik”...
  • img

    Jujur...

    Jika engkau hendak mengungkap kejujuran orang, ajaklah ia pergi bersama .. dalam bepergian itu jati diri manusia terungkap .. penampilan lahiriahnya akan luntur dan jatidirinya akan tersingkap! Dan “bepergian itu disebut safar karena berfungsi mengungkap yang tertutup, mengungkap akhlaq dan tabiat”...
  • img

    Pemimpin

    Seringkali terbukti bahwa tugas utama seorang pemimpin hanyalah bagaimana memilih orang yang tepat. Begitu berhasil memilih orang yang tepat seringkali tugas seorang pemimpin sudah selesai. Setidaknya sudah 80 persen selesai. Tapi begitu seorang pemimpin salah memilih orang, sang pemimpin tidak terbantu sama sekali, bahkan justru terbebani...
  • img

    Karena Ukuran Kita Tak Sama

    seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi...
  • img

    Kemenangan..

    Kemenangan sejati yang paling mendasar dan substansial adalah jika kebenaran tetap bersemayam di hati kita. Tidak terkontaminasi oleh racun-racun kehidupan, tidak tergoda oleh iming-iming apapun bentuknya, yang membuat hati kita diisi oleh nilai-nilai lain selain nilai kebenaran yang bersumber dari Allah SWT, ...

Assalamu' alaikum... monggo dicicipi PHOTO DAUROH DPRa CBU nya.. ^___^

Diposting oleh maz pato on 26 Desember 2011 , in ,


































































































Gimana PHOTO PHOTONYA GAN ... ^____^

Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu: Hadits Palsu?

Diposting oleh cahAngon on 23 Desember 2011 , in ,
Oleh: Ustadz Ahmad Sarwat, Lc*

Ah, masak sih? Bukankah hadits itu sudah terkenal dimana-mana, bahkan disebut-sebut oleh semua penceramah dari pengajian di istana sampai kakilima? Kalau memang hadits palsu, kenapa tidak pernah ada yang bilang? Lagian kenapa bilangnya baru sekarang?

Mungkin sederet protes seperti itu yang akan mengalir keluar dari mulut kita kalau membaca judul di atas. Ya, benar. Hadits bahwa surga di bawah telapak kaki ibu memang sangat populer di jagad dunia pengajian dan majelis taklim.

Tiap ada anak bandel sama orang tua, khususnya ibu, pasti nasehat-nasehatnya akan mengutip hadits surga di bawah telapak kaki itu. Bahkan ada lagu anak-anak yang sering kita dengar :

Surga di telapak kaki ibuuuu . . . .
Itulah hadits Nabi Muhammaaaad . . .
Syalalala . . .

Lalu kok tiba-tiba ada yang bilang hadits itu palsu? Memangnya benar palsu atau bagaimana? Lalu kalau palsu, terus letaknya surga dimana dong? Apa pindah ke bawah telapak kaki ayah? atau telapak kaki siapa? Lagian, kalau surga tidak lagi di telapak kaki ibu, karena ternyata haditsnya palsu, apakah anak jadi boleh melawan ibunya?

Dan bagaimana dengan nasib si Malinkundang? Apakah dengan begitu kemudian kutukannya dicabut sehinga kembali lagi menjadi manusia setelah bertahun-tahun jadi batu?

Penjelasannya begini :

Lafadz al-jannatu tahta aqdamil ummahat itu memang tidak kita temukan rujukannya di dalam kitab-kitab hadits yang muktamad. Bahkan meski haditsi itu sangat ngetop dimana-mana, rasanya tidak ada yang tahu, siapa sih perawinya?

Saya sendiri membolak-balik kitab kuning sampai pusing tujuh keliling, ternyata tidak ketemu juga. Mungkin kapasitas ilmu saya masih sangat rendah kali ya.

Di dalam kitab Adh-Dhu’afa’ disebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan dari Musa bin Muhammad bin Atha’ dari Abu Al-Mulih dan Maimun dari Ibnu Abbas secara marfu’, bahwa hadits ini adalah munkar. Al-Hafidz menyebutkan tentang perawi hadits ini, yaitu si Musa adalah kadzdzab (pendusta).

Abu Bakar Asy-Syafi meriwayatkan hadits ini di dalam Ar-Ruba’iyat dari Manshur bin Al-Muhajir dari Abu Nadzhar Al-Abar dari Anas secara marfu’. Ibnu Thahir mengatakan bahwa Manshur dan Abu Nadzhar, keduanya tidak dikenal. Dan haditsnya munkar.

Al-Albani bilang bahwa hadits ini termasuk palsu, diriwayatkan oleh Ibnu Adi dan Al-Uqaili di dalam kitab Adh-Dhu’afa.

Sebenarnya tidak semua ulama hadits mengatakan bahwa hadits ini maudhu’ atau munkar. Sebab kita juga menemukan bahwa di dalam kitab Al-Jami’ Ash-Shaghir karya Al-Imam Ash-Shuyuthi, ada disebutkan juga hadits ini, dan penulis menyebut hadits ini sebagai hadits hasan, yaitu hadits surga itu di bawah telapak kaki ibu.

Sedangkan hadits bunyinya : siapa yang mencium di antara kedua mata ibunya, maka mendapat penutup (penghijab) dari neraka, adalah hadits yang dhaif.

Nah, lepas dari perbedaan hukum atas hadits ini, antara mereka yang mengatakan palsu, munkar atau hasan, ada baiknya kita cari lagi hadits yang senada, tetapi yang benar-benar terlepas dari perbedaan pendapat.

Dan alhamdulilah akhirnya kita bisa temukan hadits yang hasan bahkan dishahihkan oleh banyak ulama. Sehingga kedudukan surga yang berada di bawah telapak kaki ibu, insya Allah tidak akan berubah.

Sebab ternyata ada hadits lain yang derajatnya maqbul, baik shahih atau hasan, dan isinya tetap menyatakan bahwa surga masih tetap di bawah telapak kaki ibu. Hadits itu adalah hadits Mu’awiyah bin Jahimah, dimana beliau pernah mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya :

“Ya, Rasulallah. Aku ingin ikut dalam peperangan, tapi sebelumnya Aku minta pendapat Anda”. Rasulullah SAW bertanya,”Apakah kamu masih punya ibu?”. “Punya”, jawabnya. Rasulullah SAW,”Jagalah beliau, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua telapak kakinya”. (HR. An-Nasai, Ahmad dan Ath-Thabarani)

أخبرنا عبد الوهاب بن عبد الحكم الوراق قال حدثنا حجاج عن ابن جريج قال أخبرني محمد بن طلحة وهو ابن عبد الله بن عبد الرحمن عن أبيه طلحة عن معاوية بن جاهمة أنه جاء النبي صلى الله عليه وسلم فقال : يا رسول الله أردت أن أغزو وقد جئت أستشيرك ؟ فقال : هل لك أم ؟ قال : نعم . قال : فالزمها فإن الجنة تحت رجليها . رواه النسائي ( 2 / 54 ) ، وغيره كالطبراني ( 1 / 225 / 2 ) . وسنده حسن إن شاء الله ، وصححه الحاكم ( 4 / 151 ) ، ووافقه الذهبي ، وأقره المنذري ( 3 / 214

Sanad hadits ini oleh banyak ulama diterima sebagai hadits yang hasan, bahkan Al-Hakim dan Adz-Dzahabi menyebutnya sebagai hadits shahih.

Maka kita tetap wajib berbakti kepada ibu kita, karena ternyata surga ‘masih’ di bawah telapak kakinya dan tidak pindah ke telapak kaki orang lain. Sedangkan si Malinkundang, legenda dari Sumatera Barat itu, tetap masih jadi batu karena durhaka kepada ibunya.

*)http://www.facebook.com/ustsarwat/posts/340179239332738

Tersenyumlah di Jalan Dakwah Ini!

0
Diposting oleh cahAngon on 20 Desember 2011 , in ,
Nada dering Handphoneku berbunyi. Sebuah SMS dari seorang sahabat.

“Saat senyuman tak terbalas, maka Allah telah menghitung manis senyummu. Saat sapamu tidak terjawab, Allah takkan lupa atas apa yang kau katakan. Saat ajakanmu dalam kebaikan tidak terpenuhi, lelahmu akan menjadi hiasan di tamanNya. Saat engkau menangis atas perihnya perjuanganmu, Allah tak lalai menghitung setiap tetes air matamu. Saat mereka meninggalkanmu, Allah akan selalu ada bersamamu! Jangan hanya mengharapkan perubahan dalam dakwah ini, Akh! Fikirkanlah tentang KONTRIBUSI yang dapat kita berikan. Semoga Allah senantiasa mencintaimu.” Subhanallah. Hatiku bergetar membacanya. Memang, jalan dakwah adalah panjang, berliku, menanjak, dan penuh onak duri. Seperti itulah dakwah. Namun ketika kita ikhlas menjalaninya, dakwah itu akan menjadi indah. Meminjam ucapan Ustadz Rahmat Abdullah, “Seperti itulah dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan menarik seluruh potensi yang ada pada dirimu. Mulai dari tidurmu, sadarmu, mimpimu, gerakmu, jalanmu, bahkan diammu untuknya.”

Meniti langkah di jalan dakwah tidaklah mudah. Tidak juga sulit. Tidak mudah, karena jalan dakwah ini hanya sedikit orang yang memilihnya. Sehingga kita haruslah benar-benar ikhlas mengharapkan pertolongan serta ridha Allah dalam meniti jalan dakwah ini.

Sampaikanlah walau satu ayat. Perintah dakwah ini tentu sudah sangat sering kita dengar. Tentu saja, dakwah adalah hal yang sangat penting dalam regenerasi para muslim kita ini. Bisa dibayangkan kalau saja para sahabat enggan berdakwah setelah Rasulullah wafat, entah bagaimana kondisi kita saat ini. Nikmat islam belum tentu bisa kita rasakan seperti hembusan yang kita dapatkan ini.

Tersenyumlah menghadapi jalan dakwah ini, Saudaraku!

Ringankan bebanmu dengan senyuman. Tatap optimis masa depan dengan senyuman. Jemputlah kebahagiaan dengan senyuman. Tinggalkan kesedihan dengan senyuman. Sambut saudaramu dengan senyuman. Buat mereka bahagia dengan senyumanmu.

“Janganlah sekali-kali engkau meremehkan suatu perbuatan baik walaupun hanya menyambut saudaramu dengan SENYUMAN” (HR Muslim)

Ketika kehidupan memberi kita seribu alasan untuk menangis, tunjukkan bahwa kita memiliki sejuta alasan untuk tersenyum. Nikmati setiap detik waktu dan akhiri kelelahan di jalan dakwah ini dengan kata keikhlasan. Indahnya hidup bukanlah dari seberapa banyak orang mengenal kita. Namun seberapa bahagia orang-orang telah mengenal kita!

Buatlah saudara kita tersenyum telah mengenal kita. Ketika mereka tengah dalam risau gundah, senyummu-lah yang mengangkat mereka kembali dari keterpurukan. Ketika rekan kita di jalan panjang dakwah ini mengalami letih, senyummu-lah yang mengobatinya. Ketika rekan dakwah kita tengah goyah, senyummu-lah yang menguatkan. Betapa indah senyum itu.

Itulah mengapa Allah SWT memerintahkan kita untuk saling berwasiat dalam kebaikan dan saling berwasiat dalam kesabaran. Mengapa sabar? Karena istiqamah dalam jalan dakwah bagaikan memegang bara api. Menyakitkan dan sangat berat. Perlu penguat sesama kader dakwah untuk tetap istiqamah di jalan dakwah ini.

Tersenyumlah di jalan dakwah ini! :)

(Fathan)


-----
*)dari blog sebelah: http://rohis.org/artikel/dari-anak-rohis/226-tersenyumlah-di-jalan-dakwah-ini.html

Membangun Soliditas dengan Kader Berkualitas

0
Diposting oleh cahAngon on 12 Desember 2011 , in , ,
Oleh : Solikhin Abu Izzuddin

Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (q.s. Ash-Shaff: 4)

Dimulai dari kader berkualitas

“Setiap umat memiliki orang kepercayaan. Dan orang kepercayaan umat ini ialah Abu Ubaidah bin Al Jarrah.”

Sebuah soliditas adalah keniscayaan dalam jamaah dakwah. Kita memerlukan energy untuk terus membangkitkan semangat dan menghadirkan sosok-sosok pilihan yang mampu memaknai peran tanpa kehilangan jatidiri sebagai aktifis pergerakan. Kader yang senantiasa tegas dan lantang dalam menyuarakan perubahan demi perubahan. Seperti Abu Ubaidah ibnul Jarrah yang tetap teguh menjaga kepribadian. Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam pernah bersabda memuji Abu Ubaidah bin Al Jarrah, “Setiap umat memiliki orang kepercayaan. Dan orang kepercayaan umat ini ialah Abu Ubaidah bin Al Jarrah.”

Bagaimana sosok Abu Ubaidah hingga mendapat pujian sebagai orang kepercayaan? Inilah rahasia super murabbi yang hendak kami sajikan. Beberapa episode penting dalam kehidupannya menjadi inspirasi bagi para murabbi untuk terus menempa diri menghadirkan prestasi demi prestasi dalam setiap episode tarbawi dan dalam setiap mihwar da’awi alias orbit dakwah. Pada suatu hari Abu Ubaidah dan beberapa tokoh kaum Quraisy lainnya pergi ke rumah keluarga Al Arqam untuk bertemu secara langsung dengan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Oleh beliau, mereka ditawari masuk Islam, dan diperkenalkan syari’at-syari’atnya. Dengan tekun dan tenang Abu Ubaidah mendengarkan apa yang disampaikan oleh beliau. Diam-diam ia mencuri pandang wajah beliau yang nampak sangat rupawan dan bercahaya. Jenggot yang tipis menambah ketampanan beliau. Dan ketika mata Abu Ubaidah beradu pandang dengan mata beliau yang sejuk, seketika ia langsung menunduk dan merasa malu sendiri.

Begitu selesai mendengarkan apa yang disampaikan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Abu Ubaidah dan kawan-kawannya segera menyatakan beriman dengan suka rela dan atas kesadaran sendiri, setelah Allah Ta’ala berkenan membukakan hati mereka menerima Islam. Maka dalam waktu yang sama, Abu Ubaidah dan kawan-kawannya sudah menjadi orang muslim.

Yang menarik dari pribadinya adalah sikap-sikap bijaknya dalam mengatasi konflik. Mampu menyelesaikan masalah-masalah pelik dengan strategi yang sangat cantik dan unik.

Berjiiwa Besar dalam Perang Badar

Dalam perang Badar menghadapi konflik batin yang sangat berat. Dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, banyak para sahabat Nabi syahid di tangan ayahnya sendiri. Terjadi konflik batin, antara membela sahabatnya atau memerangi ayahnya. Dia harus mengambil keputusan. Dia harus bersikap tegas mengatasi konflik itu, dia harus memerangi dan membunuh ayahnya yang musyrik. Dia memenangkan keputusannya. Membunuh ayahnya. Dengan tangannya. Sungguh sebuah medan konflik yang telah diselesaikan dengan cantik.

Dia segera bisa mengambil keputusan yang tegas. Ia lebih mementingkan membela imannya kepada Allah dan mengutamakan akidahnya yang murni daripada menuruti perasaannya sebagai seorang anak terhadap ayahnya. Tanpa ragu-ragu, dia mendekati ayahnya. Segera melancarkan serangan yang mematikan ke tubuh ayahnya, sebelum didahului oleh temannya sesama pasukan muslim. Dan seketika ayahnya tewas di tangannya.

Momentum dalam Perang Uhud

Dalam perang Uhud. Ketika pasukan orang-orang musyrik menyiarkan kabar bohong bahwa Nabi saw telah terbunuh. Pasukan muslimin guncang. Putus asa. Kendor semangatnya. Menyaksikan hal ini Abu Ubaidah segera menghampiri Nabi saw yang sedang mendapat serangan yang sangat gencar. Bibirnya Nabi terluka. Gigi depannya retak. Pelipisnya memar. Wajah berlumuran darah. Luka. Tepat ketika di dekat Nabi, Abu Ubaidah melihat darah mengalir deras dari wajahnya yang elok.

Berkali-kali dia segera berupaya menyeka darah yang terus mengalir. Dia menanggalkan salah satu gigi depan Nabi yang sudah retak dengan cara menggigit. Menggunakan giginya. Tanpa peduli, sekuat tenaga dia tarik gigi depan beliau sehingga akhirnya tanggal. Tentu saja hal ini menimbulkan rasa sakit yang luar biasa pada beliau. Tak ayal, darah pun mengucur deras dari mulut Nabi. Tetapi dia merasa senang karena bisa mengurangi rasa sakit yang dialami oleh beliau. Itulah sisi lain Abu Ubaidah, berani mengambil resiko terberat agar Rasulullah selamat.

Berhasil dalam Perang Dzatus Salasil

Ketika Rasulullah saw mengutus Amru bin Ash dalam perang Dzatus Salasil, bersama 300 prajurit kaum muslimin. Tatkala mereka mendekati kabilah-kabilah tersebut, ternyata jumlah pasukan musuh amatlah besar. Amru bin Ash kemudian meminta tambahan pasukan kepada Rasulullah saw untuk memperkuat skuad pasukan kaum muslimin.

Rasulullah saw pun mengutus Abu Ubaidah ibnul Jarrah bersama 200 pasukan tambahan. Di dalam pasukan terdapat Abu Bakar Ash-Shiddiq. Rasullah juga mengamanahkan panji kepemimpinan pasukan kepada Abu Ubaidah ibnul Jarrah dan memerintahkan segera menyusul pasukan Amru bin Ash seraya berpesan agar mereka bersatu padu dan tidak berselisih paham.

Ketika Abu Ubaidah tiba bersama pasukannya dan hendak mengimami seluruh pasukan tersebut —karena panji-panji kepemimpinan pasukan sebelumnya diserahkan oleh Rasulullah saw kepadanya—, Amru bin Ash berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau datang kemari untuk menambah pasukan yang aku pimpin. Dan aku adalah komandan pasukan di sini.”

Bagaimanakah sikap Abu Ubaidah?

Abu Ubaidah mematuhi apa yang dikatakan oleh Amru bin Ash yang akhirnya memimpin pasukan kaum Muslimin dan meraih kemenangan.

Saudaraku, Abu Ubaidah mampu memahami esensi pesan Nabi dan tetap menahan diri. “Hendaklah kalian semua bersatu padu dan tidak berselisih paham.” Padahal jelas, Rasulullah menyerahkan panji-panji kepemimpinan pasukan kepadanya, mengapa dia tidak merebut kepemimpinan itu?

Mengapa dia mengalah? Mengapa dia rela dipimpin oleh Amru bin Ash? Mengapa? Justeru di situlah keunggulan integritasnya. Pemimpin sejati adalah yang siap memimpin dirinya sendiri dan lebih mengutamakan soliditas dengan menjaga hubungan daripada memenangkan situasi.

Melejit dalam Berbagai Situasi Sulit

Ketika Rasulullah wafat, terjadi krisis kepemimpinan yang sangat sulit, menyulut konflik dan hampir-hampir memecah belah umat. Kaum muhajirin memilih Abu Bakar, kaum Anshar lebih memilih Sa’ad bin Mu’adz. Di tengah konflik inilah muncul nama Abu Ubaidah. Dia yang dipersaudarakan oleh Nabi dengan Sa’ad bin Mu’adz, tokoh puncak kaum Anshor. Sebenarnya ini sebuah pilihan yang tepat untuk perekat umat. Ini ‘kan kesempatan emas untuk berbuat, memberikan kontribusi penuh manfaat. Namun Abu Ubaidah melihat sesuatu yang oleh orang lain tidak terlihat. Dia bertindak cepat, lalu berseru dengan tawadhu,”Bagaimana kalian bisa mencalonkan aku, sementara di tengah-tengah kalian ada seseorang yang lebih hebat?”

Dia merasa Abu Bakar pilihan yang lebih tepat. Akhirnya Abu Ubaidah segera mengambil tangan Abu Bakar untuk berbaiat padanya, diikuti oleh Umar. Umat pun terselamatkan dari perpecahan. Terpilihlah Abu Bakar sebagai khalifah. Alhamdulillah.

Episode demi episode dilalui Abu Ubaidah penuh dengan pilihan-pilihan sulit. Saat berperang melawan Romawi di bawah pimpinan Heraklius, dalam kondisi terdesak dia mengutus kurir menemui sang khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq di Madinah untuk meminta pertimbangan. Khalifah mengirimkan pasukan tambahan dalam jumlah yang sangat besar untuk membantu pasukan yang sudah ada, seraya menginstruksikan:

“Aku mengangkat Khalid bin Al Walid sebagai panglima untuk menghadapi pasukan Romawi di Syiria. Dan aku harap kamu jangan menentangnya. Tetapi ta’atilah dia, patuhilah perintahnya. Aku memang sengaja memilihnya sebagai panglima, meskipun aku tahu kamu lebih baik daripadanya. Tetapi aku yakin dia memiliki kelihaian perang yang tidak kamu miliki. Mudah-mudahan Allah selalu menunjukkan kita kepada jalan yang lurus.”

Abu Ubaidah menerima perintah khalifah dengan lapang dada. Rela sepenuhnya. Dia sambut Khalid bin Walid dengan suka cita. Dia serahkan tampuk kepemimpinan kepadanya dengan sikap hormat. Khalid tahu, Abu Ubaidah seorang komandan yang cerdas, berpengalaman, dan pemberani. Dia menunjuk Abu Ubaidah sebagai komandan pasukan kavaleri. Lalu pasukan berangkat. Mengepung Damaskus. Khalid bin Walid bergerak ke pintu gerbang kota sebelah timur, Abu Ubaidah bergerak ke pintu gerbang daerah Jabiyah. Komandan-komandan yang lain bergerak ke gerbang masing-masing.

Kekuatan pasukan kaum muslimin berhasil mengepung kota yang sangat kuat tersebut dari segala penjuru. Karena terus didesak, penduduk kota Damaskus berusaha melakukan perlawanan dengan sangat gigih untuk mempertahankan kota mereka yang tercinta. Di tengah keadaan yang sangat genting tersebut, ketika pasukan kaum muslimin bertempur habis-habisan dengan pasukan Romawi, Umar bin Khattab ra menemui Abu Ubaidah. Membawa kabar, Abu Bakar telah wafat. Umar juga hendak memecat panglima Khalid bin Al Walid, mengembalikan kepemimpinan kepada Abu Ubaidah.

Abu Ubaidah menyembunyikan berita duka agar tidak terdengar oleh pasukan kaum muslimin yang sedang gigih bertempur di bawah komando panglima Khalid bin Walid melawan pasukan Romawi. Dia khawatir berita kematian sang khalifah Abu Bakar membuat suasana gempar sehingga kekuatan jadi buyar. Bahkan surat Umar untuk pemecatan Khalid bin Al Walid dia tahan, mencari waktu yang tepat benar. Sebab, mereka tengah menghadapi pasukan yang sangat tangguh. Bahkan keadaan pasukan kaum muslimin sedang terdesak. Abu Ubaidah tetap tegar dan tidak mau menyerah. Dia terus berjuang habis-habisan. Dia merasa jika terus menerus mengepung kota Damaskus yang sangat kuat, bisa menguras kekuatan pasukan kaum muslimin, melemahkan semangat mereka, dan menimbulkan kebosanan. Akhirnya dia mencari jalan keluar. Menawarkan gencatan kepada penduduk kota Damaskus. Namun dalam waktu yang bersamaan Khalid bin Al Walid baru saja berhasil mendobrak pintu gerbang kota sebelah timur sehingga dapat memasuki kota tersebut dengan leluasa.

Abu Ubaidah dan Khalid bin Al Walid lalu bertemu. Mereka terlibat perdebatan sengit tentang apa yang harus dilakukan terhadap kota Damaskus, apakah ditaklukkan dengan kekerasan atau memilih jalan damai, gencatan senjata?

Abu Ubaidah bersikukuh menempuh jalan damai dengan penduduk Damaskus, sehingga Khalid bin Walid pun luluh. Mengalah demi menghormati Abu Ubaidah yang terlanjur telah mengadakan perjanjian damai dengan penduduk Damaskus. Khalid bin Al Walid tunduk patuh kepada Abu Ubaidah setelah mengetahui bahwa dirinya sudah dipecat sebagai panglima oleh Umar bin Khattab, khalifah yang baru.

Belajar Keulungan dari Abu Ubaidah

Mari kita belajar dari salah seorang dari Sepuluh Orang yang Dijamin Surga, dialah Abu Ubaidah ibnul Jarrah. Seluruh mozaik kehidupannya perlu kita telisik dengan unik karena sosoknya mencerminkan kader pengokoh soliditas jamaah terutama di saat sulit, dalam berbagai medan konflik dapat dilalui dengan cantik. Kalau surga merindukannya tentunya ini pula yang menjadi obsesi kita.

Pertama, cepat merespon kebaikan demi kebaikan sejak pertama kali bergabung bersama Islam. Prestasi keislamannya dan berbagai peran unggulannya munculnya dari tarbiyah yang paripurna. “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat baik.” (q.s. An-Nahl: 128)
Kedua, memiliki visi yang kuat dalam berjamaah. Yakni keterikatan dia pada jamaah karena ikatan visi, ikatan aqidah, keimanan, dakwah dan ukhuwah bukan karena ikatan kepentingan berupa jabatan, gengsi popularitas maupun kenikmatan duniawi yang sesaat. Medan konflik peran dan konflik batin mampu dilalui dengan sangat manis karena orientasi rabbani benar-benar menghunjam dalam diri.
Ketiga, mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan dan mensinergikannya menjadi jalan kemenangan demi kemenangan meski kemenangan tersebut bukan diatas namakan pada dirinya. Dia mampu menahan diri untuk tidak begitu menyampaikan berita-berita penting di saat-saat genting agar tidak menimbulkan konflik yang meruncing. Seorang murabbi dan para pemimpin dakwah mesti memiliki kecerdasan praktis seperti ini. Yakni kecerdasan untuk mengetahui apa yang harus dikatakan kepada orang tertentu, mengetahui kapan mengatakannya, tahu bagaimana mengatakannya untuk mendapatkan hasil yang maksimal. (Robert Sternberg – dalam buku OUTLIERS Malcolm Gladwell)
Keempat, organisasi adalah system dan sarana bukan tujuan. Dalam menjaga soliditas jamaah dakwah Abu Ubaidah sangat peka merasakan betapa pentingnya menjaga soliditas team dan keberlangsungan system karena adanya tujuan-tujuan agung dakwah yang hendak diraih bersama.
Kelima, Selalu berorientasi memberi. Bila setiap kader memiliki jiwa seperti Abu Ubaidah kita akan merasakan atmosfer tarbiyah dan aura dakwah begitu melimpah ruah karena para ikhwah adalah barisan orang-orang yang sadar untuk memberikan kontribusi dalam perjuangan. Dan ini bisa dibangun dari lima pilar kesadaran berorganisasi atau berjamaah dalam kemenyeluruhan dakwah Islamiyah, yakni :

1. Individu bagian dari FUNGSI pencapaian TUJUAN.
2. Semangat MEMBERI mengalahkan semangat MENERIMA.
3. SIAP menjadi TENTARA KREATIF dalam bingkai KESETIAAN dan KETAATAN.
4. Berorientasi pada KARYA bukan POSISI
5. BEKERJASAMA walaupun BERBEDA
(M. Anis Matta, Dari GERAKAN ke NEGARA)

Bukan Menuntut tapi Memulai…

Soliditas itu dimulai dan dibangun dari dalam diri setiap kader dakwah, murabbi dan murabbiyah secara sadar. Sebab kebanyakan orang keluar dari organisasi –menurut Azim Premji Milyuner Muslim dari India—bukan karena tidak cinta kepada organisasinya namun karena manajemen yang buruk. Nah, kader-kader dakwah yang clear, care and competence mesti menjadi pelopor kebaikan dalam diri dengan mampu menjaga quwwatush shilah billah yang terimplementasi dalam ranah ukhuwah dari tataran dasar salamatush shadr hingga puncak itsar.

Inilah cara sehat untuk sehat. Kita sehat kalau berpikir untuk memberi manfaat kepada orang lain dan kita mudah lelah dan sakit bila hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Saat kita memberikan yang terbaik, sesungguhnya kebaikan itu akan kembali kepada kita juga.

Saudaraku, mari kita membentuk diri dengan spirit keulungan seorang murabbi sejati. Super murabbi didikan Rasulullah. Abu Ubaidah yang mampu mengelola konflik demi konflik dengan apik. Bukan untuk kebesaran dirinya tapi untuk kemenangan bersama. Kemenangan besar. Itulah yang mensurgakan perannya, yang mengangkat kebesaran jiwanya. Keunggulan dalam ketawadhu’an. Ketegasan dalam kesabaran.

Dibutuhkan kesabaran yang super seperti Abu Ubaidah untuk bisa meraih kemenangan yang besar. Kesabaran untuk kebesaran. Itulah cara mengelola sikap optimisme agar menjiwa, mendarahdaging, mensumsum tulang dalam berpikir menang. Kemenangan di alam jiwa, kemenangan di alam nyata.

Begitulah hidup. Lebih bermakna bila fokus pada kualitas tanpa meremehkan kuantitas. Adapun bila kualitas bergabung dengan kuantitas tentu akan menjadi kekuatan super dahsyat. Seperti kejeniusan pikiran seorang pemimpin, bersarang dalam hati yang ikhlas, tegak di atas fisik yang kuat, dan tampak dalam kemuliaan akhlak.

Semoga kita bisa mewujudkannya… dan itu dimulai dari dalam diri setiap ikhwah, kader-kader dakwah dan tarbiyah. Ya Ayyuhalladziinaa aamanuu intanshurullaha yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum.

—–
Maraji’:
1. Sepuluh Orang yang Dijamin Masuk Surga -
2. Outliers – Malcolm Gladwell
3. Dari Gerakan ke Negara – Anis Matta
4. Happy Ending full Barokah – Solikhin
5. Azim Premji ‘Billgate Muslim’ dari India – Haris Priyatna

Sumber : http://pkspiyungan.blogspot.com/2011/12/membangun-soliditas-dengan-kader.html

Tim Ilmuwan yang Dipimpin Kader PKS Berhasil Ciptakan Alat Pembasmi Kanker Otak

0
Diposting oleh cahAngon on 08 Desember 2011 , in ,
Sekelompok ilmuwan CTech Laboratory, sebuah lembaga riset yang berafiliasi dengan Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI), berhasil menemukan alat pembasmi kanker otak.

“Ini sebuah terobosan di dunia kedokteran yang telah berhasil dilakukan ilmuwan Indonesia,” kata pimpinan tim peneliti CTech Laboratory, Dr Warsito P. Taruno, yang juga aktif sebagai anggota Majelis Pertimbangan Pusat (MPP) Partai Keadilan Sejahtera di Komisi Kebijakan Publik yang salah satunya bertanggung jawab langsung dalam merancang dan menyusun Platform Pembangunan PKS Bidang Perekonomian

Ia mencatat, “Ini pengembangan alat dari riset kami di bidang tomografi, setelah alat pembasmi kanker payudara, kami berhasil mendesain alat pembasmi kanker otak.” Ia menyampaikan hal itu usai memberikan pemaparan dalam Temu Ilmiah Nasional Masyarakat Imuwan dan Teknolog Indonesia (Temilnas MITI) wilayah Sumatera Bagian Utara di Kampus Universitas Sumatera Utara, Medan.

Selain itu, dia pun mengemukakan, temuan tersebut menggunakan prinsip yang sama pada alat pembasmi kanker payudara, yaitu menerapkan metode radiasi listrik statis, temuan itu, kata dia, telah diujicoba oleh seorang pasien penderita kanker otak kecil. “Alhamdulillah, setelah pemakaian dua bulan pasien dinyatakan sembuh total. Saya baru mendapat salinan hasil CT-Scan otak pasien oleh tim dokter rumah sakit,” kata Ketua Umum MITI itu.

Kesuksesan tim dari CTech yang didukung oleh perusahaan Edwar Technology ini dipaparkan dalam forum pertemuan yang dihadiri tidak kurang dari 1.500 peserta dari berbagai kampus di Sumut, Sumatera Barat dan Aceh.

Dalam seminar yang juga menghadirkan mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek), Suharna Surapranata, dan staf pengajar Universitas Sumatera Utara (USU), Dr Yani Absah, Warsito menceritakan proses terapi dari pasien penderita kanker otak kecil (cerebellum) yang saat pertama datang dalam kondisi yang mengenaskan.

“Karena otak kecil sebagai pengendali sistem motorik tubuh, maka pasien sudah tak bisa menggerakkan seluruh ototnya. Dia hanya bisa terbaring dan tak mampu bergerak, termasuk menelan makanan atau minuman yang diasupkan ke mulutnya,” katanya.

Tim peneliti kemudian merancang perangkat yang disesuaikan dengan diagnosis dokter. Dalam terapi ini, Warsito menjelaskan, pihaknya memang bekerjasama dengan tim dokter ahli radiologi dan onkologi dari sebuah rumah sakit besar di Jakarta.

“Reaksi positif sudah kami peroleh dalam beberapa hari pemakaian. Pasien sudah bisa tersenyum dan sepekan kemudian sudah bisa menerima asupan makanan dan minuman dari mulutnya. Kondisi semakin membaik dalam waktu sebulan karena ia sudah bisa menggerakkan anggota tubuhnya. Dan, puncaknya, dua bulan setelah terapi, pasien dinyatakan sembuh total dari kanker otaknya,” katanya.

Ia mengatakan, metode radiasi listrik statis berbasis tomografi ini, sepenuhnya hasil karya anak bangsa yang bakal menjadi terobosan dalam dunia kedokteran. Selain akan merevolusi pengobatan kanker secara medis, kata dia, juga akan meminimalisasi biaya yang harus dikeluarkan pasien atau keluarganya.

“Yang pasti ini akan mengubah metode pengobatan yang selama ini menggunakan radiasi berisiko tinggi dan berbiaya mahal,” katanya.

Warsito mengakui bila ini masih dalam taraf penelitian yang perlu dielaborasi lebih jauh. “Perlu kajian dan penelitian lebih lanjut. Mungkin ada hal-hal yang kami belum ketahui, khususnya dalam dunia medis,” katanya. Sementara, mantan Menristek Suharna Surapranata menyambut baik temuan dari tim CTech dan MITI ini.

Menurut dia, perlu kajian lebih lanjut dan partisipasi banyak pihak yang berkepentingan guna mendapatkan hasil yang lebih baik. “Kalau mendengar paparan beliau, saya kira ini satu hal yang luar biasa dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak, khususnya pemerintah. Juga para pemangku kebijakan dari bidang kesehatan agar hasil penelitian dan penemuan ini memberi manfaat seluas-luasnya kepada masyarakat Indonesia dan dunia,” demikian Suharna Surapranata.

antaranews | republika

Taaruf Ketujuh....

0
Diposting oleh cahAngon , in ,
Ustad kenalan saya ini, Sayyid, termasuk sedikit di antara dai yang mau berbicara buka-bukaan soal jumlah taaruf (perkenalan) dirinya sebelum mendapatkan seorang istri.

Dengan enteng, lugas dan dibumbui canda, dia sebutkan angka belasan. Semuanya tak berhasil. Tak ada Muslimah yang berkenan menjadi pendamping hidupnya. Seingat saya, lebih banyak dirinya yang ditolak oleh para akhwat itu.

Sampailah pada taaruf kesekian belas, Sayyid berhasil mendapatkan istri. Dengan diuji soal harta menjelang pernikahan akhirnya dia—atas izin Allah—mendapatkan perempuan luar Jawa, yang belakangan pernah mengikuti forum kepenulisan saya di sebuah kampus.

Setiap berbicara pernikahan di ceramah-ceramahnya, Sayyid tak lupa menyinggung pengalaman pribadinya soal kegagalan di atas. Tak ada yang ditutupi-tutupi kecuali nama para akhwat yang pernah menolaknya, tentunya. Sayyid sepertinya ingin memberikan teladan soal kerja keras mendapatkan jodoh. Tidak cengeng hanya ditolak sekali atau maksimal tiga kali. Menceritakan dengan enteng dan penuh humor menjadi jalan Sayyid mengkatarsis pengalaman pahit. Meski kini digarasikan ceria, saya tidak yakin setiap menghadapi jawaban penolakan itu Sayyid selalu berlapang dada. Pasti ada rasa sedih, kecewa dan kenangan untuk ditinggalkan setelah penolakan itu. Tetapi di sinilah letak keistimewaan Sayyid. Dia tidak menjadikan sesaknya dada setelah ditolak sebagai sebuah bab bernama roman kepiluan. Garis takdirnya selaku pendakwah mengharuskan dia tetap tegar, serapuh apa pun isi hatinya saat tertolak cintanya. Dan Sayyid melalui itu dengan manis. Jauh lebih manis dari kisah pedih Sayyid yang lain di jazirah Mesir yang dirujuknya: Sayyid Quthb.

Sayyid adalah contoh baik fenomena taaruf ketujuh. Ketujuh di sini tidak merujuk taaruf sejumlah tujuh kali. Bukan itu maksudnya. Taaruf tujuh, dalam konteks ini, meminjam ilmu balaghah bahwa kata “tujuh” dalam bahasa Arab sering kali dipakai untuk menunjukkan arti banyak. Banyak yang tak terhitung.

Dalam Al-Qur`an kata “tujuh”, misalnya, dipakai dalam penciptaan langit (lihat surat al-Mulk [67]: 3; ath-Thalaaq [65]: 12); ilmu Allah (Luqman [31]: 27). Sepengetahuan saya, para mufasir tidak mengartikan tujuh di sini dalam arti denotatif, namun menunjukkan arti banyak, sebanyak-banyaknya.

Nah, jelaslah bukan bahwa taaruf ketujuh bukan berarti taaruf ketujuh kalinya, melainkan taaruf sebanyak-banyaknya tetapi dengan niatan ikhlas. Tak tebersit untuk mempermainkan perempuan atau sekadar gengsi-gengsian. Demi gengsi dalam taaruf, adakah? Ada, menjadi kebanggaan ketika berbincang-bincang lantas ketika dirinya berkata, “Kalau saya sudah taaruf dengan ikhwan sebanyak lima belas dan semuanya saya tolak! Tak ada yang sekufu.” Atau kalimat lain, “Situ baru taaruf dua kali gagal. Saya nih sudah taaruf dua puluh lima kali dengan akhwat, dan semuanya saya tinggalkan lantaran tak ada yang selevel!”

Taaruf ketujuh adalah seperti Sayyid berikhtiar serius, bukan untuk bangga-banggaan. Kalaupun dia menolak, ada landasannya; tidak asal putus. Pun kalau dia mengobati hatinya saat gagal mendapatkan jodoh gara-gara jawaban si akhwat di luar perkiraan optimisnya, pasti dia tengah mengamalkan ilmu ikhlasnya.

Taaruf ketujuh merupakan sebuah pencarian tanpa henti tidak dalam kerangka takabur dan ujub. Merasa diri berada di level aktivis nomor wahid, jam terbang tak terhitung, anak kesayangan ustad senior, akses ke jamaah dakwah luas. Semua ini hanya modal, tetapi tidak untuk dikedepankan sebagai alat menekan calon pendamping. Semua yang dilakukan pelaku taaruf ketujuh ya wajar-wajar saja. Menjadi dirinya sendiri dengan pelbagai kekurangan tanpa harus diselubungi dengan modal-modal tadi.

Seperti Allah yang bekerja menciptakan langit dalam enam masa (lihat: as-Sajadah [32]: 4), begitu pun kita dalam berikhtiar menjemput jodoh. Bagi saya, Sayyid merupakan kisah heroisme tersendiri. Lebih berkesan ketimbang kisah seorang ikhwan langsung mendapatkan pendamping dalam sekali usahanya. Tak ada keringat dan perihnya kaki berjalan saat tertolak. Rekomendasi ustad senior menjadi penentu pengabulan si akhwat—rasa-rasanya taaruf sukses ini sejatinya bukan kisah teladan mengenai bab kegigihan dan keluar dari rasa putus asa.

Maka, ditolak lantaran pendapatan masih serabutan; diusir calon mertua lantaran gelar hanya lulusan SMP; ditekan baik-baik mundur oleh guru mengaji si akhwat lantaran jenjang kadernya masih pemula; disurati si akhwat agar menjadi ustad dulu baru melamarnya; semua ini bagian dari episode merangkai rumah tangga sesungguhnya. Tidak seru dan tidak ada hujan pahala bila kita tembak langsung sukses. Sama halnya dengan tidak ada barakahnya mereka yang sekadar terobsesi bertaaruf lantaran demi gengsi berbangga-bangga dalam menolaki calon pendamping.

Taaruf, sungguh, sebuah kerja-kerja cinta yang menarik. Ada harap, ada sedih, ada haru, dan ada pinta. Mentaarufi ketujuh sebuah ikhtiar dengan sepenuh hati, insya Allah, membuahkan hasil yang tidak serampangan. Karena taaruf ketujuh bukan sebuah permainan sia-sia. Ia justru aktivitas serius dalam menggapai ridha-Nya. Jadi, ditolak berkali-kali hingga lima puluh kali, tetap semangat. Bahkan seorang Abu Bakar dan Umar pun pernah mengalami penolakan jawaban dari Muslimah yang hendak dipinangnya.

Ngomong-ngomong, mengapa saya harus merasa perlu bicara soal taaruf ketujuh? Ada maksud tersirat berbagi pengalaman pribadi jugakah? Terserah bagaimana Anda menebaknya, sobat![]

yusufmaulana

Dua Buah Hadits Terkenal, Shahihkah?

0
Diposting oleh cahAngon on 07 Desember 2011 , in , ,
Oleh: Farid Nu’man Hasan
Pertanyaan:

Asslamu’alaikum ,
Ustadz, mohon infonya, kalau 2 kalimat yang sering dikutip penceramah berikut di bawah ini hadits atau bukan ya..?

Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin sungguh dia beruntung, barang siapa yang hari ini sama dengan kemarin, sungguh dia merugi, barang siapa hari ini lebih buruk dari kemarin sungguh dia celaka

9 dari 10 pintu rezeki dari perdagangan

Syukron, wassalam (@Cahyo M)

Jawaban:

Wa ‘Alaikum salam wa rahmatullah wa Barakatuh

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala Aalihi wa Ashhabihi wa Man waalah, wa ba’d:

Ya, dua hadits tersebut memang sangat terkenal dan sering disampaikan oleh para penceramah. Berikut ini pembahasannya.

Pertanyaan pertama, Hadits yang antum maksud adalah sebagai berikut:

من استوى يوماه فهو مغبون ، ومن كان يومه شرا من أمسه فهو ملعون

Barang siapa yang harinya sama saja maka dia telah lalai, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka dia terlaknat. (Lihat Mafatihul Ghaib, 25/165, Al Lu’lu’ Ar Marshuu’ No. 530, Al Mashnu’ fi Ma’rifatil hadits Al Maudhu’, 1/174)

Para imam hadits telah mengkategorikan ucapan ini sebagai hadits palsu (maudhu’) dan mereka pun memasukkannya dalam kitab kumpulan hadits-hadits palsu, seperti Tadzkiratul Maudhu’at, Al Mashnu’ fi Ma’rifatil Hadits Al Maudhu’, Al Asrar Al Marfu’ah fil Akhbar Al Maudhu’ah, Al Maudhu’at Al Kubra, dan lainnya.

Dan, ini hanyalah ucapan nabi dalam sebuah mimpi seseorang sebagaimana riwayat Imam Al Khathib Al Baghdadi berikut ini:

وَأَخْبَرَنَا ابْنُ رِزْقٍ ، قَالَ : أَنْبَأَ عُثْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ الْبَرَاءِ ، ثنا دَاوُدُ بْنُ رُشَيْدٍ ، ثنا الْوَلِيدُ بْنُ صَالِحٍ ، عَنْ رَجُلٍ ، رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّوْمِ فَقَالَ لِي : ” مَنِ اسْتَوَى يَوْمَاهُ فَهُوَ مَغْبُونٌ ، وَمَنْ كَانَ غَدُهُ شَرَّ يَوْمَيْهِ ، فَهُوَ مَلْعُونٌ وَمَنْ لَمْ يَعْرِفِ النُّقْصَانَ مِنْ نَفْسِهِ فَهُوَ إِلَى نُقْصَانٍ ، وَمَنْ كَانَ إِلَى نُقْصَانٍ فَالْمَوْتُ خَيْرٌ لَهُ ”

Mengabarkan kami Ibnu Rizq, katanya: memberitakan kepada kami Utsman bin Ahmad, berkata kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Al Bara, berkata kepada kami Daud bin Rusyaid, mengabarkan kami Al Walid bin Shalih, dari seorang laki-laki: Aku melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam mimpi, Beliau berkata kepada ku: Barang siapa yang harinya sama saja maka dia telah lalai, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka dia terlaknat, barang siapa yang tidak mendapatkan tambahan maka dia dalam kerugian, barangsiapa yang dalam kerugian maka kematian lebih baik baginya. (Iqtidha’ul ‘Ilmi Al ‘Amal, No. 196) Siapakah laki-laki tersebut? Berikut ini uraian Imam Zainuddin Al ‘Iraqi Rahimahullah:

حديث ” من استوى يوما فهو مغبون ومن كان يومه شرا من أمسه فهو ملعون ” لا أعلم هذا إلا في منام لعبد العزيز بن أبي رواد قال : رأيت النبي صلى الله عليه وسلم في النوم فقلت : يا رسول الله أوصني ، فقال ذلك بزيادة في آخره . رواه البيهقي في الزهد .

Hadits: “Barang siapa yang harinya sama saja maka dia telah lalai, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka dia terlaknat.” Saya tidak mengetahui hadits ini melainkan ini hanyalah mimpi Abdul Aziz bin Abi Ruwad. Beliau berkata: “Dalam tidur, Aku bermimpi melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu aku berkata: “Wahai Rasulullah wasiatkanlah aku,” lalu Rasulullah mengatakan hal itu dengan kalimat ziyadah (tambahannya) pada bagian akhirnya. Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam kitab Az Zuhd. (Takhrijul Ahadits Al Ihya, 9/162)

Lihat juga keterangan ini dalam kitab lainnya. (Imam Al ‘Ajluni, Kasyful Khafa, 2/233, Imam Al Fatani, Tadzkiratul Maudhu’at, Hal. 22)

Ada pun kalimat tambahan yang dimaksud adalah:

ومن لم يكن على الزيادة فهو في النقصان

Barang siapa yang tidak mendapatkan tambahan maka dia dalam kerugian. (Kasyful Khafa, 2/233)

Ada pula kalimat serupa yang semisal ini, dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu:

من استوى يوماه فهو مغبون ومن كان آخر يومه شرا فهو ملعون ومن لم يكن على الزيادة فكان على النقصان ومن كان على النقصان فالموت خير له

Barang siapa yang harinya sama saja maka dia telah lalai, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin maka dia terlaknat, barang siapa yang tidak mendapatkan tambahan maka dia dalam kerugian, barangsiapa yang dalam kerugian maka kematian lebih baik baginya. (At Tadzkirah fil Ahadits Musytahirah, Hal. 138, Al Firdaus bi Ma’tsur Al Khithab No. 5910)

Hadits ini didhaifkan oleh para imam. Imam Az Zarkasyi berkata tentang riwayat ini:

اسنده صاحب مسند الفردوس من حديث محمد ابن سوقة عن الحرث عن علي مرفوعا وهو اسناد ضعيف

Isnadnya pengarang Musnad Firdaus, dari hadits Muhammad bin Sauqah, dari Al Harts dari Ali secara marfu’, dan dan ini adalah isnad yang dhaif. (At Tadzkirah fil Ahadits Musytahirah, Hal. 138)

Imam As Sakhawi juga menyebut bahwa sanad riwayat dari Ali ini adalah dhaif. (Al Maqashid Al Hasanah, 1/631), begitu pula dikatakan Imam ‘Ajluni. (Kasyful Khafa, 2/233)

Jadi, bisa disimpulkan:

- Ucapan tersebut tidak benar disandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam kehidupan nyata, melainkan mimpi dari Abdul Aziz bin Abi Ruwad

- Riwayat serupa yang berasal dari Ali bin Abi Thalib juga dhaif menurut para imam hadits.

Pertanyaan kedua, hadits yang antum maksud adalah:

تِسْعَةُ أَعْشَارِ الرِزْقِ فِي التِّجَارَةِ

Sembilan dari sepuluh pintu rizki ada pada perdagangan

Hadits ini diriwayatkan oleh:

- Imam As Suyuthi dalam Al Jami’ Ash Shaghir, 1/130, dari Nu’aim bin Abdurrahman dan Jabir Ath Tha’i secara mursal.

- Imam Ibnul Atsir dalam An Nihayah fi Gharibil Hadits, 2/341

- Imam Alauddin Al muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal, No. 9342, beliau mengatakan bahwa hadits ini mursal.

- Imam Abu Ubaid dalam Al Gharib, 2/52, dengan sanad: Hasyim, Daud bin Abi Hindi, Nu’aim bin Abdurrahman, katanya: telah sampai kepadaku bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: (lalu di sebutkan)

- Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani dalam Al Mathalib Al ‘Aliyah No. 1478, dengan sanad: Khalid bin Abdullah, Daud bin Abi Hindi, Nu’aim bin Abdurrahman, katanya: telah sampai kepadaku bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: (lalu di sebutkan)

- Imam Ad Dauri dalam Tarikh Ibnu Ma’in, 4/49. Ad Dauri berkata: “Aku mendengar Yahya berkata: bahwasanya dijadikan sembilan dari sepuluh pintu rizki ada pada perdagangan.”

- Imam Al Bushiri dalam Al Ittihaf No. 2730, dengan sanad: Khalid bin Abdullah, Daud bin Abi Hindi, Nu’aim bin Abdurrahman, katanya: telah sampai kepadaku bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: (lalu di sebutkan)

Imam As Suyuthi menghasankan hadits ini. (Al Jami’ Ash Shaghir, 1/130)

Namun penghasanan tersebut telah dikritik imam lainnya. Imam Al Bushiri Rahimahullah berkata: “Sanad hadits ini dhaif, karena Nu’aim bin Abdirrahman seorang yang majhul (tidak dikenal).” (Al Itthaf Al Khairah, 3/275, No. 2730)

Imam Al ‘Iraqi Rahimahullah berkata:

رواه إبراهيم الحربي في غريب الحديث من حديث نعيم بن عبد الرحمن ” تسعة أعشار الرزق في التجارة ” ورجاله ثقات ، ونعيم هذا قال فيه ابن منده : ذكر في الصحابة ولا يصح . وقال أبو حاتم الرازي وابن حبان : إنه تابعي فالحديث مرسل

Diriwayatkan oleh Ibrahim Al Harbi dalam Gharibil Hadits, dari Hadits Nu’aim bin Abdurrahman, dan perawinya terpercaya, ada pun Nu’aim ini berkata Ibnu Mandah: Disebutkan sebagai sahabat nabi, itu tidak benar. Berkata Abu Hatim Ar Razi dan Ibnu Hibban: “Dia adalah tabi’i, maka hadits ini mursal.” (Takhrij Ahadits Al Ihya, 4/76)

Keterangan tentang Nu’aim bin Abdurrahman Al Azdi Al Bashri bahwa dia bukan seorang sahabat nabi, tetapi generasi tabi’in, dan hadits darinya adalah mursal, telah disebutkan dalam beberapa kitab. (Imam Ibnul Atsir, Usadul Ghabah, Hal. 1072. Al Hafizh Ibnu Hajar, Al Ishabah fi Tamyiz Ash Shahabah, 6/510. Imam Ibnu Abi Hatim, Al Jarh wat Ta’dil, 8/461. Imam Abu Zur’ah Al ‘Iraqi, Tuhfatut Tahshil fi Dzikri Ruwatil Marasil, Hal. 328. Imam Al Munawi, Faidhul Qadir, 3/322)

Hadits mursal merupakan jenis dari hadits dhaif sebagaimana dikatakan jumhur ulama, karena munqathi’, yakni terputus sanadnya, yaitu seorang tabi’in meriwayatkan ucapan ini langsung ke nabi, tanpa melalui sahabat nabi.

Jadi, tentang hadits ini mayoritas ulama mengatakan dhaif sebagaimana dikatakan oleh Imam Al ‘Iraqi, Imam Al Bushiri, juga Syaikh Al Albani (Dhaiful Jami’ No. 2434, As Silsilah Adh Dhaifah No. 3402). Kedhaifannya lebih kuat karena dua faktor. Pertama, kepribadian Nu’aim bin Abdurrahman yang tidak diketahui. Kedua, dia meriwayatkan hadits ini secara mursal, tidak melalui sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan kemursalan ini masyhur.

Namun, walau pun hadits ini dhaif, bisa jadi secara makna adalah benar. Pada kenyataannya berdagang merupakan induk semua mata pencaharian. Baik itu petani, nelayan, industri, guru, dokter, wartawan, dan lainnya, tidak akan lepas dari aktifitas tijarah (perniagaan), pasti semua akan berhubungan dengan jual-beli, baik secara langsung atau tidak.

Imam Al Munawi Rahimahullah berkata:

وهذا لا يقتضي أفضلية التجارة على الصناعة والزراعة لأنه إنما يدل على أن الرزق في التجارة أكثر ولا تعارض بين الأكثرية والأفضلية

Ini tidak menunjukkan keutamaan berdagang di atas industri dan pertanian, ini hanya menunjukkan bahwa rizki dari perdagangan lebih banyak, dan tidak ada pertentangan antara jumlahnya yang lebih banyak dan lebih keutamaannya. (Faidhul Qadir, 3/322)

Demikian. Wallahu A’lam

Sumber : http://faridnuman.blogspot.com/2011/12/dua-buah-hadits-terkenal-shahihkah.html

Saat 'Ain Jadi Nga...

0
Diposting oleh cahAngon on 06 Desember 2011 , in ,
Idayul yilatil ardhu yilyalaha....
Inna anyalnahu fi laylatil qodr...

Kalau pembaca berkesempatan shalat berjamaah di Yogyakarta dan mendapati bacaan imam ‘unik’ seperti di atas, dengan amat sangat maklumi saja. Tak perlu tertawa apalagi melecehkan. Di lidah orang Yogya, melafalkan zai (ﺯ) sesuai ucapan asalnya bukanlah pekerjaan mudah. Sama halnya melafalkan h (ﺡ) dan ’ain (ﻉ), yang akhirnya menjadi kh dan nga.

Alkhamdulillahirabbil ngalamiin...


Lidah Jawa Yogya memang sejak kecil tampak sukar menyesuaikan diri dengan harakat hijaiah. Apalagi bagi simbah-simbah yang sepuh dan belajar Qur`an di pengujung umurnya, sudah hebat dengan mau melek iqra. Kalau suatu ketika mereka terpaksa jadi imam shalat jamaah, ya maklumi saja dengan keterbatasan itu.

Yang menarik, anak-anak sekarang di Yogyakarta juga harus diarahkan agar bisa menempatkan kapan bicara ya, kh adan nga ketika bermain-main dengan temannya di sawah atau mal. Tapi ketika mereka duduk manis di teras TPA, ya harus terang dan fasih bicara huruf hijaiah.

Beberara orang Yogya mungkin masih kesulitan. Butuh kerja keras untuk membenarkan bacaan harakat Arab. Bagi sebagian yang lain, sudah lumayan bisa beradaptasi, meski sesekali masih keceplosan bicara ya, kh, dan nga.

Pernah seorang dai Muhammadiyah yang alim tetap bicara dengan ber-nga meskipun saat bicara surat Al-Qur`an sudah cukup fasih. Atau seorang Salafiyyin di Bantul yang dengan fasih melafal ayat Qur’an tapi ketika mengkritik perbuatan tak berdalil sebagai bidngah (maksudnya: bid’ah—dengan huruf 'ain).

Seorang kawan pernah bermakmum pada imam yang fasih saat baca Qur`an. Lucunya pas hendak iktidal, sang imam berujar, “Samingallahuliman hamidah...”

Nah, maka bila di saat shalat saja mereka ‘tak kuasa’ membetulkan diri, lebih-lebih saat tak sadar memberikan nama putra-putrinya. Teman saya namanya bagus: Sarengat, yang maksudnya bapaknya menamai supaya dia ingat syariat (Islam). Bapak yang lain menamai putrinya dengan Istinganah (maksudnya Isti’anah).

Saya juga sempat bingung ketika seorang takmir Jogokariyan meminta saya menghubungi Pak Riyal untuk keperluan ceramah. Setahu saya tak ada nama Riyal, yang ada Rizal. Benar saya, orang yang dimaksud ya Pak Rizal itu.

Serapan dan akulturasi budaya dengan memodifikasi kata baru pun tak bisa dielakkan. Kita tak perlu kaget kalau muadzin dipanggil modin. Begitu pula dengan nama-nama khas kampung di Yogyakarta, yang tak lain masih mewarisi budaya Islam.

Jadi, kalau berkesempatan shalat dan mendapati bacaan aneh, tak perlu bersemangat meneriaki tasbih. Bisa-bisa si imam kian grogi dan malah membatalkan shalat. Atau jangan pening memikirkan kenapa aktivis Islam kok salah mengucapkan terima kasih pada Anda. Jayakallahu (sic: jazaakallahu) khairan ya Pak ....[]

yusuf maulana

Tingkatkan Kapasitas Kader, PKS Sukses Gelar Mukhayam Al Quran

0
Diposting oleh cahAngon on 05 Desember 2011 , in
Sebagai partai dakwah berbasis kader, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terus melakukan pembinaan terhadap anggotanya. Berbagai bentuk pembinaan untuk peningkatan kapasitas kepribadian (capacity building) anggota terus dilakukan, salah satunya melalui Jambore Al Qur’an (Mukhayyam Al Qur’an).

Fungsionaris Departemen Manhaj dan Al Qur’an, Bidang Kaderisasi DPP PKS, Abdul Aziz Abdul Rouf mengatakan, program Jambore Al-Qur’an ini bertujuan untuk membentuk kader sehingga memiliki kepribadian paripurna (rabbani).

“PKS sangat peduli untuk membina kadernya dari segala aspek agar memiliki kepribadian robbani. Salah satunya melalui program ini. Program ini berkelanjutan yang dilaksanakan dua kali dalam setiap,” kata Aziz di Jakarta, Kamis (1/12/2011).

Program ini bertempat di Graha Insan Cita, Depok, Jawa Barat, dan berlangsung sejak 25 November 2011 hingga 4 Desember 2011. Program ini, kata Aziz, diikuti oleh sekitar 140 orang peserta yang terdiri dari 27 perempuan dan 113 laki-laki.

“Setiap peserta wajib menyetorkan hafalan Al Quran paling sedikit 4 juz. Karena itu kami menciptakan iklim dalam jambore ini betul-betul bernuansa qur’ani. Ada kajiian Al Qur’an, khatam 30 juz dalam shalat malam selama 9 hari jambore, dan mendengarkan bacaan (tasmi’),” jelasnya yang juga sebagai ketua pelaksana program. Para peserta, sambung Aziz, merupakan anggota inti perwakilan dari setiap provinsi dan perwakilan PKS di luar negeri. Dia menjelaskan, setiap 500 anggota inti di setiap provinsi diwakilkan satu orang. “Jadi kalau di DPW tersebut ada 2 ribu anggota inti, diwakili 4 orang,” imbuhnya.

Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq menyatakan, agenda jambore seyogyanya dilaksanakan di seluruh Indonesia. “Mukhayam Al Qur’an seperti ini nantinya harus dilaksanakan di seluruh DPW,” ujarnya. Luthfi juga mengatakan, biaya pelaksanaan program ini sepenuhnya ditanggung DPP.

Jambore Al Qur’an kali ini merupakan yang kedua kali diselenggarakan. Jambore Al Qur’an pertama dilakukan pada Maret 2011 lalu bertempat di lokasi yang sama.

Salah seorang peserta dalam Jambore Al Qur’an adalah Mutammimul Ula, mantan anggota komisi I DPR RI. Seperti diketahui, sepuluh anak Mas Tamim, panggilan akrab politisi PKS itu merupakan penghafal Al Qur’an (Hafidzul Qur’an). Salah seorang anaknya, Faris Jihady Hanifa memperoleh ijazah tertinggi dalam hafalan Al Qur’an, yakni Sanad Syathibyah dalam bacaan Hafsh dari Ashim hingga ke Nabi Muhammad. Faris mendapat sanad pada urutan ke 31 dari Nabi Muhammad.

Pada malam terakhir pelaksanaan acara, Sabtu tanggal 3 Desember 2011, dilaksanakan shalat malam yang dimulai 23.30 WIB. Pada pelaksanaan shalat malam tersebut, dibaca juz 28 sampai khatam, dilanjutkan dengan pembacaan doa. Demikian tulis Ahmad Sahal Hasan dalam status Facebooknya.

pk-sejahtera

Bulan Muharram: Keutamaan, Legenda, Mitos, dan Bid’ah di Dalamnya

0
Diposting oleh cahAngon on 04 Desember 2011 , in ,
Muqaddimah

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ إمَامِ المتقينَ وقائدِ المجاهدينَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ {أما بعد

dakwatuna.com – Alhamdulillah, kita memasuki bulan Muharram 1433 H, yang berarti mengawali tahun baru 1433 H dan meninggalkan tahun 1432 H. Kita bersyukur kepada Allah Ta’ala atas kesempatan hidup yang masih diberikan kepada kita. Semoga kita dapat melaksanakan risalah ibadah secara ikhlas dan benar. Dan semoga kita serta seluruh umat Islam di tahun ini lebih baik dari tahun yang lalu dan tahun yang akan datang akan lebih baik lagi dari tahun ini.

Keutamaan Bulan Muharram

Bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan Allah. Empat bulan tersebut adalah, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ

“Sesungguhnya jumlah bulan di Kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram” (QS. At Taubah: 36)

Kata Muharram artinya ‘dilarang’. Sebelum datangnya ajaran Islam, bulan Muharram sudah dikenal sebagai bulan suci dan dimuliakan oleh masyarakat Jahiliyah. Pada bulan ini dilarang untuk melakukan hal-hal seperti peperangan dan bentuk persengketaan lainnya. Kemudian ketika Islam datang kemuliaan bulan haram ditetapkan dan dipertahankan sementara tradisi jahiliyah yang lain dihapuskan termasuk kesepakatan tidak berperang. Bulan Muharram memiliki banyak keutamaan, sehingga bulan ini disebut bulan Allah (syahrullah). Beribadah pada bulan haram pahalanya dilipatgandakan dan bermaksiat di bulan ini dosanya dilipatgandakan pula. Pada bulan ini tepatnya pada tanggal 10 Muharram Allah menyelamatkan nabi Musa as dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Mereka memuliakannya dengan berpuasa. Kemudian Rasulullah saw. menetapkan puasa pada tanggal 10 Muharram sebagai kesyukuran atas pertolongan Allah. Masyarakat Jahiliyah sebelumnya juga berpuasa. Puasa 10 Muharram tadinya hukumnya wajib, kemudian berubah menjadi sunnah setelah turun kewajiban puasa Ramadhan. Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ وَجَدَهُمْ يَصُومُونَ يَوْمًا يَعْنِي عَاشُورَاءَ فَقَالُوا هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ وَهُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Dari Ibnu Abbas RA, bahwa nabi saw. ketika datang ke Madinah, mendapatkan orang Yahudi berpuasa satu hari, yaitu ‘Asyuraa (10 Muharram). Mereka berkata, “ Ini adalah hari yang agung yaitu hari Allah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan keluarga Firaun. Maka Nabi Musa as berpuasa sebagai bukti syukur kepada Allah. Rasul saw. berkata, “Saya lebih berhak mengikuti Musa as. dari mereka.” Maka beliau berpuasa dan memerintahkan (umatnya) untuk berpuasa” (HR Bukhari).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Dari Abu Hurairah RA. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)

Walaupun ada kesamaan dalam ibadah, khususnya berpuasa, tetapi Rasulullah saw. memerintahkan pada umatnya agar berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Yahudi, apalagi oleh orang-orang musyrik. Oleh karena itu beberapa hadits menyarankan agar puasa hari ‘Asyura diikuti oleh puasa satu hari sebelum atau sesudah puasa hari ‘Asyura.

Secara umum, puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa pilihan. Pertama, berpuasa tiga hari, sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Kedua, berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu puasa tanggal: 9 dan 10, atau 10 dan 11. Ketiga, puasa pada tanggal 10 saja, hal ini karena ketika Rasulullah memerintahkan untuk puasa pada hari ‘Asyura para sahabat berkata: “Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: “Jika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.” (HR. Muslim).

Landasan puasa tanggal 11 Muharram didasarkan pada keumuman dalil keutamaan berpuasa pada bulan Muharram. Di samping itu sebagai bentuk kehati-hatian jika terjadi kesalahan dalam penghitungan awal Muharram.

Selain berpuasa, umat Islam disarankan untuk banyak bersedekah dan menyediakan lebih banyak makanan untuk keluarganya pada 10 Muharram. Tradisi ini memang tidak disebutkan dalam hadits, namun ulama seperti Baihaqi dan Ibnu Hibban menyatakan bahwa hal itu baik untuk dilakukan.

Demikian juga sebagian umat Islam menjadikan bulan Muharram sebagai bulan anak yatim. Menyantuni dan memelihara anak yatim adalah sesuatu yang sangat mulia dan dapat dilakukan kapan saja. Dan tidak ada landasan yang kuat mengaitkan menyayangi dan menyantuni anak yatim hanya pada bulan Muharram.

Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam sistem kalender Islam. Oleh karena itu salah satu momentum yang sangat penting bagi umat Islam yaitu menjadikan pergantian tahun baru Islam sebagai sarana umat Islam untuk muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah dilakukan dan rencana ke depan yang lebih baik lagi. Momentum perubahan dan perbaikan menuju kebangkitan Islam sesuai dengan jiwa hijrah Rasulullah saw. dan sahabatnya dari Mekah dan Madinah.

Legenda Dan Mitos Muharram

Di samping keutamaan bulan Muharram yang sumbernya sangat jelas, baik disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi banyak juga legenda dan mitos yang terjadi di kalangan umat Islam menyangkut hari ‘Asyura.

Beberapa hal yang masih menjadi keyakinan di kalangan umat Islam adalah legenda bahwa pada hari ‘Asyura Nabi Adam diciptakan, Nabi Nuh as di selamatkan dari banjir besar, Nabi Ibrahim dilahirkan dan Allah Swt menerima taubatnya. Pada hari ‘Asyura Kiamat akan terjadi dan siapa yang mandi pada hari ‘Asyura diyakini tidak akan mudah terkena penyakit. Semua legenda itu sama sekali tidak ada dasarnya dalam Islam. Begitu juga dengan keyakinan bahwa disunnahkan bagi mereka untuk menyiapkan makanan khusus untuk hari ‘Asyura.

Sejumlah umat Islam mengaitkan kesucian hari ‘Asyura dengan kematian cucu Nabi Muhammad Saw, Husain saat berperang melawan tentara Suriah. Kematian Husain memang salah satu peristiwa tragis dalam sejarah Islam. Namun kesucian hari ‘Asyura tidak bisa dikaitkan dengan peristiwa ini dengan alasan yang sederhana bahwa kesucian hari ‘Asyura sudah ditegakkan sejak zaman Nabi Muhammad Saw jauh sebelum kelahiran Sayidina Husain. Sebaliknya, adalah kemuliaan bagi Husain yang kematiannya dalam pertempuran itu bersamaan dengan hari ‘Asyura.

Bid’ah Di Bulan Muharram

Selain legenda dan mitos yang dikait-kaitkan dengan Muharram, masih sangat banyak bid’ah yang jauh dari ajaran Islam. Lebih tepat lagi bahwa bid’ah tersebut merupakan warisan ajaran Hindu dan Budha yang sudah menjadi tradisi masyarakat Jawa yang mengaku dirinya sebagai penganut aliran kepercayaan. Mereka lebih dikenal dengan sebutan Kejawen.

Dari segi sistem penanggalan, memang penanggalan dengan sistem peredaran bulan bukan hanya dipakai oleh umat Islam, tetapi masyarakat Jawa juga menggunakan penanggalan dengan sistem itu. Dan awal bulannya dinamakan Suro. Pada hari Jum’at malam Sabtu, 1 Muharram 1428 H bertepatan dengan 1 Suro 1940. Sebenarnya penamaan bulan Suro, diambil dari ’Asyura yang berarti 10 Muharram. Kemudian sebutan ini menjadi nama bulan pertama bagi penanggalan Jawa.

Beberapa tradisi dan keyakinan yang dilakukan sebagian masyarakat Jawa sudah sangat jelas bid’ah dan syiriknya, seperti Suro diyakini sebagai bulan yang keramat, gawat dan penuh bala. Maka diadakanlah upacara ruwatan dengan mengirim sesajen atau tumbal ke laut. Sebagian yang lain dengan cara bersemedi mensucikan diri bertapa di tempat-tempat sakral (di puncak gunung, tepi laut, makam, gua, pohon tua, dan sebagainya) dan ada juga yang melakukan dengan cara lek-lekan ‘berjaga hingga pagi hari’ di tempat-tempat umum (tugu Yogya, Pantai Parangkusumo, dan sebagainya). Sebagian masyarakat Jawa lainnya juga melakukan cara sendiri yaitu mengelilingi benteng keraton sambil membisu.

Tradisi tidak mengadakan pernikahan, khitanan dan membangun rumah. Masyarakat berkeyakinan apabila melangsungkan acara itu maka akan membawa sial dan malapetaka bagi diri mereka.

Melakukan ritual ibadah tertentu di malam Suro, seperti selamatan atau syukuran, Shalat Asyuro, membaca Doa Asyuro (dengan keyakinan tidak akan mati pada tahun tersebut) dan ibadah-ibadah lainnya. Semua ibadah tersebut merupakan bid’ah (hal baru dalam agama) dan tidak pernah ada contohnya dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam maupun para sahabatnya. Hadist-hadits yang menerangkan tentang Shalat Asyuro adalah palsu sebagaimana disebutkan oleh imam Suyuthi dalam kitab al-La’ali al-Masnu’ah.

Tradisi Ngalap Berkah dilakukan dengan mengunjungi daerah keramat atau melakukan ritual-ritual, seperti mandi di grojogan (dengan harapan dapat membuat awet muda), melakukan kirab kerbau bule (kiyai slamet) di keraton Kasunan Solo, thowaf di tempat-tempat keramat, memandikan benda-benda pusaka, begadang semalam suntuk dan lain-lainnya. Ini semuanya merupakan kesalahan, sebab suatu hal boleh dipercaya mempunyai berkah dan manfaat jika dilandasi oleh dalil syar’i (Al Qur’an dan hadits) atau ada bukti bukti ilmiah yang menunjukkannya. Semoga Allah Ta’ala menghindarkan kita dari kesyirikan dan kebid’ahan yang membinasakan.

Menyikapi berbagai macam tradisi, ritual, dan amalan yang jauh dari ajaran Islam, bahkan cenderung mengarah pada bid’ah, takhayul dan syirik, maka marilah kita bertobat kepada Allah dan melaksanakan amalan-amalan sunnah di bulan Muharram seperti puasa. Rasulullah saw. menjelaskan bahwa puasa pada hari ‘Asyura menghapuskan dosa-dosa setahun yang telah berlalu.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَن صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Dari Abu Qatadah RA. Rasulullah ditanya tentang puasa hari ‘asyura, beliau bersabda: “Saya berharap ia bisa menghapuskan dosa-dosa satu tahun yang telah lewat.” (HR. Muslim).

Demikian bayan dari Pusat Konsultasi Syariah Indonesia tentang keutamaan bulan Muharram, sebagai panduan umat Islam untuk mengisi bulan Muharram. Wallahu ’alam bishawwab.

(SCC/Iman Santoso/hdn)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/17012/bulan-muharram-keutamaan-legenda-mitos-dan-bidah-di-dalamnya/#ixzz1fWgX3RXl

Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian Ketiga)

0
Diposting oleh cahAngon on 01 Desember 2011 , in , ,
Setelah jeda agak lama, simbah berusaha menulis lagi untuk menyambung pembahasan masalah testimoni yang cerdas. Entah mengapa jedanya agak lama. Lha ngurus anak lima masih cilik-cilik bau kencur, jahe dan temulawak itu ternyata mbikin pegel juga. Walaupun tetep menyehatkan di jiwa.

Simbah lanjutkan poin testimoni yang cerdas :

3. Jika ingin menunjukkan bahwa bahan herbalnya yang berkhasiat, jangan melaporkan testimoni yang ternyata pemakaiannya dikombinasi dengan obat kimia sintetis.

Satu contoh kasus: simbah pernah kedatangan pasien mengeluhkan penyakit jantung. Dia berobat ke ahli jantung. Diberi obat lalu dikonsumsi dengan teratur. Setelah minum secara rutin selama 3 hari, dia bilang ke simbah belum ada perubahan apa-apa. Lalu dia pergi ke pengobatan alternatip. Dia diberi ramuan jamu herbal yang katanya ampuh buat ngreparasi jantung. Baru sehari minum katanya sudah baikan.

Simbah nanya, “Selama minum jamu itu obat dari dokter jantung masih diminum apa nggak?”

Dia jawab, “Masih mbah.”

Kasus seperti di atas tak bisa digunakan untuk memvonis bahwa obat dari dokter tak manjur babar blas, sedangkan herbalnya jos gandos khasiatnya. Karena seringkali satu terapi obat, membutuhkan waktu untuk mencapai hasil khasiat yang diinginkan. Sebagaimana kasus penyakit typus, pasien seringkali mengalami turun panas pada hari ketiga setelah diterapi. Jadi tidak langsung sim salabim panasnya turun, bahkan makan waktu sampai 3 hari. Ada pasien simbah yang katanya kena typus sudah 3 hari dirawat di RS belum turun panasnya. Setelah diberi jamu yang bahannya dari cacing, langsung turun. Sampeyan tak bisa mengatakan bahwa obat bahan cacingnya itu yang menurunkan panasnya. Karena memang terapi typus baru memberikan hasil setelah 3 hari.

Kalau ingin mengatakan bahan herbal dari pengobatan alternatip itu yang lebih berkhasiat, seharusnya obat dari dokter dihentikan. Lalu ambil jeda beberapa hari, barulah dikonsumsi herbalnya dan ditunggu khasiatnya. Hal ini akan menghasilkan testimoni yang baik dan bisa dipakai untuk modal penelitian lebih lanjut dari bahan herbal yang bersangkutan. 4. Kesembuhan harus terukur secara obyektif juga.

Jika penegakan diagnosa harus terukur, demikian juga manakala mengaku sudah sembuh. Kesembuhan haruslah terukur secara obyektif, bukan kesembuhan subyektif. Jika dengan konsumsi satu bahan herbal seseorang mengaku kankernya sembuh, kesembuhan dari kanker itu bukanlah dilihat secara subyektif saja. Haruslah ada satu tindakan biopsi ataupun scan ataupun pemeriksaan obyektif yang menyatakan bahwa kankernya sudah tak berbahaya lagi.

Seringkali pemakai herbal hanya menyatakan kesembuhan dirinya hanya dengan menggunakan kata-kata “sudah sembuh”. Sedangkan ukuran sembuhnya tak ada. Pernyataan sembuh yang baik harusnya melampirkan data-data pemeriksaan laboratorium pasca terapi yang bisa dibandingkan dengan hasil lab sebelum terapi.

Namun hal ini masih memiliki kendala. Penggunaan laboratorium masih dimonopoli oleh ahli pengobatan medis. Sedangkan kaum herbalis tak punya akses untuk memberikan pengantar bagi penilaian obyektif kesembuhan pasiennya. Untuk itu harus ada kerjasama antara dokter medis dan juga herbalis. Agar satu penyakit tegak diagnosanya dengan pemeriksaan obyektif, sekaligus kesembuhanya pun dinyatakan dengan pemeriksaan obyektif.

Kalo testimoni pengguna herbal sudah makin cerdas, ini akan memberikan modal yang bagus bagi ahli farmasi dan farmakologi untuk meneliti satu bahan herbal. Tentu saja akan dilakukan riset dan penelitian untuk mencari bahan aktif dan sekaligus mencari cara agar bahan herbal tersebut bisa dimasyarakatkan.

Sayangnya masih banyak ahli herbal yang seringkali justru bersikap memonopoli keahliannya. Yakni dengan cara menyembunyikan bahan apa yang ada di dalam ramuannya. Dia berprinsip :

“Sudahlah, jangan banyak cingcong, unthal saja jamu saya. Yang penting sampeyan bagas waras. Lha kalo isinya apa jamu saya, itu rahasia saya tho.”

Herannya sang pasien justru malah suka pada ahli herbal yang buka praktek dengan menanamkan prinsip demikian. Semakin akut bermain-main dengan yang rahasia-rahasia, semakin asyik mengkonsumsi jamunya. Apalagi kalo diumuki sama dukun herbalnya, “Ini herbal yang tahu cuma 2 orang di dunia. Satu saya sendiri. Yang kedua adalah guru saya yang sekarang praktek di Tibet sana.”

Lhaladalah, opo ra mangtabh..Mbuh dia dikasih ati celeng, apa uyuh kirik atau bahan hewani lainnya yang diklaim herbal gak masalah. Yang penting mak greng!!

Saran simbah, kalau ada ramuan kok ditutup-tutupi dan berkesan eksklusif dan rahasia harusnya kita makin curiga. Sayangnya kita hanya bersikap begitu pada obat-obat kimia sintetis saja. Padahal justru obat kimia sintetis sedang tertib-tertibnya menuliskan kandungan senyawa aktip di kemasannya. Sedangkan kalau bahan herbal kita permisif. Nggak ditulis apa isinya gak masalah. Akhirnya ada saja bajingan tengik yang memanfaatkan sisi gelap kebodohan konsumen herbal ini yang lantas mencampur bahan obat kimia sintetis ke dalam bahan herbal atau jamu. Ini karena saking permisifnya konsumen dengan apa yang namanya bahan alami sehingga gak mau tau bahan apa yang dikopyok di dalamnya.

Semoga tulisan berantai tentang Terapi Herbal dari simbah bermanfaat.


pitutur.net

Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian kedua)

0
Diposting oleh cahAngon , in , ,
Seperti janji simbah sebelumnya, sekarang kita mbahas lagi beberapa hal yang terkait dengan herbal. Simbah lanjutkan hal-hal yang kurang benar di dalam terapi herbal.

3. Kesalahan dalam penggolongan bahan herbal.

Di dalam sebuah iklan produk herbal di satu majalah Islam yang terbit secara Nasional (simbah tak etis kalau menyebut merk dan nama majalahnya), disebutkan dengan nada agak gegap gempita :

MENGHADIRKAN HERBAL TERBAIK KELAS DUNIA !!!

Setelah menyebutkan kata “Herbal Terbaik Kelas Dunia” ini disebutkanlah bahan yang dimaksud, yakni : Gamat…..!?!?
Sang pembuat iklan bukannya tak tahu Gamat itu apa. Disitu disebutkan Gamat adalah: Binatang invertebrata pemakan makan organik yang hidup di dasar laut.
Tak beda jauh dengan satu iklan di satu website, bahkan di sebagian website terkenal (kalau pingin tahu, tanya mbah google dengan keyword Gamat Bahan Herbal), disebutkan bahwa Gamat nama lainnya adalah Teripang atau Mentimun laut, dan dimasukkan ke dalam golongan herbal.

Simbah bukan ahli zoologi atau palaentologi. Tapi karena disebutkan disitu dengan jelas bahwa gamat adalah binatang invertebrata, seharusnya bahan ini bukan dimasukkan ke dalam bahan herbal. Mungkin karena nama lainnya Mentimun laut, maka ada yang memasukkannya ke dalam bahan herbal. Padahal kata herbal sendiri maknanya tumbuhan, bukannya binatang.

Kerancuan bahan herbal ini juga dialami oleh Susu Kambing, yang bahkan produsennya merupakan satu perusahaan yang memakai kata herbal. Demikian juga dengan propolis, yang merupakan produk lebah. Sedangkan madu, memang ahli herbal memasukkan ke dalam bahan herbal dengan alasan yang kuat. Yakni madu terbentuk di sarang lebah, bukan di tubuh lebah. Lebah hanya berperan membawa dan menaruh di sarangnya, lalu menambahinya dengan enzim yang lantas membuat bahan nektar berubah menjadi madu.

Nuwun sewu kalo simbah rada-rada menggunakan bahasa agak serius. Lha kalo pakek bahasa mbambung ntar dikira guyonan. Jadi khusus episode ini simbah menuliskan naskahnya sambil mengelus kening. Walaupun sebetulnya letak otak bukan pas di kening. Lha daripada mengelus dengkul, simbah masih lebih dari sekedar mending. Jadi sampeyan jangan membaca sambil mengelus pantat… wah itu lebih parah.

Poin ini simbah sampaikan agar produsen bahan herbal berhati-hati dalam menyebutkan golongan produknya. Karena sebagiannya diawali dengan menyebut hadits shahih. Bahkan pakai tulisan arabnya. Kebetulan konsumennya juga gak paham apa itu herbal, jadi ya laris-laris saja produk itu.

4. Jika sudah memakai herbal, tak perlu obat kimia.

Pernyataan ini harus dilihat per kasus. Jika memang herbalnya memang berfungsi terapi dan itulah herbal of choice untuk kasus penyakitnya, ya silakan saja.

Namun jika fungsi herbal disitu adalah sebagai suplemen atau terapi pendukung, maka penggunaan obat sintetis kimia masih merupakan drug of choice yang harus tetap dipakai. Sehingga terapi herbal dan medis kimia seyogyanya ditempatkan sebagai komplemen yang saling melengkapi, dan bukannya substistusi dimana yang satu “harus” menggantikan yang lain. 5. Testimoni yang tidak cerdas.

Hampir semua penggunaan herbal mengandalkan ujung tombak testimoni sebagai pendukung utama promosinya. Namun seyogyanya sebuah testimoni yang mengungkapkan keberhasilan terapi herbal haruslah dengan bahasa yang cerdas. Syarat testimoni yang cerdas di antaranya sebagai berikut :

1. Diagnosa penyakit yang disebutkan haruslah tegak dengan penegakkan diagnosa yang benar dan obyektif. Misalnya : didukung dengan pemeriksaan yang menyebutkan angka-angka yang terukur dari pemeriksaan laboratorium, atau jika itu diagnosa kelainan organ dalam haruslah didukung alat pemeriksaan dalam. Semisal : ronsen, endoskopi atau USG dsb.

Di poin ini, seringkali testimoni satu penyakit hanya berdasar pengakuan tanpa data lab. Misal mengaku sakit liver. Trus minum herbal lalu mengaku sembuh. Lha tahu kalo livernya sakit darimana? Trus livernya sakit bagian apanya juga gak jelas. Padahal penyakit yang bisa menyerang liver jumlahnya rong ikrak tumplak. Ini testimoni membodohi, dan bukan hal yang cerdas. Jika mau cerdas, pengakuan sakit livernya haruslah disertakan data obyektif, misal USG, lalu data kimia darah, misal SGOT, SGPT, Bilirubin baik direct maupun indirect…dlsb. Jadi pengakuan sakit livernya obyektif, dan bukan pengakuan subyektif semata. Apalagi ternyata sakit livernya itu merupakan hasil diagnosa (semi tebakan) dari mbah Dukun Sembur… halah…Maka demikian halnya jika testimoni mengaku sakit ginjal, jantung, paru-paru dan penyakit dalam lainnya, harus disertai data obyektif.

2. Pengakuan diagnosa berdasar perkataan, “Menurut dokter, sakit saya adalah…” tidaklah mencukupi. Mengapa tidak mencukupi? Karena dalam mendiagnosa satu penyakit, pernyataan dokter akan satu diagnosa diawali dengan satu diagnosa yang derajatnya masih merupakan “kemungkinan”. Kemungkinan itulah yang nantinya dibuktikan dengan pemeriksaan pendukung dari lab maupun alat bukti pendukung lainnya. dan bahasa yang dipakai dokter pun jelas.

Jadi bahasa testimoni yang seringkali menggunakan kata, “Dokter sudah memvonis ini dan itu…” haruslah diperjelas alasan vonisnya. Karena untuk kepentingan bagusnya testimoni, seringkali diagnosa yang masih taraf “kemungkinan” sudah dianggap vonis oleh pasien.

Sebelum kening sampeyan panas karena kelamaan dielus-elus, simbah sudahi dulu poin testimoni ini. Insya Allah akan simbah sambung ke bagian ketiga tulisan ini mengenai bagaimana satu testimoni dianggap cerdas.

Salah Kaprah Terapi Herbal (bagian pertama)

0
Diposting oleh cahAngon , in , ,
Sekitar seminggu yang lalu simbah kedatangan pasien langganan simbah yang mengeluhkan sakit kepala hebat. Pasien ini adalah pasien lama yang rajin kontrol karena menderita tekanan darah tinggi. Namun sudah sekian lama ini pasien ini absen kontrol, baru hari itu njedhul wal nongol lagi.

Walhasil, setelah simbah ukur tensinya, ternyata tekanan darahnya mencapai angka 200 sistole dan 110 diastole. Simbah agak kaget, karena pada dua kali kontrol sebelumnya, sang pasien menunjukkan angka tekanan darah yang cenderung normal. Ha kok absen sekian lama, dumadakan tensinya menjadi njeblug ke ubun-ubun. Maka simbah pun menginterogasi:

“Obatnya apa nggak diminum tho pak?” tanya simbah.

“Begini dok,” katanya mulai menjelaskan. “Sudah lebih dari 2 minggu ini saya tidak lagi meminum obat yang biasa mbah dokter kasih. Saya sekarang beralih ke pengobatan herbal ala Nabi mbah, karena sekarang saya sedang menjalani terapi ke salah seorang ustadz.”

“Oo, begitu. Lantas yang memutuskan berhenti minum obat dari dokter bapak sendiri atau atas anjuran sang ustadz?”

“Semuanya atas anjuran ustadznya mbah. Bahkan saya sudah diruqyah, dan katanya memang pada diri saya ada 2 jin yang mengganggu sehingga tekanan darah saya nggak pernah normal. Ha wong diganggu jin terus.” Hwarakadah… jin cap apa ini yang ngoprek-oprek tekanan darah. Jin cap Tempe Duduk apa ya? Sebelumnya perlu diketahui, bahwa pasien simbah ini juga menderita Diabetes Melitus dengan kontrol yang baik. Gulanya tak pernah melebihi 200 mg/dl. Dan atas pengakuan sang pasien, sang ustadz memberikan terapi Habbatussauda dan madu, serta menyarankan agar semua obat dari dokter yang dibahasakan dengan kata “obat kimia” harus dihentikan. Diganti dengan obat herbal yang “pasti tanpa efek samping”.

Sampai di sini simbah merasa sedih dan sekaligus prihatin. Pendapat seperti yang disampaikan sang pasien dan juga ustadznya yang mengobatinya di atas sangat banyak penganutnya. Bahkan dengan segala embel-embel istilah yang dipegang teguh oleh penganutnya. Padahal definisinya amburadul dan seringkali tak dipahami.

Simbah bukan hendak merendahkan dan meremehkan pengobatan herbal. Simbah sendiri adalah pelaku pengobatan herbal dan menjadi konsultan pengobatan herbal di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang herbal. Namun tak bisa dipungkiri bahwa praktisi herbal yang ada di lapangan seringkali tak memiliki latar belakang medis apapun. Apalagi kalau sudah menyangkut keyakinan, seperti Thibbun Nabawi, seringkali praktisinya hanya mendasarkan sabda Nabi saw bahwa dengan bahan obatnya (entah benar dosis dan cara pakainya atau tidak) pasti sembuh. Tak peduli etiologi penyakitnya bagaimana, pokoknya obatnya yang itu. Sampai-sampai penyakit turun berok yang sudah gondhal-gandhul sebesar kepala bayi hanya diberi madu dan habbatussauda, dengan keyakinan turun beroknya bisa naik berok sendiri.

Beberapa kesalahan pemahaman dalam pengobatan herbal di antaranya adalah :

1. Obat medis adalah obat kimia, sedangkan herbal bukan kimia.
Memang istilah ini hanyalah sekadar istilah untuk memudahkan penyebutan dan pengelompokan. Tapi sebenarnya baik obat medis maupun herbal semuanya adalah bahan kimia. Karena semua zat yang ada di alam semesta ini tersusun atas unsur-unsur kimia. Bahkan air ludah yang ada di mulut kita dan kita ‘emut’ layaknya permen sehari-hari itupun merupakan bahan kimia. Mungkin kalau mau menggunakan istilah yang lebih mendekati benar (tidak seratus persen benar) adalah: obat medis merupakan kimia sintetis, sedangkan herbal adalah kimia alami. Namun semuanya merupakan bahan kimia.

2. Obat medis selalu memiliki efek samping dan tidak aman, sedangkan herbal tumbuhan alami bebas efek samping dan aman.
Istilah ini memberi kesan bahwa obat medis berbahaya dan tidaka aman dikonsumsi karena selalu memberikan efek samping yang merusak, sedangkan herbal aman dan tidak bahaya karena tanpa efek samping. Istilah ini dipakai tanpa dasar dan mengabaikan banyak fakta. Herbal walaupun alami, bukannya tanpa efek samping. Bahkan tidak selalu aman.

Kita semua tahu bahwa bayam, kangkung, asparagus adalah sayuran – sudah pasti bahan herbal- yang memiliki zat yang bermanfaat bagi tubuh. Bayam dan kangkung bagus untuk nutrisi karena kandungan zat besinya yang tinggi. Tapi apakah selalu aman dikonsumsi? Ternyata tidak. Penderita asam urat hampir selalu diingatkan dokter ketika berobat, untuk menghindari konsumsi kedua bahan herbal ini.

Bahan tumbuhan pun ada juga yang berbahaya bahkan beracun. Semua tahu bahwa makanan binatang Koala adalah daun eucaliptus yang jika dimakan manusia hampir bisa dipastikan wasalam. Dan satu lagi bahan herbal tumbuhan alami untuk sedikit ngobok-obok pemahaman rancu ini adalah daun ganja, dan daun koka. Bagi yang rajin nyimeng pasti kenal dengan daun ganja. tentu saja ini bukan bahan kimia, namun herbala alami. Namun sekali nyedhot sak sledupan, bisa mbikin melayang-layang. Sedangkan daun koka adalah bahan pembuat kokain yang bahayanya sudah disepakati baik tabib herbal maupun ahli medis, bahkan oleh Kang Panjul yang awam sekalipun.

Jadi tingkat bahaya dan keamanan tidak bergantung pada bahan alami atau kimia sintetis. Namun banyak faktor berperan dalam keamanan pemakaian satu bahan terapi. Diantaranya adalah dosis, cara pemakaian, lamanya pemakaian dan interaksi pemakaian dengan bahan lain. Keunggulan bahan alami dalam hal keamanan adalah pemakaian jangka lama. Bahan alami cenderung lebih aman jika dipakai dalam jangka lama. Dan memang hampir semua bahan alami ditujukan untuk terapi jangka panjang, bukan untuk terapi akut jangka pendek. Dalam hal serangaan akut jangka pendek, terapi kimia medis lebih unggul. Itulah mengapa simbah menyayangkan sang ustadz yang menghentikan terapi simbah pada penderita tekanan darah tinggi yang sebenarnya sudah simbah program untuk mengurangi obat kimia medis dan perlahan bergeser ke pengobatan herbal. Peralihan ini butuh waktu panjang, bahkan tahunan. Tidak bisa langsung seseorang menghentikan terapi dokter, lalu diganti dengan terapi yang efeknya baru terasa setelah jangka lama, sementara serangannya akut.

Seperti biasa, jika tulisan simbah sudah agak kedawan wal pating klewer begini, simbah lebih suka memecahnya menjadi beberapa bagian. Masih ada beberapa poin penting yang mau simbah sampaiken. Namun untuk menghindari pembaca nyekrol mouse sampai ndlosor, simbah sudahi dulu bagian pertama bab ini. Semoga sampeyan tetep sabar mengikuti tulisan berikutnya, karena memang simbah seringkali terlalu lama memberi jeda. Semoga yang ini tidak…. ;)

Memelintir Angin Opini

0
Diposting oleh cahAngon , in ,
Memelintir angin dan mengarahkannya sesuai keinginan bukanlah dominasi profesi insinyur. Kalau kita perluas kata ‘angin’ menjadi ‘angin opini’ maka akan tampil wajah pemilik dan redaktur media massa. Kompas termasuk salah satu insinyur pemelintir angin opini ini; menebarkan angin ‘kebenaran’ supaya pembaca mengikuti skema yang dikehendakinya.

Tanpa terasa, pembiasan angin opini ala Kompas itu merasuk di tengah kehidupan kita. Sayang, bukannya dirasakan ganjil tapi banyak di antara kita justru membela habis-habisan. Ketika representasi berita dan penggiringan opini yang dilakukan harian itu dikritik, para pengkritiknyalah yang dipandang salah dan tidak memahami jurnalisme.

Muasalnya adalah kredibilitas yang didudukkan amat mulia dalam harian itu. Seolah semua yang dilakukan pasti benar dan tak ada cacat. Perspektif yang diangkat Kompas semacam aksioma untuk diterima. Tentu saja ini tidak melalui pemaksaan tapi prosedur penawaran ideologi yang dilakukan secara terus-menerus, konsisten, dan menggunakan banyak pihak yang didudukkan kompeten.

Isu pluralisme misalnya, harian ini terbilang paling getol memperjuangkannya. Cara dan metode yang ditempuhnya pun tidak kasar dan blak-blakan model para sekularis Muslim atau Muslim moderat (baca: anti formalisasi syariat Islam). Dibandingkan pendukung opininya, Kompas berlaku santun. Inilah yang membuat setiap giringan angin opininya diterima.

Maka, tak perlu dengan cara eksplisit dan vulgar, pembaca setia yang mengamini angin opini Kompas sudah maklum apa yang dimaksud. Cukup dengan framing berita yang menempatkan satu pihak di posisi diperlakukan tak adil, maka akan banyak dukungan mengalir, betapapun kalimat pemberitaan Kompas tidak harus berbusa-busa. Inilah kelebihan koran bentukan Jakob Oetama dan P.K. Ojong. Konteks kalimat hingga berita sudah ditangkap oleh pembacanya, dan secara serta-merta dipandang sebagai ‘kebenaran’. Kelebihan ini pula yang akhirnya meninggalkan retakan wacana yakni berupa apriori terhadap suara lain di luar Kompas. Kecerdikan Kompas dalam mengemas satu isu menjadi penting atau tidak penting, patut dibela atau tidak dibela, bisa kita dapati hari-hari ini saat militansi pengurus GKI Yasmin Bogor mendatangi beberapa pihak dalam menuntut kebebasan beribadah. Antusiasme Kompas patut diapresiasi karena dia mengonsisteni upaya penegakan hukum dan isu kebhinekaan serta kebebasan beribadah.

Sayangnya, Kompas sering terlampau bersemangat membela ideologi atau pihak tertentu hingga lupa hal-hal mendasar. Asumsi dan akar mendasar sebuah kasus terkadang diremehkan untuk diangkat. Tidak ada upaya untuk mengecek klaim Walikota Bogor soal penolakan warga dan manipulasi surat dukungan berdirinya tempat ibadah oleh pihak GKI. Seolah-olah putusan hukum formal sudah memadai. Padahal, isu pluralisme hingga kebebasan beragama menjadi tidak relevan bila mengabaikan dalih Walikota Bogor. Sayangnya, Kompas bergeming untuk tertarik dan seperti sudah merasa puas dengan fakta hukum dan klaim para pegiat LSM.

Padahal, bisa saja dalil Walikota Bogor itu salah dan bohong. Bila demikian, mengapa harian itu tak tertarik? Bukankah dalam banyak kasus pemberitaannya Kompas tak berhenti pada aspek forma hukum? Kadang ada berita-berita empati lewat berita feature mereka yang mengangkat rakyat miskin yang dipidanakan, nah hal semacam ini mestinya dilakukan pula di luar arus polemik legalitas IMB tempat ibadah yang dipersoalkan.

Harus diakui, kredibilitas yang tak lekang goyah menjadi faktor Kompas percaya diri sekaligus berlindung untuk melakukan pembelokan angin opini. Banyak yang sadar soal ini, meski lebih banyak lagi yang menuding salah pengkritik pembelokan angin opini tersebut.

Persoalan asumsi dasar dan akar persoalan terlupakan sepertinya penyakit bawaan yang diderita mereka yang kadung dianggap jadi nomor wahid di bidangnya. Dilupakan karena pemuja dan pemujinya tidak peduli. Kalau tidak melakukan hal semestinya masih ada argumen untuk membenarkan. Menarik bagaimana pengakuan jujur seorang mantan presiden kita yang merasa aneh ada kegaduhan di Ambon saat 1999-2003. Baginya masalah Ambon dibesar-besarkan, lantaran dia tidak mendapati pemberitaan kerusuhan di sana lewat Kompas. Tokoh kita ini, entah mengapa, begitu percaya pada Kompas dan bukan satu-satunya yang mengultuskan kebenaran dengan tulisan di Kompas.

Ketika kredibilitas dicukupkan dan dijauhkan dari kejujuran membela kebenaran hakiki (dan bukan versi pakar atau aparat), cacat dan keretakan berita Kompas mesti akan selalu ada. Dan ini merupakan persoalan tersendiri bagi bangsa ini. Apa pasal? Karena daya pengaruh Kompas amat besar sehingga bisa membuat yang salah jadi benar dan begitu pula sebaliknya. Banyak persoalan bersama jadi terbantu untuk dibicarakan dengan andil Kompas. Namun, tak jarang ada berita penting untuk didiskusikan tapi lantaran menguntungkan kalangan mayoritas, maka peristiwanya luput diabadikan.

Banyak persoalan yang dirasa penting oleh para pegiat pluralisme sebenarnya biasa-biasa saja. Dalam kaitan terkadang Kompas larut dan terbujuk untuk melanggengkan kepentingan asasinya: iman. Isu dominasi mayoritas misalnya, ini merupakan omong kosong yang ditiupkan kelompok LSM pemburu dolar yang sayangnya dibiarkan bersemai oleh Kompas.

Saat yang sama kebutuhan untuk menalarkan setiap keganjilan berita terorisme sepertinya enggan dipenuhi. Jangankan mengungkap secara blak-blakan dan jujur, memberitakan peristiwa yang seharusnya diberitakan dengan adil saja masih berat. Kerusuhan di Ambon beberapa bulan lalu atau penggusuran semena-mena masjid di sebuah institusi militer di Medan oleh sang petinggi institusi luput dilakukan.

Akhirnya, semahir apa pun seorang insinyur, pada suatu waktu dia tak akan kuasa menahan bila angin yang datang berupa puting beliung atau bohorok. Terpaan kebenaran kadang tidak datang dari arus elit, yakni kaum intelektual dan petinggi pemerintah, tapi dari gejala tiba-tiba dan ada peranan faktor X (baca: Tuhan nan Esa). Bila ini berlaku dalam aras angin opini, bersiap saja puting beliung itu melibas habis pemelintiran hingga pembusukan wacana yang pernah dilakukan media-media arus utama semisal Kompas.



Yusuf Maulana – Yogyakarta

Blog